NovelToon NovelToon
The Novelist

The Novelist

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:168
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Misty, seorang penulis novel misteri yang tengah naik daun karena karyanya "Siapa Membunuh Siapa?" menjadi buku best-seller, menerima sebuah paket misterius di depan pintu apartemennya.

Isi paket itu adalah naskah lama yang pernah Misty tulis, namun tak pernah dia selesaikan. Misty membaca lagi naskah lamanya yang berjudul "The Novelist" dan menemukan ada tulisan baru —yang bukan tulisannya— tersisip di dalam naskah lama itu. Tulisan baru itu menceritakan tentang skema pembunuhan seorang wanita di unit 205 sebuah apartemen.

Keesokan paginya, Misty dikejutkan dengan berita bahwa wanita penghuni unit sebelah —kamar 205— dibunuh dengan cara yang sama seperti yang tertulis dalam naskah lama Misty.

Wajah panik Misty yang sempat tertangkap oleh Anjas, wartawan yang meliput kasus pembunuhan di apartemen Misty, membuat Anjas penasaran dan berusaha mendapat informasi dari Misty.

Siapakah pengirim paket misterius itu? Akankah Misty dicurigai sebagai tersangka pembunuhan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terlalu Tenang

Arga dan Gerry sudah duduk di ruang konsultasi Dr. Maya Wijaya, Sp.Kj di Klinik Psikiatri Sentra Sehat. Gerry, seperti biasa, mengamati setiap sudut ruang konsultasi yang didominasi dengan warna putih itu. Tak banyak benda di sana selain kursi konseling, meja dan kursi kerja Dr. Maya dan beberapa prosedur medis yang menghiasi salah satu sisi ruangan.

Di atas meja kerja Dr. Maya juga tidak dipenuhi banyak benda selain komputer, tumpukan berkas, alat tulis dan satu pigura kecil yang menghadap ke arah Dr. Maya. Gerry sempat menatap ke arah pigura kecil itu cukup lama.

"Maaf membuat Anda sekalian menunggu," kata Dr. Maya yang baru saja masuk ke ruangannya setelah dari toilet. Arga dan Gerry mengangguk ramah.

"Jadi... Bapak Penyidik datang kemari sebagai..."

"Penyidik, Dokter," kata Arga cepat. Dokter Maya tersenyum.

"Syukurlah. Tak sedikit juga penyidik yang datang untuk konsultasi," kata Dokter Maya sambil tersenyum ramah.

"Apa yang biasanya mereka konsultasikan pada Anda?" tanya Arga. Dokter Maya menaikkan kedua alisnya.

"Banyak hal, Pak. Ada yang memang datang untuk konsultasi kesehatan, ada juga yang datang untuk menanyakan suatu kasus dari kacamata psikologi," jawab Dokter Maya.

"Jadi... Anda sering membantu petugas penyidik memecahkan kasus kejahatan?" tanya Arga. Maya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

"Saya tidak sehebat Sherlock Holmes, Pak," jawab Dokter Maya.

"Saya hanya memberikan pendapat dari segi psikologi, memberi penilaian terhadap suatu kasus dari pola psikologi yang terlihat di tempat kejadian perkara maupun dari tersangka," kata Dokter Maya. Arga manggut-manggut.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter Maya, terlihat tenang. Arga menatapnya tajam.

"Baiklah. Saya rasa, saya akan bertanya langsung pada intinya," kata Arga tanpa membuang banyak waktu.

"Silakan,"

"Pada tanggal 20 Juni, apakah Anda menginap di Hotel Harmoni?" tanya Arga. Dokter Maya mengangguk tanpa ragu.

"Saya menghadiri pesta pernikahan teman saya disana malam harinya," kata Dokter Maya. Arga mengernyit.

"Hanya untuk menghadiri pesta pernikahan teman?" tanya Arga, merasa ada sesuatu yang janggal. Dokter Maya terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab.

"Pagi harinya saya ada janji dengan seorang pasien yang meminta konsultasi diluar klinik," kata Dokter Maya. Gerry menoleh, menatap atasannya yang menatap Dokter Maya dengan tatapan tajam.

"Apakah bisa menerima konsultasi diluar jam kerja dan diluar klinik?" tanya Arga.

Dokter Maya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya.

"Untuk kasus-kasus tertentu, bisa," kata Dokter Maya.

Arga sedikit menyipitkan matanya. Dokter Maya tersenyum. Dia lalu mengambil selembar brosur yang ada di atas mejanya.

"Klinik kami menyediakan layanan konsultasi outdoor. Tentu saja semua harus melalui prosedur," kata Dokter Maya sambil menyodorkan brosur klinik yang memuat jenis-jenis layanan yang disediakan.

Arga mengambil brosur tersebut lalu membaca poin-poin yang ada disana lalu menyerahkan brosur itu pada Gerry.

"Jadi, bertepatan hari itu, pasien Anda juga meminta konsultasi diluar klinik?" tanya Arga.

Dokter Maya menggelengkan kepalanya. Senyum ramahnya masih terkembang di wajahnya.

"Saya yang menentukan harinya. Karena kebetulan tempat yang pasien saya minta searah dengan hotel, maka saya menyusun jadwal konsultasi di tanggal 21 Juni," kata Dokter Maya.

Hening sesaat. Arga memutar otak untuk menggali lebih dalam tentang kegiatan Dokter Maya di hotel itu.

