NovelToon NovelToon
The Heiress'S Scents

The Heiress'S Scents

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Cintapertama
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.

Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.

Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.

Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.

Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.

Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.


Happy reading 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#24

Jarum jam di dinding penthouse mewah itu merangkak kejam, kini telah menunjukkan tepat pukul 04.00 pagi.

Kegelapan pekat Chicago perlahan menipis, menyisakan semburat abu-abu kebiruan di cakrawala timur.

Hawa dingin subuh menembus sela-sela kaca besar, membawa atmosfer yang sunyi sekaligus mencekam.

Di dalam kamar utama, Navarro tidak membiarkan kelelahan menguasai dirinya.

Sejak satu jam yang lalu, setelah badai penyerahan mutlak itu mereda, pria itu dengan sigap bangkit.

Ia membersihkan sisa-sisa jejak percintaan mereka yang intens di atas ranjang, mengganti sprei sutra yang kusut dengan yang baru, dan memastikan tidak ada satu pun bukti fisik yang bisa membahayakan keamanan Issabelle.

Issabelle sendiri duduk di tepi ranjang dengan tubuh yang masih terasa sedikit mati rasa dan berdenyut nyeri di bagian intinya.

Ia menolak memakai kembali pakaian hitamnya yang telah koyak di beberapa bagian.

Sebagai gantinya, ia membuka kopernya dan menarik keluar sebuah baju hangat berbahan rajut sutra longgar berwarna hitam miliknya sendiri.

Kerah baju itu sengaja dibuat tinggi hingga menutupi seluruh permukaan lehernya—menyembunyikan dengan sempurna deretan tanda kemerahan tak tahu malu yang ditinggalkan gigi dan bibir Navarro beberapa jam lalu.

Ia memadukannya dengan celana kargo hitam miliknya yang taktis dan sepasang sepatu bot militer yang kokoh.

Sejak mereka selesai berpakaian, Navarro tidak bisa diam.

Kegilaan posesifnya kini bermutasi menjadi kecemasan yang teramat sangat.

Pria itu terus berlutut di depan Issabelle, menggenggam kedua tangan ramping gadis itu yang masih terasa sedingin es.

"Setelah kau sampai di Frankfurt, hubungi aku, Sayang... Kumohon langsung hubungi nomor ku," ucap Navarro, suaranya parau, dipenuhi oleh nada memohon yang belum pernah ia gunakan pada siapa pun di dunia ini.

"Jangan matikan telepon satelitmu. Aku akan memastikan seluruh jalur komunikasi kita terenkripsi dengan aman."

Issabelle mengembuskan napas pendek. Ia merasa teramat lelah—baik secara fisik karena keperawanannya baru saja direnggut dengan begitu intens, maupun secara mental karena harus memikirkan strategi kepergian instan ini.

Karena tubuhnya terlalu letih untuk menuju lokasi lima kilometer menuju titik koordinat Delta yang direncanakan Martha sebelumnya, Issabelle akhirnya mengambil keputusan yang berani.

Ia meraih telepon satelitnya, menekan tombol panggil cepat ke jalur komunikasi Martha.

"Martha, batalkan titik jemputan Delta," perintah Issabelle, suaranya kembali datar dan dingin meski ada sisa serak yang seksi di sana.

"Perintahkan pilot untuk langsung melakukan evakuasi di atap gedung apartemen The Obsidian Tower. Aku berada di lantai paling atas."

Di seberang telepon, Martha sempat tertegun, namun profesionalismenya mengalahkan rasa terkejutnya.

"Dipahami, Nona. Helikopter kami sudah berada di wilayah udara pinggiran Chicago. Kami akan mengubah rute penerbangan langsung ke koordinat atap Anda dalam lima menit. Namun ingat, Nona, kita tidak bisa lama di sana. Protokol penerbangan ilegal di distrik finansial sangat ketat."

"Aku mengerti." jawab Issabelle sebelum memutus sambungan.

Hanya butuh waktu kurang dari lima menit sebelum keheningan di atas distrik finansial Chicago pecah oleh suara yang teramat familier bagi telinga terlatih mereka.

WUG. WUG.WUG!!!

Suara deru baling-baling helikopter militer taktis tanpa logo dengan lapisan cat hitam anti-radar mulai terdengar mendekat, memotong udara dan menciptakan gelombang angin yang kuat di sekitar gedung-gedung pencakar langit.

"Mereka sudah di sini," bisik Issabelle, bersiap berdiri dari tepi ranjang sambil meraih tali ransel taktisnya.

Namun, rasa sakit yang menyengat di pangkal pahanya membuat tubuh Issabelle sedikit oleng saat ia mencoba bertumpu pada kedua kakinya.

Navarro, yang selalu mengawasi setiap pergerakannya dengan insting protektif, bergerak secepat kilat.

Sebelum Issabelle sempat memprotes, Navarro telah menyelipkan satu lengan kekarnya di bawah lutut gadis itu dan lengan lainnya di belakang punggung rampingnya.

Dengan satu gerakan dominan yang tak terbantahkan, Navarro menggendong Issabelle dalam posisi bridal style.

