"Menikahlah dengan wanita pilihan Kakek. Anggaplah ini sebagai permintaan terakhir Kakek kepada kamu, Askara."
Sebuah permintaan yang terlontar dari mulut pria paruh baya yang sudah tak berdaya, yaitu Genta Wiguna.
Ghattan Askara Wiguna adalah pria yang mencoba meninggalakan tanah air demi dua misi. Misi pertamanya sudah berhasil, yaitu menjadi pengusaha sukses. Namun, tidak dengan misi kedua. Bayang wajah wanita yang telah membuat hatinya porak poranda masih selalu melekat di hati dan kepalanya. Ternyata, mengikhlaskan itu tidak semudah yang dibayangkan.
Kali ini, Aska dihadapkan dengan sebuah permintaan sang kakek yang sudah lemah dan melekat berbagai alat medis di tubuh pria yang banyak membuatnya berubah.
Apa Askara akan mengabulkan permintaan terakhir sang kakek? Atau dia memilih untuk menunggu wanita yang dia cintai yang tak lain adalah istri dari mantan sahabatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Hembusan Angin
"Satu bulan," gumam Aska ketika dia sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur. Matanya terpejam berharap ini hanya mimpi buruk yang tengah menghampirinya.
"Antel."
Suara bocah kecil terdengar. Aska segera membuka matanya dan menoleh ke arah samping tempat tidur, di mana keponakan tampannya sudah berdiri dengan dahi yang ditempeli kompres demam untuk balita.
"Loh, kenapa keluar kamar?" Aska segera terduduk dan menghampiri Gavin. "Nanti dimarahi Mommy." Aska mengusap rambut Gavin dan menggendongnya.
"Atu mau Puyang."
"Iya, nanti kamu boleh pulang dan
**U**ncle pun akan ikut kamu pulang." Mata Gavin berbinar mendengar ucapan dari Askara. Wajahnya terlihat sangat bahagia.
"Ciyus?" Aska menganggukkan kepalanya. Gavin memeluk tubuh Aska yang tengah menggendongnya.
"Atu mu tenalin Antel te temen-temen atu." Aska hanya tertawa. "Meleta dak pertaya talo Daddy atu punya tembalan," tuturnya.
Segundah apapun Aska, jika sudah mendengar Gavin mengoceh akan membuat Aska tertawa dan melupakan sedikit kegelisahan yang ada.
.
Kini, tiba saatnya mereka semua bertolak ke Jakarta. Kakek Genta sudah dinyatakan sembuh dan bisa melakukan penerbangan. Sudah ada Beby dan juga Azkano yang menunggu mereka di Jakarta.
"Yeay! Nait tawat teblang."
Seruan dari Gavin membuat semua orang tersenyum. Bocah dua tahun itu sangat terlihat antusias sekali. Echa dan Radit sudah pulang terlebih dahulu seminggu yang lalu karena ketiga anak mereka harus bersekolah kembali. Radit pun harus mengurus ayahnya yang masuk ke rumah sakit.
"Empin mau duduk sama Uncle gak?" Gavin menggeleng dengan cepat. Menolak penawaran dari Aska.
"Nanti Mommy diambil Daddy."
Jawaban Gavin membuat semua orang tertawa. Sikap posesif Gavin sangat terlihat jelas ketika sang ayah berada di samping ibunya.
"Kasih ruang untuk Daddy berdua sama Mommy dong," pinta Aksara.
"No, Daddy! No!" Tangan Gavin sudah melarangnya dan membuat Aksa pura-pura merajuk.
"Okeh, kalau begitu gak boleh beli mainan selama satu bulan." Gavin yang sudah memeluk tubuh ibunya kini menoleh ke arah sang ayah dengan tatapan permusuhan.
"Balin, ental dibeliin Mommy. Iya tan My," ucap Gavin sambil mendongak ke arah sang ibu.
"Loh, Mommy 'kan gak kerja. Gimana mau beliin Empin mainan coba." Mata Gavin pun berkaca-kaca mendengar ucapan dari Riana. Dia tidak bisa berkata, tetapi bibirnya sudah mulai bergetar.
Tak tega melihat putranya menangis, Aksa mengambil Gavin dari pangkuan sang istri dan memeluknya.
"Jagoan Daddy jangan nangis dong." Aksa mengusap lembut rambut belakang Gavin.
"Daddy hanya bercanda."
Keluarga Aksa hanya menyunggingkan senyum ketika melihat betapa Aksa menyayangi Gavin. Aksa adalah ayah yang baik untuk putranya.
Tibanya, di Jakarta mereka disambut hangat oleh semua anggota keluarga. Kakek Genta merasakan kebahagiaan yang tak terkira. Dikelilingi orang-orang yang dekat dengannya membuatnya jauh lebih sehat. Apalagi, ada sahabatnya yang juga datang menyambutnya, Addhitama.
Namun, kabar perihal perjodohan Aska belum kakek Genta umumkan. Padahal, dua puluh hari lagi pernikahan itu akan dilangsungkan. Ketika semua orang berkumpul, Aska memilih untuk masuk ke kamarnya. Membuka jendela dan menatap langit malam yang cerah.
"Dua puluh hari lagi," gumamnya. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa takdirnya akan seperti ini. Berharap akan bisa membawa pilihannya sendiri ke hadapan keluarga, tetapi harus menerima bahwa dia dijodohkan.
"Ingat Askara, dia itu bukan wanita sempurna. Dia memiliki kekurangan. Jangan tinggalkan dia karena sebuah keegoisan. Dia wanita rapuh, dia membutuhkan pria yang kuat seperti kamu. Pundakmu harus bersedia menjadi sandaran kapanpun dia butuhkan. Kakek yakin, dia akan menyempurnakan hidup kamu."
