Dante Herrera adalah bos organisasi kriminal paling ditakuti—seorang pria yang tumbuh di dunia penuh timah panas, perintah, dan darah. Namun ketika sebuah bom menghancurkan helikopternya, takdir menjatuhkannya ke tempat yang paling mustahil: halaman sebuah biara yang sunyi.
Mary Mendez baru delapan belas tahun. Seorang yatim piatu yang dibesarkan di balik tembok biara, hidupnya adalah doa, ketenangan, dan kasih tanpa syarat untuk anak-anak panti asuhan. Sampai ia menemukan pria berlumuran darah itu di halaman—dan sesuatu dalam hatinya berbisik bahwa kedatangannya akan mengubah segalanya.
Dua dunia yang seharusnya tak pernah bersinggungan kini saling bertaut. Sang mafia yang tak percaya cinta, dan sang suster yang terikat sumpah pada Tuhan. Setiap tatapan adalah dosa. Setiap detak jantung adalah pertaruhan. Dan semakin keras mereka berusaha menjauh, semakin dalam mereka terjerat.
Namun cinta terlarang bukan satu-satunya bahaya. Rahasia masa lalu, sebuah keluarga yang mengubah gairah menjadi setia, dan musuh lama yang haus balas dendam—semua bersiap menyeret mereka ke dalam badai yang belum pernah mereka bayangkan.
Bisakah kemurnian menyelamatkan seorang pria yang tangannya berlumur dosa? Dan sanggupkah cinta bertahan ketika seluruh dunia menuntut mereka berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gizelly Ladislau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
POV Mary Mendez
Kata orang, kebenaran membebaskan.
Bohong.
Kadang kebenaran menghancurkan segala yang kita yakini kita kenal.
Berhari-hari aku tidak bisa tidur.
Kupejamkan mata dan kubayangkan seorang gadis ketakutan memegangi perut hamil yang disembunyikan dari dunia.
Lalu kubayangkan seorang pria kejam merenggut bayi perempuannya yang baru lahir dari pelukannya.
Kemudian kubayangkan seorang bayi.
Mungil.
Rapuh.
Tak berdaya.
Ditinggalkan di depan pintu sebuah biara.
Bayi itu adalah aku.
Setiap kali memikirkannya, hatiku seolah kembali hancur berkeping-keping.
Malam itu aku duduk di lantai kamar kami ketika Dante masuk.
Ia telah menghabiskan sepanjang hari dalam rapat.
Wajahnya menunjukkan tanda-tanda lelah.
Namun matanya memikul sesuatu yang lebih buruk.
Kecemasan.
Kecemasan yang besar.
Ketika ia melihatku memeluk lutut sendiri, hatinya seolah ikut hancur.
Ia berlutut di hadapanku.
Menangkup wajahku.
Dan mencium keningku.
"Kau menangis lagi."
Itu bukan pertanyaan.
Itu sebuah pernyataan.
"Aku tidak bisa berhenti."
Suaraku keluar lemah.
Patah.
"Aku menghabiskan seluruh hidupku percaya bahwa tidak ada yang menginginkanku."
Air mataku kembali mengalir.
"Dan sekarang aku tahu ibuku bertahun-tahun percaya bahwa aku sudah meninggal."
Dante langsung memelukku.
Erat.
Seolah mampu menyatukan kembali semua kepingan yang hancur di dalam diriku.
"Andai aku bisa mengambil rasa sakit itu darimu."
"Aku juga menginginkannya."
Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku merasa takut.
Rasa takut yang dalam.
Menyakitkan.
"Bagaimana kalau ia tidak menyukaiku?"
Dante menjauhkanku sedikit, cukup untuk menatap mataku.
"Jangan berkata begitu."
"Tapi itu benar."
"Tidak."
"Dante..."
"Tidak."
Suaranya keluar tegas.
Berwibawa.
Sang mafia.
Pria yang memimpin kerajaan-kerajaan.
Namun di balik tatapan keras itu hanya ada seorang suami yang putus asa ingin melindungi istrinya.
"Seorang wanita menghabiskan separuh hidupnya mencarimu."
Setetes air mata mengalir di wajahnya.
Sesuatu yang langka.
Sangat langka.
"Apa kau tahu betapa besar ia pasti mencintaimu?"
Hatiku mencelos.
Karena untuk pertama kalinya aku mulai memikirkan rasa sakit wanita itu.
Rasa sakit ibuku.
Pada malam yang sama, berkilo-kilometer jauhnya, Marion Bellaggio menangis sambil menatap sebuah foto.
Sebuah foto diriku.
Yang didapatkan oleh para detektif.
Gambar pertama yang ia miliki tentang putrinya.
Jemarinya bergetar saat menyentuh wajahku.
"Anakku..."
Ia menangis tanpa bisa berhenti.
Tahun-tahun yang hilang membebani pundaknya.
Ulang tahun yang tak pernah ia rayakan.
Pelukan yang tak pernah ia berikan.
Kisah-kisah yang tak pernah ia dengar.
