Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.
Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.
Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.
Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.
Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.
Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7. Terlambat
Suatu malam…
Setelah melaksanakan salat Isya, Kinanti menyempatkan diri membaca beberapa ayat Al-Qur'an. Rutinitas sederhana itu selalu ia lakukan di sela-sela kesibukannya mengurus rumah, suami, dan kedua anak kembarnya.
Malam itu suasana rumah terasa cukup tenang.
Sementara Kinanti larut dalam bacaannya, Yudha baru saja pulang dari kantor. Beberapa hari belakangan ini, pekerjaannya memang sedang menumpuk.
Berbagai urusan kantor membuatnya terpaksa lembur hingga larut malam walaupun kondisi fisiknya belum terlalu memungkinkan.
Begitu memasuki rumah, Yudha menghembuskan napasnya panjang.
“Lumayan capek,” gerutunya sambil melepas sepatu kerja.
Ia merapikan sepatunya terlebih dahulu, kemudian berjalan menuju kamar. Begitu pintu kamar dibuka, pandangannya langsung menyapu seluruh ruangan, seolah sedang mencari seseorang.
Namun, kamar itu tampak sepi.
“Kinan ke mana, kok, nggak ada?” gumamnya kepada diri sendiri.
Yudha melangkah beberapa meter ke dalam kamar. Matanya masih mencari-cari keberadaan istrinya.
Hingga akhirnya, telinganya menangkap suara merdu yang tengah melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Yudha menghentikan langkah.
Pandangannya kemudian tertuju ke sudut kamar, tepatnya ke sebuah mushola mini yang sengaja dibuat di pojok ruangan.
Di sana, Kinanti duduk dengan tenang mengenakan mukena berwarna merah muda. Wajahnya terlihat teduh. Tidak ada ketegangan, tidak ada kecemasan, dan tidak ada gurat kesedihan yang biasanya menghiasi wajahnya ketika berhadapan dengan Yudha.
Perempuan itu tampak begitu damai.
Yudha terpaku cukup lama. Entah mengapa, hanya dengan melihat istrinya seperti itu, hatinya kembali dipenuhi rasa hangat yang sulit dijelaskan.
Ada perasaan aneh yang perlahan memenuhi dadanya. Perasaan yang membuatnya ingin terus memandangi perempuan itu tanpa berkedip.
“Ya Allah... kenapa istriku semakin cantik?” gumam Yudha lirih.
Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari Kinanti.
“Kenapa aku semakin mencintaimu setiap detik, setiap saat? Rasanya cinta ini justru semakin besar untukmu.”
Tanpa sadar, langkah kakinya membawa Yudha mendekati istrinya. Ia berhenti beberapa langkah di belakang Kinanti.
Sebenarnya, Yudha ingin menyapa. Namun, melihat Kinanti yang sedang khusyuk membaca Al-Qur'an, ia mengurungkan niatnya.
“Maaf...” cicitnya pelan.
Tidak ada jawaban. Kinanti masih melanjutkan bacaannya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa suaminya sudah berdiri tidak jauh di belakangnya.
Beberapa menit berlalu, Yudha tetap berdiri di sana. Ia sama sekali tidak merasa bosan. Justru semakin lama memperhatikan Kinanti, semakin sulit baginya mengalihkan pandangan.
Ada ketenangan yang ia rasakan hanya dengan berada di dekat perempuan itu.
“Kinanti...” batinnya.
“Aku mohon, jangan pernah berhenti untuk mencintaiku. Walaupun suatu saat nanti ingatanku sudah kembali.”
Yudha menundukkan kepala. Ada ketakutan yang diam-diam bersarang di dalam hatinya.
Ia takut jika ingatannya kembali, dirinya akan berubah lagi. Ia takut kehilangan perasaan yang sekarang begitu kuat terhadap Kinanti.
Andai saja ponselnya tidak tiba-tiba berdering, mungkin Kinanti tidak akan pernah menyadari kehadirannya.
Suara dering itu memecah keheningan.
Kinanti menghentikan bacaannya. Ia kemudian menoleh ke arah kanan. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati Yudha sudah berdiri di sana.
“Mas Yudha sudah pulang?” sapanya sekadar berbasa-basi.
Tidak terlihat senyuman di wajahnya.
Yudha tersenyum simpul.
Namun, Kinanti hanya membalasnya dengan tatapan biasa.
Tidak ada senyum lebar seperti dulu. Tidak ada pula ucapan manis yang dahulu hampir selalu keluar dari bibirnya setiap kali menyambut kepulangan sang suami. Nada bicaranya pun terdengar datar.
Dingin. Perubahan kecil itu sebenarnya tidak luput dari perhatian Yudha.
“Ya Allah...” batinnya.
“Kenapa hatiku sakit melihat Kinanti tersenyum hambar padaku? Seolah-olah dia terpaksa menyapaku.”
Yudha masih menatap istrinya.
