Dijodohkan dengan lelaki yang lebih muda 5 tahun darimu, apa kamu mau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon athania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pipit
Olivia mengendarai mobilnya menuju rumah Rey, jam pada tangannya menunjukkan waktu pukul 09.20. Olivia merasa tidak enak jika membuat calon mertuanya menunggu. Layaknya rumah sendiri, Olivia dengan lincah memarkirkan mobilnya dan segera berjalan untuk masuk ke kediaman Rey. Di depan pintu seorang pelayan telah menunggunya. Olivia di ajak masuk dan di persilahkan duduk di ruang tamu, tidak lama kemudian seorang wanita berambut pendek hanya sebatas pundak berjalan menuruni tangga rumahnya dengan cukup tergesa, dia terlihat tidak sabar ingin bertemu dengan gadis manis yang berkunjung ke rumahnya.
"Maaf sudah repot- repot menyuruhmu untuk ke sini Olivia"
Suaranya membuat Olivia berdiri dan berbalik, ia merasa sungkan dengan wanita yang telihat cantik dan anggun ini meski usianya hampir setengah abad.
"Tidak apa-apa tante, aku senang bisa bertemu langsung dengan tante"
Calon mertuanya itu lantas tersenyum, dia memperhatikan Olivia mulai dari atas ke bawah, kanan dan kiri.
"Ummm pilihanmu bagus juga Rey, ibu sangat suka" ucap Cindi mendengar derap langkah yang mengikutinya, dia tahu putra bungsunya itu akan turun dan sedang berdiri di tangga melihat dirinya dan Olivia.
"Ralat bu, pertama bukan aku yang memilihnya, kedua kami ini di jodohkan" ucap Rey melanjutkan langkahnya.
Olivia sedikit terkejut, ia tidak tahu Rey berada di belakang ibunya. Ia menatapnya sejenak calon suami kecilnya, mimik wajah sok cool dan tengil. Olivia mendengus pelan.
"Kamu tidak sekolah?" tanya Olivia.
"Pertanyaan macam apa ini untuk seorang calon suami" umpatnya dalam hati.
"Aku masuk siang"
"Oh begitu"
"Selamat pagi" sapa Daniel yang juga baru turun mendapati ibu, adik dan calon adik iparnya yang telah berkumpul.
"Eh Olivia, hai kita bertemu lagi" Daniel mengukir senyum ramahnya.
"Iya selamat pagi kak" wajah Olivia memerah, ia lebih nyaman bertegur sapa dengan calon kakak iparnya. Rey yang melihat raut wajah berbeda saat Olivia bertemu Daniel pun menatap tak suka.
"Oia Olivia bagaimana pendapatmu tentang adikku? dia tampan kan? lucu dan juga menggemaskan" Daniel mencubit kedua pipi Rey dan menggoyang-goyangkannya.
"Aw sakit!" Rey menepis dengan keras kedua tangan Daniel, kakaknya memang selalu menggodanya dan memperlakukannya seperti anak kecil padahal dia sudah cukup dewasa.
Olivia hanya bisa mematung, ia tak berani menjawab pertanyaan Daniel di depan ibunya. Melihat Olivia yang diam Rey pun segera menarik kerah pakaian sang kakak.
"Sudah jangan banyak bicara, ini sudah hampir siang. Cepat antar aku ke sekolah" Rey berjalan sambil menarik paksa kerah kemeja kakaknya.
"Sebentar Rey, aku bisa jatuh" Daniel berusaha menyeimbangkan diri.
"Kami berangkat ya bu" teriaknya berpamitan mengacuhkan perkataan Daniel, ibu menjawabnya dengan lambaian tangan.
"Maaf ya Olivia, mereka memang selalu seperti itu"
"Tidak apa-apa tante" Olivia mengangkat sudut bibirnya canggung.
"Apa kamu sibuk hari ini?"
"Tidak tante"
"Kalau begitu kamu temani tante di rumah ya, tante sudah begitu lama menginginkan seorang anak perempuan, istri Daniel sedang bekerja di luar kota jadi kami jarang bertemu. Kedua anak tante sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing" jelasnya kemudian tante mengajak Olivia menuju dapurnya.
Olivia merasa calon ibu mertuanya ini sangat baik, persis seperti ibu kandungnya yang ramah dan penyayang. Cindi sibuk dengan meracik masakannya, beberapa kali Olivia mencoba membantunya namun Cindi tak membiarkannya, dia hanya meminta untuk di temani.
