Cerita berlatarkan negara luar
Meira seorang gadis berusia 21 tahun, ia tinggal bersama seorang ayahnya yang hanya tinggal sendiri karena kedua orangtuanya telah berpisah saat Meira masih berusia 7 tahun. Ibu Meira menikah lagi dengan seorang aktor terkenal, sementara Meira menjalani kehidupan seperti biasa bersama ayah nya yang hanya memiliki satu perusahaan kecil.
"Meira.. tolong teruskan perusahaan itu demi papa." ucap papa Meira, dan menjadi pesan terakhirnya sebelum ia meninggalkan putrinya untuk selamanya.
*
Suatu saat perusahaan mengalami penurunan drastis hingga Meira harus meminta pertolongan pada perusahaan besar yang di pimpin oleh pria dingin.
"Permohonan mu saya terima dengan satu syarat." ucap si pria itu.
"A-apa?"
"Menikahlah dengan ku."
Ucapan itu membuat Meira terkejut bagaikan di sambar petir di siang bolong. Namun rencananya terhalang oleh seseorang.
Simak yuk 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Sementara itu di perusahaan NH group, Meira masuk ke ruangan nya dan duduk di tempat kerjanya. Ia menghela napas yang begitu terasa berat dan menundukkan kepalanya dengan perasaan yang frustasi. "Bagaimana jika dia tidak menerima permohonan ku? Apa yang harus aku lakukan dengan para karyawan?" Gumam gadis itu sambil mengacak-acak rambutnya.
Ddrttt drrtt... Ponsel Meira berdering, ia mengambil ponselnya dan menerima telpon tersebut dengan posisi kepala yang masih menempel di mejanya. "Hm siapa nih?" Sapa Meira saat menerima telponnya.
"Ini aku, kenapa kamu gak masuk?" Tanya Ayumi di balik telpon.
"Aku udah izin hari ini gak masuk, ada hal penting yang harus aku urus." Jawab Meira.
"Apa kau baik-baik saja? Kenapa suara mu terdengar begitu lelah?"
"Hm.. sepertinya kepala ku mau pecah." Ucap Meira yang tidak berdaya.
"Dimana kamu?"
"Perusahaan."
"Tunggu aku jangan kemana-mana."
Ayumi menutup telponnya dan bergegas meninggalkan kampus untuk menemui Meira.
Tok tok tok. . . Seseorang mengetuk pintu ruangan Meira dan masuk kedalam nya. "Ada apa?" Tanya meira masih dalam posisi yang sama tanpa melihat siapa yang datang.
"Gimana, apa tuan Alexi mau bekerjasama?" Tanya sekretaris Bai.
"Entahlah, aku tidak yakin dia begitu dingin seperti manusia kutub." Ucap Meira yang tak punya semangat.
"Apa nona punya cara lain, untuk menstabilkan semuanya?"
"Jangan tanya, aku lagi gak bisa berpikir pak Bai." ucap gadis itu dengan suara yang lesu.
"Baiklah, saya hanya ingin menyampaikan ini."
Sekretaris Bai memberikan sebuah berkas laporan keuangan bulan ini. "Hm.. simpanlah nanti aku akan melihatnya." Ucap Meira yang tidak berdaya.
"Semangat, saya yakin kamu bisa. Ayo angkat kepala mu dan tunjukkan pada mendiang tuan Erland kalau kamu bisa mengatasi semuanya." Ucap sekretaris Bai yang kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.
Meira membuka matanya dan kembali duduk dengan tegap, "pak Bai benar, aku harus semangat gak boleh menyerah." Ucapnya pada dirinya sendiri.
Ia pun mulai membuka berkas yang di antarkan oleh sekretaris Bai, "astaga..!!" Teriak Meira kaget melihat laporan keuangan yang menurun drastis. Ia perlahan turun dari kursi nya dan duduk di lantai dengan perasaan yang benar-benar frustasi melihat keadaan sekarang.
"Ra. . . Kamu dimana?" Ucap Ayumi yang masuk kedalam ruangan Meira.
"Sudah ku bilang jangan pergi, malah ngilang." sambung Ayumi kembali yang berjalan menuju meja kerja Meira.
"Kyaaaa. . .!!!" Teriak seorang gadis yang begitu kaget ketika melihat sahabatnya yang duduk di lantai dengan wajah yang kusut dan rambut acak-acakan.
Ya, siapa lagi kalau bukan Meira. "Astaga Ra.. kamu kenapa? Hahaha. . ." Tanya Ayumi sambil menertawakan temannya yang sudah seperti orang stress.
"Diam kau, jangan menertawai ku seperti itu."
"Habisnya muka mu udah terlihat seperti orang stress berat tau gak?"
