NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Molly Marco

Warning

Lima tahun menikah, sikap Elang pada Rindu tetap sama. pria itu jarang menyentuh istrinya, padahal Rindu memiliki hasrat yang tinggi.

Rindu yang merupakan anak yatim piatu dengan perangai santun dan lembut, memberikan pesona pada wanita paruh baya yang tak lain adalah Bella, Ibu kandung Elang. Lalu, mereka pun dijodohkan.

Siapa sangka, ternyata sikap dingin Elang menutupi sebuah rahasia yang tidak diketahui Rindu. Dan saat rahasia itu terungkap, Rindu pun memiliki rahasia yang sama.

Rahasia apa yang tersimpan dalam rumah tangga yang selalu Rindu pertahankan mati - matian hingga akhirnya ia memilih menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Molly Marco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Talak

Lang, bagaimana kalau aku yang selingkuh. Apa kamu akan memaafkanku?”

Gerakan tangan Elang yang hendak memutar gagang pintu mobil terhenti. Ia terdiam sebentar, lalu tersenyum.

“Istirahatlah. Aku tahu kamu lelah. Aku akan membiarkanmu di sini selama yang kamu mau.” Elang juga mengangkat tangannya untuk mengelus kepala Rindu.

“Istirahatlah, Rin,” ucapnya lagi.

Rindu diam. Bibirnya meringis miris. Pria itu tidak menjawab pertanyaannya. Elang memilih mengalihkan pembicaraan.

“Aku pulang dulu, Rin.” Elang pamit lagi.

Rindu kembali tak berekspresi. Wanita itu hanya berdiri mematung melihat kepergian Elang diiringi kendaraannya yang hilang dari penglihatan.

“Tidak dijawab," ucap Rindu, tersenyum miris.

Kini, ia tidak berpikir dua kali untuk berpisah. Pria itu sudah menjawab semuanya. Dengan tidak menjawab pertanyaan itu, Rindu semakin yakin bahwa tidak ada lagi yang bisa dipertahankan. Jika sebelumnya ia tak melakukan kesalahan saja, Elang bisa dengan seenaknya mempermainkan perasaannya, apalagi ketika pria itu tahu bahwa dirinya juga melakukan kesalahan. Entah sikap apa yang akan Rindu terima nantinya setelah ini.

Rindu menarik nafasnya kasar. Ia membalikkan tubuhnya dan kembali masuk ke dalam panti. Beruntung, Bu Yanti tidak mempertanyakan apa yang terjadi.

Di dalam panti, Rindu langsung bergabung dengan anak‑anak di sana. Celotehan anak‑anak itu mampu membuatnya sedikit tersenyum. Apalagi, celotehan Meisya.

Pipinya yang bulat bagai bakpao serta tingkahnya yang lucu saat memakan kue, sedikit menambah kewarasan Rindu yang sebelumnya sempat hilang dan ikut oleng karena kelakuan sang suami.

Rindu sengaja belum mengaktifkan ponselnya. Padahal di dalam ponsel itu belasan panggilan dan chat dari Rayen sudah menunggu.

Di tempat berbeda, seorang pria sedang tergila‑gila. Sejak kejadian malam itu, dikepala Rayen hanya berisi Rindu dan Rindu. Entah karena memang pria itu sudah terpesona pada Rindu sejak pertama bertemu, ditambah kesempatan yang terjadi pada malam itu.

“Ray.”

Tiba‑tiba, Vera memeluknya dari belakang. Wanita itu seolah baru datang, padahal sebelumnnya Vera sudah mendengar teriakan dari dalam kamar mandi itu.

Rayen tidak menoleh. Ia tetap berdiri di depan lemari besar itu dan mengambil kaos oblong berwaran hitam, lalu memakainya.

“Kamu tidak merindukanku?” tanya wanita itu lagi, dengan menyandarkan kepalanya pada punggung belakang Rayen yang lebar.

Rayen tak menjawab. Ia menggerakkan tubuhnya agar sang istri tak memeluk tubuhnya.

“Ray, kenapa?” Vera pura‑pura bingung. Entah mengapa disaat cuek seperti ini, ia baru memperhatikan suaminya.

Rayen masih belum membuka suara. Pria itu masih sibuk merapikan dirinya. Selesai memakai baju dan mengeringkan rambut, Rayen beranjak naik ke tempat tidur.

“Ray.”

"Rayendra."

Setelah berkali‑kali dipanggil, Rayen baru mendelik. “Kamu bicara padaku?”

Vera tampak kesal. “Kamu pikir dikamar ini ada orang lain selain kita?”

Rayen tak peduli. Melalui Ibra, diam‑diam Rayen sudah mendaftarkan gugatan cerai.

