21+
[Penuh dengan adegan dewasa yang explicit (jelas), pertengkaran, kata-kata kasar, alkohol dan gaya hidup bebas]
Cassandra De Angelis seorang produser musik yang sangat sukses harus berakhir dalam kecelakaan maut yang hampir merenggut nyawanya. Namun, keberuntungan menyelamatkannya dari maut dan membuat dia bisa sembuh. Hanya saja, saat dia terbangun dia seolah melupakan sesuatu tentang kejadian yang menimpanya. Cassandra tidak ingat sedikit pun tentang kecelakaan itu dan keluarganya pun seolah menyembunyikan sesuatu darinya. Hingga akhirnya potongan ingatannya perlahan muncul, membentuk dan menyusun puzzel yang akan menjawab misteri di balik kecelakaannya. Misteri yang akan membawa dia pada sebuah kisah yang rumit. Kisah yang akan mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aresss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Friends
Happy Reading
This chapter I dedicated to my sister and Doggy who want to be my best friend
***
"Cassie!" suara wanita yang cukup melengking membuat Cassie yang tengah menikmati bubur makan siangnya tersenyum sumringah.
"Bambi," ucap Cassie dengan suara sedikit kencang yang penuh kegirangan. Matanya menatap ketiga teman baiknya yang akhirnya bisa datang menjenguknya setelah dua minggu berlalu. Atas saran dan anjuran Dokter yang menangani Cassie, pengunjung yang hendak mengunjunginya harus terbatas.
Bambi, Meghan, dan Gerald.
"Aku akan pergi.. Nikmati waktu kalian," Barbara yang tengah memberi makan Cassie segera menarik diri dari sana dan memberi waktu untuk mereka berempat
"Oh my Cute-y Cassie..." Gerald melempar dua tas belanja ke atas sofa dengan gaya anggunnya. Kakinya melangkah ke arah Cassie dan memberikannya cium dikedua pipi Cassie dengan pipinya. Gerald melepas pelukan dan menggoyang jemarinya yang dimanikur sedemikian rupa. Beberapa tindikan di telinga dihiasi dengan anting-anting. Kulitnya yang gelap nampak mengkilap dibawah pantulan lampu.
"Kulitmu semakin berkilau, Gerald.."
Gerald menggoyang jemarinya dalam gerakan khas yang girly*, "Tentu saja.. Aku berjemur terus untuk mendapat kulit seperti ini.."
(*Feminim)
Bambi maju ke arah Cassie untuk melakukan ciuman ala-ala padanya. Gaya khas Bambi masih begitu jelas dalam ingatan Cassie. Pakaian dan dandanan feminim, rambut pirang yang panjang, dada dan bokong besar, dan dia terlihat glamor dalam balutan crop putih dan rok lipat biru sepaha. Khas seperti wanita pirang elit di Los Angeles.
"Aww.. aku senang akhirnya bisa bertemu denganmu, Cass.." ujar Bambi seraya menarik diri.
"Jangan harap aku melakukan itu..." Meghan, si wanita kaku. Dia dan Bambi adalah saudara, tapi keduanya sangat berbanding terbalik. Jika Bambi suka warna terang dan mencolok, Meghan justru lebih senang dengan pakaian gelap. Bahkan rambut pirangnya di cat secara berkala menjadi rambut hitam.
"Aku juga tidak berharap memelukmu.." ujar Cassie dengan nada bercanda.
"Aku juga.. Kau bau seperti biasa..."
Mereka tertawa kecil dan mengambil posisi duduk. Gerald membawakan Cassie beberapa potong pakaian baru dari butiknya, Bambi membawa boneka beruang besar berwarna putih dan Meghan membawa sebuah-- Ah, bahkan Cassie sulit menyebutkan nama benda itu dalam pikirannya. Itu semacam benda--Uhm... Berbentuk panjang dan dapat bergetar. Rrr.. Cassie kesulitan mengatakan nama benda itu.
