Pertemuan yang tak di sengaja dalam sebuah pesawat. Hingga menimbulkan ketertarikan dan akhirnya menghadirkan benih cinta di hati seorang pria tampan
Arley Mahardika Altezza pada seorang
gadis cantik Attilah Nasya Ardilla (Ana).
Sementara sang Presdir mempunyai kekasih yang telah dijodohkan dengannya karena balas budi.
Kisah cinta mereka semakin rumit setelah di ketahui ternyata mereka adalah kakak dan adik, sementara mereka telah melakukan hubungan terlarang.
Bagaimana kisah cinta Presdir tampan bersama adiknya ini selanjutnya?
Mampir dan Ikuti yaah...🙏
Dukung author...🙏
dengan memberi like, rate, hadiah, vote, komentar biar author tambah semangat untuk up terus 😊
Karya ini di terbitkan atas izin NovelToon Ana Yulia. Isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
...Happy Reading....
Dua hari kemudian.
Ana menuju kawasan perkantoran di mana terdapat sala satu kantor yang menjadi tujuannya. Dengan menggunakan bus agar dapat menghemat uangnya. Hampir satu jam berada dalam bus dengan posisi berdiri dan berhimpitan, akhirnya Ana tiba di gedung megah bertingkat banyak ini.
Ponselnya berdering.
📞"Di mana lo An?" terdengar suara Risma dari seberang.
📞"Aku udah di depan!"
📞"Cepatlah, kita sudah di atas semua! Kami menunggu dirimu." ujar Risma kembali.
Sambil berlari, Ana menuju lift. Tanpa sadar dia memasuki lift khusus para direktur yang pintunya hampir tertutup. Dengan cepat Ana memasukkan tangannya, hingga lift itu kembali terbuka. Di dalam ada beberapa pengguna. Mereka langsung mundur begitu Ana masuk. Ana langsung masuk tanpa memperhatikan mereka. Dia langsung memposisikan tubuhnya berdiri paling depan tanpa perduli dengan pandangan pengguna lift di belakangnya.
Ana mengatur nafasnya yang memburu cepat. Peluh nampak mengalir di wajahnya. Sala seorang yang berada di belakangnya tersenyum tipis memperhatikan dirinya dari belakang.
Lift naik ke lantai paling tinggi dari gedung ini. Ponsel Ana kembali berdering.
📞"Udah di mana lo? " kali ini Ririn yang menghubunginya.
📞"Aku di dalam lift Rin, sementara menuju ke atas." jawab Ana berbisik.
📞"Pimpinan sudah tiba di kantor. Beliau juga sementara menuju ruangan! Cepatlah sebelum pimpinan mendahului dirimu!" Ririn mengakhiri ucapnya dan menutup telepon.
Tidak berapa lama lift terbuka. Ana segera keluar dengan langkah cepat. Begitu juga dengan pengguna yang berada di belakangnya. Keluar sambil menatapi punggungnya.
Ana berlari menuju ruang pimpinan perusahaan ini. Karena terburu buru dia menabrak seorang staf karyawati saat hendak berbelok. Berkas yang di pegang nya jatuh berhamburan ke lantai.
"Ya tuhan..." seru Ana terkejut. Dia segera membungkuk mengumpul kertas kertas yang berhamburan.
"Maaf Mbak, saya tidak sengaja." kata karyawan wanita itu, seraya membantu Ana mengumpulkan kertas berkasnya.
Tapi sesaat kemudian karyawati itu bangkit lagi berdiri sopan dan langsung menunduk ketika tiga orang pria berjas melewati mereka. Salah seorang dari pria itu memandangi Ana sejenak yang sibuk mengumpulkan berkas. Lalu kembali melanjutkan langkah.
Sang karyawati kembali menurunkan tubuhnya kebawah membantu Ana.
"Maaf ya mbak___"
"Nggak apa apa, saya juga salah terlalu terburu-buru." kata Ana sambil berdiri dengan berkas yang sudah rapi di tangannya.
