"Aku ingetin, jangan sampek kamu jatuh cinta! Aku nikahin kamu karena terpaksa!"
"Sorry, pria seperti kamu bukan tipeku!" cetus Dea pada pria yang berdiri di depannya dengan sombong dan angkuh.
"Kamu yang bukan tipeku!" Daniel tidak mau kalah. Sebab Dea benar-benar gadis di bawah standard. Untuk nilai, bagai pria sesukses dirinya, Dea memiliki nilai F.
Yuk kenalan sama penulis, Instagram :
Sept_September2020
Baca juga karya Sept yang sudah Tamat
Rahim Bayaran
Istri Gelap Presdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekretaris Kim
Dea I Love You - Bab 8 (18+)
Oleh Sept
"Udah, aku bisa bawa sendiri," ucap Dea kepada pria yang mengambil buku dari tangannya.
"Gak apa-apa. Aku bawain!" Cowok cakep itu tersenyum, memperlihatkan lesung pipinya.
Mereka berdua masuk ke area kampus sama-sama, sesekali Dea dibuat tersenyum ketika keduanya sedang berbicara. Gadis itu tidak menyadari, suaminya sedang gusar karena melihat Dea begitu akrab dengan lawan jenis. Apalagi dari jauh, cowok yang bersama Dea itu terlihat lumayan.
Di dalam mobil sport warna merah itu, hidung mancung Daniel kembang kempis menahan kesal. Saat ia akan putar balik, hampir saja bersenggolan dengan mobil orang. Makin panas hati Daniel, karena pengemudi itu mengklakson ia berkali-kali.
"Apa sih nih orang? Norak, kampungan ... main klakson nggak jelas! Dan cowok itu, buta kali tuh orang, apa bagusnya Dea?" Sepanjang jalan ia terus saja merutuk tidak jelas. Ngomel-ngomel karena hatinya sedang panas.
***
Di depan sebuah gedung tinggi, yang ujung atapnya tidak nampak meski kepala mendongak. Mobil Daniel perlahan memasuki kawasan tersebut, ia kemudian melajukan mobil ke area parkir khusus.
Keluar dari mobil, pria itu berjalan dengan tegap dan penuh rasa percaya diri yang tinggi. Terlihat kharismatik dan berwibawa.
"Selamat pagi, Tuan." Sekretaris Daniel menyapa dengan ramah dan sopan.
"Jam berapa meetingnya?"
"Satu jam lagi, Tuan!"
"Ya sudah, kamu boleh pergi."
"Tuan," panggil sekretarisnya.
"APA?" Daniel melotot pada pria tersebut.
"Apa sesuatu yang buruk terjadi? Kenapa muka Tuan masam sekali?"
Bukkkk
Sebuah map dilempar Daniel ke arah sekretarisnya itu. Sayang, reflek sekretaris Kim sangat bagus. Membuat lemparan Daniel meleset. Dan Kim langsung terkekeh.
"Hakim, kurang ajar kamu!" teriak Daniel.
"Ayolah, mengapa mukamu kaya kanebo usang!" ledek Kim.
Kini mereka bicara dengan santai, tak seformal seperti tadi. Daniel dan Kim adalah atasan dan bawahan rasa kawan.
Mereka dulu teman semasa SMA, teman beda nasib. Daniel pria yang terlahir kaya sejak di dalam perut, sedangkan Kim. Untuk bisa kuliah saja, pria itu harus kerja keras untuk mencari beasiswa.
Beruntung lima tahun lalu mereka berdua dipertemukan lagi. Awalnya Kim menolak saat Daniel menawari Kim pekerjaan. Tapi, karena Daniel gigih memaksa Kim. Akhirnya pria itu mau juga.
"Apa masalah Dara?"
Daniel tertegun, ia merasa heran. Baru menikah dengan Dea beberapa hari, mengapa ia lupa pada Dara?
"Sok tau!"
"Masalah apa lagi kalau nggak wanita!" Kim benar-benar sok tau banget, membuat Daniel yang sejak tadi memiliki mood yang buruk semakin ingin menelan orang hidup-hidup.
"Kim, tolong keluar!"
"Wow!" Kim langsung hilang dari pandangan Daniel. Tidak mau jadi sasaran kemarahan pria tersebut.
Satu jam kemudian. Ruang meeting terlihat sudah penuh dengan orang-orang, kecuali kursi CEO yang nampak kosong.
"Pak, Kim? Tuan Daniel ke mana?" tanya salah seorang anggota meeting yang ada di sana.
Kim mengusap dahinya yang dipenuhi bulir keringat. Pasalnya, ia juga tidak punya jawaban untuk pertanyaan orang-orang itu.
"Sebentar saya hubungi Tuan Daniel!" Kim meminta waktu sejenak.
Kim menjauh sebentar, ia lega saat sambungan telponnya tersambung.
"Tuan, Tuan di mana?"
"Jangan ribut. Ini sedang menuju ke sana," jawab Daniel dengan gusar.
Sesaat kemudian, pintu ruang meeting terbuka. Sosok pria dengan badan tegap, dada bidang dan atletis masuk, ia langsung duduk di tempat yang sudah menjadi tempatnya.
"Maaf terlambat, mari mulai rapatnya!"
Seorang wanita dengan rok mini, tapi rapi berjalan ke depan. Ia melakukan presentasi.
Sepanjang rapat, Daniel tak begitu memperhatikan. Pikirannya masih ada di kampus biru. Ia penasaran, apa cowok tadi pagi adalah pacar Dea?
"Tuan! Tuan!" Karena Daniel tak kunjung merespon, Kim langsung menyentuh pundak atasannya itu. Membuat Daniel tersentak.
Pria itu malah melamun, bukannya fokus pada materi meeting.
"Kita tunda meetingnya!" Daniel bangkit dan meninggalkan ruang pertemuan yang terbatas itu.
Para peserta meeting dibuat terkesima campur jengkel, sejak kapan CEO mereka tidak professional seperti ini?
"Pasti lagi berantem sama istrinya!" bisik salah satu peserta meeting pada peserta yang duduk di sebelahnya.
"Memang nggak mudah, menikah dengan anak kecil!" celetuk karyawan yang berbaju seksi. Rapi tapi pres body, sudah mirip lontong atau mungkin lepet.
"Nggak nyangka ya? Selera bos ternyata bocah!" tambah yang lain.
"Ehem ehem!"
Grup gibah langsung ngacir, mereka langsung meninggalkan kursi masing-masing ketika mendengar sekretaris Kim berdehem. Kalau sampai gibahan mereka sampai ke Tuan Daniel, bisa-bisa akan terjadi PHK berjama'ah.
Ruang kerja Daniel.
"Datang terlambat, meninggalkan ruang meeting dah menunda meeting begitu saja ... ayolah! Apa yang terjadi?"
"Kim, keluar! Jangan ikut campur."
Sekretaris Kim menghela napas panjang, kemudian berbalik. Ia siap meninggalkan ruang kerja Daniel.
Klek
Saat sekretaris Kim sudah memegang handle pintu, tiba-tiba Daniel menghentikan langkah pria itu.
"Kim! Aku punya tugas untukmu!" Bersambung.
happy ending, senang bacanya 😍😍