"Meghan.. Hadiah macam apa itu?" tanya Bambi dengan nada penuh kengerian pada saudarinya tersebut. Tidak menyangka bahwa Meghan akan membawa hadiah seperti ini.
Cassie memegang kotak itu dan memandangnya dalam diam dengan senyum kaku.
"Aku membaca artikel jika orang sakit yang baru keluar dari rumah sakit memiliki tingkat naf-su yang tinggi. Karena kau tidak punya pacar jadi aku membelikan ini untukmu..."
"Oh my.." bisik Cassie, "Thank you.." kata dia dengan nada kaku.
"Itu edisi terbatas..."
"Apa benda itu bisa masuk ke lubang kewani--"
"Stop..." Cassie memotong Gerald dan dia tidak sanggup mendengar semua hal itu untuk sekarang.
"Berikan padaku," Bambi mengambil kotak itu dari tangan Cassie dan memasukkannya kedalam paper bag-nya, "Kalian membuat seorang pasien trauma.."
"Terimakasih untuk hadiah kalian yang luar biasa..."
Ketiganya menatap Cassie dengan tatapan lembut dalam keheningan. Seolah mereka mampu berkomunikasi hanya melalui tatapan itu saja. Tak lama kemudian, tangan Bambi memijat pelan paha Cassie.
"Apa kau bosan?" nada penuh pengertian dari Bambi membuat Cassie tersenyum getir
"Yah. Sangat bosan,"
Cassie merindukan kehidupan lamanya. Menulis lagu, mengaransemen, berpesta, berjemur di bawah terik matahari, berselancar, berbelanja, minum-minum hingga mabuk, bergosip ria bersama temannya di kafe, dan semuanya. Dia merindukan segala hal yang tidak dapat dia lakukan selama satu bulan belakangan ini.
"Don't be sad, baby*.." Gerald mengetuk-etuk ujung kukunya yang panjang di pipi Cassie, "Ayolah.. Di mana semangat liarmu itu?"
(*Jangan sedih)
"Yah.." kata Cassie dengan nada sedih, "Aku hanya sangat merindukan kehidupanku yang dulu dan kalian juga.."
"Aku tidak rindu padamu.." Meghan berkata dengan nada santai sehingga mendapat pukulan lembut dari Bambi. Cassie hanya tersenyum melihat itu semua.
"Namun, aku penasaran tentang sesuatu. Kalian tahu jelas, bukan? Aku mengalami hilang ingatan parsial..."
Ketiganya diam saat Cassie membawa topik itu. Matanya menatap mereka bergantian.
"Yah.. Kalian tahu.. Mungkin kalian tahu beberapa kejadian yang terjadi padaku selama enam bulan belakangan ini? Kejadian yang penting mungkin? Atau aku bertemu seseorang..." Cassie berusaha menjelaskan dengan kalimat sesederhana mungkin, tapi nyatanya tidak. Pertanyaannya malah terdengar berputar-putar.
"Maksudmu terjadi sesuatu kejadian atau kau bertemu seseorang penting selama enam bulan ini?" Meghan mengambil alih untuk menyederhanakan pertanyaan Cassie.
"No.." Meghan menggeleng untuk menjawab pertanyaan itu seraya mengambil keripik di atas meja nakas, "Selama enam bulan ini kau hanya menghabiskan waktumu seperti biasa. Bekerja, berpesta, dan semacamnya.. Kau mau?" dia menawarkan keripik itu pada Bambi.
"No.. Sebagai guru yoga yang berbakti pada negara USA, aku tidak akan memakan makanan seperti itu.."
"Dasar lemah.." Meghan melanjut memakan keripik itu dan menawarkan pada Gerald yang juga menolaknya.
"Aku baru memanikur kuku-ku, babe.."
"Lemah.."
Cassie menatap mereka bertiga dengan tatapan biasa, "Kalian yakin?"
"Jika pun kau bertemu atau berkencan dengan seseorang, kau sangat jarang berbagai cerita dengan kami, Cassie."
