[[ TAMAT ]]
IG : @rumaika_sally
Menikahi temen sebangku semasa SMA. Bagaimana rasanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rumaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Bima
Sampai di gerbang sekolah, Mayang melongok keluar. Teman-temannya melambaikan tangan perpisahan, Mayang terlihat ceria. Ia lihat di seberang sana Papanya sedang asyik dengan ponselnya.
Melihat Mayang berjalan ke arahnya, pria itu melambaikan tangannya dan msmasukkan ponsel ke kantong celananya.
Matanya berbinar. Gadis-Gadis itu tersenyum ke arah Papa Mayang. Pria itu membalasnya. Ia merasa, putrinya jauh lebih ceria. Mayang sudah punya teman, batinnya.
Mayang menceritakan semuanya di perjalanan pulang. Gadis bernama Susi yang meminjaminya baju olahraga. Juga Alin teman sekelasnya yang lucu dan cadel, sulit mengatakan kata yang menggunakan huruf R. Tapi dia tidak rendah diri, gelak tawa dari teman-temannya tak menyinggungnya. Dia bilang dia senang membuat teman-temannya tertawa. Papanya tampak antusias mendengarkan. Tak pernah ia lihat putrinya begitu bersemangat sepulang sekolah.
Mayang menoleh ke arah Papanya begitu mobil berbelok ke arah yang bukan menuju rumahnya.
"Papa, salah jalan?" Katanya panik.
"Nggak, sayang. Kita mau ke rumah Tante Asti. Tadi Bima nggak masuk sekolah kan?"
Mayang mengangguk cepat. Mayang menyadari satu hal. Ia melupakan Bima. Tadinya ia khawatir. Tapi teman-teman barunya mengalihkan perhatiannya. Soal Bima terlupakan begitu saja.
"Bima kenapa, Pa?" Ada nada cemas dalam suaranya.
"Bukan, Bima. Tante Asti. Jatuh dari tangga. Kakinya terkilir. Tadi malam, Bima yang nyetirin ke Rumah Sakit. Agak jauh dari sini Rumah Sakit yang lengkap dokter spesialis tulangnya. Harus dicek dengan benar. Dia bilang, IGD hanya penanganan awal, lalu dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah. Takutnya kenapa-napa."
"Terus sekarang gimana?"
"Udah boleh pulang. Tadi dia telpon. Katanya nggak papa. Cuma untuk sementara waktu akan kesulitan berjalan dan beraktifitas yang lain. Kaki kanannya yang agak parah katanya."
"Nah, itu rumahnya, " Papanya berseru. "Katanya rumah paling ujung. Pak Baron yang tadi yang bilang. Nah, parkir nya di sini aja katanya." Papanya menghentikan mobilnya di lapangan kecil yang rumputnya membentang hijau.
Mayang memandangi rumah menjulang itu. Bangunannya tua tapi cukup terawat. Seperti latar di film jaman dulu. Catnya putih gading. Tangga menuju pintu lumayan tinggi. Ada beberapa anak tangga besar-besar, pilar-pilarnya besar dan kokoh.
Mbok Sri mempersilahkan mereka masuk. Berarti Mbok Sri ini istri Pak Baron satpam sekolahnya. Kalau nggak salah Papanya kemarin bilang begitu.
Mayang menangkap suasana mewah di kediaman itu. Seperti villa yang pernah ia singgahi bersama Papanya di Bali. Desainnya tak main-main. Lantainya marmer, langit-langitnya berlampu terang. Jadi Papa benar, kemarin dia bilang kalau Tante Asti tinggal di villa. Sangat berbeda dengan rumahnya. Walaupun Papanya sudah memberikan yang terbaik, tapi pembangunannya terburu-buru waktu. Bangunannya juga sengaja didesain untuk berdua. Rumah mungil, itu yang Papanya bilang.
Tante Asti menyambutnya. Memutar kursi rodanya terburu-buru. Mencium pipi kanan dan kiri Mayang. Berterimakasih karena sudah datang.
"Maklum ya belum pernah pakai kursi roda sebelumnya. Gagap pakainya," ia tertawa. Nampak bingung mengoperasikan alat itu.
Papa mendorong kursi Tante Asti ke tempat yang ditunjuknya. Halaman samping villa itu. Pemandangannya tak kalah cantik rupanya. Terlihat jalan berkelok-kelok dari atas sini. Mayang mengikuti mereka dan duduk di kursi. Mbok Sri menawari minum. Mayang bilang minumnya sama kayak Papanya. Matanya sibuk menikmati pemandangan di hadapannya.
"Mbok, tolong panggilan Bima ya Mbok. Bilang kalau ada Mayang."
Bima datang dari kamarnya. Tangannya setengah basah. Dicuci dengan buru-buru dan terlihat dilap sekenanya ke bajunya. Kaos pulih polos yang dikenakannya ternoda cat warna-warna. Mayang menatap keheranan. Lalu menatap ke arah Bima. Di pipinya ada noda samar-samar juga. Mungkin bekas cat juga. Bima habis melukis, pikirnya.
Ia menyalami Papa Mayang dan ikut duduk di samping Mayang. Dada Mayang berdegup, ia nampak gugup.
Bima nampak keren. Ini kali pertama Mayang melihat Bima tanpa seragam sekolah. Rambutnya sedikit acak-acakan.
Di kelas 11, Mayang pernah menyukai seseorang. Laki-laki yang ia temui di Olimpiade Matematika. Namanya Kak Alex. Pihak sekolah menunjuknya untuk membantu membimbing Mayang. Umurnya sekitar 20 tahun mungkin, sudah kuliah. Kalau dipikir-pikir seusia Bima juga.
Itu kali pertama Mayang mengagumi laki-laki. Kata Tisya ngapain suka sama Mas-Mas berkacamata. Cowok-cowok keren di sekolahnya pasti banyak yang naksir Mayang.
Mayang hanya kagum. Tapi pada akhirnya dia tahu kalau dia hanya anak kecil dimata Kak Alex. Sore itu sepulang bimbingan, Papa menjemputnya. Kak Alex dan Mayang berjalan beriringan sambil mengobrol. Lalu dari seberang mobil Papanya, Mayang melihat sosok itu. Perempuan cantik, dengan tinggi semampai, rambutnya panjang dan gayanya sangat keren. Kak Alex melambaikan tangannya. Dia dijemput pacarnya. Tentu saja mereka seumuran, mungkin teman kuliahnya. Mayang merasa ciut. Cewek itu keren sekali, bisa nyetir mobil sendiri juga. Sejak hari itu rasa kagumnya pupus. Semangatnya tak seperti dulu lagi saat akan ada jadwal bimbingan dengan Kak Alex.
Bima membuyarkan lamunan Mayang. Disentuhnya pundak Mayang. Mayang tersentak.
"Hei," Bima tersenyum geli. "Kamu kenapa?" Katanya setengah tertawa. Mayang merasa pipinya panas. Dia gugup.
Apapun karya mu bagus thor,,Aku salut sgn perjuangannya Bima 👍🏻👍🏻👍🏻⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺🌹🌹🌹🌹