NovelToon NovelToon
My Partner'S Diary

My Partner'S Diary

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis / Contest / Tamat
Popularitas:233.4k
Nilai: 5
Nama Author: Decy.27126

TAHAP REVISI🙏


***

Berawal dari kata 'tidak suka' hubungan mereka kian dekat karena sebuah pertengkaran. Batu yang keras, akhirnya luluh oleh air yang tenang.

Seperti itulah Gia dan Riza, dua remaja yang menaiki tangga bersama dari tidak suka, menjadi suka, lalu ke nyaman, dan berakhir dengan saling menyayangi.

***

Sedikit kisah, dari jutaan kisah lain yang mungkin akan membuat kalian tak bisa melupakannya.

@dwisuci.mn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Decy.27126, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

'Kamu gak akan tau Gia, gimana sulitnya aku ngehadapin masalah yang aku alami ini,’ batin Riza sambil menatap ke arah Gia.

***

“Aku nggak tau, tapi kamu tau,” ucap Gia tiba tiba.

“Eh ... kamu, kok?” Riza menatap Gia dengan heran.

“Apa? Jangan pikir aku cenayang, ya. Nggak epik banget cantik gini jadi cenayang,” ujar Gia dengan percaya dirinya.

“PD sekali Anda ini!”balas Riza dengan kekehan di akhir kalimatnya.

'Keep smile, Vin, aku harap senyum ini akan berlanjut sampai nanti.’ Gia menatap Riza yang masih terkekeh kecil.

***

HALAMAN 5

'Kamu salah, Gia! Aku nggak bisa setenang kamu, dan kamu nggak akan tau rasanya jadi aku. Bukan, ini bukan salah kamu. Dari awal, ini salahku sendiri, aku udah tau akan seperti ini jadinya, tapi aku juga tetap nekat melakukannya. heh, aku memang bodoh.'

Tertanda

Calvin Arriza Adhitama

***

“Daf, Gas, gue pulang duluan, ya,” pamit Riza pada teman-temannya.

“Mau pulang sekarang?” tanya Dafa sambil melihat jam di pergelangan tangan kirinya.

“Iya, takut kesorean entar,” jawab Riza.

“Mau kita anterin, nggak, Za?” tawar Bagas.

“Nggak usah, gue bawa motor sendiri aja!” jawab Riza bergegas keluar dari rumah Dafa yang dijadikan markas kumpul mereka.

“Ikutin, nggak, nih?” tanya Bagas pada Dafa.

“Nggak usah, kali ini kita percayain semuanya sama dia,” jawab Dafa yakin.

“Kenapa seyakin ini? Biasanya juga lo yang usul buat ngikutin dia.” Bagas berujar dengan decakan di awal kalimatnya.

“Itu dulu, sekarang biarin dia nyoba teori barunya,” jawab Dafa dengan sedikit senyum.

“Lo pikir dia Charles Darwin yang bisa dapet teori baru, gitu?” tanya Bagas terkekeh.

“Lo nggak bakal tau, liat aja nanti!” jawab Dafa dengan senyum misteriusnya.

***

“Assalamualaikum,” salam Riza setelah sampai di depan pintu rumahnya.

“Waalaikumsalam,” jawab seseorang dengan suara cempreng yang membukakan pintu.

“Loh, Abang ...!” teriaknya gembira dan berhambur memeluk Riza.

“Key ...,” panggil Riza pelan.

Keyra Malika Putri Adhitama, adik perempuan Riza. Umurnya satu tahun di bawah Riza. Jika dihitung, maka umurnya akan sama dengan Gia, hanya terpaut beberapa bulan saja.

“Abang kemana aja? Kok, baru pulang?” tanyanya sambil melepas pelukan mereka.

“Siapa, key?” Belum Riza menjawab, satu suara dari dalam rumah terdengar bertanya.

“Bang Riza, Mah!” jawab Keyra dengan nada cerianya.

“Riza, ya Allah ... kemana aja kamu, nggak kangen sama mama?” tanya Vina—mama Riza—dengan nada khawatir dan mempererat pelukan dengan putranya itu.

“Maafin Za, Mah,” ucap Riza setelah melepaskan pelukannya.

“Ayo, masuk, Mah. Kasian Bang Riza, pasti capek.”

“Iya, ayo masuk, kamu makan dulu, ya. Mama siapin makanan kesukaan kamu, ayo!” ajak Vina dengan semangat.

“Pulang juga kamu akhirnya.”

Riza tersentak, dia menghentikan langkahnya. Suara itu, suara yang membuatnya ingin pergi jauh dari rumah ini, suara yang selalu mengganggunya.