Waktu terus bergulir, jarum panjang pada jam dinding sudah menyentuh angka 5. Olivia dan Cindi menghabiskan waktu dengan mengobrol sambil menonton televisi.
"Oia Olivia apa kamu mau melihat kamar Rey?" tanya Cindi di sela-sela obrolannya.
"Apa boleh tante?"
"Tentu saja"
"Mmmm aku mau"
Cindi menuntunnya menaiki tangga menuju lantai dua dan tiba di sebuah pintu yang lebar. Cindi membukakannya dan tampaklah sebuah kamar yang cukup luas namun tidak terlalu banyak barang di dalamnya. Hanya sebuah ranjang besar, kursi panjang, lemari, meja belajar dan sebuah rak buku. Semuanya tertata rapi, pikir Olivia ia akan menemukan sebuah kamar laki-laki yang berantakan namun dugaannya salah.
"Rey sangat suka kerapihan dan kebersihan, dia suka membereskannya sendiri. Mangkanya kamarnya selalu rapi"
Olivia memperhatikan seisi kamar Rey, ia menarik sebuah buku bacaan.
"Buku tentang rumus matematika" ya hampir semua bacaan di rak bukunya terisi dengan materi yang berat. Sepertinya Rey cukup pintar berbeda dengan Olivia yang tidak begitu mahir dalam berhitung.
"Olivia beristirahatlah di sini, tante tinggal sebentar ya, mungkin kamu lelah setelah menemani tante seharian" ucap Cindi.
"Iya tante" calon mertuanya itu pun meninggalkannya dan menutup pintu.
Olivia berjalan menuju sebuah jendela besar dan membukanya. Ia duduk bersandar di sana, semilir angin berhembus dengan sejuknya, pemandangan dari kamar Rey memperlihatkan sebuah taman yang indah. Perasaan Olivia menjadi tenang ia menutup matanya merasakan angin yang berhembus menerpa wajahnya.
"Hei jangkung apa yang kau lakukan di kamarku?" mendengar sebuah suara yang tiba-tiba datang membuat Olivia terkejut, ia segera membuka matanya namun keseimbangannya goyah dan ia terjatuh di lantai.
Buuugghh
Syukurlah Olivia hanya jatuh di kamar Rey bukan terjun bebas ke luar.
"Iiissshhh" keluhnya sambil berdiri dan merapikan pakaiannya. Olivia memandang sinis sang pemilik kamar yang mengagetkan tapi tak menolongnya saat jatuh bahkan tak menanyakan keadaannya.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Rey mengulangi.
"Hanya melihat-lihat sebentar"
"Siapa yang mengijinkanmu masuk ke sini?" nada bicara Rey angkuh.
"Siapa lagi, tentu saja ibumu"
"Oh"
Rey berjalan memutar dan meletakkan tas serta duduk di kursi depan meja belajarnya. Tatapannya masih tertuju pada gadis berpostur tinggi yang akan jadi calon istrinya.
"Jadi menurutmu bagaimana?"
"Apanya?"
"Kamar ini"
"Oh lumayan, setidaknya aku tidak menemukan mainan yang berserakan"
"Kau pikir aku masih balita?"
"Tentu saja karena kau pendek" Olivia menjulurkan lidahnya meledek Rey.
Rey menahan emosinya, dia tidak ingin mengamuk hanya karena di ejek.
"Lagipula kamar ini nanti akan jadi kamarmu, maksudku kamar kita berdua. Apa kamu sudah mencoba kasurnya? kita akan tidur bersama setiap harinya, haruskah kita mencobanya sekarang?" Rey membalas ejekan Olivia dengan kata-kata manisnya, dia tersenyum menyeringai.
"Dasar cebol mesum, kau kira aku gadis murahan"
"Cebol lagi, begitukah caramu memanggil lelaki yang akan jadi suamimu nanti. Seharusnya kau ini belajar memanggilku mesra dan lembut"
"Iiisshhh tidak mau!!"
"Jika di depanku tersenyumlah, jangan terus-terusan membuka matamu seperti itu aku takut matamu akan jatuh keluar dari sarangnya"
"Kau ini!!"
Rasanya ingin sekali Olivia melemparkan sesuatu pada Rey hingga mengenai kepalanya namun niatnya itu harus di hentikan.
"Rey kamu sudah pulang sayang" Cindi tiba-tiba masuk dan melihat Rey dan Olivia yang sedang berbicara. "Oliv kamu makan malam di sini ya, tante akan menyiapkan makanan yang lebih enak dari pada waktu siang"
"Apa tidak apa-apa tante?"
