NovelToon NovelToon
Bercerai Dari Suami Keji, Demi Calon Anakku.

Bercerai Dari Suami Keji, Demi Calon Anakku.

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Rumah Tangga
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Raisa Adiratna akhirnya menyerah akan pernikahannya, karena selalu mendapatkan KDRT dari sang suami---Dion Raharja. Dion seorang Pengacara kondang terkenal, di jodohkan atas desakan orangtuanya. Ada satu alasan kuat kenapa Dion membenci istrinya, sampai Dion mengancam jika sampai Raisa hamil maka tak segan Dion akan mengaborsi kandungan itu. Raisa yang mendengar itu ketakutan, wanita yang sudah menjadi yatim piatu itu terpaksa meminta cerai dari Dion karena dirinya hanya memiliki anak di kandungannya, tanpa di ketahui oleh Dion jika Raisa sedang hamil muda. Setelah bertahan di bawah hinaan Dion dan teman-temannya termasuk gundik suaminya---Chelsea. Chelsea seorang wanita yang bekerja sebagai LC di sebuah club. Setelah berhasil menceraikan Raisa, Pria itu menikahi gundiknya. Namun Karma dibayar konstan Dion mengalami kecelakaan yang membuatnya mandul hingga Chelsea meninggalkannya. Dion berusaha mencari mantan istrinya demi mendapatkan maaf, lalu apakah Dion sadar sudah punya anak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Hari ini Raisa memasuki kamar ibu mertuanya, untuk menengok sekaligus merawatnya. Namun, hal tak terduga terjadi. Raisa yang mengenakan kardigan rajut hitam longgar untuk menutupi kaos lilac motif abstraknya dan celana kulot warna biru tua.

"Mah..mama makan dulu ya," ucap Raisa membawakan bubur dan makanan untuk mertuanya.

Raisa segera menaruh nampan berisi bubur dan minum di atas nakas, lalu berusaha memanggil ibu mertuanya.

"Mah...," panggil Raisa dengan lirih, dan sangat tumben sekali sang ibu mertua tak menjawabnya.

Raisa memasuki kamar Nyonya Raharja untuk memberikannya sarapan, dan sangat histeris saat menemukan mertuanya dalam kondisi yang semakin parah.

"Astagfirullah Mama!!" jerit Raisa.

Terlihat napas wanita tua itu tersengal dan wajahnya sudah kaku.

"Mama! Mama kenapa?" panggil Raisa dengan panik.

Tangannya dengan gemetar segera merogoh saku celana kulot warna biru tuanya, demi mencari ponsel hanya untuk menghubungi Dion. Berkali-kali Raisa sudah menghubungi Dion, namun belum ada jawaban.

"Aduh, Mas Dion kenapa nggak angkat sih?" ucap Raisa sambil menggigit bibirnya.

Mencoba menghubungi sekali lagi, dan hasilnya tetap sama----Dion tak bisa di hubungi.

"Mas Dion kemana sih kamu? di saat genting begini!" Raisa menggigit bibirnya, air mata mulai mengalir di pipinya.

Berkali-kali di hubungi Dion, tak kunjung diangkat.

"Mungkin lagi sibuk di persidangan kali ya," pikirnya.

"Yaudah, aku kirim pesan singkat aja deh, semoga kamu baca, Mas."

Raisa segera berteriak memanggil para pelayan rumah dan supir pribadi, semua orang tentu langsung berkerumun.

"Nyonya ada apa?" tanya Bi Lis.

"Bi, tolong telepon ambulance? mama semakin parah!" teriak Raisa dengan nada panik.

"Siap Nya," patuhnya.

Supir pribadi tentu dengan sigap membantu membopong tubuh majikannya yang sedang sakit parah, stroke yang di deritanya semakin parah. Namun, Dion tak mengangkat panggilannya mungkin sedang sibuk. Tak lama kemudian, suara sirine ambulance memecah keheningan rumah mewah itu.

Segera Nyonya Raharja di masukan ke dalam ambulance, Raisa segera masuk ke dalamnya. Tak hentinya Raisa terus berdoa sambil menggenggam tangan mertuanya, di dalam ambulance yang melaju dengan kencang menuju rumah sakit.

"Mama...bertahan ya," ucap Raisa sambil menggenggam tangan mertuanya.

Di dalam ambulance Raisa sangat berharap agar mertuanya selamat, karena dirinya sudah kehilangan kedua orangtuanya. Kali ini dirinya tak mau kehilangan orang-orang yang menyayanginya lagi.

Sesampainya di rumah sakit Harapan Bunda.

Nyonya Raharja di turunakan dari ambulance, dan segera di baringkan ke brankar menuju UGD. Di depan ruang UGD, Raisa menunggu di depan----tangannya terus melihat pesan suaminya, kenapa belum juga di balas.

"Ya allah kenapa? kenapa engkau tambah cobaan hamba," ucap Raisa terduduk di bangku ruang tunggu.

Beberapa jam yang terasa seperti berabad-abad lamanya, hingga seorang Dokter berwajah tampan dengan wajah khas Timur Tengah keluar menemui Raisa.

"Dokter...gimana keadaan mertua saya?" tanya Raisa dengan nada panik.

