Update kalo ingat.
NOTE : CERITA INI BIKIN NGAKAK SALTO-SALTO
Sekuel Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
"Roseline, ku perintahkan kau untuk menjadi pacarku!" ucap Navier Alister.
Roseline yang baru saja menjadi sekertaris Tuan Muda Navier hanya terheran. Orang aneh dan idiot seperti Navier menyuruh untuk menjadi pacarnya.
"Tuan muda Navier yang tampan tapi somplak mengajakku berpacaran?" gumam Roseline.
Roseline mundur perlahan ketika Tuan Muda Navier mendekatinya, perlahan lahan semakin dekat, semakin dekat. "Ku tunggu jawabanmu malam ini," ucap Navier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Mariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Kesedihan Kim
Melihat wajah Seline yang sangat cantik, ia langsung memalingkan wajah dan melepas tangannya pada punggung Seline. Navier berdehem lalu kembali duduk di kursi direkturnya. Seline juga sama, ia merasa malu dan canggung tentang kejadian tadi.
“Sana kembali ke ruanganmu!” perintah Navier.
Seline menganggukkan kepala. Dia berjalan menjauhi Navier tetapi ia kembali lagi. “Maaf, tuan. Ruangan saya dimana?” tanya Seline.
“Ruanganmu saja tidak tahu. Sana tanya Ali! Aku pun juga tidak tahu ruanganmu.”
Cih... ditanya baik-baik jawabannya seperti itu. Dasar tuan sinting!
Seline keluar dari ruangan Navier dan langsung masuk ke
ruangan Ali, ia bertanya kepada Ali dimana ruangannya. Jari telunjuk Ali
menunjukkan kearah depan ruangannya persis dan hanya tersekat oleh dinding
kaca. Seline mengerti dan langsung menuju ruangannya.
Seline manarik kursi dan menghela nafas panjang, ia melirik
Navier yang serius menatap layar laptop. Dia duduk dan langsung mengerjakan apa
yang harus ia kerjakan.
Berselang detik kemudian, Navier memanggil Seline untuk ke ke
ruangannya. Seline berjalan dengan sopan lalu menatap Navier.
“Namamu siapa?” tanya Navier.
“Agatha Roseline, tuan, Anda bida memanggil saya, Seline,” jawab Seline.
Navier mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh Seline pergi.
Seline menundukkan kepala dan kembali ke ruangannya. Dia duduk kembali, membuka
laptop dan mengerjakan apa yang harusnya dikerjakan.
“Seline, Seline...” teriak Navier.
Seline menuju ke ruangan Navier lagi, Navier menjentikkan
jarinya lalu menyuruh Seline membalikkan badan. Navier mengecek apakah rok
Seline sudah dijahit atau belum.
“Oh, sana! Hus.. hus..”
Seline mengernyitkan dahi, ia bingung dengan bos gilanya itu.
Dia kembali ke ruangannya dan berselang detik kemudian Navier memanggilnya
lagi. Seline berjalan dengan langkah kesal.
“Ada apa lagi, tuan?” tanya Seline dengan nada tinggi.
“Oh my... Kau membentak tuanmu sendiri? Mau cari mati?”
Seline meminta maaf, ia menundukkan kepala. Navier berdiri
dan menghampiri Seline, ia memencet hidung Seline sekali lagi. Seline merasa
tidak nyaman dan memalingkan wajah. Sepertinya keputusan untuk bekerja disini
sangat salah.
“Aku sangat tidak suka jika bawahanku membantah. Aku akan
memencet hidungmu saat kau berbuat salah. Ingat-ingat itu! Sudah sana kembali
ke ruanganmu. Cih... Membuang waktuku saja!”
Awas kau tuan muda
mesum! Setelah aku tahu kelemahanmu pasti akan membalas semua ini.
