NovelToon NovelToon
Bima

Bima

Status: tamat
Genre:Romantis / Badboy / Tamat
Popularitas:351.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: aisy hilyah

Sekuel dari novel Abang Penjual Sate, Imamku dan Ibu pengganti. Selamat membaca.

Seorang bayi yang masih merah, terlempar ke dalam jurang yang dalam. Ia ditemukan oleh wanita paruh baya, istri seorang preman pasar yang disegani. Ia dirawat sepasang suami istri itu dengan penuh kasih sayang walaupun cara didikan keduanya berbeda. Bayi itu diberi nama BIMA.

Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis yang memiliki wajah hampir serupa dengannya. Dengan mempercayai sebuah mitos bahwa jodoh itu pasti memiliki kesamaan, keduanya pun menjalin hubungan pertemanan.

Namun, hal itu membuat ayah angkat Bima ketakutan. Ia memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung dan menetap di kota. Hal itu membuat mereka harus mempelajari cara hidup di lingkungan baru itu.

Sampai sebuah pertemuan tak terduga terjadi, menguak siapa sesungguhnya Bima.

"Kak, kenapa wajah kita terlihat sama?" Gadis misterius.

"Kata Nyak gua kalo muka kita mirip ntu artinya kita jodoh. Neng, lu mau kagak jadi bini gua?" Bima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part. 8

Dewa adalah sosok yang dikenal sebagai preman di pasar tradisional kota tersebut. Dia adalah seorang pesilat berbakat sejak muda. Hanya saja, Dewa tak pernah memamerkannya di khalayak umum hanya untuk mendapatkan simpati orang-orang atau pun supaya memiliki nama dan disegani.

Ia menggunakan keahliannya itu hanya untuk melatih dirinya sendiri dan di saat terdesak saja guna melindungi diri sendiri juga wilayah kekuasaan yang dipegangnya. Dulu, saat ia masihlah muda, preman-preman dari desa lain selalu datang untuk menjarah para pedagang di pasar tersebut.

Karena muak dengan tingkah kesewenang-wenangan mereka, Dewa akhirnya memberanikan diri untuk melawan. Satu lawan satu, ataupun secara keroyokan sudah dihadapi Dewa demi membela hak para pedagang di pasar tersebut.

Di pernah terluka parah, pulang dalam keadaan babak belur, bahkan kaki dan tangannya juga pernah cedera, tapi Dewa adalah sosok yang pantang menyerah saat sudah mengambil tindakan. Dia akan tetap berdiri meski tujuh lubang di wajahnya mengeluarkan darah. Oleh karena sikapnya yang pantang menyerah sebelum mati itu, ia jadi ditakuti oleh preman-preman tetangga sebelah.

Kemudian semua itu, menurun pada Bima. Anak angkatnya. Bayi yang ditemukan istrinya di tepi sawah sedang digigit anjing. Darah Dewa mengalir sekalipun dia bukan darah dagingnya. Tak jarang Bima pulang dalam keadaan wajah yang memar.

Dan kali ini pun, ia berdiri tegak di hadapan tiga orang preman bertubuh besar yang hendak menculik gadis kecil itu.

"Oh ... jadi lu yang namanya Bima?" Ia mencibirkan bibir, melirik pada dua orang rekannya yang bersembunyi di balik tubuh. Ia berdecak mengejek.

"Cuman bocah ingusan kaya gini, lu pada takut ngelawan dia? Kenapa? Karena nama babehnya? Cemen lu!" sengitnya hingga cairan dari dalam mulutnya menciprati wajah mereka berdua.

Ia berkacak pinggang arogan. Bima tersenyum tipis melihat gigil di tubuh kedua preman itu.

"Ka-kalo Abang berani ... sono, dah, adepin ndiri. Kita, mah, ogah. Takut," ucap salah satu dari mereka yang disetujui yang lainnya.

"Halah lu pada, bilang aja kalo pengecut. Ama bocah bau kencur aja takut lu. Liatin ni gua bakalan libas ntu bocah!" katanya menepuk-nepuk dadanya dengan angkuh.

Kedua orang itu bergidik ngeri, lebam di wajah mereka saja belum hilang bekas hantaman tinju Bima sebagai hadiah karena telah mengganggu seorang Ibu di pasar.

