Rachel adalah definisi dari kesempurna, masa depannya begitu cerah, hidupnya sudah diatur sedemikian rupa oleh Ibunya, hingga banyak yang merasa iri pada Rachel. Namun, tanpa mereka tahu, Rachel merasa hidupnya seperti boneka, terutama setelah perceraian Ayah dan Ibunya.
Hingga akhirnya, Rachel sudah muak dengan hidupnya yang selalu diatur oleh Ibunya dan memutuskan untuk pergi menemui Ayahnya dan memilih tinggal bersamanya, Rachel yang terbiasa dengan kemewahan, begitu tersiksa ketika berada di tempat Ayahnya yang jauh berbeda dengan kehidupan mewahnya bersama Ibunya.
Tanpa Rachel sadari, kedatangannya untuk menemui Ayahnya membawa sebuah takdir yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, di mana ia dipertemukan dengan seorang pria dengan seribu macam permasalahan dalam hidupnya.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Rachel mampu bertahan tanpa kemewahan dari Ibunya? Siapakah pria dengan seribu macam permasalahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Ikut Campur Yang Bukan Urusanmu
Setelah beberapa saat, Rachel keluar dari kamar mandi dengan menggunakan floral dress. "Rachel, sarapan dulu. Daddy sudah berangkat ke kedai pagi tadi, ini ada nasi goreng buat kamu," ucap Anna sambil menyodorkan piring plastik berwarna hijau terang.
Rachel menatap nasi goreng yang tampak berminyak dengan potongan bakso ikan di atasnya. Di Jakarta, sarapannya adalah smoothie bowl atau avocado toast, namun karena perutnya yang sudah keroncongan tidak bisa diajak kompromi, ia pun menyuap sesendok dan terkejut karena rasanya jauh lebih kaya rempah daripada makanan hotel bintang lima mana pun.
Setelah menghabiskan nasi goreng buatan Anna, Rachel merasa sedikit lebih bertenaga, meski rasa lengket akibat kelembapan udara Vietnam mulai terasa di kulitnya, ia tidak bisa hanya berdiam diri di dalam rumah yang sempit ini. Dengan keberanian yang dipaksakan, Rachel memutuskan untuk keluar.
"Kamu mau kemana?" tanya Anna ketika melihat Rachel hendak pergi.
"Mau jalan-jalan sebentar, mau ke kedai Daddy," ucap Rachel sambil menyampirkan tas kecilnya.
"Hati-hati, Rachel. Jangan masuk ke gang yang terlalu gelap, tetap di jalan utama yang kearah pelabuhan," pesan Anna dengan nada khawatir.
Rachel melangkah keluar dari gedung apartemen tua itu dan begitu kakinya menginjak aspal jalanan, ia merasa seperti menjadi tontonan karena floral dress yang ia kenakan memang sederhana untuk ukuran standarnya. Tapi di lingkungan ini, kain berkualitas itu terlalu anggun untuk jalanan yang dipenuhi debu dan asap knalpot motor yang menderu-deru.
Rachel berjalan menyusuri trotoar sempit yang seringkali terhalang oleh lapak pedagang buah atau tumpukan barang rongsokan, bau khas distrik itu, campuran ikan asin, bensin dan bau laut yang menyengat kembali menyerang indranya.
Beberapa kali ia hampir tersandung karena permukaan jalan yang tidak rata, sangat kontras dengan lantai marmer kantor pusat Trinity Beauty yang selalu dipoles licin.
Setelah berjalan sekitar lima belas menit dengan bantuan ingatannya kemarin, Rachel akhirnya melihat papan kayu kusam tempat Ayahnya bekerja. Pemandangan di depannya membuat Rachel tertegun, kedai itu jauh lebih ramai daripada yang ia bayangkan kemarin sore.
Meja-meja kayu panjang dipenuhi oleh pria-pria dengan pakaian kerja yang kotor, para buruh pelabuhan yang berbicara dengan suara keras dalam bahasa lokal sambil menyeruput kuah panas dengan lahap. Suasananya bising, panas dan penuh dengan kepulan asap dari tungku besar di depan, padahal hari masih pagi. Namun, udara disana terasa seperti siang dan Rachel cukup tidak nyaman.
Di balik etalase kaca yang sudah menguning, Rachel melihat Ayahnya. Daddy Brian tampak sangat sibuk, tangannya dengan lincah memotong daging lalu memasukkan mie ke dalam saringan dan menuangkan kuah kaldu yang mengepul. Keringat membanjiri wajahnya, handuk kecil yang dikalungkan di lehernya sudah basah kuyup, ia tampak seperti mesin yang tidak berhenti bergerak.
Rachel berdiri di pinggir jalan dan ragu untuk masuk, ia merasa kehadirannya hanya akan mengganggu kerja Ayahnya. Namun, matanya tak lepas menatap sang Ayah, ada rasa sesak di dadanya melihat pria yang dulu selalu memakai setelan jas rapi, kini harus membanting tulang di tempat yang bagi Rachel tidak layak.
"Satu Pho Sapi! Meja empat!" seru Daddy Brian dalam bahasa Vietnam yang lancar kepada seorang pemuda yang membantu melayani.