"Hm kau benar, masalah bertubi-tubi membuat ku gila." Rengek Meira.
"Aish... Daripada stress disini mending kita jalan ayo, aku traktir kamu minum."
"Hm.. bantu aku bangun." Ucap Meira mengulurkan tangan nya.
Ayumi meraih uluran tangan Meira dan menariknya hingga ia berdiri. "Gendong." Ucapan gadis tak berdaya itu pada sahabatnya dengan suara yang begitu manja.
"Yaakk! Apa yang kau katakan?"
"Aku gak ada tenaga buat jalan Yumi."
"Aisshh.. ayo jalan."
Ayumi menarik Meira dan mereka pun pergi ke sebua bar. Ini adalah kali pertamanya Meira pergi ke tempat seperti itu.
"Duduk disini, aku pesankan minuman yang akan membuat kamu menjadi lebih relax." Ucap Ayumi.
Meira hanya menuruti dengan apa yang di katakan temannya itu. Setelah Ayumi memesankan minuman, mereka mulai bersulang dan menikmati semua itu.
Hari mulai gelap dan tak terasa malam pun tiba, suasana bar semakin ramai oleh para pengunjung. "Apa kau sering ke tempat ini?" Tanya Meira yang setengah mabuk.
"Gak sih ini baru yang kedua kalinya, pertama aku di ajak saudara."
"Ahh begitu.. aku ke toilet sebentar." Ucap Meira yang berdiri dari duduknya dan pergi menuju sebuah toilet dengan keadaan yang sempoyongan.
Setelah keluar dari toilet ia bersandar sebetar di sebuah lorong kerena kepalanya terasa begitu pusing. 5 menit berlalu ia pun melanjutkan langkah nya dan tak sengaja menabrak seorang pria asing.
"Maaf tuan, saya tidak sengaja." Ucap Meira yang hendak melanjutkan langkahnya.
"Hei nona, mau kemana hm? Kenapa begitu terburu-buru?" Ucap pria asing itu.
"Lepaskan aku, teman aku sedang menunggu."
"Gimana kalau malam ini temani saya? Di jamin nona pasti puas."
"Hei jangan macam-macam kamu!"
Meira memarahi pria asing itu dengan mulut yang terus nyerocos hingga tidak ada kesempatan untuk pria itu bicara. "Stress kali ini perempuan." Ucap pria itu dan pergi meninggalkan Meira.
"Hei.. tuan! Kenapa kau malah pergi brengsek! Kembali kau, aku belum selesai memarahi mu...!! Aiisshh menyebalkan." Gerutu Meira.
Ia kembali melajukan langkahnya dan lagi-lagi bertabrakan dengan seorang pria lainnya. Namun kali ini lain kejadian nya, Meira terjatuh dalam pelukannya, ia mendongak dan melihat wajah pria itu dengan samar-samar.
"Hei tuan Lexi. . apa kau sudah membaca berkas ku hm?"
"Ayolah bantu aku sekali saja, aku akan melakukan apapun asal kau mau membantu ku."
"Tuan Lexi? Hei nona sepertinya kau salah orang."
"Jangan mengelak kau tuan, jelas-jelas aku masih mengingat wajah tampan mu yang menyebalkan itu." Ucap Meira yang tak sadar sambil menyentuh wajah pria itu.
"Apa yang dia maksud Alexi? Apa hubungannya dengan dia?" Gumam pria itu dalam batinnya.
"Aish.. kepala ku benar-benar pusing, sepertinya aku akan.." ucapan Meira terpotong.
"Jangan coba-coba kamu berani . . ."
Hoeekk. . . Belum selesai pria itu bicara, Meira telah memuntahkan isi perutnya di dada pria itu dan mengenai jas nya.
"Ahh.. lega nya, ingat tuan jangan abaikan permohonan ku." Ucap Meira yang kemudian meninggalkan pria itu.
"Asshhh... Wanita sialan!!" Teriak pria itu dengan begitu kesal.
"Anda baik-baik saja tuan?" tanya pria lainnya yang ternyata asisten pribadinya.
"cari tau siapa gadis itu! secepatnya!"
"baik tuan akan segera saya lakukan."
"kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang telah kamu lakukan kelinci kecil." gumam pria itu sambil menyeringai.
***
Bersambung. . .
Mohon dukungan nya ya.. boleh kasih kritik dan sarannya di kolom komentar makasih 🙏
katanya gadis pintar tapi kok bodoh
selalu bertindak tanpa pikiir terlebih dahulu
meski Meira udah 2 kali ke kantor Lexi ttp aja yang pertama kan dia hanya di bagian depanperusahaan