Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah Guling
"Lo beneran gak pernah sholat?" tanya Gala sambil melipat sajadah setelah selesai salat magrib dan isya bersama Rea.
"Terakhir sholat waktu ujian praktek kemarin, sholat subuh sama sholat jenazah," ucap Rea ikut melipat mukena dan sajadahnya.
Gala berdecak pelan, menyentil kening gadis itu sebelum berlalu sambil berucap, "Keluar, makan malam."
Rea bergegas meletakkan alat salatnya tadi di atas ranjang dan segera menyusul langkah Gala.
"Eh, kalian makan duluan, ya? Papa sama Ibu mau ke rumah Kakek dulu, tadi katanya disuruh ke sana."
"Ngapain, Bu?" tanya Gala seraya mendudukkan diri di salah satu kursi meja makan.
"Mau nengok Biya, katanya lagi di situ."
Gala membulatkan mulutnya mengerti, sembari menepuk kursi di sampingnya, memberi isyarat pada Rea agar segera duduk.
"Ya sudah, kalian makan dulu, ya? Rea kalau mau kue, di kulkas ada yang sudah jadi. Belajar masaknya besok aja, ya?" ucap Revin seraya mengusap kepala Rea dengan sayang, dibalas anggukan oleh gadis itu.
Revin berlalu, bersama dengan Saka yang baru keluar kamar.
"Biya siapa?" tanya Rea seraya mengisi piring dengan nasi.
"Pacar gue," balas Gala seraya mengambil alih piring yang sudah diisi makanan oleh Rea. "Istri yang baik itu harus melayani suaminya, termasuk mengambilkan makanan."
Rea mendengus, meraih piring lain untuk mengisinya kembali. "Lo beneran punya pacar, Bang?"
"Gak, lah. Dia sepupu gue."
"Serius?"
Gala tak menjawab, karena ia sudah mulai makan, begitupun dengan Rea. Makan dengan hening selama beberapa saat, sebelum akhirnya selesai dan Gala berlalu ke ruang tengah lebih dulu.
"Cuci piringnya, ya? Kalau mau makan kue ambil aja di kulkas," katanya sambil menepuk puncak kepala Rea beberapa kali, sebelum benar-benar berlalu.
Sadar jika ia tengah berada di rumah mertuanya, Rea memilih menurut untuk membereskan bekas makan mereka hingga mencuci piringnya.
Entah bersih atau tidak, yang penting Rea sudah berusaha melakukan apa yang tak pernah ia lakukan. Bukan tak pernah, melainkan sangat-sangat jarang.
"Kak Gala, gue minta kue bolunya, ya?" Rea menyusul Gala dengan membawa serta sepiring kue bolu di tangannya.
Gala hanya menjawabnya dengan gumaman singkat, tanpa mengalihkan pandangan dari laptop yang kini sudah di pangkuannya.
Rea duduk di samping Gala, lalu meletakkan kue tadi di atas meja. "Lo lagi ngerjain apa?" tanya Rea kepo.
"Kerjaan."
"Lo kerja? Dimana?"
"Kalau gak kerja, lo mau makan apa?"
Rea menganggukkan kepalanya, iya juga. Sekarang dia bukan lagi tanggung jawab Ayahnya, tetapi suaminya.
"Kalau butuh sesuatu bilang aja."
Rea mengangkat kedua alisnya, menatap Gala lekat. "Tumben lo baik?"
"Tanggung jawab."
Rea mengangguk, tidak seharusnya ia ge'er, sampai berpikir jika Gala mulai suka padanya.
Padahal, Gala melakukan itu karena tanggung jawab dan kewajiban akan statusnya yang sekarang.
"Gue pikir tadi pacar lo beneran. Gue sudah pasang badan padahal, buat lawan dia," kata Rea setelah kembali dengan membawa satu gelas air putih dan memberikannya pada Gala.
Gala melirik Rea seraya meneguk minumannya. "Santai aja kalau sama pacar gue. Gak bakal dijambak, paling dibogem."
"Kalau dia bogem, gue tendang."
Gala mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. "Tendang aja, gue ikhlas. Karena gue gak punya pacar."
"Gue gak percaya," ucap Rea seraya menyuapkan kue ke mulutnya.
"Terserah."
Hening terjadi beberapa saat, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing.
"Pacar lo tau?" tanya Gala seraya menutup laptop, lalu fokus menatap Rea.
Rea menghentikan kunyahannya sejenak, sebelum menggelengkan kepalanya.
"Dia kuliah di luar kota. Gue sudah lama gak tukar kabar sama dia."
Gala mengangguk, tangannya terulur untuk mengusap noda di sudut bibir Rea, membuat gadis itu terdiam terkejut.
