Safira menyayangi Zaini, bocah manis berumur 4 tahun. Pipi tembem dari bocah yang terlantar akibat orang tuanya bercerai itu selalu Safira rindukan.
Safira pikir Zaini akan bersama dia selamanya, tapi tiba-tiba ayah kandung Zaini mengambil bocah malang itu. Membuat mental Zaini terguncang. Satu-satunya cara supaya Zaini bisa kembali normal adalah memiliki keluarga lengkap.
Pada akhirnya Safira dan Ashqar terpaksa menikah demi kesembuhan mental Zaini, akankah pernikahan itu akan menjadi obat ataukah racun untuk kehidupan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasi Goreng
Perasaan Safira serasa diaduk melihat kedua anak laki-laki di hadapannya menyantap lahap nasi goreng buatannya. Berbekal kerupuk putih dan tempe goreng yang ia beli sebagai lauk, kedua anak yang belum Safira ketahui namanya itu terlihat seperti sudah beberapa hari tidak makan.
Kedua anak yang akhirnya Safira ajak untuk menginap karena saran, sedikit paksaan sebenarnya, dari Vera itu sudah terlihat jauh lebih baik. Ia meminjam dua setel kaos dan celana dari tetangga sebelah yang memiliki seorang anak. Walaupun pakaian itu untuk anak perempuan dan ukurannya tidak pas, tapi setidaknya mereka tidak akan kedinginan.
Awalnya Safira merasa ragu untuk mengajak kedua anak itu, siapa tahu kalau mereka berdua yang kelihatan polos ternyata bagian dari sindikat perampok. Safira tentu saja tidak ingin jadi korban tindak kriminal, sekalipun tidak ada barang-barang berharga di rumahnya selain televisi yang ia beli bekas dari seorang kenalan.
“Pelan-pelan aja makannya, nanti—tuh, ‘kan!” Safira bergegas ke dapur dan mengambilkan segelas air putih untuk bocah hantu yang tiba-tiba tersedak.
“Udah dibilangin, pelan-pelan aja makannya. Keselak, ‘kan!” omel Safira begitu sampai di dekat bocah hantu.
Anak laki-laki itu menyambar gelas yang disodorkan Safira dan menandaskan isinya dalam sekejap.
“Itu karena Tante ngagetin,” balas anak itu begitu berhasil meredakan rasa sakit di dadanya. Matanya yang bulat menatap tajam Safira.
Safira mendengus kesal. “Heh, bocah hantu. Udah dibilangin jangan panggil aku tante.”
Anak lelaki itu semakin melirik sengit ke arah Safira. Sambil mengunyah sesendok nasi goreng, anak itu bersungut, “Nama aku Alvin tante, bukan bocah hantu. Tante ini nggak punya sopan santun, ya?”
Dada Safira kembang kempis, mulutnya terbuka dan tertutup berkali-kali, mata sipitnya memincing seakan-akan bisa mengeluarkan laser seperti tokoh Superman. Kalau saja Safira tidak ingat anak yang mengaku bernama Alvin itu hanya seorang anak kecil sudah pasti dia tidak akan segan-segan untuk melakukan kekerasan.
“Sabar, Fi. Sabar …. Nggak lucu kalau kamu dipenjara karena nganiaya anak kecil,” batin Safira kesal.
“Ngomong-ngomong nih, Tante. Nasi goreng buatan Tante nggak enak, asin,” komentar Alvin, tapi masih terus mengunyah sesendok nasi goreng. Bahkan anak itu bersiap mengangkat sesendok lainnya untuk dijejalkan ke dalam mulut.
Siku-siku imajiner tercetak jelas di pelipis Safira. Persetan kalau musuhnya ini seorang anak kecil. “Dasar bocah hantu,” balas Safira sambil melayangkan cubitan di lengan Alvil, lalu berlalu ke arah dapur.
“Dasar Tante Judes!”
Cubitan itu tidak keras, Safira masih punya hati untuk tidak mengeluarkan seluruh tenaganya. Namun, tetap saja cubitannya akan terasa sakit.
Sambil mengambil apel yang tinggal setengah dan mangga hasil malak Vera, Safira masih menggerutu tentang komentar Alvin. Dari tempatnya berdiri, Safira dapat melihat dengan jelas dua anak laki-laki berbeda usia di ruang tamunya yang masih lahap menghabiskan sisa nasi goreng di piring.
Rumah kontrakannya tidak begitu luas. Hanya ada satu ruang tamu, yang juga ia jadikan ruang santai, yang berhadapan dengan dapur ukuran kecil. Membuat Safira bisa melihat keseluruhan ruangan bahkan hanya dengan berdiri di sudut.
“Mas Alvin nggak apa-apa?”
Alvin yang tengah menggosok lengannya langsung berhenti. “Nggak apa-apa kok,” ucap Alvin sembari tersenyum lebar. “Zain, nih dimakan.” Alvin menyerahkan dua potong daging kebab terakhirnya ke atas piring anak yang ia panggil Zain.
Sembari mengupas kulit mangga dan apel, Safira mencuri dengar percakapan lucu Alvin dan Zain yang masih mengoper potongan daging kebab. Alvin yang ngotot memberikan daging miliknya sementara Zain juga keras kepala ingin menolak daging pemberian dari Alvin.
Safira hanya menggelengkan kepalanya mendengar omongan sok dewasa Alvin. Anak itu bersikap layaknya orang dewasa di hadapan Zain, berbanding terbalik dengan sikap yang ditunjukan padanya tadi.
“Kalau kalian nggak mau, kasih dagingnya buat aku,” seru Safira dari arah dapur.
Sontak Alvin dan Zain menoleh ke arah Safira.
Dari tempatnya berdiri, Safira bisa melihat Alvin sudah merengut. Sementara Zain menunjukan ekspresi seperti anak kucing yang minta dipungut.
“Tante ngasihnya ikhlas nggak, sih?” protes Alvin.
Safira tergelak. Dia melangkahkan kakinya menuju ke kedua anak yang masih melayangkan protes lewat ekspresi mereka. “Kalau nggak ikhlas, gimana?” goda Safira, meletakan sepiring kecil buah-buahan lalu duduk di hadapan keduanya.
Alvin semakin masam. Nasi goreng pemberian Safira sudah hampir abis, tapi dia tidak ingin memakan pemberian orang lain jika tidak ikhlas. Dia ingin mengganti nasi goreng itu dengan sejumlah uang, tapi sayangnya dia tidak memiliki uang sepeserpun. Alvin pikir satu-satunya cara adalah memuntahkan nasi goreng yang sudah dimakan, tapi bagaimana caranya?
“Bercanda, bercanda,” koreksi Safira, tidak tega juga melihat wajah Alvin. “Lanjutkan makannya, aku mau mandi dulu.”
“Mas Alvin,” panggil Zain lirih begitu Safira sudah menghilang di balik pintu kamar. “Zain boleh makan?”
Alvin tersenyum lebar, tangannya terulur mengusap kepala Zain. “Boleh, boleh.”
“Tapi tadi mamah ….”
Tatapan Alvin berubah redup. “Zain, tante itu bukan mamahnya Zain. Cuma mirip aja,” jelas Alvin lalu menaruh daging kebab yang sempat dioper kesana-kemari. “Ayo makan lagi aja.”
Sembari menangguk-anggukan kepalanya, Zain berkata dengan nada senang, “Iya, Zain laper banget, Mas. ‘Tan, seharian belum makan.”