Di dunia ini, tidak semua orang bekerja demi mengejar mimpi. Sebagian hanya berusaha bertahan hidup.
Ling Qi adalah salah satunya.
Sebagai penambang biasa di China, hidupnya dipenuhi debu tambang, utang yang terus menumpuk, dan hari esok yang tidak pernah menjanjikan harapan. Ketika sebuah kejadian menghancurkan sisa keberuntungannya, ia mengira hidupnya telah mencapai titik terendah.
Namun, jauh di bawah tanah, sebuah portal misterius membuka jalan menuju dunia yang belum pernah dijamah manusia.
Di balik kegelapan gua-gua kuno, tersembunyi mineral berharga, reruntuhan yang menyimpan rahasia, serta monster yang menjaga harta mereka dengan nyawa.
Di sana, Ling Qi memperoleh 《World Mining System》, sebuah sistem yang mengubah setiap ayunan pickaxe menjadi kesempatan untuk mengubah takdir.
Tetapi semakin dalam ia menambang, semakin ia menyadari bahwa dunia itu bukan sekadar tambang.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar menunggu di balik setiap portal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Di ujung hutan lebat itu, tanah mulai menurun landai membentuk sebuah lorong alami yang menganga lebar, dindingnya berwarna merah muda pucat dengan tekstur berlekuk-lekuk yang basah, berkilau tertimpa cahaya remang yang entah dari mana asalnya. Bau anyir bercampur aroma asam menyengat hidung Ling Qi begitu dia melangkah lebih dekat.
'Ini... seperti tenggorokan.' Dia menelan ludah, mengingat kembali pesan sistem yang menyebutkan dia sedang berdiri di atas mulut mayat seekor naga. Kalau benar begitu, lorong di depannya ini kemungkinan besar adalah jalan menuju bagian dalam tubuh makhluk raksasa itu.
Ling Qi melangkah masuk, langkahnya hati-hati di atas permukaan yang licin dan sedikit kenyal seperti daging basah.
Belum jauh dia berjalan, tiga sosok goblin bertubuh lebih besar dari yang pernah dia temui sebelumnya muncul dari kegelapan lorong, mata merah mereka menyala di antara bayangan.
Ling Qi tidak menunggu mereka menyerang lebih dulu. Dia melesat maju, tangannya yang kini terasa lebih kuat dari sebelumnya menghantam kepala goblin pertama hingga hancur seketika. Goblin kedua mengayunkan tombak kasar ke arahnya—Ling Qi menunduk, membiarkan tombak lewat di atas kepalanya, lalu bangkit sambil menghantam rahang goblin itu dengan kepalan tangan, membuatnya terpental membentur dinding lorong yang basah.
Goblin ketiga mencoba melarikan diri begitu menyaksikan kedua rekannya tumbang dalam hitungan detik. Ling Qi mengejarnya dua langkah, menangkap tengkuknya, dan mematahkannya dengan satu putaran cepat.
Ketiga tubuh itu pecah menjadi butiran cahaya, menghilang tanpa jejak.
Ling Qi baru saja hendak melangkah lebih dalam ketika telinganya menangkap suara berkelebat cepat dari arah depan—sesuatu yang bergerak jauh lebih halus dan terkendali dibandingkan monster mana pun yang pernah dia hadapi.
Sosok itu berhenti tepat di depannya, hanya berjarak selangkah, tanpa suara berisik sedikit pun saat mendarat.
Rambut hitam panjang, wajah familiar yang kini tanpa jejak rasa malu seperti terakhir kali mereka bertemu di mall—Shi Yao.
Ling Qi terdiam sesaat, terkejut. "Kau—"
Shi Yao tidak menjawab. Dia hanya menatap Ling Qi selama beberapa detik, matanya menelusuri wajah pemuda itu seolah mengukir sesuatu di dalam ingatannya, lalu melangkah melewatinya begitu saja, seperti Ling Qi hanya sebuah tiang yang menghalangi jalan.
