NovelToon NovelToon
Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:279
Nilai: 5
Nama Author: Nyimas zaharah

Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.

Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Lara

...بسم الله الرحمن الرحيم...

.......

.......

...Sandyakala "Aksa dan Amerta"...

...Karya :  Ms_nyms...

***

Beberapa orang pria sedang duduk di tepi pantai, mereka tampak sedang bersantai sembari menatap ke satu tujuan sedangkan 3 orang wanita sedang ber lari-larian di bibir pantai bermain ombak dengan riangnya.

"Masih kosong, tidak ada pergerakan"

Drrrt drrrrt

Sebuah panggilan masuk ke ponsel salah satu pria.

"Ya bang "

"......... "

"Tidak bang, iya bang jam 8 malam balik"

Obrolan pria itu masih berlanjut dengan seseorang yang menelponnya,  seorang wanita tengah berjalan keluar dari sebuah rumah. Duduk di sebuah gazebo kecil tepat didepan rumahnya,  ia sempat melirik kearah para pria itu namun kembali menatap ke depannya dengan tatapan kosong memandangi matahari yang mulai terbenam.

Wajahnya masih penuh luka, masih terlihat lebam dan ia berjalan menggunakan tongkatnya. Beberapa wanita yang tengah berlarian di pinggir bibir pantai tadi pun mulai mendekati gazebo kecil tersebut, sembari membawa beberapa minuman dan makanan.

Sepertinya mereka sedang berbincang kecil, tampak wanita yang duduk di gazebo kecil tersebut seperti tidak mengenal para wanita itu.

"Hai" Sapa para wanita itu saat duduk di tepi gazebo. Mereka menaruh beberapa bungkusan ditengah-tengah gazebo.

"Mau makan bareng gak? "

"T-tidak perlu, terimakasih"

"Kenalin, gua Alin, ini Caca" Jedanya. "dan ini Yura kami dari Jakarta. "

"Saya Avisa"

"Nama yang cantik, kamu warga sini? " tanya Alin.

"Iya"

"Yuk makan bareng,  ini kami beli di resto dalam perjalanan kesini.  Enak loh " tawar Alin namun tawaran dari Alin sepertinya tidak membuat Avisa tertarik. 

Ia hanya diam menatap mereka, lalu ia berpamitan dengan Alin dan kedua temannya untuk masuk kembali ke rumahnya.

Beberapa pria tadi pun mendekat kearah Alin dan kedua temannya,  mereka berkumpul di gazebo tersebut.

"Iya bang, luka-luka"

"Oke, habis ini kita balik ke basecamp"

"Siap"

Mahika terduduk di tepi ranjangnya, menatap lantai dingin dengan membisu,  ia sama sekali tidak bergerak bak patung selama beberapa menit.  Ia beranjak menuju dapur membuka kulkas dan mengambil beberapa kue, kembali duduk sendirian di meja makan.

"Assalamualaikum Avisa! " panggil seseorang dari arah depan rumah, Mahika membuka pintu dengan cepat. 

Bu Lasmi datang membawakan makanan untuk Mahika selama beberapa hari ini, ia memanaskan kembali makanan tersebut di atas kompor sembari menunggu dan duduk bersama Mahika yang hanya diam melamun.

"Coba ibu lihat dulu lukanya" Bu Lasmi memutar bangku Mahika menghadap dirinya. Ia mengecek setiap luka di balik perban, ia juga mengecek luka-luka lebam yang ada ditubuh Mahika.

Ia tidak ingin bertanya kepada Mahika, kenapa ia bisa seperti ini.  Semua warga juga berpura-pura tidak mengetahui apa-apa,  mereka akan mengetahui nya nanti setelah Mahika akan bercerita namun saat ini lebih baik menunggu keadaan Mahika membaik agar segera pulih.

Mahika hanya diam, matanya tampak sayu.  Bulir-bulir air mata terbendung di pelupuk matanya,  ia menggigit bibirnya sendiri menahan air mata agar tidak jatuh, menatap langit-langit rumah.

"Ibu mau bersih-bersih rumah, Avisa masuk dulu ke kamar.  Kalau mau makan panggil ibu ya" titah Bu Lasmi.

Mahika hanya mengangguk pelan dan berjalan perlahan menuju kamarnya,  ia kembali merebahkan dirinya di kamar.  Menatap jendela kamar yang menghadap ke arah laut,  matahari mulai tenggelam dan langit berubah menjadi gelap.

