NovelToon NovelToon
Melarikan Diri dari Sang Mafia

Melarikan Diri dari Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Hamil di luar nikah / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Meche

Di siang hari, Arkana Baswara adalah pengusaha paling terhormat di kota, sosok tampan berkuasa yang diperebutkan setiap wanita. Namun ketika malam turun, ia berubah menjadi Sang Iblis: penguasa dunia hitam yang paling ditakuti, seorang pria yang tak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh hatinya.

Salsabila hanyalah gadis penjual bunga miskin dengan satu mimpi sederhana: menjadi dokter dan mengangkat keluarganya dari kesulitan. Sampai satu malam kelam mengubah seluruh hidupnya, dan meninggalkan sebuah rahasia yang harus ia jaga dengan nyawanya.

Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini sang mafia menemukan apa yang selama ini disembunyikan darinya, dan ia tak akan melepaskannya begitu saja. "Kau dan dia adalah milikku," katanya. Tapi Salsabila punya satu tekad: melarikan diri, sejauh apa pun, berapa kali pun.

Namun bagaimana caranya kabur dari seorang pria yang menguasai seluruh kota? Bagaimana caranya membenci pria yang perlahan meruntuhkan setiap tembok di hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 — Bunga

Seperti hari-hari biasa dalam keseharian Salsabila, ia bersiap keluar untuk menjual bunga. Hari itu ia pergi sendiri karena sahabatnya sedang ada urusan lain.

Sebelum berangkat, ia berdandan seadanya dan senyaman mungkin, sebab ia akan berdiri berjam-jam di bawah terik matahari di pinggir jalan kota besar.

Ia mengenakan celana jin dan sepatu olahraga, memakai jaket berkerudung, menguncir rambut, lalu menutupinya dengan topi.

Ia menuju jalanan yang ramai untuk mencari tempat favoritnya berjualan. Namun setibanya di sana, ia dapati sudah terlalu banyak pedagang, dan dengan begitu ia tak akan cukup laku. Maka ia memutuskan berjalan mencari lokasi yang lebih baik, ia tak bisa mengambil risiko kehilangan dagangan; bunga cepat layu, dan rumahnya bisa kehilangan penghasilan hariannya.

Ia terus berjalan sampai memutuskan mangkal di depan sebuah hotel besar di kota. Meski tak lama ia pasti diusir dari situ, ia tetap nekat mencoba. Pria-pria yang datang ke tempat semacam itu berkantong tebal dan datang dengan pasangan; ia yakin mereka akan membeli lebih dari satu tangkai mawar.

Begitulah ia berdiri di luar sampai malam menjelang. Karena dagangannya laris, ia rela menahan sedikit lebih lama udara dingin malam demi menjual buket bunga terakhirnya.

...Baswara Group...

"Hei, temani aku, ya. Sebentar saja, kok. Lagi pula, aku sudah menyiapkan teman kencan yang cantik untukmu," ujar Rendra.

"Aku tidak suka perempuan tipe begitu," balas Arkana Baswara. "Biasanya mereka cuma matre dan tak tahan lama karena semua operasi plastik itu. Biar aku cari sendiri temanku."

"Ya sudah, kau cukup datang bersamaku ke sana. Setelah itu pura-pura ada telepon, lalu kabur. Galih pasti bisa bantu."

"Kau bisa dapat perempuan mana pun. Aku tak mengerti kenapa sekarang kau begitu tergila-gila pada gadis itu."

"Temani aku saja. Aku sudah janji pada temannya untuk mengenalkan mereka, dan Nadine sudah menunggu di sana."

"Baiklah, ayo," Arkana menghela napas. "Tapi kau tahu apa yang akan kulakukan pada perempuan itu kalau sampai dia menyentuhku."

"Tenang, dia tidak akan berani."

"Demi keselamatannya, semoga saja begitu."

Kedua sahabat itu pun berangkat ke Hotel Tiara, tempat dua model cantik menanti kedatangan teman kencan malam mereka.

Di luar gedung, si penjual mawar masih berdiri, ditusuk dingin yang merambat sampai ke tulang dan menampar pipinya hingga makin memerah. Kulitnya yang putih saat itu tampak nyaris tembus pandang.

Kedua pria turun dari mobil, membuat kesan megah dengan ketampanan dan perawakan mereka. Setelan hitam mereka sempurna untuk tempat itu, dan aroma parfum mahal yang dikenakan Arkana seketika menguasai seisi ruang.

Arkana melirik si penjual kaki lima dengan tatapan penuh hina. Baginya perempuan itu biasa saja dan tak berkelas; penampilannya sama sekali tak membantu. Sungguh disayangkan melihat seorang gadis muda menyia-nyiakan hidupnya di tempat seperti itu.

Namun Salsabila tak menunduk. Ia terus menawarkan bunganya.

"Kawan, tunggu," kata Rendra. "Aku harus membawakan bunga untuk gadisku. Kau tidak beli untuk kencanmu?"

Arkana berjalan terus tanpa menoleh, tak peduli apa pun yang terjadi di sekitarnya.

"Tuan, mau berapa tangkai?" tanya Salsabila.

"Aku mau satu buket mawar yang bagus. Tolong dibungkus rapi, ya."

Salsabila merangkai seikat besar mawar dan menyerahkannya kepada pemuda itu. Rendra mengeluarkan selembar uang untuk membayar, lalu berbalik dan masuk ke dalam gedung, meninggalkan Salsabila kebingungan.

