NovelToon NovelToon
Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Elang

"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.

Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.

Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.

Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6 — Operasi yang Ditinggalkan

Sayangnya, tubuh Surya justru menyerah.

Begitu tiba di rumah, efek Botol Energi Kecil berakhir. Dia bahkan tidak sempat mengganti pakaian dengan benar. Selama dua puluh empat jam berikutnya, Surya tidur seperti orang pingsan, membayar seluruh energi yang dipinjamnya pada malam kecelakaan massal.

Ketika bangun, ada sembilan belas panggilan tak terjawab dari Pak Hendra.

Pesan terakhir hanya terdiri dari satu baris.

Kalau sudah hidup lagi, datang. Pasien hati dijadwalkan besok.

Keesokan paginya, ruang konferensi Onkologi dipenuhi gambar CT. Tumor berukuran hampir tujuh sentimeter menempel dekat pembuluh utama hati. Biopsi menunjukkan keganasan lanjut dengan invasi vaskular, tetapi belum ada metastasis jauh yang jelas.

dr. Gunawan berdiri di depan layar. "Risiko perdarahannya sangat tinggi. Saya hanya memberi peluang enam puluh lima persen jika dilakukan oleh tim kita. Karena itu Prof. Tarmidi akan menjadi operator."

Seorang pria berambut putih di ujung meja mengangguk singkat. Prof. Tarmidi adalah nama yang membuat dokter spesialis lain memilih diam. Di tangannya, peluang keberhasilan diperkirakan mendekati sembilan puluh persen.

Surya mempelajari potongan gambar satu per satu.

Dia tahu jalur yang harus diambil.

Dia juga tahu tak seorang pun akan membiarkan dokter muda menjadi operator untuk kasus sebesar itu.

"Saya ingin ikut di meja," katanya.

dr. Gunawan tertawa pendek. "Ini bukan apendektomi."

"Saya tidak bilang ingin jadi operator. Beri saya posisi asisten."

"Tim Prof. Tarmidi sudah lengkap."

Pak Hendra bersandar di kursi. "Empat tangan asisten tidak akan rusak karena ditambah satu yang bisa bekerja."

"Ini bagian Onkologi, Hendra."

"Semua pasien berada dalam tanggung jawab rumah sakit. Anda tidak dapat menyimpannya untuk bagian sendiri."

Perdebatan berakhir ketika Prof. Tarmidi menatap Surya. "Kamu dokter muda yang membuka dada orang di restoran?"

"Benar, Prof."

"Jangan menyentuh apa pun tanpa perintah. Kamu boleh jadi asisten keempat."

"Terima kasih, Prof."

Operasi dimulai pukul delapan.

Sayatan dibuka. Hati dipaparkan. Pada layar pencitraan, batas tumor tampak sulit. Di depan mata langsung, keadaannya lebih buruk.

Massa melekat rapat pada jaringan sekitar. Cabang pembuluh yang diperkirakan masih memiliki bidang pemisah ternyata tertarik ke dalam tumor. Setiap upaya diseksi meningkatkan risiko robekan besar.

Prof. Tarmidi bekerja selama hampir satu jam, lalu berhenti.

"Tidak aman," katanya.

dr. Gunawan menatap lapangan operasi. "Masih bisa dilanjutkan, Prof?"

"Kalau dipaksa, pasien bisa meninggal karena perdarahan di meja. Kita tutup. Lanjutkan dengan terapi paliatif dan evaluasi ulang."

Keputusan itu jatuh seperti palu.

Prof. Tarmidi melepas sarung tangan. dr. Gunawan dan dr. Santo mengikutinya untuk menjelaskan kepada keluarga. Surya ditinggalkan bersama perawat dan dokter anestesi untuk membantu penutupan.

Dia menatap tumor itu.

Jalur yang tersimpan dalam pengalaman sistem tidak berubah. Bidang aman memang sempit, tetapi ada di sisi posterior. Tim harus mengendalikan cabang pembuluh lebih dulu, lalu mengangkat massa secara terarah. Sisi yang tadi dicoba Prof. Tarmidi terlalu berbahaya.

"Siapkan klem vaskular," kata Surya.

Perawat instrumen membeku. "Kita diminta menutup."

"Kalau ditutup sekarang, kesempatan reseksi kuratif hampir hilang."

Dokter anestesi menatap monitor. "Hemodinamik stabil, tapi saya tidak bisa menyetujui perubahan operator tanpa konsultan."

Surya mengangkat telepon internal dan meminta Pak Hendra segera datang. Namun ketika jarinya menyentuh jaringan di sekitar pembuluh, dia melihat rembesan mulai muncul dari titik diseksi yang ditinggalkan.

Menunggu juga memiliki risiko.

"Catat semuanya," katanya. "Saya ambil alih untuk mengendalikan perdarahan."

Tangan Emas 100 persen bergerak.

Klem pertama menutup cabang yang tepat. Perdarahan berhenti. Surya memperluas bidang dari sisi posterior, memisahkan jaringan milimeter demi milimeter. Tumor yang tadi tampak menyatu perlahan memiliki batas.

