NovelToon NovelToon
Back To Us, Zehar & Alesha

Back To Us, Zehar & Alesha

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Siang di Tempat Biasa

Siang itu matahari bersinar terik membakar aspal jalan raya Ibu Kota. Udara terasa panas dan kering, membuat kendaraan yang melintas meninggalkan asap tipis di belakangnya.

Zehar sedang dalam perjalanan patroli rutin bersama Bagas, menyusuri kawasan pusat bisnis yang menjadi tempat berdirinya kantor‑kantor perusahaan besar.

Tangannya memegang setir dengan tenang, matanya mengawasi keadaan lalu lintas seperti biasa, namun pikirannya tak sepenuhnya terpusat pada tugasnya saja.

Beberapa hari terakhir, percakapan lewat pesan singkat membuatnya semakin penasaran. Ia ingin melihat secara langsung, apakah kesuksesan dan jabatan tinggi yang kini dipegang Alesha telah mengubah sifat dan kebiasaannya.

Apakah wanita itu kini hanya mau berkumpul di tempat‑tempat mewah, atau masih tetap menghargai hal‑hal sederhana seperti yang dulu pernah mereka jalani bersama.

Sebuah gagasan muncul di benaknya, ia ingin mengajak makan siang, namun bukan di restoran bintang lima yang biasa dikunjungi kalangan atas.

 Ia ingin mengajaknya ke tempat yang memiliki kenangan, tempat yang sederhana namun mampu membangkitkan perasaan lama mereka berdua.

Saat kendaraan patroli melintas tepat di depan gedung pencakar langit tempat Argantara Investama berkantor, Zehar memberi isyarat kepada Bagas untuk menepi sejenak.

“Bagas, kita berhenti di sini sebentar. Saya ingin menghubungi seseorang,” ujarnya singkat.

Ia mengeluarkan ponsel, jemarinya mengetik pesan dengan hati‑hati, memastikan kata‑katanya tidak terdengar memaksa atau merendahkan.

 Dari: Zehar

Selamat siang, Alesha. Kebetulan saya sedang bertugas dan melintas di depan kantormu. Apakah kamu sudah makan siang? Kalau belum, bolehkah saya mengajakmu makan bersama? Tidak ke tempat mewah, hanya warung sederhana yang tidak jauh dari sini.

Ia menopang siku di jendela mobil, matanya melirik ke arah pintu masuk gedung sambil menunggu balasan. Raut wajahnya tenang, namun di dalam hatinya ada rasa ingin tahu yang besar sekaligus sedikit cemas.

Di dalam ruang kerjanya yang luas dan ber‑AC, Alesha baru saja selesai memeriksa satu set berkas. Ia merenggangkan bahunya yang terasa kaku, saat notifikasi masuk membuatnya segera meraih ponsel.

Ia membaca pesan itu, alisnya sedikit terangkat, lalu sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum kecil. Ia tidak merasa terganggu, justru rasa penasaran muncul. Ia tahu Zehar pasti punya alasan memilih tempat seperti itu.

Ia bersandar di kursi, memegang ponsel dengan kedua tangan, matanya berbinar lembut. Ia tidak ragu sama sekali, meski sebagian pikirannya sempat bertanya mengapa tidak memilih tempat yang lebih layak untuk posisinya sekarang.

Dari: Alesha

Selamat siang juga. Belum makan, kebetulan baru saja beristirahat. Boleh saja. Di mana tempatnya? Saya siap kapan saja.

Membaca balasan itu, hati Zehar terasa lebih lega. Ia segera membalas dan memberi tahu titik temu, lalu berpamitan sebentar kepada Bagas.

“Kamu bisa melanjutkan patroli sebentar. Saya akan bertemu seseorang di sini, nanti saya akan menyusul kembali ke markas,” katanya.

“Baik, Pak. Silahkan, dan hati‑hati.” jawab Bagas sambil menyeringai, seolah sudah paham ke mana arah langkah atasannya itu.

Sekitar sepuluh menit kemudian, Alesha keluar dari gedung kantornya. Hari itu ia mengenakan setelan jas kerja berwarna biru dongker yang rapi, tas kulit berukuran sedang tergantung di bahunya.

Banyak orang yang melintas menatapnya dengan rasa hormat, mengenali sosok direktur yang disegani itu.

Begitu melihat Zehar berdiri tidak jauh dari pintu, ia melangkah mendekat dengan langkah tenang dan percaya diri.

“Maaf membuatmu menunggu,” sapanya lembut, tatapannya bertemu dengan pandangan Zehar.