Seharusnya. Gugatan itu akan ia daftarkan ketika Rayen sudah mendapatkan bukti akurat seerti rekaman Vera dan Doni yang sedang bercinta. Tapi sayang, kedua orang itu begitu pintar. Mereka selalu melakukannya di hotel milik Doni. Sehingga semua cctv di hotel itu sudah lebih dulu di amankan oleh pemiliknya. Sehingga, Rayen hanya memiliki foto dan rekaman dua oang itu ketika jalan berdua, makan bersama, atau saat mereka berpelukan saja.

Namun, setelah kejadian malam itu terjadi, esok harinya tanpa berpikir lagi, Rayen meminta Ibra untuk mendaftarkan gugatan yang sudah tersedia.

Rayen kembali menarik selimut dan hendak tidur.

“Rayen. Aku bicara padamu.” Vera menghampiri pria acuh itu dan menarik selimut dari tubuh Rayen.

“Apa‑apaan sih kamu? Datang‑datang mengganggu.”

“Mengganggu? Jadi aku mengganggu? Aku itu istrimu, Ray.”

Rayen tertawa. “Istri? Istri yang pergi meninggalkan suaminya hampir satu bulan demi menemui kekasihnya?”

Deg

Seketika, Vera terkejut.

“Apa maksudmu?”

Rayen tertawa. “Kamu lebih tahu maksudku.”

Dengan cuek, Rayen kembali menarik selimut dan merebahkan tubuhnya. Sungguh, tubuhnya sangat lelah, belum lagi pikirannya yang sedari tadi memikirkan Rindu karena hingga kini ia tidak tahu bagaimana keadaan wanita itu.

“Rayen. Bangun! Kita belum selesai bicara.” Vera menarik lagi selimut yang menutupi tubuh suaminya.

“Ck.” Rayen hanya berdecak sembari kembali menarik selimut itu.

Vera tidak mau kalah. ia juga menarik lagi selimut itu untuk kesekian kali.

“Apa sih, Ver?” Rayen kesal hingga suaranya meninggi. “Kamu mau apa, huh?”

Vera tersentak. Puluhan tahun menjadi istri Rayen, baru kali ini pria itu membentaknya.

“Kamu membentakku?”

Rayen tak menanggapi. Pria itu kembali tidur, meski tak lagi menarik selimutnya.

Baru satu detik, ia berbaring. Rayen kembali ingat telepon dan chat nya kepada Rindu. Ia pun bangkit lagi hanya untuk mengecek ponsel yang tergeletak di meja kecil yang ada di sampingnya.

“Kamu selingkuh?” tanya Vera dengan menyambar ponsel itu.

“Kamu kurang ajar, Vera. Kembalikan ponselku!” Beruntung, Rayen belum membuka pascode ponsel itu, hanya baru meraihnya.

“Ck. Sekarang pake passcode? Hebat!” sinis Vera.

Rayen kembali merampas ponselnya dari tangan Vera.

“Memangnya hanya kamu yang bisa selingkuh. Aku juga,” ejek Rayen, membuat Vera naik darah.

Dadanya naik turun. Meski ia selingkuh, tapi ternyata diselingkuhi sakitnya seperti ini.

“Memang hanya kamu yang bisa tidur dengan dia. Aku juga bisa.”

“Rayen!” teriak Vera.

Rayen yang tak peduli dengan kemarahan itu, memilih pergi dari kamar dengan membawa bantal dan selimutnya.

“Mau ke mana kamu? Kita belum selesai,” ujar Vera sambil mengejar suaminya.

Rayen beralih ke meja tamu. Dan, Vera terus mengejarnya.

“Rayen, tunggu! Kita belum selesai.”

Vera menahan pintu yang hendak ditutup oleh Rayen saat ia memasuki kamar tamu.

“Apa lagi yang harus dibicarakan? Semua sudah selesai, Vera. Kamu kembali pada pria itu. berselingkuh di belakangku. Apa selama ini pengabdianku kurang? Tidak cukup kah aku bertanggung jawab dengan anak itu. anak yang bukan darah dagingku. Aku menyayanginya seperti anak kandungku sendiri. Tapi apa balasanmu?”

Seketika, Vera membeku.

“Aku muak, Vera. Malam ini, aku menalakmu."

Rayen menarik nafasnya panjang. Tak ada rasa gemetar sama sekali. Ia pun mengucapkan kalimat sakti itu.

"Vera Anggraini Binti Hegar Danuarta, aku talak atas dirimu. Mulai malam ini kamu bukan istriku lagi. Dan, mulai malam ini kamu haram menyentuhku dan aku haram menyentuhmu.”

Duar

Seolah disambar petir. Vera terkejut.

Ia sengaja buru‑buru pulang karena tak mendapat kabar dari Rayen. Selama kepergiannya, pria itu tidak sms, tidak juga menelepon. Ternyata, dugaannya bahwa sang suami mengetahui perselingkuhannya dengan Doni, terbukti.

