Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Tok tok tok!
"Assalamualaikum, Mama..."
Suara lembut yang sangat dirindukan itu terdengar dari balik pintu rumah di Yogyakarta.
Mama yang baru saja selesai mandi langsung membuka pintu.
Handuk kecil masih tersampir di bahunya, namun gerakannya seketika membeku saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.
"Amira..." bisik Mama, seolah tidak percaya dengan penglihatannya.
Air mata langsung menggenang di pelupuk mata wanita paruh baya itu.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Mama langsung memeluk tubuh Amira dengan sangat erat.
Kerinduan yang terpendam selama dua tahun tercurah seketika dalam dekapan hangat itu. Amira membalas pelukan ibunya tak kalah erat, menyembunyikan wajahnya di bahu sang mama sambil menahan tangis haru.
"Oma..."
Sebuah suara cempreng nan polos tiba-tiba memecah keheningan.
Mama perlahan melepaskan pelukannya dan menunduk.
Di bawah sana, seorang balita laki-laki berwajah tampan sedang mendongak sambil menarik-narik ujung daster Mamanya.
"Oma!" seru Devan lagi, kali ini dengan cengiran lebar yang memamerkan deretan gigi kecilnya.
Mama tertegun, menatap Amira dan anak lelaki kecil itu bergantian dengan tatapan tidak percaya sekaligus bahagia yang membuncah.
"Amira... ini..." Mama menutup mulutnya, air matanya kini benar-benar tumpah melihat kehadiran sang cucu yang selama ini hanya bisa ia lihat lewat layar ponsel.
"Ayo, ayo masuk! Jangan berdiri di luar saja," ucap Mama dengan wajah yang berbinar-binar bahagia, menyeka sisa air mata di pipinya.
Pandangan Mama kemudian beralih pada sosok pria jangkung yang berdiri di belakang Amira sambil membawakan koper-koper mereka.
"Ferdinand, ayo masuk!" ajak Mama dengan nada yang sangat ramah.
Mama sudah tahu banyak tentang kebaikan Ferdinand yang menjaga Amira selama di Belanda melalui telepon.
"Terima kasih, Tante," balas Ferdinand dengan senyuman sopan dan membungkuk hormat sebelum melangkah masuk ke dalam rumah yang asri itu.
"Karena ini surprise, nanti kita makan malam bersama, ya! Mama masakan makanan kesukaan kalian semua," ujar Mama penuh semangat, tidak sabar untuk memanjakan putri dan cucunya yang sudah lama terpisah benua.
Devan yang sedang digandeng Amira langsung mendongak kegirangan mendengar kata makan malam.
"Ok, Oma! Gaan we lekkere dingen eten?" (Devan memakai bahasa Belanda, bertanya apakah mereka akan makan makanan yang enak).
Ferdinand yang berjalan di sampingnya langsung berjongkok kecil, menepuk lembut bahu bocah itu.
Jawaban Ferdinand membetulkan ucapan Devan berbahasa Belanda, mengingatkan Devan dengan lembut agar menggunakan bahasa ibunya saat berada di Indonesia.
"Nee, Devan. Spreek maar Indonesisch met Oma, ja? Zeg maar: 'Baik, Oma,'" ucap Ferdinand dengan pelafalan Belanda yang fasih namun lembut, lalu menatap Mama sambil tersenyum meminta maaf.
"Maaf ya, Tante, Devan masih terbiasa pakai bahasa Belanda di Amsterdam."
Mama justru tertawa renyah, merasa gemas melihat cucunya.
"Tidak apa-apa, Ferdinand. Nanti biar Oma yang ajari Devan bahasa Jawa sekalian ya, Sayang," goda Mama sambil mencubit gemas pipi gembul Devan, membawa kehangatan keluarga yang sesungguhnya ke dalam rumah itu—kehangatan yang sempat hilang dari hidup Amira selama dua tahun terakhir.
Keluarga berkumpul di sebuah rumah makan bernuansa tradisional Jawa yang nyaman di Yogyakarta atas rekomendasi Mama.
Suara gemercik air dari kolam ikan dan alunan musik gamelan yang sayup-sayup menciptakan atmosfer yang menenangkan.
Meja mereka dipenuhi dengan berbagai hidangan khas, mulai dari gudeg, ayam kampung goreng, hingga sate-satean.
