Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.
Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.
Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.
Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.
Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Istri Tuan Lee
Di dalam rumah, Louis melihat sang ayah keluar dari dalam kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Terlihat, bahwa pria itu akan pergi ke kantor.
Louis terkejut sesaat ayahnya memerhatikan dirinya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia segera menegakkan punggungnya agar tidak terlihat menyedihkan.
Dengan sedikit gugup ia bertanya, "Ay-ayah! Baru mau berangkat ke kantor?"
"Iya!" jawabnya dengan mengerutkan kening. "Louis! Apa yang terjadi? Selama kau tidak pulang, ya?"
Ia pikir, Louis ada di kamarnya. Ternyata ... pulang pagi dengan keadaan berantakan.
"Apa kau mabuk?" tanyanya lagi dengan sedikit menaikkan nada suaranya.
"Ti-tidak, Yah! Aku tidak mabuk!" jawabnya segera. "Semalam aku tidur di rumah teman. Tidak ada baju ganti, jadinaku pakai baju ini lagi. Haha!" Ia tertawa bodoh di akhir ucapannya. Merasa konyol dengan tingkah lakunya sendiri.
"Oh!" Tuan Lee percaya dengan ucapannya.
"Ayo, kita sarapan dulu!" Ia menarik tangan putranya sambil berjalan ke depan. Berniat pergi ke bawah untuk makan bersama di meja makan.
"Hah?" Louis terkejut, ayahnya tidak berniat pergi ke kantor sekarang. "Apa tidak sebaiknya Ayah sarapan di kantor saja? Aku khawatir, Ayah terlambat. Bukankah pagi ini ada rapat penting?"
Tuan Lee menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh untuk menatap Louis.
" Sekarang sudah jam berapa? Baru juga jam tujuh pagi. Sama sekali belum terlambat!"
Tuan Lee diam sejenak, menatap putranya yang semakin bertingkah aneh.
"Siapa yang ada rapat? Di kantor? Tidak!"
"Itu ... maksudku ...." Louis bingung harus menjawab apa. Tadi, dirinya hanya asal berkata saja.
Ide pun tiba-tiba datang. Ia menjawab dengan lantang, "Hari ini, Ayah harus adakan rapat dadakan di kantor, untuk membahas tentang jabatan baru untukku!"
"Sekarang, aku akan pergi ke kantor bersama Ayah!" tambahnya lagi, membuat Tuan Lee cukup terkejut.
"Kau ... mau bekerja di kantor ... sekarang?"
Bukankah dari dulu, putra kesayangannya ini sangat pemalas, sama sekali tidak ingin bekerja di kantor.
"Kenapa sekarang bersedia?" tanya Tuan Lee, masih tidak percaya.
"Ya ... itu karena .... Karena aku sudah tidak muda lagi! Sebentar lagi usiaku menginjak tiga puluh tahun. Kalau tidak bekerja di kantor, mau jadi apa nanti?" jawab Louis dengan serius.
Walau ide itu datang secara mendadak, tapi dipikir lagi, dirinya memang harus mulai terjun ke perusahaan. Apalagi tadi malam, Karissa sempat mengejeknya di sela aktivitas mereka. Mengatakan kalau Louis pria pemalas.
Berbeda dengan Tuan Lee, dia adalah pria mandiri, mempunyai segala sesuatunya dari uang dia sendiri. Dan Louis ... uang pun pemberian dari ayahnya.
Itulah alasan, mengapa sekarang ia bersedia untuk bekerja di kantor. Ingin menjadi pria kaya dengan uang dari hasil keringatnya sendiri. Bukan dari sumbangan orang tua.
"Jadi, sekarang, ayo kita pergi dan sarapan di kantor! Aku sudah tidak sabar ingin segera duduk di kursi wakil direktur!" ucap Louis sambil mendahului berjalan di depan, menarik tangan Tuan Lee seolah tidak sabar.
"Apa kau akan pergi ke kantor dengan penampilan seperti ini?" tunjuk Tuan Lee dengan jarinya. "Ayah malu memperkenalkanmu sebagai wakil direktur dengan pakaian dan rambut seperti itu!"
"Oh, baiklah ... tunggu sebentar!" Louis melepaskan tangan ayahnya. Berbalik badan dan masuk ke dalam kamar.
Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan rambut yang sudah disisir rapi, setelah jas sudah melekat di tubuhnya, dan sepatunya pun sudah mengilap.
"Apa seperti ini, cukup?" Ia merentangkan kedua tangan ke samping. Memperlihatkan penampilannya pada Tuan Lee.
"Bagus!" Tuan Lee mengacungkan jempol. "Apa kau belum mandi?"
"Haha!" tawa Louis. Ia menurunkan kedua tangannya. "Yang penting aku sudah wangi. Tidak perlu mandi!"
Tuan Lee membulatkan bola mata. Merasa kalau putranya ini sanga jorok.
"Ayo berangkat, sebelum aku berubah pikiran," ancam Louis.
"Baiklah!" Tuan Lee mengangguk.
Mereka berdua segera pergi ke kantor dengan menggunakan satu mobil, yaitu mobil milik Tuan Lee. Louis enggan membawa mobil miliknya sendiri dengan alasan "lelah". Padahal di dalam mobilnya masih ada seseorang.