Askara memijat keningnya yang terasa pusing. Menolak adalah hal yang mustahil, menerima pun seperti mendapat misteri boks. Tidak diberitahu siapa wanitanya.
Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan rokok yang biasa dia hisap. Ketika seperti ini hanya rokok yang menjadi temannya. Kepulan asap rokok yang keluar dari mulutnya seperti membawa rasa perihnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 23.29 wib. Aska masih betah memandangi langit malam ini. Dia mengambil jaket dan kunci motor. Dia ingin mencari angin malam yang sudah dua tahun ini tidak dia lakukan di Melbourne.
"Mau ke mana?" tanya Aksa yang baru saja menutup pintu kamarnya.
"Ke angkringan. Bang. Mau nitip?" Aksa menggeleng. Dia mendahului adiknya karena air galon di kamarnya sudah habis. Dia takut putra ataupun istrinya kehausan.
"Jangan ngebut!"
"Hm."
Aska mengeluarkan motor dari garasi dan meminta penjaga gerbang utama untuk membukakan pintu. Security di sana sudah sangat hafal akan kelakuan anak bungsu dari keluarga Giondra ini.
"Makasih, Pak." Aska menyelipkan uang lima puluh ribu ke saku baju sang penjaga, membuatnya menundukkan kepala dan mengucapakan terima kasih.
Di angkringan, suasana sepi karena malam ini bukan malam Minggu ataupun hari libur. Dia memesan susu jahe untuk menghangatkan tubuhnya dan juga sate-satean yang menjadi favoritnya.
"Ke mana aja?" tanya si mas angkringan.
"Nguli, Mas." Aska masih merendah kepada siapapun. Apalagi kepada orang yang mengenalnya.
Dia menikmati susu jahe beserta sate-satean seorang diri dan hanya bertemakan hembusan angin yang mulai menusuk ke dalam tulangnya. Banyak yang dia pikirkan malam ini. Bukan tentang pekerjaan, melainkan tentang perjodohan.
Jam 01.30 Aska pulang. Dia mengendarai motor penentuan dua sahabatnya dengan pelan sambil merenungi nasibnya yang memilukan ini. Dari kejauhan dia melihat seorang wanita yang tengah berada di depan mobil sendirian seperti orang kebingungan. Aska segera menghampirinya dengan menepikan motornya di belakang mobil itu.
"Permisi, mobil Mbak kenapa?"
Mendengar ucapan seorang pria membuat wanita itu sedikit terkejut. Kemudian, dia menoleh ke arah belakang dan tubuhnya menegang. Sama seperti Aska yang membeku.
"B-bang As."
Aska benar-benar tak menyangka bahwa akan bertemu dengan Jingga di malam ini. Di tempat yang sepi dan gelap. Jingga tak berani mendekat, dia takut Aska menolak. Aska melihat Jingga dari atas sampai bawah. Dia terlihat masih mengenakan pakaian formal.
"Kenapa sama mobil kamu?" tanya Aska pada akhirnya.
"M-mogok, Bang."
Aska memeriksa mobil Jingga hingga tangannya kotor. Dia pun berkata, "kudu dibawa ke bengkel." Jingga hanya mengangguk.
Jingga memberikan tisu basah kepada Aska untuk membersihkan tangannya. Aska menatap ke arah Jingga yang juga menatapnya. Kemudian, Jingga memutus tatapan tersebut.
Lama mereka terdiam, hingga akhirnya Jingga membuka suara. "Bang As, tolong pesankan taksi online. Ponsel aku mati," ucapnya penuh keraguan.
Aska menatap Jingga dengan tatapan datar. Mulutnya masih terkatup rapat.
"Ya udah, kalau gak bi-"
"Aku antar kamu pulang."
Kalimat yang tak Jingga sangka keluar dari mulut Askara. Pria itu sudah berjalan ke arah belakang di mana motornya berada, tetapi Jingga masih mematung di tempatnya. Aska berdecak kesal ketika Jingga masih berada di tempat awal. Dia menghidupkan mesin motornya dan menghampiri Jingga.
"Ayo! Aku bukan pria jahat."
Jingga masih terdiam, angin cukup besar berhembus membuat Jingga memeluk tubuhnya sendiri dan membuka pintu mobil. Dia mengambil tasnya. Ketika Jingga hendak menutup pintu, dia merasakan sesuatu menempel di pundaknya.
"Pakai jaket, angin malam gak bagus untuk kesehatan."
Jingga terhenyak mendengar ucapan Aska tersebut. Ingin rasanya dia memeluk tubuh pria yang kini memunggunginya. Ujung matanya berair dan dia segera mengikuti langkah Aska.
"Pegangan."
Perintah Aska sebelum dia melajukan motornya. Perlahan kedua tangan Jingga terulur ke depan. Memegang kedua sisi baju Aska. Namun, Aska menariknya dan tangan Jingga pun melingkar di perut Aska.
"Jaket aku kamu pakai, aku bakal kedinginan lah."
Terkejut, sudah pasti. Namun, ucapan Aska itu mampu membuat Jingga melengkungkan senyum.
"Aku hanya ingin merasakan pelukanmu untuk terakhir kali. Sebelum aku menjadi milik orang lain."
...****************...
Komen atuh ...
udah taksempur abDi lu sadar.,
atau ngemis y.. minta di akui.. 😁😁😁
pasti ada sinar setelah ny..
padahal udah banyak hati yg mereka sakiti..
orang sabar rezeki ny luas 😊😊😊
jangan y dek y.