***
Mauren mengetuk pintu apartemen Kim, dia membawa sedikit
makan siang untuk iparnya itu. Sean yang menyuruhnya jika tidak pasti Mauren
tidak mau mengantar makanan itu karena takut terjadi fitnah. Sudah 15 menit
Mauren didepan apartemen Kim tetapi pria itu tidak membuka pintu.
“Kak Kim ada dirumah ‘kan? Aku buka pintunya, ya?” ucap
Mauren langsung membuka pintu yang rupanya tidak terkunci.
Keadaan rumah Asisten Kim begitu berantakan bahkan sofa sudah
terbalik dan banyak pecahan kaca. Mauren sempat ragu untuk masuk tetapi dia
takut jika Kim terjadi apa-apa. Mauren menuju kamar Kim, ia membuka pintu.
Pandangannya tertuju pada Kim yang tangannya sudah bersimbah darah.
“Kak Kim?” teriak Mauren. “Ada apa dengan kakak? Aku akan
panggilkan oppaku.”
Mauren segera mengambil gagang telpon lalu menelpon suaminya.
Setelah itu ia menelpon Ali untuk pulang ke rumah. Mauren melirik Kim yang menangis, ini pertama
kalinya melihat Kim yang menangis begitu menyedihkan.
“Kenapa wanita yang ku cintai selalu meninggalkanku? Apa
salahku? Aku sudah berusaha mencintainya,” ucap Kim.
Mauren berjongkok, ia mengambil tisu lalu mengelap air mata
Kim. Mauren tidak bisa menjawab apapun karena dia dulu juga pernah meninggalkan
Kim. Mauren menarik tangan Kim yang berdarah-darah, ia mengelap darah itu
dengan tisu.
“Kak Kim jangan begini! Pikirkan Ali, dia pasti akan tambah
terpuruk melihat ayahnya seperti ini. Kak Kim harus bangkit dan memulai hidup
baru bersama Ali.”
Berselang menit kemudian, Sean datang. Dia terkejut melihat
apartemen adik iparnya yang berantakan. Sean segera memangil Juna untuk
mengobati tangan Kim. Dia membantu berdiri dan mendudukkannya diranjang.
“Masih ada waktu sebelum persidangan, aku akan membujuk Sera
untuk kembali kepadamu,” ucap Sean.
Kim hanya diam melamun, ia sudah sangat putus asa.
Pernikahannya harus kandas karena ada orang ketiga. Apalagi orang itu adalah
orang yang tidak disukainya. Dia terlalu bodoh menganggap Louis akan merebut
Mauren dari Sean ternyata pria bule itu merebut istrinya sendiri. Sebuah plot
twist yang tidak terduga.
20 menit kemudian, Juna datang membawa perban dan alat
plester lainnya. Dia memang sudah pensiun tetapi jika iparnya membutuhkan
bantuan ia akan langsung datang.
“Jangan sedih, Kim! Sera pasti akan kembali kepadamu, jika
tidak maka memang kalian tidak berjodoh sampai tua. Kau pria mapan dan tampan,
hartamu juga banyak. Banyak gadis muda yang mau denganmu,” ucap Juna sambil
mengobati luka Kim.
Sean menepuk bahu Juna, ia sedikit kesal jika Juna malah
berbicara seperti itu.
“Jadi jika Zara meninggalkanmu maka kau akan mencari gadis
muda?” tanya Sean.
“Iya betul, aku akan mencari gadis cantik dan tentunya masih
muda.”
“Kau sudah rekam ucapan Juna, oren?” tanya Sean kepada
istrinya.
“Sudah, oppa.”
Juna terkejut, ia panik dan memohon supaya rekaman itu tidak
dikirim ke istrinya, jika iya maka dia tidak akan diizinkan masuk rumah.
Setelah selesai mengobati Kim. Juna berpamitan pulang karena anak laki-lakinya
sedang sendirian dirumah.
***
Ali melihat perban di tangan sang ayah. Kim merasa bersalah
membuat Ali merasa sedih, dia memeluk sang ayah yang jiwanya sedang terguncang.