“Ya, saya pulang.” Riza menjawab dengan nada datarnya.

“Gimana perjalanan kamu, lancar, kan? Atau sempet nyasar karena lupa jalan?” tanya orang itu terkekeh.

“Pah, udah, dong. Riza baru aja sampe, kasian dia, Pah,” ucap Vina menengahi.

Dia, Adhitama Saputra. Ayah kandung Riza, hubungan ayah dan anak itu terlihat renggang sudah sejak lama. Seorang ayah yang harusnya mendukung anaknya, ia justru menentang keras anaknya, dan seorang anak yang harusnya menuruti permintaan orang tuanya, tetapi, Riza menolaknya dengan terang-terangan. Tidak ada yang bisa disalahkan di sini, ini semua bagian dari hidup, ada pro dan kontra.

“Nggak apa-apa, Mah. Za mau langsung ke kamar aja, ya?” pamit Riza masih dengan raut datarnya.

“Ya, ya, Tuan Muda istirahatlah sana. Nikmati hidupmu, Tuan,” sindir Tama yang sedang duduk di ruang keluarga dengan satu buku yang sedang dibacanya.

“Pah ... udah, dong. Za, kamu istirahat dulu, nanti mama anter makanannya,” tutur Vina lembut.

“Makasih, Mah. Za naik dulu.”

Riza pamit dengan sedikit senyum pada mamanya, tetapi, dia mengabaikan sang papa yang masih menatapnya dengan tajam.

“Mah, Pah, Key juga masuk dulu yah,” pamit Keyra, diangguki kedua orang tuanya.

“Anak kamu itu kenapa keras kepala banget, sih?” ujar Tama ketus.

“Kau lupa dia anak siapa, Tuan?” sindir Vina melirik sang suami.

Vina meninggalkan suaminya sendirian di ruang tamu, dan berlalu menuju dapur.

“Huh ... entah kapan dia akan berubah,” gumam Tama pelan.

Dia seorang ayah, bagaimana mungkin dia tidak menyayangi anaknya. Riza, dia juga menyayanginya. Hanya saja, keduanya terhalang oleh ego masing-masinh yang terlalu tinggi dan tidak ada yang mau mengalah.

Kita tunggu saja, waktu yang akan mengubah keadaan, sampai saat itu tiba, biarkan keduanya belajar, apa arti penting keluarga dibanding ego dalam diri.

***

“Bang Za, dipanggil Mama. Ayo, turun makan malem!” teriak Keyra dari depan pintu kamar Riza.

Pintu terbuka dan menampilkan Riza yang masih mengenakan baju koko dan sarung. Terlihat jelas bahwa dia baru saja menyelesaikan kewajibannya.

“Nanti abang nyusul,” ucap Riza.

“Nggak! ayo, mama bilang suruh turun bareng,” ucap Keyra menirukan gaya mamanya.

“Tunggu bentar.”

“Oke.”

Tidak berselang lama, Riza kembali keluar dari kamar dengan baju yang lebih santai. “Ayo, turun!”

"Go!" seru Keyra sambil menarik tangan kanan Riza untuk ke bawah dan makan malam bersama.

“Bang Diki sama papa mana, Mah?” tanya Keyra setelah sampai di ruang makan.

“Mereka ada di ruang kerja papah, gih, panggil mereka,” pinta Vina menatap lembut anak gadisnya.

“Oke.” Keyra melangkah menuju ruang kerja papanya, meninggalkan dua ibu dan anak itu di meja makan.

“Bi, tolong bantu siapin sayurnya,” pinta Vina pada Bi Suti, yang segeradi laksanakan oleh sang asisten rumah tangga di rumah itu.

“Za, mama mohon untuk kali ini, makan malem bareng papa kamu, ya?” Vina menatap Riza dengan mata memohon.

“Za nggak tau, Mah.” Riza menjawab pelan.

“Untuk kali ini, demi mama, ya?”

“Buat apa kamu ngarep sama anak itu, Vina!” sambar Tama menyambar dengan omongan pedasnya.

“Pah, jangan mulai lagi. Ayo, makan!” Vina menghindari keributan.

“Hai, Bro,” sapa Dikisyah Putra Adhitama, kakak dari Riza dan Keyra yang umurnya terpaut tujuh tahun dari Riza.

“Hmmm,” balas Riza acuh.

“Apa lidahmu nggak berfungsi?” sindir Tama tajam, dengan kekehan sinis di akhir kalimatnya.

“Pah, udah, deh. Anak anak, ayo makan,” lerai Vina

“Bela aja terus anakmu ini,” decak Tama kesal.