Vera pasrah. Ia tidak bisa berbuat apa‑apa. Dalam hitungan detik, kini ia sudah menjadi janda.

“Aku sudah mendaftarkan perceraian kita. Silahkan kamu pergi ke rumah orang tuamu. Karena rumah ini aku beli atas namaku sendiri.”

Dada Vera semakin naik turun. “Kamu tidak akan mendapatkan harta Papaku.”

“Oh ya? memang siapa yang selingkuh lebih dulu? Kamu kan? Aku punya bukti untuk mengungkapkan itu di pengadilan. Sedangkan kamu, tidak tahu selingkuhanku.”

Pria itu kembali mengejek istri yang baru saja menjadi mantan istri.

Vera semakin marah. “Rayen! Tak akan aku biarkan harta Papa jatuh ke tanganmu.”

Rayen menyeringai. “Terserah. Lagi pula aku tidak mau harta. Yang aku mau hanya wanita itu. Selingkuhanku. Masih muda dan tubuhnya, Hm … membuatku candu.”

Ledekan itu, membuat Vera semakin naik darah.

“Pergi dari kamarku. Hush!” Rayen mengusir Vera dan menutup pintunya.

Blam

“Kurang ajar kamu, Rayen. Kurang ajar! Dasar kacung tidak tahu diuntung!” Vera marah‑marah sambil menendang pintu kamar itu.

“Siapa dia? Siapa wanita itu? Siapa, Huh?” dari balik pintu Vera terus berteriak. Ia tidak terima pria yang selama ini tergila‑gila dan sangat mencintainya tiba‑tiba berubah haluan.

Vera tidak pernah mengira bahwa Rayen yang begitu cinta mati padanya, berubah begitu saja.

“Rayen! Buka pintunya! Kita belum selesai.” Vera terus berteriak.

Sementara di dalam kamar. Rayen tidak peduli. Ia berbaring di atas tempat tidur sambil membuka ponsel yang sudah ia tarik kembali dari genggaman Vera tadi.

Rayen melihat chat yang masih centang satu.

“Rindu, bagaimana keadaanmu?”

Kemudian, Rayen membuka galeri ponselnya. Ia tersenyum melihat foto Rindu yang ia foto secara diam‑diam dari berbagai sudut.

Rayen juga tertawa, ketika mendapati foto Rindu yang sedang tertidur pulas di dalam mini bus milik kantor sebagai transportasi yang mereka gunakan menuju kepulauan seribu sebelum berganti kapal boat.

Di panti, Rindu pun hendak memejamkan mata. Dan, entah mengapa saat mata itu terpejam, malah wajah Rayen yang hadir di sana.

Rindu membuka lagi matanya. Kepalanya menggeleng. “Tidak. Tidak. ini tidak benar.”

Rindu tidak berniat untuk ke kantor lagi. ia tidak ingin bertemu dengan bosnya itu. Mungkin, ia akan di cap sebagai pegawai yang tidak bertanggung jawab. Tapi apa mau di kata? Rindu ingin menepi sejenak. Ia ingin menenangkan diri. namun, satu yang pasti yang akan ia lakukan. Besok, ia akan mendatangi hukum perceraian. Tanpa mengatakan pada Elang atau Bella, Rindu memberanikan diri untuk mendaftarkan perceraiannya.

Setelah semua yang terjadi, ia tidak mungkin kembali satu atap dengan pria bernama Elang. Bukan hanya karena kesalahan Elang, tapi juga karena kesalahan dirinya sendiri.

“Maafkan Rindu, Ma. Rindu tidak bisa memenuhi permintaan Mama. Maaf, Rindu tidak bisa mempertahankan pernikahan ini,” gumamnya sambil mengusap airmata yang kembali jatuh, tapi kali ini Rindu akan memastikan jika airmata ini adalah airmata yang terakhir.

1
Mawar
masih nyimak lnjut kak.
Mawar
itu sirindu tambah malu rayen.
Mawar
elang mmg gila sex bukannya taubat malh mkin menggila.
Mawar
rasain km elang,kepergik ma bella.
Mawar
kalau soal wanita bw agama klw soal hkum yg lain lp ma agama, yg km lakukan zina elang dosa besar.
Mawar
lnjut kak.
Mawar
apa yg akan tejadi sama rindu ya,😕😕
Mawar
cerai ja rindu km lebih baik sm rayen aja drpd sm elang udh celup sana sini.
Mawar
lnjut kak.rindu merasa bersalah sdangkan elang biasa ja tu.
Mawar
jijik lht kelakuan elng.
Mawar
gk ush maafin sielang rindu.
Mawar
itu pasti sielang mau ketemu simiskha jijik deh, kadihan rindu jngn mau diajk bercinta sama elang rindu.
Mawar
laki2 gak peka emang si elang itu meningan hempaskan ja rindu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!