Jendela-jendela hotel itu terbuat dari kaca bening; pantulannya memesona, dan dari luar orang bisa melihat para tamu di dalam.

Ketika menyadari Rendra membayar dengan uang Rp1.000.000 untuk bunga seharga tak seberapa, Salsabila girang. Tapi ia tahu tak pantas menerima kembalian sebanyak itu, maka ia meminta izin pada penjaga pintu untuk masuk mengembalikan sisa uangnya.

Baru kemudian ia sadar tak punya cukup uang kembalian. Meski begitu ia tetap masuk, ia lebih rela merelakan buketnya cuma-cuma daripada menerima uang sebanyak itu.

Ia tiba di meja tempat para model duduk dengan gaun ketat membalut tubuh yang terbentuk sempurna, dan para pria di sana memancarkan aura bagai dewa.

Ia menarik napas, lalu mendekat.

"Selamat malam, Tuan. Maaf, sepertinya Anda keliru. Saya membawakan kembalian uang Anda."

"Simpan saja sebagai tip atas pelayananmu yang baik," ujar Rendra.

Salsabila mengernyit, mencerna baik-baik kata-kata pria itu. "Tip atas pelayanan yang baik", kalimat itu terdengar seolah ia sedang dibayar untuk seks, dan bagi Salsabila itu sungguh menghina.

Salsabila mengeluarkan uang Rp1.000.000 tadi dan meletakkannya di atas meja, lalu berbalik hendak pergi. Namun sebuah tangan besar mencengkeram lengannya dan memutar tubuh mungilnya dengan kasar.

"Temanku sudah membayar sesuai yang menurutnya pantas untuk kerjamu," ucap Arkana. "Ambil uang itu, baru kau boleh pergi. Kalau tidak, kau tidak akan keluar dari sini."

Salsabila meringis oleh cengkeraman keras pria itu, tapi tetap tak menunduk. Ia gadis yang terbiasa berhadapan dengan pria-pria semacam ini di jalanan. Boleh jadi ia miskin dan pekerja keras, tapi ia tak pernah diam dan tak sudi diintimidasi.

"Tuan, teman Anda datang kepada saya untuk membeli bunga bagi pasangannya. Saya bukan pengemis. Saya minta Anda melepaskan saya, sebab ini menyakitkan."

Arkana baru menyadari betapa keras ia mencengkeram lengan gadis itu, maka ia melepaskannya. Ia menyadari betapa kurus tubuh perempuan itu.

Begitu cengkeraman mengendur, Salsabila memanfaatkan kesempatan untuk keluar dari sana, meninggalkan para pria di belakangnya.

Arkana merasa tak nyaman oleh cara gadis itu menatap dan menghadapinya.

Rendra kembali larut bersama teman kencannya, sementara Arkana justru risi pada perempuan di sisinya, terlalu genit dan jelas-jelas seluruhnya buatan plastik. Ia merasa inilah saatnya pamit.

"Maaf, aku harus pergi," kata Arkana.

"Tunggu sebentar," sela Nadine. "Temanku belum sempat mengenalmu dengan baik."

"Aku tak ingin mengenalnya."

"Baiklah, kami tak akan memaksa. Setidaknya minum satu gelas lagi, ya?"

Arkana mengangguk. Ia tak mau membuat sahabatnya malu, tapi ini akan jadi terakhir kalinya ia mau dikelabui. Ini malam paling menyebalkan yang pernah ia alami.

Nadine memberi isyarat pada pelayan, yang seketika datang membawa nampan, menuang minuman ke gelas-gelas di meja, lalu mundur.

Keempatnya bersulang. Arkana pun bersiap pamit dan pergi, tapi saat melewati sebuah lorong, seorang pelayan menumpahkan minuman ke tubuhnya. Dengan hasrat membunuh pelayan itu membara di dadanya, ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Galih, yang selalu bagai bayangannya, sudah mengamati segala yang terjadi di sekelilingnya.

Ia tiba lebih dulu daripada kedua pria itu, dan sempat memperhatikan bagaimana para wanita bergaul akrab dengan si pelayan, melihat momen ketika minuman itu diberi campuran, dan saat pelayan menumpahkannya ke tubuh Arkana.

Galih masuk ke kamar mandi menyusul bosnya. Di sana Arkana sedang melepas jasnya karena seluruh tubuhnya terasa membakar.

"Tuan, Anda dibius," lapor Galih. "Sepertinya mereka mencampurkan afrodisiak."

"Bawa aku keluar dari sini."

Galih memapah bosnya dan membawanya ke sebuah kamar yang selalu disewa Arkana. Ia membaringkannya di sana, lalu pergi menjemput sang model dan memasukkannya ke kamar, itulah rencana para wanita itu, tapi mereka tak memperhitungkan akan berhadapan dengan sang iblis.

"Tuan, saya sudah membawakan Nona untuk membantu Anda," ujar Galih.

Arkana mendekat bagai singa mengintai mangsa di atas tubuh model itu, tapi ada sesuatu darinya yang membuatnya jijik.

"Bawa dia keluar," perintah Arkana. "Cari yang lain, yang tidak sebobrok ini. Cepat."

Galih menyeret sang model keluar kamar dan berlari mencari perempuan yang layak untuk bosnya, sampai ia teringat si penjual bunga. Kalau gadis itu masih di sana, ia bisa menolong.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!