Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.
Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.
Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.
Ia salah besar.
Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:
**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**
Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.
Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.
Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.
Kali ini, dialah yang memegang pisau.
*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9: Tirai Biru Safir
Empat hari setelah Damar mengunciku di mobilnya, Mbak Laras meminta bantuan memilih tirai untuk rumah yang akan ditempatinya bersama pria itu.
"Aku ada rapat mendadak," katanya lewat telepon. "Mas Damar sudah janji dengan desainernya. Tolong gantikan aku satu jam saja. Selera kita mirip."
Selera kami tidak mirip. Selama bertahun-tahun aku memakai barang yang ia tinggalkan, jadi orang-orang mengira apa pun yang kupakai adalah pilihanku.
"Kenapa nggak dijadwal ulang?"
"Desainernya datang dari Jakarta. Mas Damar bilang kamu sudah setuju."
Tentu saja.
Aku hampir menolak, tetapi Ibu yang mendengar percakapan langsung mengambil ponsel. "Sekar akan datang. Jangan khawatir, Laras. Fokus saja bekerja."
Satu jam kemudian aku berdiri di lobi Menara Cakrawala dengan pesan lokasi langsung aktif dan ponsel dalam genggaman.
Gedung itu terlalu mewah untuk disebut apartemen. Lantainya memantulkan sepatu, petugas resepsionis hafal nama Damar, dan lift bergerak tanpa suara menuju lantai dua puluh tujuh. Aku melihat angka naik sambil menghitung jarak menuju pintu darurat.
Damar menunggu di depan unit.
"Kamu datang."
"Mbak Laras yang minta."
"Saya tahu."
Ia menyingkir, memberi jalan. Aku tidak langsung masuk.
Seorang perempuan berblazer muncul dari ruang utama sambil membawa katalog kain. "Mbak Sekar? Saya Rina, desainer interiornya. Silakan. Kami hanya menunggu pilihan tirai."
Adanya orang ketiga membuat bahuku sedikit turun. Aku masuk, tetapi tetap membiarkan pintu terbuka sampai Rina menutupnya sendiri.
Unit itu menghadap langit Bandung. Jendela tinggi memenuhi satu sisi ruangan, memperlihatkan atap kota dan gunung yang samar di kejauhan. Sofa belum dibuka dari plastik. Tidak ada foto keluarga, tidak ada hiasan, hanya ruangan mahal yang belum punya kehidupan.
Di meja dapur sudah tersedia segelas kopi susu tanpa gula dan sebungkus keripik pedas dari merek yang biasa kubeli dekat kampus. Aku berhenti di depan keduanya.
"Mbak Laras sudah datang tadi?"
Rina menggeleng. "Belum pernah, Mbak. Pak Damar bilang tamunya suka kopi ini."
"Saya hanya menyiapkan yang mungkin kamu butuhkan," kata Damar.
Aku tidak menyentuh minuman itu. Setelah cangkir teh pada malam hujan, makanan yang disiapkan khusus untukku tidak lagi terasa seperti perhatian.
Rina mengajakku melihat ruang kerja kecil di sebelah kamar utama. Raknya rendah, meja menghadap jendela, dan sebuah kursi biru diletakkan di sudut.
"Pak Damar meminta sudut membaca," jelasnya. "Katanya calon penghuni suka duduk dekat jendela sambil membaca."
"Mbak Laras lebih suka membaca di tablet," kataku.
Rina tampak salah tingkah. "Mungkin saya keliru mencatat."
Tidak. Ia tidak keliru. Aku yang suka duduk dekat jendela dengan buku, terutama karena kamarku sendiri hampir tak mendapat cahaya.
Aku menoleh kepada Damar. Ia berdiri di pintu ruang kerja, tenang, seakan kami berdua memahami lelucon yang tak diketahui orang lain.
"Mas sedang menyiapkan rumah untuk siapa?"
"Kita sedang memilih tirai," jawabnya.
Ia tidak menjawab pertanyaanku, dan ketidakjawaban itu terasa lebih jelas daripada pengakuan.
Ponsel di tanganku terasa licin oleh keringat saat kuperiksa kembali apakah lokasi langsung untuk Rangga masih aktif.
"Mbak Laras menyukai warna netral," kata Rina. "Kami siapkan champagne, abu muda, dan beige. Pak Damar meminta satu opsi tambahan."
Ia membuka gulungan kain terakhir.
Biru safir.