"Tidak apa-apa, tidak usah sungkan begitu sebentar lagi kita akan jadi keluarga agar ibumu tidak khawatir biarlah tante yang akan menelponnya meminta ijin"
"Baik, terima kasih tante"
"Sama-sama" Cindi menutup pintunya kembali, dia tak ingin mengganggu proses pendekatan putranya dengan calon menantunya.
"Hei cebol kapan kau akan berumur 17 tahun?"
"Kenapa? kau tidak sabar melihatku tumbuh besar dan kita cepat menikah" seketika wajah Olivia terasa panas.
"Bu-bukan begitu, aku hanya ingin tahu tanggal lahirmu"
"Kau mau menyiapkan kado untukku?"
"Bu-bukan juga" setiap pertanyaan yang terlontar dari mulut Olivia selalu berbalik membuatnya menjadi salah tingkah. Rey sendiri malah senang mengerjai gadisnya.
"Untuk menunggu makan malam sebaiknya apa yang akan kita lakukan?" Rey menggoyang-goyangkan kursinya yang bisa berputar sambil menatap Olivia lekat.
"Ti-tidak ada" Olivia benar-benar kalah oleh Rey bahkan di tatapnya saja ia jadi malu.
Untuk mengalihkan perhatian agar tidak terlalu canggung, Olivia memilih merebahkan dirinya di atas sofa.
"Kau ini tidur sembarangan di atas sofa orang lain tanpa permisi, mana sopan santunmu?"
"Bukankah kau tadi bilang kamar ini nanti akan jadi kamarku juga"
"Maksudku belum sekarang"
"Iya iya nanti, tapi biarkanlah aku beristirahat sebentar di sini, aku sangat lelah" Olivia mulai memejamkan matanya.
"Jangkung jika mau tidur sebaiknya kau tidur di kamar tamu, jangan tidur di sofaku" ketusnya namun tak ada jawaban dari Olivia.
"Jangkung. . Jangkung" Rey memanggilnya beberapa kali, akhirnya dia memilih mendekat dan memeriksa keadaan Olivia.
Rupanya gadis itu benar-benar tertidur.
"Begitu mudahnya dia tertidur" Rey menghela napasnya, dia memandang wajah Olivia yang terlihat cantik saat kedua matanya terpejam. "Kalau diam begini kamu terlihat imut, imut? tunggu dulu gadis tua ini kenapa aku bilang imut. Aaakkkhhh" Rey menjambak dirinya sendiri tak percaya bahwa pujiannya untuk Olivia mengalir lancar begitu saja.
"Dari pada terus melihatnya lebih baik aku mandi" Rey mengambil handuk yang tergantung dan masuk ke dalam kamar mandinya. Cukup lama dia membersihkan diri, akhirnya Rey keluar memakai handuk yang melingkar di pinggangnya. Sejenak dia lupa bahwa masih ada seorang gadis yang terlelap di sofa panjangnya, dia berjalan dengan acuhnya mendorong pintu lemari mengambil beberapa potong pakaian yang akan di pakainya.
Handuk itu Rey buka dan jatuh teronggok ke lantai. Tiba-tiba saja. .
Kyaaaaaa
Olivia berteriak dengan kencangnya membuat Rey panik dan berbalik.
"Burung Pipiiiiiiiittttt" teriak Olivia lagi.
"Burung pipit?" Rey menatapnya heran lalu dia segera menundukkan kepalanya melihat ke bawah. "Hhuuwaaaa" dia segera menutupi burung berharganya dengan tangannya dan berlari sekencang mungkin kembali ke kamar mandi, dia tidak peduli lagi pada handuknya.
"Hahahahaha" Olivia tak bisa menahan tawanya melihat Rey yang berlari ketar ketir bersembunyi. "Burung pipitnya terjepit kasihan sekali, bulunya belum tumbuh dengan sempurna alias masih botak. . haha. Eh kenapa aku mesum sekali" Olivia menyentuh kedua pipinya yang terasa sangat panas dan memerah.
Rupanya perkataan Olivia tadi terdengar oleh Rey.
"Dasar gadis tua tidak tahu malu, malah menghina burungku yang lucu ini. Lihat saja kalau dia sudah bertransformasi jadi burung elang habislah kau!!, sabar ya burung kecilku" Rey memelas memandang tubuh bagian bawahnya.
kangen sma pasangan ini
keknya seru
seru soalnya
senangnya..
see u Rey dan Oliv...🥰🥰🙏💪
cukup. Rey dan Oliv aza
Daniel di novel lain aj kak