“Tidak apa‑apa, saya juga baru sampai. Ayo ikut saya, jalannya tidak jauh, hanya berjalan kaki sekitar lima menit,” jawab Zehar sambil tersenyum tipis.

Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar yang agak sempit, melewati deretan toko dan kios kecil hingga sampai di sebuah tikungan yang agak sepi.

Di sana berdiri sebuah warung makan sederhana, beratap seng, dindingnya terbuat dari papan kayu yang sudah agak usang, namun terlihat bersih dan terawat. Di depannya terpasang papan tulisan sederhana 'Warung Bu Siti'.

Begitu sampai di tempat itu, Alesha berhenti sejenak, matanya menatap sekelilingnya.

Sudah tujuh tahun lebih ia tidak menginjakkan kaki di tempat ini. Namun, ia segera menyadari tempat yang hanya berjarak sekitar dua ratus meter dari sini, Sebuah Kampus Negeri tempat mereka dulu melanjutkan pendidikan di jenjang perguruan tinggi.

Zehar mengamati reaksi Alesha dengan saksama, berusaha membaca apakah ada rasa keberatan atau kekecewaan di wajah wanita itu.

“Maaf kalau tempatnya terasa kurang layak untukmu sekarang. Saya sengaja memilih tempat ini, bukan untuk meremehkan, tapi hanya ingin tahu… apakah kamu masih nyaman dengan suasana seperti ini, atau apakah perjalanan hidup yang kamu lalui telah mengubah seleramu juga.”

Alesha menoleh, menatap Zehar lekat‑lekat, lalu tersenyum lebar, senyum yang sangat tulus dan tidak dibuat‑buat.

“Kamu pikir saya akan merasa terganggu? Tidak sama sekali, Zehar. Justru tempat ini membawa kembali banyak kenangan lama. Dulu, setiap hari Jumat sepulang ngampus, kita selalu makan nasi goreng atau bakso di sini, bukan?”

Mendengar jawaban itu, rasa was‑was Zehar langsung hilang. Ia mengangguk lega, lalu mempersilakan Alesha duduk di salah satu bangku kayu yang agak pendek.

“Benar. Saya senang kamu masih mengingatnya, dan masih mau duduk di sini tanpa merasa malu atau rendah diri.”

“Malu untuk apa?” jawab Alesha sambil meluruskan ujung jasnya agar tetap rapi meski duduk di tempat sederhana.

“Kedudukan dan pakaian hanyalah lapisan luar. Yang penting adalah apa yang ada di dalam hati. Tempat ini sama bersihnya, dan kenangan yang ada di sini jauh lebih berharga daripada segala kemewahan yang saya miliki sekarang.”

Suara Bu Siti, pemilik warung yang sudah tua namun masih gesit, terdengar menyapa dari balik meja.

“Wah, kalian ternyata! Kalau tidak salah ingat, Zehar dan… Alesha ya? Sudah lama sekali tidak melihat kalian kemari! Sudah besar dan sukses saja sekarang, ya.”

Alesha terkejut sesaat, lalu tertawa kecil mendapati wanita tua itu masih mengenali mereka setelah bertahun‑tahun.

“Benar, Bu Siti. Sehat saja Ibu? Terima kasih masih mengingat kami.”

“Alhamdulillah sehat. Mau pesan apa? Seperti biasanya?” tanya Bu Siti ramah.

“Ya, Nasi goreng dan teh manis hangat untuk kami berdua, Bu,” jawab Zehar cepat.

Sambil menunggu pesanan datang, suasana di antara mereka terasa santai dan hangat.

Zehar mengamati Alesha yang duduk dengan tenang, sesekali mengusap meja kayu yang sedikit kasar, lalu menatap ke arah jalan di depan yang dulunya sering mereka lalui.

Tidak ada ekspresi canggung, tidak ada rasa ingin terlihat lebih baik, hanya kehadiran yang apa adanya.

“Saat lulus ujian hari itu, lalu kita merayakannya di sini dengan uang saku yang pas‑pasan,” kenang Alesha tiba‑tiba, matanya menerawang ke masa lalu.

“Saya pikir, setelah hidup di lingkungan yang serba rapi dan mahal selama ini, rasanya akan aneh kembali ke tempat seperti ini. Tapi ternyata tidak sama sekali.”

Zehar menatapnya dengan pandangan lembut dan penuh penghargaan.