Pak Hendra masuk delapan menit kemudian.

Dia melihat lapangan operasi, lalu monitor tekanan darah.

"Bisa selesai?"

"Dua puluh menit lagi."

"Saya di sini. Lanjutkan. Semua tanggung jawab supervisi saya tanda tangani."

Surya tidak membuang satu detik.

Tiga puluh menit setelah mengambil alih, bagian hati yang mengandung tumor terangkat utuh. Tidak ada robekan pembuluh besar. Margin reseksi tampak bersih. Permukaan hati yang tersisa ditangani rapi, lalu luka ditutup.

Saat Surya keluar dari OK, dr. Gunawan sudah menunggunya.

"Kamu melanjutkan operasi setelah seorang profesor menghentikannya?" Wajahnya pucat oleh marah. "Ini pelanggaran berat. Saya akan meminta kamu dikeluarkan hari ini juga!"

"Pasien stabil," jawab Surya.

"Jangan berlindung di balik hasil sebelum patologi keluar."

Prof. Tarmidi kembali masuk ke ruang observasi dan meminta rekaman operasi diputar. Semakin lama dia menonton, semakin sedikit warna di wajah dr. Gunawan.

Bidang posterior. Pengendalian pembuluh. Arah reseksi. Tidak ada gerakan yang bisa disebut ceroboh.

Hasil pemeriksaan margin cepat datang: negatif.

Prof. Tarmidi meletakkan laporan. "Reseksinya lengkap."

dr. Gunawan membuka mulut, tetapi tak ada argumen medis yang tersisa.

"Tetap ada pelanggaran prosedur," katanya akhirnya.

Pak Bambang mengadakan rapat darurat sore itu. Setelah menilai dokumentasi, persetujuan awal operasi, situasi perdarahan, supervisi Pak Hendra, dan hasil pasien, dia mengambil keputusan.

"Surya menerima sanksi pemotongan satu bulan penghasilan dasar karena mengambil alih tanpa otorisasi konsultan sebelum tindakan," katanya. "Namun dia tidak dikeluarkan. Rumah sakit juga membuka evaluasi kenapa tim meninggalkan OK sebelum penutupan selesai."

dr. Gunawan tampak hendak protes.

Pak Hendra lebih dulu menyodorkan hasil patologi ke depannya.

"Gunawan, kalau Anda masih ingin menangis, saya bisa bacakan bagian margin negatif pelan-pelan."

"Saya tidak menangis."

"Mata Anda merah."

"Karena kurang tidur!"

"Nah, berarti saya berhasil membuat Anda kurang tidur. Hampir sama."

Beberapa orang menahan senyum. dr. Gunawan meraih mapnya dan keluar tanpa pamit.

Beberapa hari kemudian, Dies Natalis FK Universitas Airlangga menjadi panggung pertarungan berikutnya.

Maya Salsabila datang bersama ayahnya, pemilik RS Ortopedi Salsabila. Sejak pagi dia sudah menerima ucapan selamat dari para dosen yang dekat dengan keluarganya. Namanya beredar sebagai calon penerima penghargaan lulusan terbaik.

"Hubungan itu penting," katanya kepada teman-teman satu meja. "Nilai akademik saja tidak cukup di dunia nyata."

Surya duduk dua meja di belakang bersama Rizki dan Farhan. Dia baru selesai jaga malam dan hampir tertidur saat pembawa acara membuka amplop.

"Penilaian tahun ini mencakup akademik, jumlah tindakan, peran dalam operasi, pengabdian, dan dampak publik yang terverifikasi."

Maya merapikan blazer dan berdiri setengah badan.

"Penerima penghargaan lulusan terbaik adalah... dr. Surya Pratama."

Tepuk tangan menghantam aula.

Maya tetap berdiri selama dua detik sebelum perlahan duduk kembali.

Layar menampilkan skor. Angka Surya lebih dari empat kali miliknya: operasi sebagai operator utama, penanganan korban massal, penyelamatan di luar rumah sakit, serta rekomendasi klinis dari beberapa bagian.

Tak ada satu pun hubungan keluarga yang dapat menghapus data itu.

Surya naik ke panggung dan menerima plakat serta hadiah Rp300.000.000.

Ketika turun, Maya menghadangnya.

"Kamu sengaja tidak bilang skormu."

"Kamu juga tidak tanya. Kamu sibuk menjelaskan pentingnya hubungan."

Rizki batuk untuk menyembunyikan tawa.

Di pintu aula, Prof. Tarmidi menunggu Surya seorang diri.

"Saya sudah melihat operasi itu tiga kali," katanya. "RS Dharmais Jakarta membutuhkan tangan sepertimu. Rp500.000.000 per tahun untuk tahap awal, akses penuh ke kasus onkologi, dan jalur pelatihan langsung di bawah saya."

Dia menyerahkan sebuah kartu nama.

"Pikirkan. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali."

1
Mayang
jangan mendadak tamat y thor/Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!