Pria itu bahkan tidak membiarkan ujung sepatu bot Issabelle menyentuh lantai.

"Lepaskan aku, Riccardo! Aku bisa berjalan sendiri!" desis Issabelle, wajahnya merona merah karena campur aduk antara amarah dan rasa malu yang tersisa dari malam tadi.

"Diamlah, Mine. Kau sedang terluka karena perbuatanku. Biarkan aku membawamu," jawab Navarro dengan bariton berat yang mutlak.

Pria itu menendang pintu kamar hingga terbuka, melangkah lebar melintasi ruang tamu penthouse, lalu menuju tangga darurat khusus yang langsung terhubung dengan landasan helikopter di atap gedung.

Begitu pintu besi atap didorong terbuka oleh tubuh Navarro, hantaman angin pagi buta yang sangat dingin dan kuat langsung menerpa wajah mereka.

Rambut abu-abu Issabelle terbang berantakan di udara, sementara aroma bahan bakar avtur mulai menginvasi indra penciuman mereka.

Di atas sana, helikopter hitam milik klan Dubois sudah melayang rendah, posisinya hanya berjarak dua meter di atas permukaan semen helipad.

Helikopter itu tidak akan mendarat sepenuhnya atau mematikan mesinnya.

Baling-balingnya terus berputar kencang, membelah angin subuh dengan raungan yang diredam seminimal mungkin.

Di jam empat pagi seperti ini, pilot harus menjaga kerahasiaan mutlak agar raungan mesin monster itu tidak mengganggu privasi para kaum borjuis dan taipan bisnis yang menghuni lantai-lantai atas distrik elit tersebut, yang bisa berujung pada laporan otoritas penerbangan federal.

seorang wanita tampak berdiri di ambang pintu geser helikopter yang terbuka, mengenakan jaket taktis hitam dengan rambut yang diikat kuda.

Wanita paruh baya itu melemparkan sebuah tangga tali baja berkekuatan tinggi ke bawah, tepat di depan posisi Navarro dan Issabelle berdiri.

Navarro menurunkan tubuh Issabelle secara perlahan di dekat kaki tangga tersebut, namun ia sama sekali tidak melepaskan dekapannya.

Kedua lengan kekarnya justru semakin merapatkan tubuh ramping Issabelle ke dalam pelukan dadanya, seolah-olah ia sedang mencoba menyatukan dua jiwa yang akan segera dipisahkan oleh Samudra Atlantik.

"Maafkan aku... Maafkan aku karena telah menyakitimu malam ini, Issabelle," bisik Navarro tepat di samping telinga gadis itu, suaranya bergetar hebat oleh badai emosi yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

"Tolong kabari aku jika kau sudah mendarat dengan selamat di Eropa. Aku bersumpah... aku akan menyusulmu ke Jerman saat libur panjang high school nanti. Aku tidak peduli apa yang harus kuhadapi di sana."

Issabelle tidak mengangguk, dan ia juga tidak memberikan jawaban verbal apa pun.

Tubuhnya mendadak kaku di dalam dekapan hangat Navarro.

Ada sebuah firasat aneh yang tiba-tiba merayap masuk ke dalam sudut hatinya yang paling dalam—sebuah firasat buruk yang teramat pekat, yang bahkan sulit ia jelaskan dengan logikanya.

Ada rasa seolah-olah perpisahan ini bukan sekadar perpisahan biasa, melainkan sebuah awal dari labirin takdir yang jauh lebih rumit dan berbahaya yang akan menguji sisa hidup mereka.

Dan tampaknya, Navarro pun merasakan hal yang sama.

Pria gila itu seakan tahu bahwa jika ia melepaskan pelukan ini sekarang, ia mungkin harus bertaruh nyawa untuk bisa kembali menyentuh kulit lembut sang mawar es.

Alih-alih mundur, Navarro justru menangkup

wajah Issabelle dengan kedua tangannya, lalu menghujani wajah pucat gadis itu dengan ciuman bertubi-tubi—di kening, di kedua pipi, dan terakhir di atas bibir tipis Issabelle yang kembali dilumatnya dengan sisa gairah yang sarat akan rasa frustrasi dan kepemilikan mutlak.

"Nona! Kita harus pergi sekarang! Radar bandara sipil mulai mendeteksi anomali!" teriak wanita itu dari atas helikopter, suaranya nyaris tenggelam oleh deru baling-baling.

Issabelle menggunakan sisa kekuatannya untuk mendorong dada bidang Navarro, memutus tautan bibir mereka dengan paksa. Ia menatap mata gelap Navarro untuk terakhir kalinya malam ini—mata yang telah merekam setiap jengkal tubuhnya tanpa sisa.

Dengan gerakan taktis yang terlatih, Issabelle langsung berbalik dan meraih anak tangga tali baja yang berayun-ayun ditiup angin kencang.

Ia mulai memanjat naik dengan ketangkasan yang mengagumkan meski rasa sakit di bagian bawah tubuhnya kembali memprotes.