“Saya di sini karena mamah saya, dan saya harap, Anda juga bisa menghargai permintaan istri Anda.” Riza berucap dingin dengan pandangan lurus ke arah Tama.

“Tentu saja, Tuan Muda yang terhormat, apapun untuk An–”

“Cukup, Pah! Bisa nggak, sih, ngalah aja sama Riza. Dia juga anak kita, Pah, sama kayak Diki, juga Keyra. Kenapa, sih, kamu selalu beda-bedain mereka, banding-bandingin mereka? Mama capek denger kalian berantem mulu, tau, nggak?” Vina menatap Tama dengan marah.

Semua yang ada di sana hanya diam, tidak ada yang bisa dan tidak akan ada yang berani menjawabi ucapan Vina di rumah itu.

Tanpa sadar, air mata sudah mengalir di pipi Vina yang marah, Keyra yang melihat kejadian itu pun tak kalah gemetarnya melihat sang mama yang marah.

“Perang aja kalian, sana. Nggak usah peduli sama mama lagi!” Vina berlalu dari ruang makan, disusul oleh Tama yang lebih dulu memberi tatapan tajamnya pada Riza.

“Key duluan, Bang.”

“Za naik dulu,” pamit Riza juga.

“Za?” panggil Diki pelan.

“Nggak hari ini, Bang. Za capek,” ucapnya tanpa menghadap Diki dan berlalu menuju kamarnya di lantai atas.

Tinggallah Diki sendirian, dengan Bi Suti yang sedari tadi hanya bisa melihat dengan tatapan iba keluarga majikannya itu.

“Bi, tolong beresin semuanya, yah. Diki mau ke kamar dulu,” pinta Diki pada Bi Suti.

“Ya, Mas, silahkan," jawab Bi Suti sopan. Wanita paruh baya itu lekas membereskan semua makanan yang bahkan belum tersentuh sedikit pun dan meletakkannya dalam wadah tertutup.

Miris, rumah yang ramai, tetapi, anggotanya justru hobi menyendiri.

***

Bersambung.

See U Next Chapter. 🖤

1
Niken NiRiYu
bintang 5 buat penulis buat alur crita juga okelah tp plot twist masa lalu gia blm ngena
spnjang crita karakter gia msh konsisten msh terbaik dan kalau bs gia seharusnya dpt lbh baik lg dr karakter riza😁 dan riza sprti tdk ada lawannya buat dapetin gia kyk gmpang ajha buat riza
tp utk smwnya udh bagus karakternya kuat2👌
Lina 002
keren,suka sama kata" nya
Decy Mlyni: terima kasih sudah membaca, Kak. semoga berkenan dengan ceritanya 🙏☺️
total 1 replies
abdan syakura
Assalamu'alaikum..
salken, kak....
Decy Mlyni: waalaikumsalam, Salam kenal juga, Kakakk. selamat membaca
total 1 replies
Purianti Santi
lanjut mantab👍
Decy Mlyni: udah tamat, Kak. silakan baca sampai selesai, terima kasih atas like & komennya. 🙏❤️
total 1 replies
Nur hikmah
calvin arriza psyiy
Nur Inayah
lama Bngt sandiwara ny
Arias Binerkah: permisi kakak ijin promo silahkan mampir di novelku ini bukan love bombing dikemas dengan bahasa segar dan komedi namun tetap romantis manis, terimakasih 🙏
total 1 replies
Nur Inayah
ah lama bngt,sandiwara ny
Jilioni MD: KEPEMILIKAN adalah cerita dalam novelku, jika berkenan mampir ya, bisa diklik profilku, terimakasih😊
total 1 replies
Nur Inayah
AQ MLS bertele2 thour
Nur hikmah
pnsaran....ko jd ribet
Nur hikmah
gia jtuh cnta tpi binggung sndri....n calvin kyy main umpet2 tan
Nur hikmah
waw ap riza mnta restu pa ayahy gia...hihihjhi
Nur hikmah
hntu kah
Nur hikmah
i love you gia n riza
Nur hikmah
syuka2
Nur hikmah
smpe dsini q phm....crtsy maju mundur....seru c....tpi ckup membinggungkn.....
Zia
semangat kak, jangan lupa mampir
Fie F.s (Mama Adara) 💕
Jadi inget pas sekolah dulu lomba rias kelas 😂

Jd terkenang masa SMA ku😁😁
Prayogi
terharu gaisy😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Chui Lhan Sheng
kangen lah😂😂 tapi boong😜😜
Chui Lhan Sheng
😍😍😍😘😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!