Xiao Yu dipaksa ikut pemilihan selir oleh orangtuanya demi mengangkat derajat keluarga. Padahal gadis ini ingin masuk militer.
Akhirnya ia ikut pemilihan selir dengan berpura-pura bodoh. Tapi sungguh suatu hal ajaib. Dia justru terpilih.
Ternyata pangeran Zhang Li sengaja memilih selir bodoh untuk protes pada raja bahwa ia lelah terus disuruh mencari seorang pendamping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7
Brak!
Pintu bergeser tergesa-gesa.
"Nona! Yang Mulia Pangeran baru saja keluar dari Paviliun Anggrek!" lapor pelayan itu, napasnya masih memburu.
Selir Huo Yan yang sedang berdiri di depan cermin rias memutar tubuhnya dengan wajah memerah menahan kecemburuan. Jemarinya mencengkeram tepi meja hingga kain sutra gaun mewahnya teremas kusut.
"Pangeran benar-benar menghabiskan malam di kamar gadis desa itu?!" desis Selir Huo Yan dengan suara getar. "Sejak kita bertiga tiba di sini, Beliau bahkan tidak pernah melangkah tiga tindak pun ke pelataran ini! Kenapa justru gadis bodoh itu yang-"
"T-tunggu sebentar, Nona!" potong pelayannya cepat seraya mengangkat kedua tangan menenangkan. "Pangeran berada di dalam tidak sampai hitungan sepuluh napas! Beliau bahkan tidak menyempatkan diri melepas jubah luar atau menyuruh pelayan menyiapkannya minum. Beliau keluar begitu saja dengan wajah sangat dingin!"
Selir Huo Yan tertegun. Genggaman tangannya di meja rias perlahan melonggar. Kerutan cemburu di dahinya mendadak sirna, berganti dengan senyum sinis yang perlahan mengembang lebar di bibirnya.
"Hanya sebentar?" Selir Huo Yan terkekeh pelan-sebuah kekehan puas yang meledek. "Astaga, aku hampir saja cemas. Pangeran pasti ke sana hanya untuk menegur tingkah konyolnya saat ujian kemarin! Gadis bodoh itu mungkin mengira dikunjungi Pangeran adalah berkah. Padahal Beliau hanya datang untuk membuang peringatan dingin lalu pergi karena jijik."
Di Paviliun Selatan, gejolak kecemburuan Selir Kui pun padam berganti kekehan mengejek.
Selir Kui berdiri menyamping di balik jendela berukir yang sedikit terbuka. Kipas bulu merak di tangannya yang tadinya diremas kuat karena marah kini kembali dikibaskan dengan anggun dan santai. Di belakangnya, pelayan pribadinya berbisik melapor.
"Nona, sepertinya kita salah sangka," ujar pelayan itu dengan nada lega seraya tersenyum culas. "Pangeran keluar dari bangunan barat secepat angin. Bahkan cangkir teh di meja Paviliun Anggrek mungkin belum sempat diseduh."
Sret!
Selir Kui mengibaskan kipasnya lebih pelan, memancarkan raut penuh kemenangan seraya melangkah menuju meja tehnya.
"Gadis desa yang menyedihkan," cetus Selir Kui dingin. "Dia pasti sempat berdandan dan berharap Pangeran akan menyentuhnya malam ini. Tapi Pangeran justru langsung berbalik pergi hanya dalam hitungan detik. Betapa memalukannya."
Selir Kui memotong batang bunga mawar di dalam vas dengan gunting kecil. Cklek.
"Lihat saja besok pagi," lanjut Selir Kui seraya menatap kelopak bunga yang jatuh berserakan ke lantai. "Aku ingin melihat bagaimana wajahnya di pelataran saat semua orang tahu Pangeran mencampakkannya dalam hitungan menit."
Namun, di Paviliun Utara tempat Selir Lin tinggal, reaksinya tetap lembut dan tenang.
Di dalam kamar berdekorasi sederhana, Selir Lin duduk menghentikan rajutannya saat pelayannya masuk berjingkat seraya berbisik, "Nona... Pangeran memang mendatangi Nona Xiao, tetapi Beliau langsung keluar lagi. Tidak sampai beberapa saat Pangeran berada di dalam."
Selir Lin mengangguk pelan. Binar matanya yang bening tidak memancarkan niat mengejek atau merendahkan seperti dua selir senior lainnya. Ia hanya menarik napas panjang seraya mengulas senyum tipis yang tulus.
"Syukurlah..." bisik Selir Lin pelan.
Pelayannya mengerutkan dahi bingung. "Nona bersyukur karena Pangeran tidak jadi menginap di sana?"