Dahulu, setiap kali dirinya pulang, Kinanti selalu menjadi orang pertama yang menyambutnya.
Perempuan itu akan tersenyum, mengambil tas kerjanya, bahkan bertanya apakah dirinya sudah makan.
Kinanti selalu berusaha membuat Yudha merasa nyaman setelah seharian bekerja.
Namun, yang sering diterima Kinanti justru perlakuan kasar.
Bahkan ketika perempuan itu hanya berniat menunjukkan perhatian, Yudha tidak jarang membalasnya dengan ucapan yang menyakitkan.
Ingatan Kinanti pun kembali pada salah satu kejadian beberapa bulan lalu. Saat itu, Yudha baru saja pulang dari kantor.
Kinanti menghampirinya dengan senyum kecil.
“Mas sudah makan? Kalau belum, aku siapin, ya.”
Bukannya menjawab dengan baik, Yudha justru menatapnya dengan wajah jengkel.
“Nggak usah repot-repot buang-buang waktumu untuk menyiapkan makanan untukku!” bentaknya.
Kinanti yang semula tersenyum langsung terdiam. Yudha melepaskan tas kerjanya, lalu melemparkannya dengan kasar ke atas ranjang.
“Aku nggak sudi makan makanan kampung!”
Kinanti menundukkan kepala.
Namun, Yudha belum selesai.
“Apalagi harus makan hasil masakanmu!” hardiknya dengan wajah penuh penghinaan.
“Jijik aku!” hinanya Yudha lagi.
Ucapan itu terasa seperti tamparan keras bagi Kinanti. Bukan hanya sekali dan itu terjadi berkali-kali ia mendengar kata-kata kasar seperti itu dari suaminya selama bertahun-tahun.
Kadang hanya karena makanan yang menurut Yudha tidak sesuai selera. Kadang karena pakaian yang dipilih Kinanti dianggap tidak pantas. Bahkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan pun bisa berubah menjadi pertengkaran hanya karena emosi Yudha yang meledak-ledak.
Kinanti menghela napas panjang ketika kenangan itu kembali memenuhi pikirannya. Dulu, ia selalu berusaha memahami Yudha.
Ia selalu mencari alasan untuk memaklumi kemarahan suaminya. Namun, semakin lama, hatinya semakin lelah.
Kini, Kinanti seperti sengaja menjaga jarak. Bukan karena ia sudah tidak peduli.
Justru karena ia masih terlalu takut.
Takut jika Yudha kembali menjadi laki-laki yang dahulu.
Laki-laki yang mudah marah, mudah membentak, dan tidak segan menyakiti hatinya hanya karena tidak menyukai ucapan atau sikap Kinanti.
Kinanti kemudian meraih punggung tangan Yudha dan mengecupnya sekilas.
Setelah itu, ia segera mengambil tas kerja suaminya dan membantu melepaskan dasinya.
Bagaimanapun juga, bagi Kinanti, Yudha masih suaminya. Ia tetap harus melaksanakan tanggung jawab dan kewajibannya sebagai seorang istri.
Setidaknya sampai waktunya tiba untuk benar-benar mengakhiri pernikahan mereka.
“Mas, ganti baju dulu. Aku sudah siapkan pakaian gantinya,” ujar Kinanti datar.
Ia kemudian mengambil pakaian bersih dan meletakkannya di tempat yang mudah dijangkau Yudha.
Kinanti tahu betul kebiasaan suaminya.
Setiap pulang dari kantor, Yudha selalu mandi sebelum makan atau beristirahat.
Begitulah kebiasaan Kinanti selama delapan tahun terakhir. Dia hafal hampir semua kebiasaan suaminya.
Namun, bagi Yudha, malam ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang berubah.
Sikap Kinanti memang masih patuh. Ia masih menyiapkan pakaian, mengambil tas, bahkan menyiapkan makanan.
Namun, semuanya dilakukan tanpa kehangatan.
Tidak banyak bicara dan tidak ada cerita tentang kegiatan hari ini. Bahkan tidak ada senyum yang biasanya membuat kepulangan Yudha terasa berbeda.
Kinanti seperti sedang menjalankan kewajibannya semata.
Yudha memperhatikan istrinya dengan saksama. “Kinanti...” panggilnya.
Kinanti reflek menoleh.
“Iya, Mas?”
“Kamu kenapa?” tanya Yudha. Dahinya berkerut.
Kinanti menggeleng pelan. Ia berusaha menyembunyikan kegelisahan yang sejak tadi memenuhi dadanya.
“Nggak kenapa-kenapa kok, Mas,” jawabnya singkat.
Jawaban itu terdengar sederhana.
Namun, entah mengapa justru membuat Yudha semakin penasaran. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Kinanti.
Sementara itu, jauh di dalam hati Kinanti, rasa takut masih membelenggunya.
Ia belum benar-benar sembuh dari semua perlakuan buruk yang pernah diterimanya.