"Kau benar, Gerald.."
Cassie terdiam dan menarik napas seraya mendengar perdebatan kecil antara temannya. Entah kenapa, dia merasa terkejut jika hidupnya berjalan lancar begitu saja. Well.. Memang kehidupannya selalu seperti itu, tidak ada drama. Namun, entah mengapa dia merasa ada yang aneh. Seolah di dalam hatinya yang terdalam meneriaki dia bahwa ada sesuatu yang tidak seharusnya dia lupakan. Namun, apa?
****
Ketiga tim kerja Christov bersama sekretarisnya datang menjenguknya di rumah sakit. Mereka berempat membawa buket bunga dan keranjang penuh buah-buahan.
"Selamat siang, Mrs. Connel.." sapa Josh pada Theresa.
"Yah. Selamat siang untuk kalian bertiga," sapanya dengan senyum lembut seraya berdiri dari duduknya, "Aku sudah membeli kopi dingin untuk kalian. Maafkan aku tidak bisa menyediakan sesuatu yang lebih baik.."
"That's okay, Mam.. Terimakasih atas kemurahan hati anda.." ujar Mia.
"Kalau begitu, aku akan memberi waktu dan ruang untuk kalian,"
"Thank you, Mom.." ucap Christov.
Theresa berlalu dari sana dan meninggalkan mereka.
"Duduklah.." kata Christov yang sedari awal sudah mengambil posisi duduk di atas sofa. Perlahan, tapi pasti, keadaan Christov semakin membaik yang akhirnya membuat dia mampu duduk di sofa.
Keempatnya segera mengambil posisi duduk dengan gerakan canggung. Mata Christov menatap mereka berempat dan tidak melihat banyak perbedaan pada mereka. Empat tenaga kerjanya masih berpenampilan persis di ingatan terakhirnya.
"Maafkan aku harus bertemu kalian dalam pakaian seperti ini.."
"That's okay, sir," kata Debora, sekretaris Christov.
"Terimakasih untuk bunga dan buahnya. Kalian tidak perlu repot-repot membawanya untukku..." senyum hangat menghiasi wajah Christov dan berharap senyuman itu bisa mencairkan suasana canggung di antara mereka.
"Rasanya aneh jika kami datang dengan tangan kosong..." Dylan menyahut.
"Kau benar.. Nikmati kopinya dan mari kita mulai meeting kita.."
Mia berharap bisa berbasa-basi lebih lama lagi dengan Christov, tapi sayang sekali, Bos-nya itu memanggil mereka ke sini hanya untuk masalah pekerjaan. Mia, Dylan, Josh, dan Elisabeth segera mengambil iPad kerjanya dari dalam tas.
"Apakah kalian pernah menerima proyek baru selama aku di rumah sakit?"
"No, sir.." Dylan, pria berkacamata itu-lah yang mengambil tempat untuk menjelaskan semuanya, "Kami tidak bisa menerima proyek karena kami tidak bisa melaksanakannya tanpa persetujuan Anda.."
"Aku menderita lupa ingatan parsial yang membuatku kehilangan memoriku selama enam bulan belakang ini. Dalam ingatanku, proyek terakhir yang kita kerjakan adalah Proyek CW.."
"Proyek itu sudah selesai tiga bulan lalu dan sudah dibuka untuk umum awal bulan ini, Sir,"
Christov merasa geram dengan dirinya sendiri yang tidak bisa mengingat hal itu. Padahal itu proyek terbesar yang dia terima selama tahun ini.
"Ini adalah tiga proyek yang kita kerjakan selama enam bulan belakangan ini,Sir," Dylan memberikan iPad kerjanya pada Christov. Matanya melihat tiga bangunan rumah bergaya minimalis. Digesernya layar untuk melihat denah rumah dalam bentuk 3D dan menggerak-gerakkannya.
"Apa aku ikut kerja dalam proyek ini?"