Warna itu mengingatkanku pada cincin murah yang kubeli untuk diri sendiri ketika berumur delapan belas, batu biru pucat yang dikatakan penjual sebagai blue topaz. Aku tahu batu kelahiranku sebenarnya aquamarine. Aku tak pernah peduli pada ketepatan namanya. Aku hanya menyukai warna laut yang belum pernah kulihat saat itu.
Jemariku menyentuh kain.
"Yang ini bagus," kataku tanpa berpikir.
"Pakai yang itu," ujar Damar.
Rina berhenti membalik katalog. "Untuk seluruh ruang utama, Pak?"
"Ya."
Aku menarik tangan. "Tunggu. Itu cuma pendapatku. Mbak Laras lebih suka warna champagne."
"Saya mempercayai matamu."
"Ini rumah Mbak Laras."
"Ini rumah saya."
Jawabannya tenang. Rina pura-pura sibuk mencatat, tetapi aku melihat matanya bergerak antara kami.
"Kalau begitu Mas bisa memilih sendiri. Aku pulang."
Damar menghalangi bukan dengan tubuh, melainkan dengan satu pertanyaan. "Kamu tidak suka pemandangannya?"
"Apa hubungannya?"
"Kamu pernah bilang ingin punya jendela besar yang menghadap langit. Kamar di rumahmu hampir tidak punya jendela."
Udara pendingin menyentuh tengkukku.
Aku tidak pernah mengatakan itu kepadanya.
Pernah kutulis di akun media sosial lama saat awal kuliah, unggahan yang bahkan sudah kuhapus. Atau mungkin aku mengatakannya kepada Mbak Laras bertahun-tahun lalu. Namun di mulut Damar, keinginan kecil itu terdengar seperti barang yang ia ambil dari laci tanpa izin.
"Mas mencari tahu tentang aku?"
"Laras sering bercerita."
"Mbak Laras bahkan nggak tahu warna kesukaanku."
Tatapannya turun ke kain biru. "Aquamarine. Warna batu kelahiranmu."
Rina akhirnya berdeham. "Saya akan meminta staf membawa contoh pengait dari mobil."
"Tidak perlu," kataku cepat.
"Silakan," ujar Damar pada saat yang sama.
Perempuan itu memilih perintah pemilik unit. Pintu tertutup di belakangnya.
Aku langsung melangkah ke arah lain, menjaga meja di antara kami. "Aku juga mau turun."
"Kamu baru datang."
"Tugasnya sudah selesai. Mas memilih tirai."
"Kamu yang memilih."
"Bukan untuk rumah ini."
Damar berjalan ke jendela. Seluruh tubuhnya berubah menjadi siluet di depan langit sore. "Kenapa kamu selalu mengembalikan apa yang saya berikan?"
"Mas belum memberikan apa pun kepadaku."
"Pekerjaan. Rumah yang bisa kamu tinggalkan. Pilihan."
"Itu bukan pilihan kalau semuanya harus lewat Mas."
Untuk beberapa detik ia diam. Lalu ujung jarinya menyentuh kain biru yang masih terbentang.
"Warna ini cocok untukmu."
Aku teringat suara dalam gelap. Diam.
Rasa mual naik. Aku mengambil tas dan berjalan cepat menuju pintu. Damar tidak menahan. Ia hanya berkata, "Lift di kiri."
Seolah aku tamu yang tersesat, bukan perempuan yang baru menyadari calon suami kakaknya tahu isi keinginan yang bahkan keluargaku lupakan.
Rina kembali saat aku keluar. Ia membawa kotak pengait dan menatapku bingung.
"Mbak tidak menunggu hasilnya?"
"Tanyakan kepada calon pengantinnya."
Pintu lift hampir tertutup ketika Damar muncul di ambang unit. Di belakangnya, kain biru safir terhampar memenuhi lantai putih seperti air laut yang tumpah.
Ia berdiri di tengah warna yang selalu kuanggap milikku.
Memandangiku dengan mata gelap yang pernah muncul di ujung mimpi buruk.
Saat lift turun, aku mengirim pesan kepada Mbak Laras.
Tirainya dipilih warna biru. Kamu setuju?
Tiga titik muncul, lalu balasannya datang.
Biru? Mas Damar tahu aku nggak pernah suka warna mencolok.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Yang dipilih Damar bukan selera calon istrinya.
Melainkan warna yang ia tahu akan kupilih.