Suara isak tangis kembali terdengar dari dalam kamar Mahika, Bu Lasmi yang mendengar suara tangisan Avisa merasa dadanya sesak.  Ia sangat menyayangi Avisa seperti anaknya sendiri, melihat Avisa seperti ini membuatnya juga ikut sedih. Ia selalu bertanya-tanya apa yang terjadi pada Mahika,  siapa yang berbuat seperti ini pada putrinya, hal apa yang disembunyikan oleh Mahika.

Dalam diamnya Bu Lasmi ikut menangis di dapur, air matanya tak terbendung lagi.  Bu Lasmi berjalan menuju kamar Mahika dan langsung memeluk Mahika yang menangis dengan kuat.

"Sabar sayang, sabar.. Allah pasti membalasnya sayang.. Allah pasti membalasnya.. " ucapnya

Hanya itu yang terdengar dari lisan Bu Lasmi kepada Mahika yang berada di pelukannya, ia memeluk Mahika sekuat mungkin, mencoba meredakan rasa sedihnya.

***

"Ian!  Ikut gak? "

"Kemana bang? "

"Gua cuma satu pertanyaan, ikut atau tidak?" ucap Mahija penuh penekanan.

"Ikut" jawab Fian yang bergegas mengambil jaketnya dari dalam lemari, segera ia berlari mengejar Mahija yang sudah berjalan terlebih dahulu di depannya.

Kendaraan roda empat berwarna hitam itu perlahan meninggalkan halaman parkiran asrama,  mobil mereka berhenti tepat di depan pos penjagaan.

"Laporan sana, pulang malam kita hari ini"

"Siap"

Fian lalu turun dari dalam mobil, menuliskan nama dirinya dan Mahija disebuah buku tebal yang terletak diatas meja pos penjagaan.

"Mau kemana bang? Pulang larut malam jam 2 pagi bang? " tanya seorang prajurit yang duduk didepan Fian.

"Mau cari ukhti buat dijadiin istri" canda Fian.

"Serius bang? "

"Enggak lah" jeda Fian usai menandatangani buku laporan.  " Ada urusan eksternal, kabarin sama yang jaga nanti malam"

"Siap" jawab prajurit tersebut.

Mobil mereka kembali berjalan, menyusuri jalanan kota.  Satu jam sudah mereka meninggalkan asrama, kini mereka telah sampai di sebuah rumah yang tidak asing lagi bagi Mahija dan Fian.  Rumah ditepi pantai milik Mahika Avisa Zalana, sudah hari ke lima saat terakhir kalinya Mahija ke tempat ini.

Langkahnya cepat menuju sebuah rumah yang tidak jauh, rumah dengan dinding berwarna hijau serta kursi di teras rumahnya.  Tampak dari kejauhan seorang pria tengah duduk di teras rumah melihat Mahija dan Fian datang menuju rumahnya,  ia langsung beranjak dari kursinya dan berjalan menyambut Mahija.

"Letnan, apa kabar? Sedang apa disini? "

"Baik Pak, alhamdulillah." Jeda Mahija bersalaman dengan pria tersebut, Pak Sukardi kepala desa.

"Letnan Fian juga ikut ternyata,  kabar baik Letnan? " tanya Pak Sukardi kembali sembari berjalan untuk duduk dikursi teras rumahnya.

"Siap baik Pak. " jawab Fian.

"Begini pak, saya datang kesini dengan  maksud untuk mengecek Mahika saat ini.  Apakah sudah ada kegiatan di luar rumah?  Sudah lima hari setelah komunikasi saya dan bapak terakhir kalinya"

"Sudah tapi tidak terlalu sering, hanya duduk disekitar rumah saja.  Kegiatan mengajar anak-anak juga tidak ada, sementara digantikan oleh guru pengganti"

"Bagaimana bisa terjadi seperti ini pak?" tanya Mahija kembali yang sudah sangat penasaran.

Fian hanya mendengarkan, ia sama sekali tidak mengetahui hal apa yang abangnya bahas dengan kepala desa saat ini.  Ia hanya mendengarkan sembari menyeruput teh yang sudah dihidangkan oleh ibu kepala desa.

Perbincangan antara Mahija dan kepala desa cukup lama, hingga memakan waktu sekitar satu jam lebih kurang. Fian akhirnya mengerti kenapa ia dibawa kemari,  sepertinya akan ada tugas penting yang akan diberikan oleh abangnya.

"Ian, lu ke markas anak-anak buat backup.  Ini lokasinya dan perintah selanjutnya gua kirim lewat pesan nanti. Mobil lu bawa saja, kabarin gua kalau sudah clear" perintah Mahija yang langsung diberi anggukan oleh Fian. 