"Maaf, Pak," kata Gerry. Arga menoleh ke arah Gerry lalu mengangguk tipis.

"Apakah Anda tidak mengetahui kehebohan yang terjadi di hotel saat itu?" tanya Gerry. Dokter Maya mengernyit.

"Kehebohan?" tanya Dokter Maya.

Gerry mengangguk. Dokter Maya menggelengkan kepalanya perlahan.

"Mungkin terjadi ketika saya sedang keluar hotel," kata Dokter Maya. Gerry manggut-manggut.

"Berapa lama biasanya Anda melakukan konsultasi outdoor?" tanya Gerry.

"Biasanya, saya sesuaikan dengan kondisi pasien," kata Dokter Maya.

"Kalau pasien pada tanggal 21 Juni, seingat saya, saya meninggalkan hotel selama kurang lebih dua jam," lanjut Maya.

"Apakah kami bisa meminta keterangan pasien Anda untuk memastikan alibi Anda?" tanya Gerry. Dokter Maya tersenyum.

"Sayangnya, kalau terkait pasien, saya tidak bisa, Pak. Anda tahu kode etik dunia medis terkait kerahasiaan pasien," kata Dokter Maya.

Gerry menoleh ke arah Arga yang menatapnya lalu menggeleng tipis.

"Tapi... jika memang diperlukan, mungkin Anda bisa membawa surat resmi. Dengan begitu saya bisa membantu sesuai prosedur yang berlaku," lanjut Dokter Maya.

Arga menghela napas pelan. Dokter Maya menatap Arga dan Gerry bergantian.

"Maaf sebelumnya, Pak," kata Dokter Maya. Arga dan Gerry serempak menatap Dokter Maya.

"Mengapa Anda menanyakan tentang keberadaan saya di Hotel Harmoni bulan lalu?" tanya Dokter Maya.

Arga kembali menatap Dokter Maya dengan tatapan tajam.

"Ditemukan mayat di salah satu kamar hotel itu," kata Arga sambil menatap Dokter Maya dengan seksama, memperhatikan sekecil apapun perubahan pada wajahnya.

"Seorang wanita," lanjut Arga. Dokter Maya tidak menunjukkan ekspresi apapun.

"Dari kartu identitas yang ditemukan, korban bernama Nadia Wardhana Putri," tutup Arga. Dokter Maya mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Pembunuhan? Atau..."

"Pembunuhan," jawab Arga cepat. Bola mata Dokter Maya terlihat bergerak pelan.

"Ah! Kasus yang sedang viral itu?" tanya Dokter Maya sambil kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Arga mengangguk.

"Bukankah pembunuhan itu terjadi akhir-akhir ini?" tanya Dokter Maya.

"Saya menginap di hotel itu bulan lalu. Apa kaitannya dengan saya?" Dokter Maya melanjutkan pertanyaannya.

Gerry menoleh ke arah Arga. Dia tahu, atasannya itu sedikit kewalahan menghadapi Dokter Maya.

"Beberapa bukti mengarah pada gerak-gerik mencurigakan yang dilakukan oleh seseorang yang menginap di hotel itu sebulan yang lalu," kata Arga. Dokter Maya mendengarkan dengan seksama.

"Menurut dugaan kami, kemungkinan orang itu adalah tersangkanya," tutup Arga. Maya menaikkan kedua alisnya.

"Menarik," komentar Dokter Maya.

Dokter Maya kembali mencondongkan badannya ke depan.

"Bagaimana Bapak bisa menyimpulkan perilaku seseorang yang menginap bulan lalu terkait dengan kasus pembunuhan yang baru terjadi akhir-akhir ini?" tanya Dokter Maya. Arga tersenyum tipis.

"Saya rasa, saya tidak bisa membeberkannya terlalu jauh, Dokter," kata Arga. Dokter Maya terdiam.

"Anda tahu, kami juga memiliki kode etik penyelidikan," lanjut Arga. Dokter Maya tersenyum.

"Tentu saja,"

Dokter Maya kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya.

"Saya hanya bertanya sebagai seorang pengamat dari sisi psikologi. Mungkin saja saya bisa membantu Anda untuk mengetahui apakah Anda mencurigai orang yang tepat," kata Dokter Maya, percaya diri.

Arga menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Dia tersenyum.

"Saya rasa, insting saya sudah cukup terasah, Dokter," kata Arga lalu menoleh ke arah Gerry yang mengernyit melihat ke arah atasannya. Dokter Maya tersenyum.

"Baiklah. Terimakasih atas waktu Anda, Dokter. Saya mungkin akan datang lagi dengan surat resmi untuk meminta bantuan Anda," kata Arga sambil beranjak dan mengulurkan tangannya. Dokter Maya menaikkan kedua alisnya lalu ikut berdiri dan menjabat tangan Arga.

"Senang bisa membantu, Pak," kata Dokter Maya sambil tersenyum ramah.

Arga menatap sesaat ke arah tangan Dokter Maya yang menjabatnya. Tidak dingin. Tidak basah. Arga sedikit mengernyit.

Arga melepaskan jabat tangannya lalu meninggalkan ruang konsultasi. Saat keluar dari ruangan Dokter Maya, Arga memikirkan setiap jawaban yang diberikan Dokter Maya. Semua terdengar profesional, terdengar logis. Hampir tak ada cela.

'Dia... terlalu tenang,'

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!