Arabella Qaseema, wanita dewasa berumur 24 tahun. Sesuai dengan namanya yang cantik, Arabella memiliki paras yang cantik dan imut. Tapi sayang, ia sulit mendapatkan pasangan. Setiap bulan yang berganti, bergulir disetiap harinya. Arabella, selalu berharap akan ada seorang pria yang akan datang untuk melamar.
"Hilal jodoh belum terlihat. Jadi nunggu hilal dulu. Nanti ya, kalau enggak Sabtu, ya Minggu,"
"Kalau diundang, aku gak mau ngasih kado. Hari minggu gini KUA-nya tutup,"
"Memang mau nyariin calon buat aku?"
"Besok ya, kalau enggak hujan. Aku cariin satu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Revolusi Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wasiat
Selesai makan dan membereskan seisi rumah Arabella segera beristirahat diruang tengah seraya menonton televisi favorit Arabella dengan ditemani Pak Haidar sedangkan Ana, ia telah pergi kuliah.
"Ara maafkan ayah nak. Ayah selalu membuatmu susah!" Suara lemah penuh penyesalan itu terdengar menyakitkan dihati Arabella.
"Minta maaf untuk apa yah? Selama ini ayah tidak pernah menyusahkanku. Lagi pula aku sangat senang melihat ayah dan Ana bahagia begitu pula dengan aku yang selama ini hidup bahagia dengan ayah dan Ana."
Dengan lembut Arabella menyentuh tangan Pak Haidar, mengusap tangan keriput itu dengan pelan.
"Ayah aku ingin selalu melihat ayah dan Ana bahagia. Jika kalian bahagia aku juga akan bahagia."
Pak Haidar tersenyum penuh haru, kedua matanya berair hampir meneteskan air mata. Ia mengusap kepala Arabella dengan penuh kasih sayang anak pertamanya ini sangat baik dan penurut.
"Nak ingat pesan ayah! Ayah ingin kamu dan Ana saling menyayangi dalam masalah sebesar apapun itu tetaplah bersama, Ana adikmu itu belum dewasa nak. Dia masih saja ceroboh dan keras kepala. Jangan tinggalkan dia sendirian nak dia sangat penakut, ayah khawatir dia terjerumus kedalam keburukan duniawi."
Arabella terus mendengarkan setiap ucapan Pak Haidar, tanpa menyela sedikitpun.
"Ara anakku, ayahmu ini sudah sangat tua. Jaga dirimu baik-baik nak, jangan tinggalkan shalat. Ayah minta jaga adikmu Ana dengan baik."
Tanpa terasa buliran air mata Arabella berjatuhan, membasahi pipinya. Ia merasa sedih mendengar nasihat sang ayah. Kenapa ayahnya melontarkan ucapan seperti itu bukannya itu seperti kalimat perpisahan. Tidak, ayahnya masih ada disini memangnya ayah akan kemana? Lagian ayah akan selalu ada. Pikir Arabella.
"Rasanya ayah sangat ingin melihatmu menikah nak, ayah ingin melihat siapa pria yang akan menjagamu setelah ayah."
"Ayah tanpa ayah minta aku akan melaksanakan kewajibanku, aku juga akan menjaga Ana dengan baik. In Syaa Allah ayah pasti akan menyaksikan aku menikah."
Pak Haidar mengangguk seraya tersenyum hangat.
"Apa ayah boleh bertanya sesuatu nak,"
Arabella mengangguk. "Tentu saja boleh"
"Apa kamu sedang dekat dengan seseorang nak?" Tanya Pak Haidar dengan hati-hati.
"Tidak ada ayah" Jawab Arabella seraya menggelengkan kepala.
"Tapi aku bertemu dengan seseorang. Pria itu selalu membantuku, padahal kami baru bertemu tiga kali, itu juga tanpa sengaja. Aku yakin mungkin itu hanya sebatas kebetulan." Memikirkan pria itu membuat senyuman Arabella terbit, semburat merah dipipi tergambar jelas bahwa Arabella tengah malu-malu.
Pak Haidar yang melihat Arabella seperti orang jatuh cinta lantas tersenyum.
"Ara. Gak ada yang namanya kebetulan, akan selalu ada alasan kenapa kamu dipertemukan dengan seseorang. Entah kehadirannya mengubah hidupmu atau kamu yang mengubah hidupnya. Jika suatu saat kalau berpisah jalan artinya tugasmu udah selesai. Gak ada yang harus disesali."
"Jadi suatu saat harus berpisah berarti memang sudah waktunya" Senyum simpul Arabella tampak terukir, mencerna setiap perkataan sang ayah.
"Iya nak, dimana ada pertemuan pasti akan ada perpisahan."
Benar setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Entahlah, Arabella masih merasa bingung. Semua masih abu-abu, ia bukan seorang peramal yang akan meramal masa depan seseorang atau dirinya sendiri. Masa depan masih terlalu panjang, sulit diduga apa yang akan terjadi tapi akan ada rencana agar tidak berantakan.
Bumi berputar dengan begitu cepat, bergulir disetiap waktu tanpa jeda dan penghalang. Begitu juga dengan kehidupan manusia, akan berjalan disetiap detik tanpa ada perputaran waktu untuk bisa kembali ke masa lalu.