Ia langsung berjalan meninggalkan rumah kepala desa, sudah pukul 05.30 sore Mahija akhirnya izin kepada kepala desa untuk kembali melihat rumah Mahika.

Dari kejauhan terlihat seseorang yang tengah duduk di tepi pantai, bayangan yang tergambar di pasir pantai.  Mahija mendekat ke arah orang tersebut, Mahika Avisa Zalana.  Ia duduk tanpa pemberitahuan,  tidak menatap wajah Mahika hanya memandang ke arah depan. 

"Assalamu'alaikum" sapanya.

"Wa'alaikumussalam, sedang apa anda disini?  Apakah ada hal penting disini atau hanya sekedar menghabiskan waktu sembari mencari kaum hawa? "

"Bagaimana bisa kamu bilang seperti itu, sedangkan hawa saya sedang duduk disamping saya sendiri. "

"Dasar buaya"

"Saya buaya jika berhadapan dengan kamu, tidak dengan wanita lain"

"Gombal"

"Gombalan ini hanya bisa didengarkan oleh telinganya hawa saya,  tidak dengan telinga wanita lain "

"Halah, cuma kata-kata doang"

"Kalau mau serius, besok saya khitbah mau? "

Mahika yang mendengar ucapan Mahija, beralih menatap wajah Mahija sepersekian detik lalu menundukkan wajahnya.  Berpaling menatap ke lain arah, sungguh wajahnya saat ini seperti tomat yang ranum.

"Saya ingin bertanya kembali" ujar Mahija sesaat setelah Mahika menatap wajahnya.

"Soal? "

"Apakah kamu baik-baik saja saat ini? "

"Kelihatannya? "

"Saya rasa kamu tidak baik-baik saja saat ini, maka dari itu izinkan saya untuk melindungimu dengan cara halal"

Mahika hanya diam mendengarkan ucapan dari pria yang tengah duduk disampingnya ini,  ia sama sekali tidak menatap wajah Mahija sedikit pun. Ia hanya memandangi laut dengan matahari yang hampir tenggelam hari ini.

"Saya ingin mengajukan pertanyaan lagi"

"Tentang? "

"Apakah kamu baik-baik saja? "

Pertanyaan yang sama kembali Mahika dengar dari lisan pria ini, Mahika hanya diam tanpa kata.  Benar-benar bingung harus menjawab bagaimana, sebab memang benar keadaan situasi nya saat ini sedang tidak baik-baik saja setelah kejadian yang di alaminya. 

Lima hari lalu tepatnya, ia kabur dari sebuah gudang tempat dimana ia disekap oleh pria jahat yang menjadi mantan pacarnya dahulu.  Ia mencoba melawan namun yang ia dapati hanya pukulan dari sang mantan yang psikopat, setelah berhasil  kabur tubuhnya sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan hingga akhirnya ia pingsan.  Saat sadar ia sudah berada diruangan yang tidak ia kenali, Mahika hanya memutuskan untuk segera pulang dan ingin bersembunyi saat ini.  Tubuhnya seperti sudah ternodai, ia merasa sudah penuh dengan kotoran hingga menutup semua komunikasi dari siapa pun terkecuali orang-orang desa tempat ia tinggal.

"Apakah kamu baik-baik saja? " pertanyaan itu kembali terucap, membuat Mahika semakin merasa sesak hingga ingin menangis. 

Matanya mulai berbinar saat ini, tidak ada suara diantara mereka hanya ada suara angin dan ombak yang menyapu bibir pantai di sore ini.  Mahija melirik ke arah Mahika,  ia menatap hijab yang digunakan Mahika saat ini meskipun tidak dapat melihat wajahnya tapi Mahija tahu wanita yang disamping nya ini sedang menahan tangisnya.

"Saya akan pergi dari sini,  menangislah sepuasnya.  Ceritakan pada saya setelah kamu siap, saya akan menjaga kamu, mendengarkan semuanya tanpa kamu merasa terintimidasi sedikit pun. " jeda Mahija yang beranjak dari posisi duduknya.  "Saya Pamit,  Assalamu'alaikum"

Beberapa saat setelah kepergian Mahija,  suara tangisan yang tertahan itu akhirnya pecah.  Mahija melirik dari kejauhan, menatap wanita yang ia akan menjadi istrinya itu menangis dengan kuatnya.  Ia hanya diam dari kejauhan sembari duduk di tembok tepi pantai, menjaga Mahika dari kejauhan mungkin adalah cara sederhananya saat ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!