"Anda keluarga pasien?" tanyanya, logat suaranya seperti bahasa Indonesia dengan logat Arab.

Raisa mengangguk, dan Dokter itu menyuruh Raisa masuk ke dalam ruangan UGD.

"Maaf Bu, Nyonya Raharja sudah terkena Stroke stadium akhir," ucapnya.

Duarr.

Seperti terkena sambaran petir di siang bolong, Raisa sangat syok---beruntung tubuhnya di tahan oleh dokter itu.

"Astagfirullah... jadi Mama kena stroke stadium akhir, Dok?" bisik Raisa lirih, setelah mendengar penjelasan sang Dokter.

Air mata yang sejak tadi di tahannya, kini sudah mengalir deras membasahi pipinya. Sungguh cobaan yang bertubi-tubi bagi Raisa, yang tak ada sudahnya----suami yang tak menginginkannya, orangtuanya yang tiada, sampai mertuanya yang sekarat.

Dokter Hassan Razzak.

Terlihat sang Dokter bisa melihat bagaimana kerapuhan dalam diri Raisa, Hassan merasa iba pada wanita ini.

"Bu Raisa, yang sabar ya. Stroke bisa di sembuhkan dengan terapi," ujarnya.

"Kami akan melakukan yang terbaik. Sekarang Nyonya Raharja perlu istirahat total dan akan segera kami pindahkan ke ruang rawat inap," lanjutnya dengan nada lembut sambil secara spontan menepuk bahu Raisa untuk memberikan kekuatan moral.

Dokter Hassan Razzak menatap Raisa, wajahnya yang orang Asia nampak cantik dan terlihat sangat baik.

"Ant jamilatan, lakin min almusif ank mutazawijatun." ("Cantik sih, sayang udah bersuami,") pujinya dalam hati.

Ibu mertuanya akan di pindahakan ke ruang rawat inap, karena Dion sudah membayar biaya administrasinya. Kamar VVIP, kamar yang inap yang di pilih Dion untuk ibunya. Dion dan Leon langsung ke rumah sakit saat membaca pesan dari Raisa.

Langkahnya terburu-buru, namun di dalam UGD---hal tak diinginkan harus di lihat Dion. Baru saja di depan pintu secara bersamaan, mata Dion dan Leon menatap Dokter Hassan menepuk bahu Raisa. Pemandangan di depan membuat darah Dion mendidih, melihat istrinya sedang menangis sementara seorang pria asing menyentuh bahunya. Seketika kedua tangan Dion langsung mengepal kuat, hingga buku jarinya memutih.

Amarah yang membara menutupi rasa khawatir pada sang ibu, baginya melihat pria lain menyentuh miliknya adalah penghinaan tak termaafkan baginya. Hatinya terbakar hebat oleh rasa cemburu. Raisa seketika menoleh ke belakang saat merasa ada yang berdiri di belakangnya.

"Mas... kamu di sini? Kamu dari mana saja, Mas?" tanya Raisa bertubi-tubi dengan suara serak karena tangis.

Raisa mengabaikan tatapan tajam Dion, hanya memikirkan kondisi mertuanya yang kritis di dalam kamar.

"Pak Dion..." sapa Dokter itu singkat saat menyadari kedatangan sang pengacara, lalu berlalu pergi untuk memeriksa pasien lain.

Dion berdiri mengenakan kemeja putih dan celana Navy di dampingi Leon yang mengenakan kemeja biru tua dan celana hitam. Dion tak menjawab dirinya hanya menatap Raisa dengan tatapan sulit di artikan, wajahnya tampak merah padam menahan emosi.

"Mas...mama udah kena stroke stadium akhir...hiks...hiks," ucap Raisa dengan isak tangis.

"Saya tahu, dan hentikan air mata buayamu!" tukasnya dengan tajam.

"Mas...kalo ini air mata buaya---"

Ucapan Raisa terhenti saat beberapa perawat ingin membawa brankar ke kamar VVIP yang sudah di bayar oleh Dion. Raisa berusaha menghapus air matanya, sementara Dion menjauh lalu mencengkram lengan Raisa.

"Argh!" ringis Raisa kesakitan.

Matanya yang sembab menatap suaminya, lalu Dion dengan tatapannya tajam mengeluarkan sebuah kalimat yang membuat Raisa mati kutu.

"Kita akan bicara di rumah soal kamu dan Dokter itu."

*

*

*

*

1
Sunarti Narti
Thor ini ceritanya ganti judul,tapi tokonya masih sama,tapi Thor jangan banyak kekerasan dalam rumah tangga, serem baca nya,🙏🙏🙏🙏👍👍👍👍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
Putri Sabina: yang ini KDRT, ceritaku yang mayor nggak ada kok kak🥲
total 1 replies
Ma Em
Raisa kamu jgn lemah dong lawan Dion kalau Raisa takut maka Dion akan semakin senang melihat hdp Raisa tersiksa , makanya lawan jgn cuma menangis sdh tanggung Raisa diam tdk melawan disiksa dipukul kalau melawan dipukul wajar tapi kalau diam dan menangis saja lbh parah .
Putri Sabina: gimana mau lawan kak, kan nggak punya penghasilan🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!