"Yes, sir.. Sebelum anda masuk ke rumah sakit, tiga proyek ini sudah selesai. Jadi sejak itu juga, kami tidak menerima proyek lainnya.."
Lima minggu, pikirnya.. Lima minggu waktu ke-empat pekerjanya terbuang begitu saja. Christov memberikan kembali iPad itu pada Dylan.
"Bagaimana dengan keuangan kita, Mona? Apa kau sudah memberi gaji ketiganya? Termasuk kau?"
"Yes, Sir.. Saya sudah mencetak pembukuan kita selama enam bulan belakangan ini, " dia memberi berkas pembukuan keuangan itu pada Christov dan dia memeriksanya.
"Sisa dari pembukuan saya masukkan ke dalam kas perusahaan dan ke buku tabungan anda.."
Christov mengangguk kecil, puas dengan hasil pembukuan Mona. Dia merasa senang bisa menggaet wanita ini bekerja sama dengannya. Walaupun bukan dari lulusan universitas ternama, tapi Mona selalu bekerja dengan baik, teliti, dan disiplin. Christov tidak pernah salah pilih.
"Pembukuannya sangat rapi," puji Christov seraya menaruh berkas itu di atas meja.
"Thank you, Sir.."
Mata Christov melihat para pekerjanya, "Kemungkinan besar aku baru bisa keluar dari rumah sakit dalam waktu tiga sampai empat minggu. Jadi, aku ingin kalian menerima proyek yang diberikan pada kita. Untuk bulan ini, terima dua proyek saja," matanya beralih ke arah Dylan, "Aku ingin kau memimpin selagi aku tidak ada, Dylan."
"Baik, sir,"
"Kirim padaku proyek kerja kita. Aku akan mengevaluasinya. Kita juga akan melakukan meeting virtual untuk sementara waktu ini. Meeting kita lakukan selama jam kerja jika kalian kesulitan dalam mengerjakan proyeknya. Juga, aku ingin melihat sudah sejauh apa proyek yang kalian kerjakan. Dylan akan mengirim setiap harinya progress yang kalian buat..."
Entah mengapa, Mia mual mendengar semua itu. Terdengar sangat melelahkan. Ah.. Dia belum siap kerja. Dia ingin tetap bermalas-malasan, tapi gaji tetap mengalir.
"Dan... Kemudian..." Mata Christov berpindah ke arah Mona, "Bawa mereka menikmati daging sapi premium setelah pulang dari sini..."
"Whoa.." senyum sumringah segera menghiasi wajah ke-empat pekerjanya dan itu membuat Christov senang.
"Gunakan dana perusahaan, aku akan menggantinya, Elisabeth. Ingatkan aku, okay?"
"Yes, Sir.. Saya pasti akan mengirim surat utang ke surel email anda..."
Christov tertawa kecil, " Baiklah.. Hanya itu yang ingin kusampaikan. Ada hal lain yang perlu kita bicarakan lagi?"
"No, sir.." jawab mereka serempak dengan nada bahagia.
"Okay... Nampaknya kalian tidak sabar menikmati daging sapinya. Kalau begitu. Sekian pertemuan ktia hari ini. Have a nice day*..."
(*Semoga harimu menyenangkan.)
"Thank you, Sir.."
"Good bye, Sir..."
Ke-empatnya bergantian mengucapkan terimakasih dan salam perpisahan mereka sebelum akhirnya benar-benar pergi dari sana. Senyum Christov perlahan menghilang seiring kepergian mereka. Matanya menatap kertas kerja, dokumen, dan iPad yang ditinggalkan untuknya dalam tatapan kosong.
Dia menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Christov merasa ada sesuatu yang menyesakkan dadanya. Sesuatu yang terkadang membuatnya kesulitan bernapas.
"Semuanya akan baik-baik saja, kan?" tanya dia pada dirinya sendiri, tapi dia sendiri tidak yakin jawaban macam apa yang harus dia beri atas pertanyaannya sendiri.
****
Miss Foxxy
mash blm paham niiii
bukany terpeleset yaaa