Setiap kali Yudha meninggikan suara, tubuhnya masih refleks menegang.
Setiap kali melihat wajah Yudha berubah serius, jantungnya masih berdebar karena teringat bagaimana laki-laki itu dahulu bisa berubah menjadi sosok yang begitu menakutkan hanya dalam hitungan detik.
Kinanti selalu waspada. Ia takut suatu hari ingatan Yudha kembali pulih. Takut ketika laki-laki itu kembali mengingat semuanya, termasuk bagaimana hubungan mereka dahulu. Takut Yudha kembali menjadi suami yang sama seperti sebelum kecelakaan.
Suami yang bisa membentaknya hanya karena hal sepele. Suami yang bisa merendahkan masakannya. Suami yang pernah mengatakan makanan buatannya menjijikkan.
Suami yang pernah membuatnya merasa tidak berharga hanya karena ia tidak mampu memenuhi standar yang diinginkannya.
Dan yang paling Kinanti takutkan adalah jika semua kelembutan Yudha saat ini ternyata hanya sementara.
“Mas sudah makan malam belum? Kalau belum, aku siapkan, ya,” ujar Kinanti, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Yudha tersenyum.
“Aku mandi dulu. Kamu tunggu aku di dapur.”
“Iya, Mas.” jawabnya.
Yudha kemudian masuk ke kamar mandi.
Begitu pintu kamar mandi tertutup rapat, Kinanti tidak langsung menuju dapur.
Ia berdiri beberapa saat. Memastikan bahwa Yudha benar-benar tidak melihatnya.
Kemudian ia berjalan mendekati sebuah meja di sudut kamar. Kinanti membuka lacinya. Tangannya sedikit gemetar ketika mengambil sebuah map.
Map itu berisi berkas surat perceraian yang sudah dipersiapkannya beberapa hari lalu.
Kinanti menatap map tersebut cukup lama.
Dadanya terasa sesak. Ia tahu keputusan ini bukan sesuatu yang mudah. Bahkan hanya dengan memandangi berkas tersebut, hatinya sudah terasa seperti diremas.
“Mas Yudha...” gumamnya lirih.
Air matanya mulai menggenang.
“Mungkin berpisah darimu adalah jalan yang terbaik.
Kinanti menarik napas panjang.
“Aku nggak ikhlaskan hak asuh si kembar, Naufal dan Naura, sama Mas.”
Bulir bening akhirnya jatuh membasahi pipinya. Kinanti segera mengusapnya.
Keputusan itu bukan keputusan yang lahir dalam satu malam.
Beberapa bulan lalu, ayahnya, Pak Danu, telah meninggal dunia. Sementara kedua adik kembarnya, Kanaya dan Khalid, kini sudah menyelesaikan kuliah dan mendapatkan pekerjaan.
Semua alasan yang dahulu membuat Kinanti bertahan dalam pernikahannya perlahan sudah tidak ada lagi.
Sejak awal, Kinanti menerima permintaan untuk menggantikan posisi kakaknya, Kinasih, menikah dengan Yudha Manggala demi kesehatan ayahnya serta masa depan kedua adiknya.
Ia rela mengorbankan perasaannya sendiri. a rela melepaskan impiannya.
Ia rela menjalani pernikahan yang sejak awal tidak dibangun atas dasar cinta.
Namun, sekarang semuanya telah berubah. Kinanti memang sangat mencintai suaminya.
Bahkan setelah delapan tahun lebih hidup bersama, perasaan itu tidak pernah benar-benar hilang.
Hanya saja, Kinanti merasa cinta Yudha kepadanya saat ini mungkin bukan cinta yang sesungguhnya.
Yudha sedang mengalami amnesia.
Dan selama ingatannya belum kembali, laki-laki itu seolah menjadi sosok yang berbeda. Lebih lembut dan perhatian dan tentunya lebih menghargai dirinya.
Namun, Kinanti tidak tahu apa yang akan terjadi ketika semua ingatan itu kembali.
Dalam keadaan normal, mungkin hati Yudha tetap menjadi milik Kinasih.
“Hanya Mbak Kinasih yang selalu ada di dalam hati Mas Yudha,” cicit Kinanti.
Ia menundukkan kepala.
“Aku sampai kapan pun nggak akan pernah bisa menggantikannya.”
Air matanya kembali jatuh.
“Aku nggak mau lagi memaksa dan menuntut Mas Yudha untuk mencintaiku. Kalau memang hati Mas masih untuk Mbak Kinasih, aku harus belajar menerima.”
Tangisnya semakin pecah.
Kinanti menutup mulutnya dengan tangan agar isak tangisnya tidak terdengar sampai ke kamar mandi.
“Maafkan aku, ya Allah, jika aku harus memilih untuk bercerai.”
Ia mengusap pipinya berkali-kali.
“Aku benar-benar sudah nggak sanggup lagi.”