Hakim Agung Damon Bradfort dikenal dingin, tak bisa disuap, dan tak punya satu pun alasan untuk mempercayai siapa pun. Selama lima tahun ia membongkar jaring hukum yang melindungi Cosa Nostra, tanpa seorang pun di Roma tahu darah siapa yang mengalir di nadinya.
Felipa Bianchi, 25 tahun, mahasiswi hukum yang menanggung adik kecilnya dan ayah yang kejam, butuh uang dan jalan keluar. Tawaran itu datang dari tempat yang paling ia takuti: magang di Mahkamah Agung, dengan satu syarat tak tertulis. Ia harus mengawasi sang hakim.
Hari pertamanya berakhir dengan bentakan dan tumpukan fotokopi. Namun sang hakim yang menyebalkan itu ternyata adil, teliti, dan sesekali menjadi satu-satunya orang yang melihat bahwa Felipa tidak baik-baik saja. Semakin dekat Felipa dengan pria yang seharusnya ia khianati, semakin sulit ia membedakan tugas dari perasaan.
Ketika kebenaran terbongkar, Damon harus memilih: hukum yang selama ini ia pegang, atau perempuan yang tak bisa lagi ia lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Penilaian Pertama
Felipa
Aku menarik napas dalam begitu masuk gedung Mahkamah Agung.
Keramaian lobi biasanya membuatku tak nyaman di beberapa menit pertama. Orang-orang hilir-mudik dengan map di tangan, ponsel menempel di telinga, dan wajah serius, seakan sedetik terbuang bisa berarti kiamat. Suara langkah berbaur dengan dengung percakapan dan bunyi halus lift yang tiba di tiap lantai.
Kutekan tombol dan menunggu.
Lalu terdengar langkah di belakangku.
Aku tak perlu menoleh untuk tahu ada yang mengamatiku. Tatapan gigih itu menyapu punggungku, dan ketika akhirnya aku melirik sekilas, kulihat beberapa peserta magang mendekat.
Salah satunya tak berusaha menyembunyikan.
Kualihkan mataku, risih.
Hari ini aku memakai gaun yang sedikit lebih ketat dari biasanya untuk bekerja. Tidak sampai tak pantas. Gaun formal, elegan, tapi lebih mengikuti lekuk tubuhku dibanding pakaian lain di lemariku.
Kuusap blazerku, mencoba merapikannya di badan.
Blazer itu hadiah dari Alice di ulang tahunku tahun lalu.
Hari itu, sahabatku nyaris memaksaku mencoba gaun ini. Katanya aku harus berhenti bersembunyi di balik baju longgar dan ingat bahwa aku boleh merasa cantik tanpa rasa bersalah.
Mungkin dia benar.
Aku cuma tak menyangka harus menghadapi begitu banyak tatapan karenanya.
Pintu lift terbuka dan aku masuk cepat-cepat. Para peserta magang lain menyusul.
Aku berdiri di pojok, menggenggam tali tasku sambil memperhatikan angka-angka lantai bertambah.
Obrolan dimulai begitu pintu menutup.
Seorang cowok mengeluh bahwa kemarin sore dia habis-habisan disuruh membeli kopi.
Seorang cewek menjawab bahwa itu belum apa-apa dibanding perlakuan hakim pembimbingnya. Menurut gadis itu, selain disuruh beli kopi, dia juga diminta menjemput anak-anak sang hakim dari sekolah.
Kugigit bagian dalam pipiku agar tak tertawa.
Setidaknya aku tak menderita sendirian.
Saat pintu terbuka di lantaiku, aku keluar sebelum ada yang sempat menjebakku dalam obrolan lain.
Koridor Mahkamah Agung lebih sepi. Bunyi hak sepatuku menggema di lantai selagi aku berjalan ke ruangan Hakim Bradfort.
Memikirkan pria itu saja, perutku mengencang.
Damon Bradfort punya bakat membuat siapa pun merasa seolah hendak melakukan kejahatan, bahkan ketika hanya bernapas di ruangan yang sama dengannya.
Aku berhenti di depan pintu.
Menarik napas dalam.
Sekali.
Lalu sekali lagi.
Kuketuk dua kali.
"Masuk."
Suara beratnya menembus kayu pintu.
Kubuka pintu.
"Selamat siang, Hakim Bradfort."
Dia tak menjawab.
Sesaat kukira dia bahkan tak mendengarku.
Lalu aku menyadari matanya.
Matanya meninggalkan dokumen di meja dan menyusuri tubuhku tanpa tergesa. Wajahku terasa panas, tapi aku tetap tak bergerak. Pandangannya melewati gaunku, blazer yang kucoba rapikan di lift, lalu akhirnya bertemu mataku.
Aku tak tahu harus berbuat apa.
Damon menahan tatapanku beberapa detik sebelum membuang muka.