"Woy, Abang preman! Lu belum kapok juga udah gua bilangin kemarin, masih aja lu pada gangguin orang." Bima memanggil keduanya dengan senyum sinis yang tersemat. Bertambah menggigil tubuh kedua orang itu, tak ingin lagi dihajar Bima keduanya lebih memilih meminta maaf.

"Ampun, Tong! Ampun! Kapok, dah, kapok! Ampun. Jangan lu pukul kita berdua, ya! Ampun!" ucap mereka serempak dengan kedua tangan menangkup di wajah.

Plak!

Plak!

Dua sabetan di kepala diterima keduanya. Mereka mengusap-usapnya untuk menghilangkan rasa sakit. Apa yang mereka lakukan telah menginjak harga dirinya sebagai seorang preman.

"G*bl*k lu pada! Kagak ada harga dirinya lu jadi preman! Heh ... gua beri juga lu!" Keduanya menunduk cepat saat sikut preman yang mereka panggil Abang itu ia gerakkan.

Laki-laki itu berpaling lagi pada Bima. Matanya tajam menatap, sinis dan berkobar.

"Heh, bocah! Nyali lu gede juga, ya? Gua pites baru nyaho lu. Bocah segede kutu buaya aja udah sombong bener lu." Ia tersenyum smirk. Mengantarkan ancaman pada manik hitam Bima.

Namun, bukannya takut, Bima justru tersenyum sedikit lebar seolah-olah akan mendapatkan apa yang dia inginkan.

"Mending kutu buaya, Bang. Dari pada lu kutu monyet. U'u ... a'a ...." Jengkel sudah ia dibuat Bima. Terlebih saat melihat bocah itu memperagakan gaya monyet sambil menirukan suara binatang itu.

"Asem banget lu! Minta dihajar beneran ni bocah? Gua bejek-bejek lu jadi oncom." Ia membuka jaket kulit yang dikenakannya, dan memperlihatkan otot-otot perutnya yang berbentuk kotak-kotak.

"Lu pikir gua takut ama anceman lu? Mari, lu jual ... gua beli!" Bima membentuk kuda-kuda dengan kedua tangan yang siap siaga menangkis dan menyerang.

Semakin tersulut lelaki itu, wajahnya merah padam karena luapan emosi yang meledak-ledak. Gadis kecil yang melihat kode dari Bima untuk lari, segera mengambil langkah seribu meninggalkan ketiga preman itu.

"Woy! T*l*l!" Kecolongan, ia memukul kepala mereka berdua lagi.

"Kakak! Kumohon, jangan melawan mereka. Sebaiknya kita lari dan mencari bantuan. Ayo, Kak!" ajak gadis kecil itu sambil menarik-narik tangan Bima mengajaknya berlari.

"Gua kagak bisa kabur gitu aja, ntu artinya gua pengecut, dan pengecut bukan sifat laki. Dah lu diem di bawah pohon ntu. Kalo mereka ngejar lu, pegi, lari dan cari tempat rame, ya," pinta Bima sambil menunjuk pohon di mana tasnya tergeletak.

"Banyak bacot lu! Sini lu gua beri sekalian!" Ia berteriak dan berlari menerjang tubuh Bima. Namun, satu serangan itu dapat ditangkis Bima tanpa kesulitan.

"Kaget lu, Bang!" Bibir mungilnya tersenyum mengejek. Laki-laki itu menggeram. Ia melancarkan serangan keduanya, ketiga keempat hingga sepuluh serangan yang membuat napasnya tersengal, semuanya dapat ditangkis Bima dengan mudah dan tanpa kesulitan.

"Sering-sering, deh lu, Bang, lari biar napas lu kagak ngos-ngosan kaya gitu!" ejek Bima lagi. Ia terkekeh dan mengambil ancang-ancang siap menyerang.

"Giliran gua, Bang!" Ia berlari dan melakukan salto di udara. Tubuh Bima mendarat mulus di depan wajahnya dengan kedua kaki yang mengapit leher preman tersebut. Bima memisahkan kedua tangan hingga membentang lurus. Lalu, ia memukulkannya dengan kuat di kedua sisi kepalanya.

Bam!

"ARGH!"

Ia berteriak kuat, tubuhnya termundur ke belakang dan hampir oleng. Bima menurunkan tubuhnya, kedua tangan menapak tanah dengan kaki yang tak lepas menjepit leher preman itu. Ia menggerakkan kakinya tersebut ke depan tubuh, melayang tubuh besar itu melewati Bima dan jatuh berdedam di atas tanah.

Bam!