Mengingat masa lalu membuat bayangan sang Alm ibu melintas dipikiran. Sudah lama Alm ibu meninggal. Padahal Arabella dan Ana sangat merindukan kasih sayang seorang ibu, apalagi ayahnya pasti sangat membutuhkan sosok istri.
Teringat kembali pada seorang pria yang selalu membantu Arabella. Sosok pria gagah nan tampan itu terus terlintas begitu saja. Apakah ini rasa kagum? Tunggu dulu, perasaan apa ini hatinya berdetak dua kali cepat dari biasanya. Ada debaran aneh didalam sana, membuat Arabella bingung dengan perasaannya sendiri.
Tidak mau terlaru larut dalam perasaan aneh yang menganggu, Arabella mengalihkan semua pikirannya pada Ana.
"Ayah, sebentar lagi Ana akan wisuda. Adik kecilku sudah semakin dewasa sekarang."
"Ara"
"Iya ayah, kenapa,"
Raut wajah Pak Haidar berubah murung, terlihat ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
"Sebenarnya.. Ara. Emm, Adikmu itu..." Lidah Pak Haidar terasa kelu dan kaku. Kenapa perasaan tak sanggup ini menyerang dibenaknya. Melihat Wajah putrinya begitu manis dan cantik apalagi Arabella sangat lembut dan penurut. Bukannya yang harus menikah itu kakaknya dulu barulah sang adik.
"Ada apa ayah? Katakan saja,"
Sebelum berbicara Pak Haidar mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan untuk menetralkan perasaannya.
"Ara kau harus tau ini. Sebelum Alm ibumu menghembuskan nafas terakhir, ia sempat meninggalkan wasiat pada ayah dan keluarga sahabatnya. Hari itu sebelum Ana dilahirkan, ibumu mengalami pendarahan hebat. Jujur pada waktu itu ayah sangat takut ibumu kenapa-kenapa. Ayah menitipkanmu pada tetangga, kau ingat itukan Ara?"
Arabella mengangguk.
"Setelah itu ayah membawa ibumu kerumah sakit terdekat, kebetulan sekali saat kami tiba dirumah sakit ada sahabat ibumu, dia juga baru memeriksa kesehatan anaknya. Singkat cerita, ibumu ditangani dokter. Alhamdulillah Ana lahir dengan selamat, ayah sangat bahagia begitu pula dengan ibumu dan keluarga dari sahabat ibumu. Saat selesai mengadzani Ana. Tiba-tiba ibumu mengeluh sakit yang luar biasa, dan kami sadar bahwa ibumu akan mengalami sakaratul maut. Tapi sebelum nafas terakhirnya ibumu berpesan pada sahabatnya,
"Din.. aku mohon kepadamu.. anggap saja ini permohonan terakhirku. Aku mohon kepadaMu saat anakku telah dewasa jodohkanlah mereka. Aku.. percaya kalau anakku hidup bersama anakmu pasti akan bahagia.."
"Maksudmu anak pertamamu, Nisa"
"Bukan tapi adiknya, bayi yang baru saja aku lahirkan. Aku mohon jadikan dia calon istri anakmu kelak.."
"Baiklah Nisa, aku berjanji akan menjodohkan mereka berdua saat dewasa nanti."
Dan pada saat itulah Nisa istri Pak Haidar meninggal dunia dengan sebuah wasiat yang telah disetujui oleh sahabatnya.
"Jadi ayah berencana untuk menjodohkan Ana setelah lulus kuliah?" Tanya Arabella dengan terkejut.
"Iya Ara. Maafkan ayah nak, mungkin adikmu akan melangkahimu." Ujar Pak Haidar dengan sedih kepalanya tertunduk lemah.
Arabella terdiam, lalu memeluk Pak Haidar dengan erat.
"Tolong jangan bersedih seperti ini ayah. Demi memenuhi keinginan Alm ibu aku rela Ana menikah lebih dulu. Aku juga ingin melihat Ana bahagia dengan lelaki pilihan ibu."
"Terimakasih Ara, sekali lagi maafkan ayahmu ini"
Hari terus berlanjut, hingga aktivitas kerja Arabella yang padat membuat ia sering pulang malam. Akhir-akhir ini restoran sedang banyak pengunjung. Jujur saja Arabella sangat kelelahan, tapi demi ayah dan Ana ia akan tetap berusaha.
Seperti saat sekarang, Arabella tengah menunggu bus dihalte. Sendirian dengan udara dingin yang semakin terasa. Kendaraan mulai sepi, orang-orang yang tadinya berlalu lalang kini tak terlihat. Suara hembusan angin terasa kuat, membuat Arabella merasa takut.
"Kenapa busnya belum juga datang," Keluhnya dengan was-was. Kenapa malam ini sangat tidak mendukungnya, biasanya pulang malampun tidak pernah sesepi ini.
"Belum pulang?"
Eh suara siapa itu, Arabella merasa takut. Tubuh mungilnya bergetar dengan keringat dingin yang bercucuran.
tinggal menunggu prahara sang bunda nya hafiz lanjut....!
Masya Allah...
🤣