Dia melirik jam di pergelangan tangannya.
"Kamu terlambat."
Kalimat itu keluar kering, seolah tak terjadi apa-apa.
Keningku berkerut.
Aku menatap jam di dinding.
Lalu dia.
"Sekarang tepat jam satu siang."
"Jam kerjamu mulai jam satu."
Dia mengangkat sebelah alis.
"Dan sekarang jam satu lewat dua."
Dua menit.
Dia benar-benar menghitung dua menit.
Kutahan balasan yang nyaris lolos dari mulutku.
"Maaf, Yang Mulia."
Damon kembali menatap dokumen.
"Semoga ini tidak jadi kebiasaan, Nona Bianchi."
Jari-jariku mengencang di tali tas.
Pria ini benar-benar bisa jadi luar biasa menyebalkan.
Aku duduk di meja di samping mejanya.
Hari ini semuanya tertata sempurna. Permukaannya bersih, tak ada selembar kertas pun yang salah tempat. Di atas meja ada laptop tertutup dan di sebelahnya sebuah jadwal tercetak, dibagi menurut jam dan tugas.
Kuambil lembar itu dan sadar ini bukan sekadar agenda. Ini daftar tugas. Banyak sekali.
Aku bahkan belum sempat bertanya harus mulai dari mana.
Suaranya terdengar menyeberangi ruangan.
"Kata sandinya: keadilan."
Kuangkat mata ke arah Damon.
Dia bahkan tak melihatku. Dia tetap terpaku pada pekerjaannya, seakan yakin aku akan mengerti semuanya tanpa penjelasan.
"Kamu ke sini untuk belajar, kan, Nona Bianchi? Kalau begitu, pekerjaan tak akan kurang."
Kutelan ludah dan memusatkan perhatian pada laptop. Kuketik kata sandi yang baru dia sebut, dan layar pun terbuka.
Kuambil lagi jadwal tercetak itu.
Tugas pertamaku: memeriksa registrasi perkara untuk daftar sidang.
Aku masih mencoba memahami persisnya apa yang harus kulakukan ketika suaranya bergema lagi.
"Sepuluh menit lagi aku ada sidang virtual. Aku butuh kamu diam selama sidang berlangsung. Kalau ada pertanyaan, tanyakan sesudahnya."
Aku langsung mengangguk.
"Baik, Pak Hakim."
Dia kembali menatap komputer.
Aku membetulkan dudukku dan mulai bekerja, berusaha mengabaikan perasaan bahwa di ruangan ini, bahkan bernapas terlalu keras pun bisa dianggap kesalahan.
Setelah memeriksa semua registrasi perkara, aku beralih ke draf penetapan yang harus kusiapkan.
Waktu berjalan lebih cepat dari yang kuinginkan. Aku masih tenggelam di salah satu draf ketika kudengar sidang dimulai.
Tanpa sadar, mataku meninggalkan layar dan menemukan Damon.
Dia berubah total saat sidang.
Posturnya makin tegap. Suaranya terkendali. Setiap kata seperti dipilih hati-hati, dan tak ada ruang untuk interupsi atau argumen kosong. Dia mendengarkan pembela, bertanya bila dirasa perlu, dan melakukan hal yang sama pada jaksa.
Dalam beberapa menit, dia menempatkan kedua pihak di tempat semestinya.
Hakim Bradfort adil.
Siapa pun yang berdiri di hadapannya. Tak ada pengaruh, uang, atau nama belakang yang bisa mengubah caranya memimpin sidang.
Dan, harus kuakui, sidangnya sempurna.
Mungkin itulah yang paling mengganggu.
Apa yang membuatnya begitu menyebalkan sebagai pria, membuatnya sempurna sebagai hakim.
Aku masih mengamatinya saat suaranya menarikku dari lamunan.
"Sudah selesai, Felipa?"
Cepat-cepat kualihkan mata ke laptop.
"Sudah."
"Kirim lewat surel. Aku akan periksa."
Aku melakukan persis seperti yang dia minta.
Tak lama, aku sadar Damon sudah membuka berkasnya. Aku terus bekerja sambil menunggu reaksi, tapi reaksinya datang terlalu cepat.
Kurang dari dua menit kemudian, dia menutup dokumennya.
"Ulangi."
Aku mengangkat mata, tak percaya.
"Apa?"
Damon memutar kursinya ke arahku.
Beberapa detik, dia hanya menatapku.
"Ulangi, Felipa."
Dia menunjuk layar.
"Ini belum bagus. Jadi kamu kerjakan lagi."
Mulutku terbuka, tapi tak ada jawaban yang keluar.
Dia kembali ke komputernya, seolah baru saja memintaku melakukan hal paling wajar di dunia.
Aku menatap draf-ku.
Lalu dia.
Jelas, mengagumi pria ini tidak berarti aku harus menyukainya.