NovelToon NovelToon
OTAK SUPER SANG DOKTER IDIOT

OTAK SUPER SANG DOKTER IDIOT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Matahari pagi bersinar terang menyinari halaman Rumah Sakit Medika Sentosa.

Suasana di koridor lantai tiga tampak lebih sibuk dari biasanya.

Beberapa staf berjalan cepat sambil berbisik-bisik mengenai sidang disiplin darurat hari ini.

"Katanya petugas kebersihan yang kemarin itu akan dipecat secara tidak hormat," bisik seorang perawat kepada rekannya.

"Baguslah, mana boleh ada orang sembarangan mengaku-ngaku sebagai dokter," balas perawat satunya lagi dengan nada sinis.

Di ruang ganti petugas, Arka merapikan kerah seragamnya dengan santai.

Pintu ruangan terbuka perlahan menampilkan sosok Siska yang sudah berdiri menunggu sejak tadi.

"Kamu sudah siap, Arka?" tanya Siska dengan wajah cemas.

"Selalu siap, Siska," jawab Arka tersenyum tipis.

Mereka berdua berjalan berdampingan menuju ruang rapat utama di lantai empat.

Setibanya di depan pintu besar ruang rapat, dua orang satpam berbadan tegap langsung menghadang.

"Hanya tertuduh yang boleh masuk ke dalam," cegah satpam berbadan besar itu dengan nada galak.

Siska hendak melangkah maju untuk memprotes larangan tersebut.

Namun Arka menahan lengan Siska perlahan sambil menggelengkan kepalanya.

"Tunggu saja di sini sebentar, Siska," ucap Arka tenang.

"Baiklah, tapi kalau ada apa-apa teriak saja ya," pesan Siska cemas.

Arka mendorong pintu ruang rapat dan melangkah masuk seorang diri.

Di dalam ruangan luas itu, Direktur Hartono dan Direktur Hendra sudah duduk di kursi utama.

Pengacara Malik duduk di sebelah mereka sambil membawa map merah tebal penuh berkas.

Wajah ketiga orang itu tampak memasang senyuman penuh kemenangan yang menjijikkan.

"Silakan duduk di kursi pesakitan itu, Tuan Arka," sambut Direktur Hartono sinis.

Arka menarik kursi di tengah ruangan lalu duduk tanpa rasa canggung sedikit pun.

"Tidak usah berlama-lama, langsung saja ke intinya," ucap Arka datar.

Direktur Hartono mendengus kasar mendengar nada bicara Arka yang tidak sopan.

"Anak muda ini benar-benar tidak tahu sopan santun di depan dewan direksi," geram Hartono.

Pengacara Malik membuka map merah di depannya dengan gaya arogan.

"Berdasarkan bukti tertulis, kamu dituduh melakukan tindakan malpraktik ilegal di IGD," kata Malik membuka sidang.

"Bukti apa yang kalian punya?" tanya Arka menantang.

Malik melemparkan beberapa lembar kertas foto palsu ke atas meja.

"Ini adalah foto saat kamu menyentuh pasien kritis tanpa izin resmi dari rumah sakit," tuduh Malik.

"Foto itu diambil dari sudut yang sengaja dipotong untuk memutarbalikkan fakta," balas Arka santai.

Direktur Hendra ikut menimpali dengan suara tinggi penuh emosi.

"Jangan membual! Saksi mata dari perawat senior sudah menandatangani surat kesaksian palsu melawanmu!" ancam Hendra.

Arka tersenyum kecil mendengar kebohongan murahan tersebut.

"Saksi mata bayaran yang kalian suap malam-malam, ya?" selidik Arka tajam.

Malik mengerutkan keningnya, sedikit terkejut karena Arka begitu mudah menebaknya.

"Jangan mengalihkan pembicaraan dengan fitnah murahan!" bentak Malik membela diri.

[Sistem Mendeteksi Upaya Pemalsuan Dokumen Sidang Oleh Dewan Direksi]

[Mengunduh Seluruh Rekaman Suara Suapan Dan Catatan Keuangan Gelap Hartono]

Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kepala Arka.

Arka menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gaya sangat santai.

"Kalian capek-capek membuat panggung sandiwara seperti ini pasti butuh biaya besar," ujar Arka menyindir.

"Apa maksud ucapanmu itu?!" seru Direktur Hartono mulai panik.

"Maksudku, dana yang kalian pakai untuk menyuap saksi itu diambil dari kas operasional rumah sakit kan?" tanya Arka tersenyum dingin.

"Jangan asal bicara kalau tidak punya bukti nyata!" maki Direktur Hendra berdiri dari kursinya.

Arka merogoh saku celananya lalu melempar sebuah flashdisk kecil ke atas meja rapat.

"Isi di dalam flashdisk itu jauh lebih menarik daripada map merah milik pengacara Malik," kata Arka tenang.