Tiba-tiba, mata Daddy Brian menangkap sosok Rachel yang berdiri mematung di kejauhan, wajah lelahnya seketika cerah meski terselip guratan kecemasan, ia memberikan isyarat dengan tangannya agar Rachel mendekat.
Rachel berjalan mendekat dan melewati kerumunan orang yang menatapnya heran. Saat ia sampai di depan etalase, hawa panas dari tungku langsung menerpa wajahnya.
"Rachel? Kenapa ke sini? Di sini panas loh, sayang," tanya Daddy Brian sambil tetap bekerja dan tangannya tidak bisa berhenti karena pesanan terus berdatangan.
"Rachel bosan di rumah, Dad. Rachel mau lihat Daddy kerja," jawab Rachel pelan.
Rachel memperhatikan bagaimana Ayahnya melayani pelanggan dengan sabar, meski beberapa orang terdengar kasar saat menagih pesanan.
"Duduklah di sudut sana, di meja yang paling dekat dengan kipas angin. Tunggu sebentar, Daddy buatkan minum yang segar," ucap Daddy Brian menunjuk sebuah kursi plastik di pojok kedai yang sedikit lebih tenang.
Rachel duduk di sana dan berusaha mengecilkan tubuhnya agar tidak bersentuhan dengan pelanggan lain, ia memperhatikan setiap gerak-gerik Ayahnya dan Rachel merasa kasihan saat melihat Ayahnya.
Di tengah kemiskinan dan kerja keras ini, ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat pada Ibunya yaitu sebuah ketulusan. Ayahnya tampak menikmati setiap mangkuk yang ia sajikan, sebuah kebanggaan sederhana dari seorang pria yang telah kehilangan segalanya namun berhasil membangun hidup baru dari nol.
Namun, di tengah pengamatannya, Rachel juga menyadari betapa kerasnya hidup di sini. Seorang pelanggan membanting gelas plastik karena merasa pelayanannya lambat dan Ayahnya hanya tersenyum sambil meminta maaf berkali-kali.
Hati Rachel mencelos, Ibunya di Jakarta mungkin sedang duduk di restoran mewah, sementara Ayahnya harus menunduk pada orang-orang kasar demi beberapa keping uang.
Tiba-tiba, seorang pria bertubuh besar dengan tato di lengan masuk ke kedai dan menepuk meja dengan keras tepat di depan Daddy Brian. Suasana kedai yang bising mendadak sedikit mereda, digantikan oleh ketegangan yang merayap.
Rachel menahan napas, tangannya mencengkeram erat tasnya dan menyadari bahwa dunia barunya ini jauh lebih berbahaya daripada sekadar urusan bisnis di ruang rapat yang sejuk.
Pria bertato itu berteriak dalam bahasa lokal, suaranya parau dan penuh ancaman. Daddy Brian tampak mencoba menenangkan, namun pria itu justru meludah ke lantai dan menunjuk-nunjuk wajah Daddy Brian. Rachel merasa darahnya mendidih, di Jakarta tidak ada yang berani meninggikan suara di depannya apalagi merendahkan Ayahnya seperti ini.
Rachel baru saja hendak berdiri, namun sebuah tangan menekan bahunya dan menahan Rachel untuk tetap duduk, hingga membuat Rachel tersentak dan menoleh.
Orang itu adalah Daniel, ia mengenakan hoodie hitam yang sama, namun kali ini ia membawa tas perkakas kecil. Wajah lebamnya kemarin kini mulai membiru gelap, tapi sorot matanya tetap setajam elang.
"Tetap di sini, jangan ikut campur yang bukan urusanmu," bisik Daniel dingin.
Daniel melangkah maju menuju etalase dan tanpa berkata-kata, ia berdiri di samping Daddy Brian. Hanya dengan kehadirannya yang menjulang dan aura berbahaya yang dipancarkannya, pria bertato itu tampak sedikit mengkerut.
Daniel membisikkan sesuatu dengan nada rendah yang terdengar seperti geraman. Si pria bertato itu mendengus, menyambar topinya dan pergi keluar kedai dengan menggerutu.
Suasana kembali normal seolah keributan tadi hanyalah interupsi iklan, Daddy Brian menghela napas lega dan menepuk bahu Daniel sebagai tanda terima kasih.
"El, kau datang di saat yang tepat," ucap Daddy Brian.
"Ini uang dari hasil jual televisi," ucap Daniel.
"Terima kasih, El. Ini sebagian uangnya untukmu," ucap Daddy Brian.
.
.
.
Bersambung.....
yaaa kaaannnnn
bahwa suatu saat Rachel akan kembali kepada Cintanya yg tinggal di Vietnam
akankah Daniel mengejar Rachel ke Indonesia
like lah Daddy Bryan sudak lampu ijo😁😁🤗
ini emaknya Rachel bener2 kebangetan deh, nyari anak kayak nyari tahanan yg kabur. gila sih udah kayak psikopat aja emaknya.😤😤😤
hemmmm bakal ngamuk nih nanti si daniel
dan sang alpha yg menjaga 🤭
dr interaksi kecil, sentuhan ringan, obrolan yg menjurus keranah pribadi. akhirnya nyaman😄😄😄
lanjut thorrr😁