Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Rencana Tiga Pilar Bisnis
Keesokan harinya...
Sinar matahari pagi muncul tipis di balik punggung bukit Desa Hutan Batu, menyapu embun dingin yang masih menempel di atas jerami-jerami atap gubuk reyot milik keluarga Lin. Di dalam ruangan sempit itu, Lin Wanru telah berdiri tegak sejak subuh.
Ia tidak tidur semalaman. Otak cerdasnya yang terbiasa merancang strategi korporasi global terus berputar merumuskan formula finansial darurat untuk melunasi utang tiga tael perak kepada sang paman biadab, Lin Dehai, dalam kurun waktu kurang dari empat puluh delapan jam ke depan.
Tiga tael perak adalah nominal yang sangat besar bagi kaum petani miskin di Dinasti Liang. Setara dengan biaya hidup satu keluarga kecil selama hampir setengah tahun.
Mengandalkan upah mencuci pakaian ibunya di sungai es atau memungut sekam padi sisa tidak akan pernah cukup untuk menutup angka tersebut.
Oleh karena itu, di atas meja kayu yang reot, Wanru telah memetakan tiga pilar bisnis darurat yang akan ia eksekusi hari ini di Hutan Hantu.
Pilar Pertama: Protein Hewani Eksklusif (Daging Buruan Liar). Menangkap kelinci, ayam hutan, atau hewan buruan kecil lainnya untuk dijual kepada pedagang pasar atau rumah makan kelas menengah di kota kecamatan.
Pilar Kedua: Komoditas Pangan Unik (Tanaman & Umbi Hutan Bernilai Gizi). Mencari jamur liar langka, rebung bambu segar, atau umbi ginseng liar yang kerap dicari oleh para tabib tradisional untuk obat herbal.
Pilar ketiga: Farmakologi Herbal Berbasis Sains. Memanfaatkan pengetahuannya tentang botani untuk meracik ramuan penyembuh luka atau penurun panas dari tanaman liar yang sering dianggap rumput pengganggu oleh penduduk desa, lalu menjualnya dengan harga tinggi.
"Wan-er... apa kau benar-benar harus pergi lagi?" suara Nyonya Lin terdengar parau dari balik ranjang. Wanita paruh baya itu terbangun dengan wajah yang cemas, menatap putrinya yang sedang mengikat erat kain usang di pergelangan kakinya agar tidak digigit serangga hutan.
Wanru mendongak dan tersenyum menenangkan. "Ibu, jangan khawatir. Aku tahu batasanku. Aku tidak akan masuk ke zona berkabut yang berbahaya itu. Aku hanya akan menyusuri area pinggiran untuk menjemput rezeki kita," ucapnya mantap.
Lin Bao yang baru membuka mata menguap lebar, lalu merentangkan tangannya. "Kakak mau ke hutan lagi? Kalau dapat kelinci lagi, bawa pulang dua ya, Kak! Daging kemarin rasanya masih menempel di ujung lidahku!" celoteh bocah itu dengan polosnya.
Wanru mencubit hidung adiknya pelan sambil tertawa kecil. "Iya, tuan muda yang rakus. Doakan saja kakakmu ini pulang membawa pundi-pundi uang, bukan membawa pulang hantu hutan."
Setelah berpamitan dan memastikan ibunya tenang, Lin Wanru melangkah keluar gubuk. Ia membawa sebilah pisau dapur kecil yang sudah ditajamkan ke batu asahan, sebuah kantong kain usang untuk wadah tangkapan, dan sebatang kayu kokoh sebagai tongkat penopang sekaligus senjata pertahanan diri.
Namun, perjalanan sang mantan CEO menuju pintu gerbang Hutan Hantu ternyata tidak semulus rencana bisnis di atas kertas.
Desa Hutan Batu adalah sebuah perkampungan kecil di mana privasi tidak pernah ada, dan gosip menyebar lebih cepat daripada kobaran api di padang rumput kering.
Baru saja Wanru melewati beberapa rumah tetangga, suara-suara sumbang mulai bermunculan dari balik pagar bambu dan teras rumah.
"Eh, lihat! Siapa gadis kurus kering itu? Bukankah itu anak sulung keluarga Lin?" seru Nyonya Zhao, seorang wanita paruh baya bertubuh kurus dengan tahi lalat besar di dagunya, seraya menyikut tetangga sebelah sambil menunjuk ke arah jalan setapak.
"Astaga, benar! Kemarin dia beruntung bisa menangkap seekor kelinci bodoh, sekarang dia berjalan dengan gaya sok tegap begitu. Mau ke mana lagi dia, hah?" sahut Nyonya Liu, yang kemudian melangkah keluar rumah sambil berkacak pinggang.
Nyonya Liu memelototi Wanru dengan mata menyipit penuh kebencian. Ia lantas maju beberapa langkah ke tengah jalan setapak, dan sengaja menghalangi jalur yang akan dilewati Wanru.
"Hei, Lin Wanru! Mau pamer pakaian compang-campingmu itu ke mana, hah?" teriak Nyonya Liu dengan suara melengking tinggi yang langsung menarik perhatian puluhan warga desa lainnya yang sedang beraktivitas di luar. "Jangan bilang kau mau jalan-jalan sok anggun ke Hutan Hantu? Pamanmu sudah memberikan waktu tiga hari, bukan untuk kau gunakan main petak umpet dengan maut!"
Wanru menghentikan langkahnya. Ia mendesah pelan di dalam hati. "Tampaknya warga desa ini tidak punya hobi lain selain mengomentari hidup orang miskin," batinnya dingin.
Wanru mengangkat dagunya sedikit, dan menatap Nyonya Liu dengan sorot mata setajam pisau bedah. "Permisi, Bibi Liu. Jalan setapak ini milik leluhur desa, bukan milik halaman rumahmu. Kalau kakimu pegal berdiri di situ, masuklah ke dapur dan cuci piringmu yang menumpuk."
Mendengar jawaban yang menohok dan sama sekali tidak menunjukkan rasa takut itu, Nyonya Liu terkesiap. Wajahnya yang tebal langsung memerah padam menahan amarah.
"Kau...! Berani sekali mulut sampah itu melawan orang tua!" maki Nyonya Liu, seraya melotot garang. "Gadis sialan tidak tahu diuntung! Ayahmu mati membawa utang, ibumu setengah mati menunggu kubur, dan kau... alih-alih bersiap diri diserahterimakan ke rumah bordil besok untuk melunasi utang keluarga, kau malah berkeliaran tidak tahu malu!"
Beberapa warga desa yang ikut mengerubungi tempat itu mulai berbisik-bisik sambil tertawa mengejek.
Bahkan, seorang pria paruh baya bertubuh tegap, tukang kayu desa bernama Paman Gou, ikut bersuara dengan nada sinis, "Sudahlah, Nyonya Liu. Biarkan saja dia pergi ke hutan itu. Menurutku, anak itu sudah kehilangan akal sehatnya sejak kemarin malam. Masuk ke Hutan Hantu sendirian? Ha! Itu bukan mencari makan, itu namanya mengantar nyawa sendiri ke mulut harimau!"
"Betul sekali!" sahut warga lain menimpali. "Mungkin karena tidak sanggup memikirkan utang tiga tael perak, otaknya jadi koslet. Biarkan saja dia dimakan roh penunggu hutan, biar keluarga Lin itu musnah sekaligus!"
A HA HA HA HA HA HA...!!
Bersambung...