"Oh ya, kalau boleh tau, ruang pimpinan di sebelah mana?" tanya Ana kembali.
"Mbak lurus saja, terus belok kiri. Setelah itu anda akan melihat ruang Presdir"
"Terimakasih." ucap Ana tersenyum.
"Sama sama mbak."
Ana segera berbalik dan melanjutkan langkah menuju ruang pimpinan dari perusahaan ini sesuai dengan petunjuk dari karyawati tadi.
Setelah berbelok ke kiri dan berjalan sebanyak 15 meter dia melihat tulisan 'Presiden Direktur'
Ana berdiri sejenak di depan pintu, mengatur nafas dan juga pakaiannya, kemudian dia mengetuk pintu tiga kali.
Pelan pelan Ana membuka pintu dan masuk, lalu menutup pintu kembali.
Deg degan, dan gugup yang di rasakan Ana saat ini. Karena untuk pertama kalinya dia datang ke perusahaan kantor pusat dan masuk di ruangan pemilik sekaligus pimpinan perusahaan ini.
Ana berdiri di depan pintu memandang ke arah depannya. Di mana sedang duduk beberapa orang berpakaian jas lengkap formal mengelilingi meja besar berbentuk bulat lonjong. Juga ada Riko dan ke-tiga sahabatnya. Mereka semua sedang menatap ke arahnya.
Ana menelan ludahnya sesaat. Nafasnya memburu tak beraturan. Pegangannya semakin kuat pada berkas dan tas kantor menghadapi tatapan wajah wajah datar orang orang di depannya. Ririn Risma dan Roy tersenyum ke arahnya.
Dahi Ana mengerut saat melihat Joy, dia ingat pria ini. Orang yang memberi tumpangan padanya saat pulang dari bali menuju Jakarta.
Arley menatap dirinya sambil memainkan jari jemarinya pelan di atas meja, satu tangannya menopang di kursi menyentuh dagunya.
"Nona Attila, kemari dan duduklah." seru Riko kepadanya.
Ana kembali menelan ludahnya sesaat merasa lega, lalu perlahan mendekat ke arah mereka. Dia mengira akan kena amarah karena datang terlambat.
Ana memperhatikan sejenak ruangan itu. Luas dengan fasilitas yang mewah dan elegan, dindingnya terbuat dari kaca hingga terlihat pemandangan di luar.
Riko memberi isyarat kepadanya untuk duduk di sampingnya. Ana segera menarik kursi dan duduk, meletakkan berkas dan tas kantornya.
Sementara Arley terus melihatnya tanpa berkedip.
"Karena tnona Attilah sudah hadir dalam ruangan ini, maka pertemuan kita mulai." kata Heru sekretaris Arley, yang duduk di samping kanan Arley, dan Joy di samping kiri Arley.
"Nona Attilah, apa kau tau maksud kami mengundang Anda ke kantor pusat?" tanya Joy.
Ana menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak pak!" ucapnya pelan.
Mereka kembali menatap Ana. Perasaan Ana jadi tidak tenang karena menjadi tatapan mereka. Ada apa ini? Batinnya merasa khawatir. Melihat tatapan datar mereka ke arahnya. Karena dia sendiri sangat kaget ketika mendapat telepon secara tiba-tiba tadi subuh yang meminta dirinya datang ke kantor pusat Altezz Company.
Ana menoleh pada Riko.
"Ada apa pak Riko? Apa aku melakukan kesalahan?" tanyanya pelan dengan suara rendah.
Mereka kembali saling berpandangan.
"Nona Attilah___." Arley buka suara. Sejak tadi hanya diam memperhatikan dirinya.
Ana segera mengarahkan pandangannya pada Arley.
Arley menatapnya lekat.
"Sepertinya dia belum sadar dan tidak mengenalku." batin Arley tersenyum dalam hati.
