Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.
Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.
Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.
PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BISIKAN GELAP
# PELET LAKNAT 2
## Bab 7: Bisikan Gelap
Malam kian larut, menyisakan keheningan mencekam di emperan toko tua yang kini sepi. Teman-teman Jaka sudah membubarkan diri satu per satu menembus pekatnya malam, menyisakan Jaka dan Kiki yang masih berdiri kaku di bawah temaram lampu jalan yang berkedip-kedip samar. Sisa asap rokok dan aroma kopi yang mulai dingin masih menggantung tipis di udara malam.
Pipi kiri Jaka memang tak lagi sepanas tadi, namun luka di batinnya justru kian menganga luas, mengeluarkan racun dendam yang makin pekat menguasai akal sehatnya.
"Ki..." panggil Jaka pelan. Suaranya serak dan begitu dingin, memecah sunyi malam hingga membuat bulu kuduk Kiki mendadak berdiri.
"Kenapa, Jak?" Kiki menoleh, mendapati tatapan sahabatnya itu sudah kosong dan menusuk tajam, seolah kehilangan jiwa manusianya.
"Apakah tawaran kamu waktu itu masih berlaku?" tanya Jaka dengan raut wajah kian serius, matanya menatap Kiki tanpa berkedip.
"Tawaran yang mana, Jak? Aku rasa aku nggak pernah menawarkan apa-apa sama kamu?" sahut Kiki polos. Memori di kepalanya memang sudah agak kabur soal obrolan santai mereka beberapa waktu lalu.
"Itu... yang waktu di teras rumahku. Kamu pernah bilang, cinta ditolak dukun bertindak," jelas Jaka dengan nada menekan. "Emangnya kamu tahu dukun yang bisa bikin si Dea jatuh cinta sama saya?" lanjut Jaka melayangkan pertanyaan tajam.
Mendengar penjelasan itu, Kiki seketika terkekeh geli. Ia tertawa lepas di tengah heningnya malam, meratapi betapa tidak pekanya ia pada arah pikiran sahabatnya sendiri.
"Oh... soal itu!" Kiki menghentikan tawanya, menyapu sisa air mata di sudut matanya seraya menatap Jaka lekat-lekat. "Emang niatmu sudah benar-benar bulat nanyain soal itu? Bukannya dulu kamu sendiri yang paling anti dan nggak mau berurusan sama yang namanya dukun?" sahut Kiki, mencoba mengingatkan kembali prinsip teguh Jaka yang kini tampak lenyap tak berbekas.
Jaka sempat terdiam tak bergeming selama beberapa menit. Angin malam yang menembus kulitnya sama sekali tak mampu mendinginkan otaknya yang membara. Di dalam kepalanya, bayangan tamparan keras Dea, tatapan jijik, dan gelak tawa meledek yang membayang-bayang berputar seperti kaset rusak. Ia mencoba berpikir jernih sebelum benar-benar mengambil keputusan gila yang akan mengubah jalan hidupnya seutuhnya. Sesekali kelopak matanya berkedip cepat, seolah berusaha mengusir bayangan-bayangan itu dari kepalanya, namun sia-sia.
"Aku nggak bisa menerima penghinaan ini, Ki!" tegas Jaka. Suaranya rendah namun penuh penekanan, matanya yang memerah menatap tajam ke arah kegelapan. "Sudah cukup rasa sakit yang aku dapatkan... kini saatnya aku merebut semua hakku kembali!"
Kiki yang memperhatikan perubahan drastis sahabatnya itu hanya tersenyum tipis, menyadari bahwa racun nekat dan obsesi gelap kini telah sepenuhnya merusak akal sehat Jaka.
"Ya sudah! Nanti aku antar kamu ke tempat dukun itu. Tapi ingat, sebelum kita ke sana, kita harus mempersiapkan segalanya dari awal biar nggak bolak-balik!" jelas Kiki dengan nada serius.
"Maksud kamu... sesajen gitu?" tanya Jaka dengan alis bertaut.
"Ya, bisa dibilang begitu. Tapi biasanya, kalau untuk urusan pelet, kita cuma perlu bawa foto si Dea sama kemenyan saja. Tapi ya itu tergantung si dukunnya nanti, minta persyaratan tambahan atau tidak. Sepengetahuanku sih begitu, Jak!" tutur Kiki sembari mengibaskan tangannya santai.
Mendengar penjelasan itu, Jaka kembali tertegun kaku. Kata kemenyan dan hal gaib mendadak menggema bising di telinganya. Di dalam benaknya, bayangan ritual mistis yang gelap dan mencekam mulai bermunculan—asap putih tebal, mantra bergumam pelan, dan sorot mata sang dukun yang entah bagaimana bentuknya. Ia kembali menimbang-nimbang niat nekatnya; jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, rasa takut berurusan dengan bangsa jin dan sekutu setan masih menyisakan keraguan yang teramat sangat.
"Gimana, Jak?! Apa kamu sanggup?" seru Kiki dengan mata berbinar licik, seakan sudah tak sabar menanti keputusan nekat sahabatnya. "Kalau kamu sanggup, besok malam kita langsung berangkat! Pakai motor aku aja."
Jaka mengerjapkan mata, menelan ludah yang mendadak terasa amat pahit dan mengganjal di tenggorokannya.
"Tunggu... cuma itu aja syaratnya? Apa nggak ada yang lain?" tanya Jaka dengan suara bergetar pelan, berusaha meyakinkan hatinya yang makin ketakutan.
"Iya, cuma itu aja! Eh, tapi jangan lupa bawa uang juga buat dikasih ke dukunnya nanti," tambah Kiki santai.
"Uang?! Berapa?" bisik Jaka, matanya sedikit membelalak.
"Ya... kamu bawa aja satu setengah juta atau dua juta. Kurang lebihnya bisa kita atur nanti di sana," sahut Kiki seraya mengibaskan tangan, menganggap nominal itu hal kecil.
Jaka tak langsung menjawab. Otaknya mendadak berputar kencang memikirkan dari mana ia harus mengumpulkan uang sebesar itu dalam waktu singkat—tabungannya menipis, dan meminjam pada orang tua sama sekali bukan pilihan yang bisa ia bayangkan. Ia hanya mengangguk-angguk kaku seraya mencerna setiap patah kata Kiki, sementara logikanya terus berperang melawan obsesi gelap yang kian mencekik dadanya.
"Jak! Malah bengong! Gimana, sanggup tidak?!" tanya Kiki kembali, memecah lamunan Jaka seraya menepuk bahunya cukup keras.
"Eh... maaf! Aku usahakan deh," sahut Jaka kaget, menyapu wajahnya yang tegang. "Tapi jangan besok ya, Ki... kalau besok, uangnya jelas belum ada."
"Ya sudah, atur saja! Kalau uang dan syaratnya sudah siap, langsung kabarin aku," seru Kiki seraya mengibaskan tangan. "Ayo kita pulang dulu! Kamu pikir-pikir lagi yang matang di rumah nanti."
Mereka berdua akhirnya membubarkan diri dan melangkah pulang ke rumah masing-masing, membelah dinginnya malam yang kian pekat. Suara langkah kaki mereka yang menjauh perlahan-lahan lenyap ditelan sunyi, meninggalkan emperan toko tua itu kembali sepi seperti semula.