Pengacara Malik menatap flashdisk itu dengan rasa curiga yang mendadak muncul.

"Coba putar isi flashdisk itu di layar proyektor utama," perintah Arka menantang.

Direktur Hartono memberi isyarat kepada staf IT untuk mencolokkan flashdisk tersebut.

Beberapa detik kemudian, layar besar di depan ruang rapat menyala menampilkan sebuah video rekaman.

Video itu memperlihatkan Direktur Hartono sedang membagi-bagikan amplop uang suap kepada para saksi palsu.

Suara percakapan rencana busuk mereka terdengar sangat jelas ke seluruh ruangan.

Wajah Direktur Hartono seketika berubah menjadi pucat pasi bagaikan mayat hidup.

"I-ini... ini tidak mungkin...!" jerit Hartono histeris melihat bukti kejahatannya terpampang nyata.

Direktur Hendra terduduk lemas di kursinya dengan tubuh gemetar hebat.

Pengacara Malik mencoba merapikan barang-barangnya dengan terburu-buru untuk melarikan diri.

"Mau pergi kemana, Tuan Pengacara Hebat?" tanya Arka tersenyum dingin.

Malik menelan ludahnya susah payah, keringat dingin membasahi seluruh wajahnya.

"Sidang disiplin ini sepertinya salah alamat," ucap Malik gugup.

Arka bangkit berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mendekati meja dewan direksi.

"Sidang ini tidak salah alamat, justru kalian semua yang duduk di sini yang harus dipecat hari ini juga," tegas Arka berwibawa.

Direktur Hartono mencoba membela diri dengan suara gemetar ketakutan.

"Kamu... kamu tidak berhak memecat kami! Kamu cuma petugas kebersihan!" teriak Hartono putus asa.

Pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka dengan kencang dari luar.

Clara Wijaya melangkah masuk bersama dua orang polisi senior berseragam lengkap.

"Dia memang petugas kebersihan di sini, tapi dia adalah pemegang saham mayoritas baru di yayasan rumah sakit ini," ucap Clara tegas.

Seluruh anggota dewan direksi terperanjat kaget mendengar pengumuman mengejutkan tersebut.

"Nona Clara... sejak kapan...?" cicit Direktur Hartono ketakutan.

"Sejak kakekku menandatangani pengalihan kekuasaan pagi ini atas rekomendasi Arka," jelas Clara dingin.

Arka menatap tajam ke arah para dewan korup yang kini tertunduk lemas tidak berdaya.

"Bawa mereka semua ke kantor polisi atas tuduhan korupsi dan pemalsuan dokumen," perintah Arka kepada polisi.

Kedua polisi senior itu langsung memborgol tangan Direktur Hartono, Direktur Hendra, dan pengacara Malik.

"Tolong lepaskan kami... kami minta maaf...!" rintih Hartono menangis histeris diseret keluar.

Suasana di dalam ruang rapat kembali hening setelah para tikus korup itu dibuang keluar.

Clara menghela napas lega lalu menatap ke arah Arka dengan senyuman kagum.

"Kamu benar-benar menyelesaikan semuanya dengan sempurna, Arka," puji Clara tulus.

Arka tersenyum tipis merespons pujian dari wanita di sampingnya itu.

"Ini baru babak awal pembersihan rumah sakit, Nona," jawab Arka tenang.

Di luar pintu ruang rapat, Siska melompat kegirangan mengetahui keadilan akhirnya berpihak kepada Arka.

1
Shinta geol
karya yang bagus dan masuk ke dalam alur
Shinta geol
salut sama sikap thor yang tenang menguasai keadaan,saya kasih vote lah biar rame😍
Shinta geol
kasihan si arka selalu dekerjain para dokter lain nya😭
setiawan
motivasi hidup,saya kasih bintang 5
Jangkar pion
🥰😍🤩
Anton barly
saya suka karakter Thor🤗
gofur
karya yg menarik
yani
😶‍🌫️
fitri
motivasi untuk org normal biar tambah wawasan
fitri
hebat nya orang idiot tpi otak melebihi orang normal👍
Angel
sangat berkesan untuk orang nornal biar tambah semangat dalam bekerja💪
Angel
walaupun banyak yang hina tpi dia tidak runtuh sama sekali👍👍👍
Anton barly
orang idiot aja masih punya musuh,apalagi dia normal
Anton barly
orang pintar walaupun udiot masih aja punya musuh
fitri
sikap thor yang tenang menghadapi masalah👍
pricilia
jangan meremehkan orang yang memiliki kekurangan,belum tentu orang kekurangan itu di bawah batas kita,saya sadar orang normal belum tentu baik😒
clara
sangat bagus
clara
saya suka alur crita nya saya kasih vote 1 deh biar bisa lanjut baca nya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!