"ARGH!"

Sekali lagi dia menjerit, tubuhnya menggeliat kesakitan di atas tanah. Bima menegakkan tubuhnya, ia melangkah tanpa takut mendekati preman tadi.

"Jangan lagi-lagi gua liat lu pada bikin onar! Ingat nama gua, Bima!" tegasnya mengancam. Kepalanya cepat menoleh pada sisa preman yang sedari tadi menatap ngeri duel Bima dan rekannya.

Tatapan mata bocah sepuluh tahun itu benar-benar membuat tubuh mereka meremang seketika. Bima melengos, mendekati gadis kecil yang ternganga tak percaya dengan aksi Bima. Dia mempesona! Tak hanya wajahnya yang tampan, tapi juga gagah dan berani. Memuji dalam hati.

"Pegi!" titah Bima dengan suara pelan yang ditekan. Kedua preman itu mengangguk patuh, mereka berbalik, tapi langkahnya seketika berhenti saat mendengar suara teriakan rekannya yang meminta tolong.

"Woy, tulungin gua! Jangan tinggalin gua, pinggang gua sakit!" teriaknya sambil mencoba untuk bangkit. Bima tertawa kecil bersama gadis itu.

Kedua orang itu kembali mendekati dan membantu rekannya itu untuk berdiri.

"Pergi lu pada!" Bima menendang dua kerikil ke berbeda arah. Menghantam kedua bokong preman yang memapah temannya.

"Aw!"

"Aw!"

"Kak!" Bima menyudahi tawanya. Ia berpaling dengan senyum yang manis. Wajah berkeringatnya menambah kegagahan pada sosoknya.

"Terima kasih, lagi-lagi Kakak menolongku," katanya sambil tersipu malu. Bima menggaruk kepalanya, ia berpaling malu juga.

"Kagak apa-apa."

Mungkin mereka terlibat cinta monyet?

1
菲菲 Dwi L Arema
G ingat cp dia dlu
菲菲 Dwi L Arema
Dari dlu kenapa aulia ttp bego thor
🌹🪴eiv🪴🌹
terimakasih untuk tulisan indah mu thor
udah bikin aku yg pilek tambah 🤧 ,🤣🤣🤣
🌹🪴eiv🪴🌹
lah salah bully, anak sultan itu
habis kau Yola dkk 🤣
🌹🪴eiv🪴🌹
si Akmal kenapa jadi arogan begini 😫
🌹🪴eiv🪴🌹
ya Allah, Ibrahim di gondol anjing 😫
Alhamdulillah masih hidup 🤗
Christina Dariyem
Ya Allah mulianya hati ni orang sekeluarga nyesek banget
Aisy Hilyah: Alhamdulillah
total 1 replies
Christina Dariyem
Sedih banget ampe ikutan mewek dada nysek jg
Aisy Hilyah: terima kasih sudah membaca
total 1 replies
Christina Dariyem
cerita ya bgs banget saya suka sekali baca ini
Aisy Hilyah: Alhamdulillah terima kasih banyak
total 1 replies
Mareew
alur. kisah nya.. semua bagus
Aisy Hilyah: terima kasih banyak
total 1 replies
Mardiati Badri
good enough
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Karmilah Milah
lanjut lagih dong cerita bima seru untuk di baca ngabu burit
Aisy Hilyah: Alhamdulillah hehe terimakasih banyak
total 1 replies
Sri Juliani
akh..ngapa athor begitu romantis dan puitis islami..semoga..bima membawa oran yg dapat menyejukan pembaca...
Aisy Hilyah: aamiin
total 1 replies
Sri Juliani
lama benar author tuk buat tes DNA.ya
Sri Juliani
mudah2 babeh mau berlapang dada..menerima kenyataan yg akan terjadi,jgn sampai karena ke egoisan nyak dan babeh bima jadi benci..
Sri Juliani
hati2 pak dewa..takutnya terjadi percintaan sedara,ayyra ingatkan adikmu,ceritakan pada nassya,agar dia tahu bahwa dia punya kakak laki2..
Yurniati
extra part thorr
Aisy Hilyah: hmm nanti dipikirin lagi hhe
total 1 replies
Yurniati
lanjut thorr
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
sri mindaryati
pas bima ngrokok maskernya dibuka apa ga ya
Aisy Hilyah: dibuka masa dilubangi kayak si kakek 🤭
total 1 replies
Uliana Takbir
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!