"Aku akan kembali ke Bumi," ucap Shi Yao, suaranya datar tanpa emosi, langkahnya tidak berhenti. "Semua yang ada di sini, aku serahkan kepadamu."
"Tunggu—apa maksudmu 'menyerahkan'? Kau tahu apa yang sebenarnya terjadi, bukan? Kenapa orang-orang di mall itu—"
Ling Qi belum sempat menyelesaikan pertanyaannya ketika sebuah geraman rendah menggema dari kedalaman lorong, disusul suara derap kaki berat yang bergerak cepat mendekat dari kejauhan.
Shi Yao menoleh sekilas ke arah suara itu, ekspresinya berubah waspada. "Tidak ada waktu untuk menjelaskan."
Ling Qi menghela napas pelan, mengesampingkan rasa penasaran yang masih menggantung di kepalanya. Dia tahu, memaksa seseorang yang jelas sedang terburu-buru bukan hal yang bijak.
"Baiklah," ucapnya akhirnya. "Tapi sebelum kau pergi—tolong jaga ibuku."
Shi Yao terdiam sejenak, menatap Ling Qi dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara terkejut dan sesuatu yang lebih dalam yang tidak dia perlihatkan secara jelas. Dia mengangguk pelan, sekali, tanpa berkata apa-apa lagi.
Lalu, dalam sekejap mata, tubuhnya menghilang begitu saja, seperti tertelan udara, tidak menyisakan jejak sedikit pun selain gema langkah kakinya yang masih terngiang di lorong sempit itu.
Ling Qi berdiri terpaku beberapa detik, menatap ruang kosong tempat Shi Yao baru saja berdiri. 'Siapa sebenarnya dia? Menghilang seperti itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan manusia biasa.'
Namun deru langkah berat yang semakin mendekat memaksanya mengesampingkan pikiran itu. Dia menggelengkan kepala, mengepalkan tangan. 'Nanti saja aku pikirkan. Sekarang, fokus dulu.'
Sesosok monster besar menyerupai babi hutan raksasa dengan taring melengkung setinggi lengan orang dewasa menerjang keluar dari kegelapan lorong, diikuti dua ekor sejenis di belakangnya.
Ling Qi memasang kuda-kuda, matanya yang tembus pandang langsung menandai titik lemah di setiap tubuh mereka.
Pertarungan itu tidak berlangsung lama. Satu per satu monster tumbang di bawah kepalan tangannya, tumbukan tulang dan daging yang pecah menjadi cahaya memenuhi lorong sempit itu dalam waktu kurang dari lima menit.
Ling Qi berjalan mengumpulkan item-item yang berjatuhan dari tubuh mereka—taring, kulit tebal, beberapa bongkah batu aneh berwarna kehitaman—memasukkannya ke dalam inventory sistem tanpa perlu membawa beban fisik apa pun.
Dia melanjutkan langkahnya lebih dalam, menyusuri lorong yang perlahan melebar, dindingnya berubah dari tekstur daging basah menjadi permukaan yang lebih keras, seperti tulang rawan yang mengering.
Beberapa monster lain muncul di sepanjang jalan, tetapi semuanya tumbang dengan mudah, tidak satu pun yang membuat Ling Qi berkeringat lebih dari beberapa tetes.
Setelah menghabisi gerombolan terakhir, Ling Qi berhenti sejenak, menyeka keringat di dahinya, lalu menghela napas panjang sambil menatap lorong kosong di depannya.
"Ah, tidak ada apa monster yang kuat di sini!" gerutunya, suaranya menggema di sepanjang dinding lorong yang sunyi.
Dia tidak menyadari, di kejauhan yang jauh lebih dalam dari tempatnya berdiri sekarang, sesuatu yang jauh lebih besar dari apa pun yang pernah dia hadapi mulai bergerak, terusik oleh gema suaranya sendiri.