"Ya?" jawab Ana singkat. Menatap wajah tampan berada tidak jauh didepannya. Wajah paling tampan dari semua pria yang hadir di ruangan ini. Dahinya mengernyit begitu melihat Arley, serasa dia pernah melihat orang ini. Tapi di mana?
Risma memberikan kode padanya, dengan isyarat gerakan bibirnya mengatakan
"Pak CEO" tapi Ana tidak mengerti, dan malah menatap Risma dengan dahi mengerut.
"Nona Attilah, karena kau telah berhasil memenangkan proyek pembangunan menara X, maka dengan ini pimpinan memberi perintah pada anda untuk menjadi kepala proyek pembangunan menara tersebut." kata Heru menyambung perkataan bosnya.
Dahi Ana kembali mengerut menatap pada Heru."Saya pak?" tanyanya kembali sambil menunjuk dirinya sendiri. Dia kaget.
"Tentu saja! Dalam pengerjaan pembangunan proyek tersebut, anda akan di bantu oleh team anda. Bu Risma, Nona Ririn dan pak Roy sebagai team anda. Dan untuk mempermudah pemantauan pembangunan menara X, maka anda bersama dengan team akan bekerja di kantor pusat untuk sementara waktu." kata Joy menjelaskan kembali.
Riko, Risma, Ririn, Roy tersenyum senang. Sementara Ana masih diam melongo, bingung mendengar perkataan Joy.
"Kami ucapkan selamat bergabung di kantor pusat." lanjut Joy kembali.
Ana menelan ludah yang terasa pahit.
"Ta_tapi...!" ucapannya terputus.
"Ada apa nona Attilah?" tanya Heru.
Arley pun bingung melihat keraguan di wajah gadis ini dan bukannya keceriaan karena telah di tunjuk sebagai kepala team.
"A_apa itu harus?" tanya Ana.
"Tentu saja! Ini perintah pimpinan." kata Riko.
"Kau tidak setuju? Sepertinya kau tidak senang! Apa kau menentang keputusan pimpinan?" sambung Riko kembali menatapnya tajam.
"Ah__bukan seperti itu pak! Mana mungkin saya berani! Saya hanya merasa tidak yakin bisa menangani proyek besar ini." ujar Ana segera sambil tersenyum setengah.
"Kami sangat yakin anda mampu Nona." kata Heru.
"Terima kasih atas kepercayaannya."
"Kalau begitu kami ucapkan selamat datang di kantor pusat untuk kalian team X!" kata Arley pada mereka.
"Terimakasih pak!" ucap Riko mewakili anak buahnya. Dia segera berdiri menyalami Arley, Heru dan Joy. Di ikuti oleh Roy, Risma Ririn. Ana ikut berdiri dengan lemah. Hatinya belum yakin memegang kendali pembangunan proyek menara X. Bukan ragu karena tidak mampu. Tapi karena memikirkan neneknya yang sakit keras. Belum lagi biaya pengobatan yang belum di dapatnya.
"Ah... bagaimana ini? Dengan menjadi kepala proyek sudah pasti akan menyita banyak waktu ku dan akan membuatku tidak punya waktu untuk mengurus nenek." batinnya lemah.
"Selamat datang di perusahaan ini nona Attilah!" ucap Arley seraya menyodorkan tangan kanannya. Lamunan Ana langsung buyar. Dia segera mengarahkan pandangannya menengadah sedikit ke atas. Menatapi wajah tampan yang tersenyum padanya. Wajah sangat tampan dengan senyuman yang manis. Ana segera menyambut uluran tangan kekar itu yang langsung di genggam Arley hangat.
Keduanya saling bertatapan sejenak.
...Bersambung....
Maaf baru bisa up 🙏
Tinggal kan jejak dukungannya ya
Terimakasih yang masih sabar menunggu kelanjutan Arley Ana 🙏😘
plisss buat season 2 nya