Devan sibuk mencoba makanan lokal ditemani Ferdinand yang dengan sabar menyuapinya. Piring kecil di depan Devan penuh dengan potongan tempe bacem dan nasi hangat.
"Papa, wat is dit? Ini manis sekali," tanya Devan dengan logat indonesianya yang masih kaku, menunjuk ke arah gudeg nangka di piringnya.
Ferdinand tersenyum, mengelap sisa kecap di sudut bibir Devan dengan tisu.
"Ini namanya gudeg, Jagoan. Rasanya memang manis. Devan suka tidak?"
"Suka! Ik vind het lekker, Papa! Mau lagi," ucap Devan riang, membuka mulutnya lebar-lebar menunggu suapan berikutnya.
"Pintar anak Papa. Tapi makannya pelan-pelan ya, biar tidak tersedak," sahut Ferdinand lembut sembari menyuapkan sesendok kecil nasi dan ayam ke mulut bocah itu.
Amira merasa bahagia sekaligus tenang melihat kedekatan mereka.
Senyuman tipis terukir di bibirnya. Kehadiran Ferdinand benar-benar menjadi pelindung dan sosok ayah yang luar biasa bagi Devan selama dua tahun ini.
Di tengah tawa mereka, Amira tidak sengaja mengedarkan pandangan ke arah pintu masuk rumah makan dan seketika tubuhnya membeku.
Sendok yang dipegangnya nyatanya hampir terlepas.
Napas Amira tercekat, warna di wajahnya mendadak pudar.
Ternyata, Daniel berada di Yogyakarta untuk urusan bisnis dan sedang makan malam di tempat yang sama.
Pria itu baru saja melangkah masuk bersama beberapa mitra bisnisnya.
Penampilannya masih sama gagahnya, namun guratan lelah di wajahnya tidak bisa disembunyikan.
Saat melangkah masuk, Daniel tidak sengaja menoleh dan melihat Amira. Langkah kaki Daniel terhenti seketika.
Tatapannya terkunci pada sosok wanita yang duduk di dekat saung tengah.
Jantungnya bergemuruh hebat—wanita yang dicarinya selama dua tahun berada tepat di depan matanya.
Rasa tidak percaya, rindu, dan haru bercampur aduk di dada Daniel hingga matanya berkaca-kaca.
Ia ingin langsung berlari dan memeluk Amira, memohon maaf atas segala kesalahpahaman masa lalu.
Namun, binar bahagia di mata Daniel langsung meredup berganti sesak saat ia melihat anak kecil yang ia kira anak Amira dan lelaki lain yang bersama Amira bertingkah layaknya keluarga bahagia.
Daniel terpaku di tempatnya. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Devan tertawa lepas dan bersandar manja pada Ferdinand, serta bagaimana Amira menatap pria itu dengan pandangan penuh kedamaian.
Dada Daniel terasa seperti dihantam godam besar yang tak kasat mata.
Rasa bersalah dan cemburu yang teramat sangat menyergapnya, menyadari bahwa ruang di hati Amira mungkin telah sepenuhnya digantikan oleh pria lain selama dua tahun kepergiannya.
Daniel Mendekat: Dengan langkah bergetar dan emosi campur aduk, Daniel melangkah menghampiri meja mereka. Suasana seketika menjadi tegang.
Langkah kakinya terasa begitu berat, namun dorongan rasa rindu yang membuncah selama dua tahun terakhir mengalahkan segalanya.
Setiap pasang mata di meja itu kini tertuju pada sosok Daniel yang datang bagai badai di tengah ketenangan mereka.
Menyadari perubahan drastis pada raut wajah Amira dan kedatangan pria asing yang menatap mereka dengan tajam, Ferdinand menaruh tangannya di bahu Amira untuk melindungi.
Gestur protektif itu begitu natural, menegaskan posisi Ferdinand sebagai pelindung Amira dan Devan selama ini.
Ferdinand bisa merasakan tubuh Amira yang mendadak menegang.
"Apakah kamu mengenalnya?" tanya Ferdinand berbisik, matanya bergantian menatap Amira dan Daniel dengan dahi berkerut penuh tanya.
Amira mengepalkan tangannya di bawah meja, mencoba menguasai rasa gemetar dan luka masa lalu yang mendadak terkoyak kembali.
Kilasan ingatan di gudang tua, kata-kata cinta Daniel untuk Selena, dan rasa sakit menjadi bayang-bayang seketika berputar hebat di kepalanya.