"Masih sama yang dulu?"
Rea mengangguk atas pertanyaan Gala.
Gala tahu tentang kekasih Rea, tentu saja. Rea berpacaran sejak masih duduk di SMA, dan Gala masih menjadi Kakak kelasnya.
Kala itu, kekasih Rea mengutarakan perasaannya di kantin sekolah, wajar jika Gala tahu, karena itu tempat umum.
Bahkan, dulu Rea dan kekasihnya sempat menjadi deretan couple goals di sekolah mereka.
"Kalau suatu saat dia kembali, lo mau lepas dari gue atau dia?"
Rea mengedikkan bahunya, ia pun tidak tahu.
"Kalau nanti dia kembali dan berniat ngajak lo serius, lo mau apa?"
Lagi-lagi, Rea mengedikkan bahu seraya meraih gelas yang tadi sempat Gala bawa dan meneguk sisa air di sana.
"Gue juga bingung. Mungkin, lepas dari lo adalah pilihan terbaik," katanya seraya menatap mata Gala yang berubah datar, tidak seperti tadi yang sedikit lebih berbinar ceria.
"Pernikahan bukan hal main-main."
"Tapi gue gak cinta sama lo, dan lo gak cinta sama gue."
Gala terdiam menatap Rea, membuat tatapan mereka terkunci selama beberapa saat.
"Waktu, semua tentang waktu. Kita gak tau ke depan bakal gimana. Tapi gue harap, perasaan yang timbul nanti, gak akan pernah menyakiti salah satu di antara kita."
Rea mengangguk setuju, semua tentang waktu. Mereka tidak tahu, perasaan apa yang akan timbul seiring kebersamaan mereka nantinya.
"Lo cinta sama dia?"
Rea terdiam sejenak. "Gue gak tau. Sejak perpisahan kita beberapa bulan lalu, dan dia gak pernah ngabarin, gue merasa kalau hubungan kita gak ada yang perlu diharapin lagi."
"Kalau ternyata dia selingkuh di sana?
"Ya gue selingkuhin balik, lah. Ya kali, gue diemin."
Gala mendengus. "Mau selingkuh sama siapa, lo?"
Rea menatap cowok itu. "Ya sama lo. Ini juga kita lagi selingkuh, kan?"
Wajah Gala berubah datar. "Mana ada selingkuh sama suami sendiri," katanya seraya mendorong kepala Rea pelan.
Rea mengerucutkan bibirnya sembari mengusap keningnya.
Gala bangkit dari duduknya, seraya membawa laptop dan ponselnya. "Kalau sudah, diberesin semuanya, baru tidur."
Rea menatap Gala yang hampir masuk ke kamar. "Gue tidur dimana?"
"Di situ aja, kamar buat gue."
Rea membulatkan matanya, lalu segera menghabiskan makanannya. Ia kemudian bangkit untuk membereskan piringnya, hingga bersih.
Tampak cowok dengan kaos oblong dan celana pendek selutut itu, berbaring di atas ranjang king size nya dengan sangat nyaman, dan matanya sudah tertutup.
"Kak, gue beneran tidur di sofa?"
Gala kembali membuka matanya, menatap Rea yang kini menampilkan raut memelas.
"Cuci tangan, cuci kaki, cuci muka, gosok gigi, ambil wudu. Baru boleh tidur di sini."
Mata Rea berbinar, ia segera menuruti perintah Gala dan berlalu ke kamar mandi.
Mulai sekarang, ia harus terbiasa dengan peraturan yang Gala berikan, meski sedikit berat, namun ia harus tetap menurutinya selama itu memang hal baik.
Tak butuh waktu lama, Rea kembali dengan wajah yang lebih segar dengan sisa air wudu membasahi rambut bagian depannya.
Rea memosisikan diri di samping Gala yang sudah nyaman memeluk gulingnya.
"Gulingnya cuma satu?" tanya Rea dengan bibir mengerucut.
"Iya, lah. Ini kamar gue dari dulu, sebelum gue nikah. Jadi gulingnya cuma satu, gak ada jatah buat lo."
Rea mendengus, lalu ikut merebahkan tubuhnya menghadap Gala. "Gue gak bisa tidur dong, kalau begini," katanya yang membuat Gala kembali membuka mata.
Mereka saling pandang sejenak, sebelum akhirnya Gala melempar guling itu ke sembarang arah dan beralih memeluk tubuh Rea, membuatnya melotot dan tubuhnya tegang.
"Kalau gini, adil, kan? Gue peluk lo, lo peluk gue. Sekarang, kita tidur!"
.
.
.
To be continue ...