Tepat saat tubuhnya sudah berada di pertengahan tangga, beberapa meter di atas permukaan atap, Issabelle menghentikan langkahnya sejenak.

Ia mendongak ke arah pintu helikopter, lalu menoleh ke bawah, menatap siluet tegap Navarro yang berdiri sendirian di tengah embusan angin subuh dengan pakaian yang berantakan dan mata yang menatapnya tanpa berkedip.

"Aku akan melupakanmu setelah aku naik ke helikopter ini, Brengsek!" teriak Issabelle dengan segenap kekuatannya, mencoba mengalahkan kebisingan mesin pesawat.

Kalimat kasar itu adalah perisai terakhirnya untuk menutupi getaran aneh yang mulai menjalar di dadanya.

Mendengar makian terakhir dari mawar esnya, Navarro tidak marah.

Pria itu justru maju beberapa langkah hingga ke tepi pembatas atap, menengadahkan wajah tampannya ke atas langit subuh Chicago, lalu berteriak membalas dengan suara bariton yang menggelegar penuh keyakinan mutlak seorang Riccardo:

"Kau tidak akan pernah bisa melupakan aku, Mine! Kau milikku! Sampai bertemu di usiamu yang kedelapan belas tahun, Issabelle von Reichenbach!"

Issabelle tidak menoleh lagi.

Ia melompat masuk ke dalam kabin helikopter dengan bantuan tarikan tangan Wanita Paruh baya itu.

Tepat setelah tubuhnya mendarat di lantai kabin, Wanita itu langsung menarik tuas penutup pintu geser, mengunci seluruh suara dan siluet Navarro di luar sana.

Helikopter taktis itu langsung bermanuver tajam, menanjak vertikal ke atas langit fajar Chicago sebelum akhirnya melesat cepat menuju arah timur, meninggalkan penthouse mewah dan seluruh obsesi gila Navarro Von-riccardo yang kini berdiri membeku di bawah langit subuh yang mulai memutih, menatap kepergian satu-satunya candu yang telah merusak seluruh sisa hidupnya.

...ooOoo...

Happy reading 🦋

1
Game Semut
semoga happy ending issabele dan navvaro serta putri nya Cassandra
Ros 🌷🦋: author suka yang happy ending kak🤭😅
total 1 replies
Game Semut
ini cerita gmna ending nya nih thor kasian bngt kisah percintaan asmara antara issabele dan Navarro...semoga bs bersatu.
Ros 🌷🦋: author buat ending nya happy 🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
aduh isabel kok keras kepala banget sih mpe membenci navaro😔😔😔
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂
Ros 🌷🦋: masih lanjut ya kak reader🥰😅
total 3 replies
Game Semut
kaciaaan bngt navvaro
Ros 🌷🦋: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
semoga isabel cepet muncul lgi thor, kasian navaro jadi patung es bgtu🤣
Ros 🌷🦋: dicairin sama kak reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yah kasiah issa ternyata di jebak doang suruh pulang ke jerman😂😂😂😂😂
Ros 🌷🦋: huhuhu😅🤭
total 1 replies
BONBON
aku tunggu kak, 22nya setara dan gk jomplang. bukan kisah Cinderella, mafia x gadis yg dijual oleh keluarganya blabla. 🤣🤣🤭
Ros 🌷🦋: hihi ma'aciww kak atas dukungannya 🫶🥰
total 1 replies
Angela Ghunu
karya kakak bagus skli, semoga semakin maju dan karya " kk makin bnyk🥰🥰
Ros 🌷🦋: Ma'aciww banyak kak🫶🥰
total 1 replies
Mita Paramita
navaro mati rasa sama perempuan 🤨 nunggu Isabella kembali.
Ros 🌷🦋: iyaaa kek nya 😅🤭
total 1 replies
Shusy Bharel
lanjut tho😍😍
Ros 🌷🦋: siap kak🥰
total 1 replies
Mita Paramita
see you again navaro 😘😘😘
Ros 🌷🦋: see you kak reader 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
Isabella pecah perawan nya sama navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: aku malah ngakak loh kak reader 🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
akhir nya 🥰🥰🥰
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
yah masa baru bucin udah perpisahan aja thor🤣😂😂😂
Ros 🌷🦋: Berpisah dulu biar tau artinya rindu 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yaaah ketauan deh 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kwkwk😅
total 1 replies
Mita Paramita
sekarang Isabella punya tempat bersandar walaupun sih navaro plu mines 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kesayangan reader 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Ros 🌷🦋: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
navaro diem diem nyelidikin asal usul Isabella 🤣🤣🤣 saking penasarannya
Ros 🌷🦋: kwkwk🤣
total 1 replies
Debu Nakal
lagi.. lagi... lagi... lagi...
Ros 🌷🦋: padahal sudah didraf sampai bab 20 kak😅
total 1 replies
Mia Camelia
wah gak sangka kalo claire pacar nya skylar?? thor ceritaiin dong mereka juga🤔😄
Ros 🌷🦋: author selipin dikit2 nanti mereka 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!