“Saya lega mendengarnya. Jujur saja, saya agak ragu mengajakmu ke sini. Saya takut kesuksesan mengubah pandanganmu terhadap hal‑hal sederhana. Tapi melihat sikapmu sekarang, saya tahu bahwa inti dirimu masih sama seperti dulu, masih orang yang sama, jujur, rendah hati, dan tidak tergoda oleh kemewahan semata.”

Alesha menunduk sedikit, tersenyum malu mendengar pujian itu.

“Kemewahan hanya membuat hidup lebih nyaman, tapi tidak membuat hati menjadi lebih tenang. Justru saat saya duduk di sini sekarang, saya merasa lebih bebas daripada saat duduk di meja makan berisi rapat yang penuh formalitas dan topik bisnis yang berat.”

Tak lama kemudian, pesanan mereka tiba. Nasi goreng yang disajikan terlihat sederhana, baunya menyebar harum menggugah selera.

Alesha menyantapnya dengan lahap, tidak bersikap ragu atau berlebihan, seolah ia baru saja kembali ke masa remajanya yang bebas dari segala beban tanggung jawab.

Zehar memperhatikannya, dan hatinya semakin yakin bahwa meski tujuh tahun telah berlalu, meski posisi mereka telah berubah banyak, wanita yang duduk di hadapannya ini tetaplah Alesha yang sama, wanita yang dulu ia cintai dengan sepenuh hati.

Saat hampir selesai makan, Zehar meletakkan sendoknya, lalu menatap Alesha dengan pandangan yang lebih mantap.

“Kalau begitu… karena kamu masih nyaman dengan hal‑hal sederhana, bolehkah saya mengajakmu bertemu lagi di akhir pekan nanti? Bukan untuk urusan pekerjaan atau tugas, hanya untuk berjalan‑jalan santai dan mengobrol lebih banyak lagi.”

Alesha mengangkat wajahnya, matanya bersinar cerah. Ia tidak menjawab dengan tergesa‑gesa, namun senyumnya sudah memberikan jawaban yang jelas.

“Boleh. Saya juga ingin menghabiskan waktu dengan cara yang tidak membosankan, tanpa harus memikirkan jadwal atau laporan kerja.”

“Baiklah. Saya akan kabari lagi nanti waktunya. Terima kasih sudah bersedia menerima ajakan sederhana ini,” ujar Zehar sambil membayar biaya makan kepada Bu Siti.

“Terima kasih juga sudah mengingatkan saya akan apa yang sebenarnya penting,” balas Alesha lembut.

Mereka berjalan kembali menuju jalan raya utama, langkah mereka terasa lebih ringan dan lebih dekat dibandingkan saat baru berangkat. Zehar merasa ujian yang ia buat untuk dirinya sendiri dan untuk Alesha telah terjawab dengan baik.

1
Siti Sarfiah
lancar kan urusannya kalau mengalah dari egois lanjutkan lagi cinta yg terputus dan perbaiki kembali
Siti Sarfiah
maju pakpol , buang jauh" egomu bisa nyesal kalau d ambil orang
Siti Sarfiah
itulah sama" egois🤭💪
Siti Sarfiah
pakpol yg buang" waktu , bilang saja ingin mengenang masa lalu😄👍
Siti Sarfiah
cinta lama bersemi kembali😍👍💪
Siti Sarfiah
dengan bertugasnya AKP zehar d daerah yg d tuju akan aman selalu👍💪
Siti Sarfiah
mantap ibu Dirut yg jenius👍
Elisabeth Ratna Susanti
semoga pak Zehar beneran tulus ya
Rosella
udh, 🙏
kalah saing kmu erhan
Rosella
baguss
Rosella
Zaskia sadar krna di bayarin tuh utang, coba kalau ga d bayarin, apa masih Nerima Zehar 😏
Rosella
sepakat din🙏
Rosella
keren juga Dinda 😍.
real sahabat ini mah😍
Elisabeth Ratna Susanti
harus tetap tegak berdiri 👍🥰
Rosella
aku paling suka karakter Zehar. apa yang dia ucapkan pasti positif. keren thor.
kalau bisa up banyak y. plis 🙏
Rani: tengkyu.

siapp,😍
demi readers rela up banyak kok😍
total 1 replies
Rosella
sudah pasti terpecah belah lah. gila aja anak sendiri di jadikan bahan untuk balas Budi.😏
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
ibu aja yg nikah sama erhan noh. kehormatan apaan, ngorbanin anak
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
egois bnget si ibu
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
idih
Rosella
emosian lngsung pas baca bab ini
Rani: sabar😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!