Ketakutan yang tak pernah ia tenangkan.
Air mata yang tak pernah ia seka.
Semuanya telah dirampas darinya.
Semuanya.
Dan kini, ketika akhirnya ia tahu di mana aku berada...
Suaminya sendiri berubah menjadi ancaman.
Di ruang kerja utama keluarga Herrera, situasinya semakin berbahaya.
Rômulo mengamati dokumen-dokumen yang berserakan di atas meja.
Kevin menganalisis laporan keuangan.
Giovanni mondar-mandir.
Pietro menatap tajam sebuah peta.
Dan Dante tetap diam.
Sampai Rômulo berbicara.
"Sudah kita pastikan."
Keheningan menguasai ruangan.
"Don Bellaggio mendanai musuh-musuh kita."
Giovanni mengepalkan tinjunya.
"Bajingan."
"Bukan cuma itu," lanjut Rômulo.
"Masih ada lagi?"
Kevin bertanya.
Sang patriark mengangguk.
"Mereka tahu siapa Mary."
Udara seolah lenyap dari ruangan itu.
Dante langsung bangkit.
Kursinya terjatuh membentur lantai.
"Apa?"
"Mereka tahu ia putri Marion."
"Bagaimana mereka bisa tahu?"
"Kita belum tahu."
Tatapan Dante menggelap.
Sebuah ekspresi berbahaya.
Ekspresi yang sama yang mendahului sebuah perang.
"Tidak ada yang boleh menyentuh istriku."
"Dante..."
"Tidak seorang pun."
Suaranya bergema di seluruh ruang kerja.
Dingin.
Mematikan.
Pietro menarik napas dalam-dalam.
"Mereka bisa saja mencoba memakai Mary untuk menyerang Marion.
Atau Marion untuk menyerang Mary."
Kemungkinan itu mengubah suasana.
Karena ini bukan lagi sekadar sengketa wilayah.
Ini sudah pribadi.
Keesokan paginya aku kembali ke biara.
Aku butuh bernapas.
Butuh menemukan makna dalam segala hal ini.
Ketika tiba di kapel yang kosong, aku berlutut di depan altar.
Dan menangis.
Menangis seperti tidak pernah kulakukan sejak kecil.
Bukan sebagai istri.
Bukan sebagai nyonya besar mafia.
Bukan sebagai Nyonya Herrera.
Melainkan sebagai Mary kecil yang ditinggalkan di depan pintu tempat itu.
"Mengapa?"
Suaraku bergema dalam keheningan.
"Mengapa semua ini terjadi sekarang?"
"Karena telah tiba saatnya kebenaran terungkap."
Kuangkat pandanganku.
Consuelo berdiri di belakangku.
Tatapannya memancarkan cinta.
Belas kasih.
Dan kesedihan yang dalam.
Ia berjalan menghampiriku.
Menggenggam kedua tanganku.
"Kau tahu hal pertama yang kau lakukan ketika kau tiba di sini?"
Aku menggeleng.
"Tidak."
Senyum penuh haru merekah di bibirnya.
"Kau menggenggam jariku.
Dan tidak pernah melepaskannya lagi."
Air mataku kembali mengalir.
"Bunda..."
"Kau begitu mungil.
Begitu tak berdaya."
Ia mengelus wajahku.
"Namun tetap saja kau berjuang untuk hidup.
Berjuang setiap hari."
Tangisku semakin menjadi.
"Aku takut."
"Aku tahu."
"Bagaimana kalau semuanya berubah?"
"Semuanya sudah berubah, putriku."
Consuelo mencium keningku.
Seperti yang ia lakukan waktu aku masih kecil.
"Tapi cinta tetap ada di sini.
Selalu ada.
Akan selalu ada."
Malam itu, ketika Dante kembali menemukanku, aku berlari ke pelukannya.
Tanpa mengucap sepatah kata.
Tanpa berusaha menjadi kuat.
Tanpa menyembunyikan kerapuhanku.
Aku hanya berlari.
Dan ia mendekapku.
Seolah aku adalah hal paling berharga di dunia.
Karena bagi dia, memang begitu.
"Aku mencintaimu," bisikku.
"Aku juga mencintaimu."
"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku?"
Dante memejamkan mata.
Seolah pertanyaan itu menembus jiwanya.
Lalu ia menangkup wajahku.
"Dengarkan baik-baik apa yang akan kukatakan."
Matanya berkaca-kaca.
"Aku akan menghadapi bala tentara demi kau."
Jantungku berdebar cepat.
"Aku akan menghadapi keluarga-keluarga utuh.
Menghadapi neraka.
Menghadapi dunia."
Suaranya tersendat.
"Tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu menghadapi apa pun sendirian."
Dan pada saat itu, aku tidak tahu mana yang lebih menakutkanku.
Perang yang semakin mendekat.
Atau kenyataan bahwa aku akhirnya menemukan kebenaran tentang asal-usulku.
Karena, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku merasa sebuah badai besar sedang datang.
Dan badai itu membawa nama keluarga Bellaggio.