Ia menatap lurus ke depan, menghindari mata Daniel yang menatapnya penuh harap dan penyesalan.
"Tidak," jawab Amira singkat dan datar.
Suaranya begitu dingin, tanpa ekspresi, seolah pria yang berdiri di hadapannya saat ini benar-benar tidak pernah menjadi bagian dari hidupnya.
Mama yang mendengarnya hanya diam saat mendengar Amira tidak mengenal mantan suaminya.
Wanita paruh baya itu menghela napas berat, memilih untuk tidak ikut campur dan menghormati keputusan putrinya, meskipun ia tahu betapa hancurnya perasaan Daniel yang kini terpaku mendengar penolakan mentah-mentah dari Amira.
Mendengar penolakan Amira, Daniel merasa dikhianati oleh Amira. Kata "tidak" yang keluar begitu dingin dari bibir wanita itu menghantam ulu hatinya tanpa ampun.
Harapan, rindu, dan penyesalan yang dipendamnya dengan rapi selama dua tahun ini seketika hancur berkeping-keping di lantai rumah makan tradisional ini.
Rasa bersalah yang dipendamnya selama dua tahun berubah menjadi rasa sakit hati yang teramat dalam.
Selama ini, Daniel menyalahkan dirinya sendiri atas kesalahpahaman di gudang tua itu. Ia hidup dalam siksaan batin, mengira dirinya telah menghancurkan hati wanita suci yang tulus mencintainya.
Namun melihat pemandangan di depannya, kenyataan terasa berputar balik dengan kejam.
Daniel berasumsi bahwa Amira pergi jauh bukan karena salah paham, melainkan karena telah memiliki lelaki lain hingga melahirkan seorang anak dalam waktu dua tahun.
Pikiran Daniel mendadak menjadi gelap oleh kecemburuan dan prasangka buruk.
Matanya tertuju pada Devan, bocah kecil yang secara hitungan waktu sangat pas jika dikaitkan dengan awal kepergian Amira ke Belanda dua tahun lalu.
Daniel mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih.
Di matanya kini, pelarian Amira ke Belanda bukan lagi sebuah pelarian karena terluka, melainkan sebuah rencana matang untuk bersatu dengan lelaki lain yang jauh lebih kaya dan bisa memberikan kebahagiaan instan.
"Jadi, karena ini?" suara Daniel bergetar, bukan lagi karena sedih, melainkan karena amarah yang mulai membakar dadanya.
Ia menatap Amira dengan pandangan terluka sekaligus menuntut penjelasan, mengabaikan kehadiran Ferdinand yang masih merangkul bahu istrinya.
"Dua tahun aku hidup seperti mayat hidup mencarimu, Amira. Tapi ternyata, kamu sudah menyiapkan penggantiku bahkan sebelum kamu melangkah keluar dari rumah sakit?!"
Tanpa tahu kebenaran bahwa Devan sebenarnya adalah darah dagingnya sendiri, Daniel mundur dengan hati yang hancur dan amarah yang tertahan.
Prasangka buruk telah membutakan akalnya. Ia membalikkan badan dengan kasar, melangkah pergi meninggalkan meja itu dengan dada yang bergemuruh hebat akibat rasa kecewa yang mendalam.
Sementara Amira berusaha sekuat tenaga agar air matanya tidak tumpah di depan Devan.
Tubuhnya gemetar hebat, dan cengkeraman tangannya di bawah meja semakin mengerat hingga kuku-kukunya memutih.
Mendengar tuduhan keji dari Daniel membuat dadanya terasa begitu sesak, namun ia menolak untuk terlihat lemah di hadapan putranya yang masih kecil dan polos.
"Semua wanita sama saja. Aku akan membalasmu, Amira!" ucap Daniel berbisik penuh dendam di dalam hatinya.
Luka lama akibat dikhianati Selena kini tumpang tindih dengan kesalahpahamannya pada Amira, memicu sisi gelap di dalam dirinya yang telah lama mati.
Dengan rahang yang mengeras, Daniel kemudian menuju ke kliennya yang sudah menunggu di area VIP rumah makan tersebut.
Alih-alih fokus pada urusan bisnis, pikiran Daniel kini sepenuhnya dipenuhi oleh rencana untuk menjatuhkan Amira dan merebut kembali harga dirinya yang ia rasa telah diinjak-injak.