Pengorbanan seorang istri demi kebahagiaan sang suami, mengharuskan Hanum berbagi bukan cuma raga tapi juga hati. "Saya terima nikah dan kawinnya Amalia binti Ahmad dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai."
"Sah.... sah"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🕊R⃟🥀Suzy.ೃ࿐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Patah
Ilham masuk kedalam rumah yang selama ini di tempati nya dengan Hanum, Ilham terburu-buru untuk pulang saat di acara resepsi tidak melihat Hanum disana, dengan pikiran yang sedikit kacau Ilham mencoba menghubungi ponsel Hanum tapi nihil tidak tersambung sama sekali.
Ada perasaan takut yang menyusup dalam hati Ilham, dia takut sesuatu terjadi pada bidadari hatinya, perempuan yang telah membersamai selama lima tahun itu dan untuk pertama kali dalam pernikahannya dia menyakiti hati perempuan yang dia sebut istri.
Sempat ada pergolakan batin antara melanjutkan resepsi atau pulang, dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan istri nya, tapi juga tidak ingin membuat hati istri baru nya terluka, sempat ada sesal dalam hati Ilham, tapi ini sudah menjadi pilihan nya untuk punya keturunan.
"Aku pulang dulu Mel," ucap Ilham saat resepsi sudah hampir selesai.
"Lho kok pulang Mas, ini kan sebentar lagi selesai,"
"Perasaan ku gak enak Mel takut terjadi sesuatu sama Hanum, aku nggak lihat dia disini." ucap Ilham khawatir.
"Ya ampun Mas, mbak Hanum itu udah gede lho masa sih masih di khawatirin, mungkin Mbak Hanum lelah maka nya pulang, Mas udah coba hubungin belum," cerosos Amel.
"Udah tapi gak tersambung, Mas balik dulu nanti kamu pulang sama supir ya langsung kerumah kita, nanti kalo Hanum sudah ketemu Mas pulang, ingat jangan nyusulin Mas kerumah mbak hanum," tegas Ilham tak ingin di bantah.
"Tap ... tapi Mas," belum selesai Amel berbicara Ilham sudah pergi meninggalkan Amel sendirian.
Dan disinilah Ilham, hati nya mencelos melihat Hanum tertidur dengan melipat kaki bersandar di sisi ranjang tempat tidur mereka, tanpa Ilham sadari air mata itu menetes, untuk pertama kalinya dia membuat luka yang begitu besar untuk wanitanya.
"Maafkan aku Num, maafkan Mas." terisak lirih Ilham meminta maaf pada Hanum yang tertidur.
Ilham bergerak menidurkan Hanum dengan benar, di selimuti nya wanita yang meringkuk kedinginan itu, tak kuasa melihat wajah cantik yang masih menyisakan air mata di sudut mata cantiknya dan sekali lagi Ilham meminta maaf kepada Hanum, dengan berbisik lirih "Maafkan Mas Num, Mas mencintaimu."
Ingin rasanya Ilham tidur di samping Hanum, menemani saat wanita nya hingga bangun tidur, tapi sebelum itu terjadi dering ponsel di saku Ilham memecah keheningan.
Kringg ... kringg
Sedikit berjengkit Ilham keluar dari kamar sambil mendesah malas dia menjawab telfon nya, "Hal ... " belum selesai Ilham menjawab, suara dengan sedikit memekakan telinga sudah terlebih dulu berbicara.
"Mas dimana sih, ini tuh udah jam berapa katanya cuma mau melihat mbak Hanum kok sekarang belum pulang? cerocos Amel panjang lebar.
"Kamu bisa dengerin aku dulu gak sih Mel, jangan nyerocos kaya kereta api begitu dong, mana gak pake salam lagi." sungut Ilham.
"Maaf Mas habis aku kesel ini kan malam pengantin kita, Mas bukan nya nemenin aku malah aku nya di tinggal sendiri," jawab Amel sendu.
"Iya maaf, Mas ini mau pulang kamu tunggu saja dirumah ya? mas sebentar lagi sampai."
"Ok Mas cepat ya jangan lama-lama aku takut sendirian dirumah?" manja Amel.
"Iya, ya sudah Mas tutup telfon nya? Assalamualaikum."
Tanpa di sadari Ilham ada hati yang tersayat perih mendengar nya ber telfon ria dengan istri baru nya, ya Hanum sudah terlanjur bangun karena mendengar dering suara telfon, walaupun sempat merasa bahagia karena Ilham pulang kerumah berfikir akan bersama dengan nya melewati malam ini. Tapi Hanum juga seakan lupa kalau hari ini adalah malam pertama suaminya dengan wanita lain, mengingat itu hatinya mencelos merasa tak sanggup untuk berbagi raga suaminya dengan wanita lain.
Ilham berbalik, melihat Hanum yang pura-pura tertidur untuk menghindari Ilham, dengan lirih Ilham berucap "Mas pulang ya sayang, maaf malam ini gak bisa bersama dengan mu tapi apapun itu, dirimu tetap yang paling mas cintai sampai akhir nanti." Ilham bergerak sambil mengecup pelan kepala Hanum. Beranjak dari sisi ranjang, ilham berjalan pelan kearah pintu memutar knop pintu kamar dan pergi pulang kerumah lain nya.
Hanum bangun terduduk menatap pintu yang tertutup, "Cinta yang seperti apa mas yang begitu menyakitkan ini?" tanya Hanum dalam hati.
***
itu anak siapa?