"Aku bersyukur karena Nona Xiao tidak kesulitan malam ini," sahut Selir Lin lembut.
Hatinya memang tidak pernah menginginkan perhatian dari Pangeran Zhang Li. Kedudukannya di kediaman ini hanyalah beban formalitas keluarga yang tak bisa ia elakkan.
Tatapan Selir Lin mengawang jauh ke luar jendela, memikirkan sebuah rahasia kecil yang tersimpan rapat di dalam dadanya. Sebuah alasan tersendiri yang membuatnya justru merasa lega setiap kali diabaikan oleh sang Pangeran.
Mengetahui Pangeran hanya berkunjung sebentar dan dua selir senior sibuk menertawakan Xiao Yu, Selir Lin merasa posisinya akan tetap aman dan tenang di sudut kediaman yang terlupakan ini.
"Biarkan mereka mengira Nona Xiao malang," gumam Selir Lin tulus seraya melanjutkan rajutannya. "Setidaknya pelataran ini tidak akan meledak malam ini."
*
*
*
Kembali ke dalam Paviliun Anggrek.
Xiao Yu perlahan menegakkan tubuhnya kembali. Raut lugu di wajahnya sirna tanpa bekas, berganti dengan senyum tipis penuh kemenangan.
"Banyak diam?" gumam Xiao Yu pelan seraya merenggangkan jemarinya. "Justru itu yang terbaik."
Pintu kayu berderit pelan tak lama setelah gema langkah Zhang Li menghilang di kejauhan. Bao'er menyelinap masuk dengan tergesa-gesa, lalu mengunci pintu dari dalam.
Wajahnya pucat pasi, matanya menyapu sekeliling kamar dengan cemas seolah-olah Pangeran masih tertinggal di salah satu sudut ruangan.
"Yu'er!" bisik Bao'er setengah menjerit seraya berlari kecil menghampiri sahabatnya. "Dia... dia tidak melakukan apa-apa padamu, kan?! Sungguh, tatapan mata Pangeran tadi seperti ingin menguliti orang hidup-hidup!"
Xiao Yu terkekeh pelan, ketegangan aktingnya menguap sepenuhnya. Ia melangkah santai menuju ranjang kayu dan kembali duduk bersila dengan santai.
"Tenanglah, Bao'er," jawab Xiao Yu seraya merenggangkan lehernya yang kaku. "Dia hanya datang untuk memberi peringatan. Singkatnya, aku disuruh banyak diam dan jangan bertingkah konyol."
Bao'er menarik napas lega seraya menepuk dadanya sendiri, lalu menghempaskan diri di tepi ranjang. "Seperti tidak menganggap kita ada ya?"
"Justru itu kabar terbaik untuk kita," sahut Xiao Yu dengan senyum penuh arti. "Bagi Pangeran, aku hanyalah selir tidak berguna yang aman untuk diabaikan. Dan bagi para selir senior, aku bukan ancaman yang perlu diwaspadai."
Xiao Yu menatap langit-langit kamar Paviliun Anggrek dengan mata berkilat penuh tekad.
"Semua orang meremehkan kita di sini. Itu artinya... kita punya banyak ruang gerak untuk mulai berlatih secara rahasia lusa nanti." Senyumnya mengembang. Dia senang.
*
*
*
Tepat di tengah pelataran yang dikelilingi oleh empat paviliun yang berdiri di sekitarnya. Terdapat sebuah area makan terbuka berupa meja batu bundar yang dikelilingi empat kursi batu berukir. Tempat ini dirancang agar para selir dapat menyantap hidangan pagi bersama di bawah naungan pohon kanopi yang rindang.
Pintu kayu Paviliun Timur berderit terbuka pertama kali. Selir Huo Yan melangkah keluar dengan gaun sutra merah marun berlapis sulaman benang emas yang amat mewah. Di sampingnya, A-Lan berjalan patuh seraya membawa kipas gading.
Tak lama kemudian, pintu Paviliun Selatan turut bergeser. Selir Kui keluar memakai gaun hijau zamrud dengan selendang melayang anggun. Kipas bulu meraknya terkibas perlahan di depan dada. A-Mei mengekor rapat di belakangnya, membawa nampan berisi buah-buahan segar.
"Selamat pagi, Selir Huo," sapa Selir Kui hormat
Selir Huo menoleh sedikit. "Selamat pagi, Selir Kui," sahut Selir Huo.
Kedua selir senior itu langsung melangkah menuju meja batu terbuka di tengah halaman, diikuti Selir Lin dari Paviliun Utara bersama A-Cui yang membawa wadah teh herbal.