Kedua pria itu menyalurkan kesedihannya satu sama lain.
“Lepaskan mama saja, yah! Biarkan dia bahagia dengan pilihannya. Aku memang
belum berpengalaman dalam berumah tangga tapi ketimbang hubungan kalian tidak
harmonis lagi dan selalu ada orang ketiga lebih baik lepaskan mama saja!” ucap
Ali tidak tega membuat ayahnya begitu tersiksa.
“Ayah hanya memikirkan masa depanmu, sebentar lagi mamamu
akan mempunyai anak lagi dari pria lain dan tentunya rasa sayangnya kepadamu
akan berkurang, rasa perhatiannya kepadamu akan berkurang.”
Ali tersenyum, ia menggenggam erat tangan ayahnya dan menatap
wajah pucat sang ayah. “Tidak masalah jika itu membuat mama bahagia, asalkan
ayah jangan ikut meninggalkanku. Aku sudah ditinggalkan mama dan aku tidak mau
ditinggalkan ayah juga.”
Mata Ali memerah, perceraian orang tuanya sangat membuat
dirinya syok tetapi ia berusaha untuk kuat. Dia tidak ingin sang ayah semakin
sedih dan malah nekat melakukan hal yang membuat diri ayahnya terluka.
Kim melihat Daleon yang berdiri didepan pintu bersama
putranya, Kim menyuruhnya mendekat. Ali seketika keluar supaya mereka berbicara
dengan nyaman.
“Kau masih di apartemen papamu?” tanya Kim.
Daleon menganggukan kepala. Dia langsung duduk di pinggir
ranjang sambil memangku Darsen. Daleon kini memang tidak banyak bicara dan
sekarang lebih penyabar semenjak kehadiran sang buah hati.
“Jangan pikirkan, uncle! Kau harus pikirkan dirimu sendiri.
Kau masih muda tidak ingin mencari ibu untuk Darsen?” tanya Kim.
Daleon menggelengkan kepala. Kim memeluk Daleon, dia sangat
sayang dengan keponakannya. Ali tersenyum melihat kedekatan mereka, setidaknya
rasa sedih sang ayah akan berkurang jika ada keberadaan Daleon di dekatnya.
**
“Mama... Navi pulang,” ucap Navier sambil membuka pintu.
Dia melihat sang papa bermain dengan cucunya.
“Darman masih disini?” tanya Navier.
“Sini ku timpuk pakai wajan. Nama bagus-bagus seenak jidat
kau ganti,” jawab Sean kesal.
Navier hanya mendengus, ia duduk dan melepas sepatu
importnya. Dia melirik papanya yang asyik bermain dengan Darsen. Navier merasa
cemburu, sejak kelahiran Darsen, ia tidak pernah dimanja lagi dengan sang papa.
“Main terooos sama cucu, anaknya pulang seharian mengurus
perusahaan tidak disambut. Cih...”
Sean hanya menatap jengah Navier yang cemberut seperti anak
kecil.
“Ketimbang banyak omong ajak main si Darsen, kau omnya tapi
tidak ada rasa sayang sama sekali dengan keponakan sendiri,” ucap Sean.
“Oh my... ucuk... ucuk... ucuk... Darman, sini main sama Om!”
Darsen menggelengkan kepala, ia memeluk kakeknya dengan erat.
Dia begitu takut dengan Navier. Daleon datang, Navier dengan tatapan malas
langsung berjalan mencari keberadaan mamanya.
“Mama oreeeen, Navi pulang. Mana puddingnya, mah?” teriak
Navier.
Sean hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan putra
terkecilnya. Tubuhnya saja yang bertumbuh tinggi tapi pikirannya masih seperti
anak kecil dan untungnya Navier pandai jadi Sean cukup lega masih bisa
mengandalkan Navier.
navier panggil darsen = darman
navi dan darsen sama2 lucu...