***
Malam hari, Karissa tidak pergi ke rumah sakit karena kakaknya sudah kembali. Karina menjaga ibunya di rumah sakit, jadi Karissa bisa beristirahat dengan tenang di rumah.
Saat sedang nyaman berbaring di sofa—tempat biasa ia tidur—di kamar milik Tuan Lee, tiba-tiba ponselnya berdering.
Karissa melihat siapa yang menghubungi. Ternyata ....
"Tuan Lee!" Ia segera mengangkatnya.
"Halo!"
"Kariss ada di mana? Apa di rumah sakit?" tanya Tuan Lee. "Aku jemput sekarang, ya?"
"Bu-bukan! Aku ada di rumah, ada apa?" tanya Karissa, segera bangun dari tidurnya. Ia duduk lalu bersandar di sofa.
"Oh, di rumah! Apa kau sudah tidur?"
"Belum!"
"Syukurlah!" Tuan Lee merasa lega. "Bisakah menemaniku menghadiri acara jamuan makan malam bersama dengan rekan bisnisku?"
"Kapan? Sekarang?"
"Iya, sekarang! Apa bisa?"
"Baiklah! Aku bersiap dulu," ucap Karissa sambil bangkit berdiri. Ia berjalan menuju ruang ganti baju.
"Sebentar lagi kujemput, ya?"
"Oke!" jawab Karissa dengan singkat sambil membuka lemari untuk memilih pakaian. Lalu sambungan ditutup.
Ia segera memilih satu gaun malam tanpa lengan berwarna hitam dengan belahan punggung dan dada yang sangat rendah. Dipadupadankan dengan sepatu hak tinggi berwarna senada, membuat kaki putih dan jenjangnya terlihat sangat indah dan seksi.
Tid! Tid!
Terdengar suara bunyi klakson mobil dari halaman rumah. Karissa segera menyelesaikan riasan tipis di wajahnya, mengambil tas, lalu segera turun ke bawah.
Karissa berjalan keluar rumah dengan penampilan yang sudah sangat rapi. Rambut panjangnya dibiarkan terurai dengan tataan keriting di bagian bawah, membuatnya terlihat semakin cantik.
Tuan Lee keluar dari dalam mobil ketika melihat wanita itu berjalan ke arahnya. Ia membuka pintu bagian depan untuk Karissa.
"Terima kasih!" ucap Karissa sebelum masuk dan duduk di kursi samping pengemudi.
Sebelum bokongnya benar-benar menyentuh kursi mobil, ia terkejut dengan apa yang ia lihat di belakang.
Louis ... duduk di kursi baris kedua sambil menatap Karissa dengan tajam.
"Kau?" ucap Karissa pelan.
'Sedang apa di sini?'
Tidak lama, Tuan Lee pun masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Karissa.
Sebelum Tuan Lee benar-benar mengendarai mobilnya, terdengar Karissa bertanya,
"Sayang! Bukankah kita akan pergi berdua? Kenapa sekarang—" Ia menunjuk seseorang yang ada di kursi belakang.
"Oh, Louis? Dia ingin ikut ke acara jamuan makan malam. Padahal tadi sore, diajak pun dia tidak mau!" jawab Tuan Lee dengan sedikit senyum. Merasa lucu dengan tingkah putranya.
Dari belakang, Louis menatapnya semakin tajam. Itu membuat Karissa tidak berani berbicara apapun lagi pada Tuan Lee.
"Baiklah!"
Mobil pun segera melaju, berjalan dengan kecepatan sedang menuju hotel berbintang yang ada di pusat kota—tempat acara berlangsung.
Dua puluh lima menit kemudian, mobil sudah sampai di tempat parkir Ratu Hotel.
Tuan Lee segera mematikan mesin mobil, lalu membuka sabuk pengaman miliknya.
"Sudah sampai! Ayo kita turun!" ucapnya pada Karissa. Tangannya membantu wanita itu untuk membuka sabuk pengaman.
"Iya!" Karissa mengangguk. Matanya melirik sekilas ke kursi belakang.
Ia merasa canggung dengan kehadiran Louis di sana.
Tuan Lee keluar dari dalam mobil, berencana membuka pintu untuk Karissa.
"Jangan memanggil Ayah dengan sebutan 'Sayang' lagi! Aku tidak suka!" bisik Louis pada Karissa sebelum dia keluar dari dalam mobil.
Karissa terdiam sesaat. Lalu pria itu keluar lebih dulu dari dalam mobil.
"Ayo!" ajak Tuan Lee sambil membuka pintunya.
Ia mengulurkan tangan, membantu Karissa untuk berdiri.
"Terima kasih!"
Lalu mereka berjalan bersama menuju lobi hotel, diikuti Louis dari belakang dengan ekspresi yang sangat buruk.
"Aku kira, kita akan makan malam di mana! Ternyata, di Ratu Hotel milikmu!" ucap Karissa sambil menggandeng lengan Tuan Lee.
"Iya! Ada jamuan makan malam dengan rekan bisnisku. Sekalian, aku ingin mengenalkanmu pada mereka!"
Karissa mengangguk, senyum manisnya ia berikan pada pria itu.
Karena ia sadar, tujuan dari pernikahan ini yaitu sebagai istri Tuan Lee di depan semua orang.