NovelToon NovelToon
The Promish Hyung

The Promish Hyung

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / CEO
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: Dewi_BtsOt7

Di mata dunia, Kim Seokjin adalah Devil.
CEO KIMS GROUP. Dingin. Kejam. Tanpa ampun.
Satu keputusannya bisa membuat EX GROUP bangkrut dalam semalam.

Tapi di rumah...
Dia hanya seorang Hyung.

8 tahun lalu dia berjanji pada ayahnya: "Aku akan menjaga Tae."
Sekarang dia menepati janji itu dengan cara yang salah.
Menelan obat di toilet kantor. Menahan darah di balik jas mahal.
Tersenyum untuk 8 orang yang dia sayangi.

Leukimia. Stadium akhir.
Rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Malaikat kecilnya, Taehyung.

Saat EX GROUP mulai mengancam nyawa Tae, Seokjin harus memilih.
Tetap menjadi Devil yang melindungi...
Atau runtuh sebagai Malaikat yang akhirnya butuh dilindungi.

"Di luar aku iblis, Tae. Tapi di depanmu... aku cuma hyungmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi_BtsOt7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Hujan deras mengguyur kota Seoul malam itu, menciptakan tirai air yang memisahkan dunia luar dari interior kafe eksklusif "The Silent Room" di distrik Gangnam. Tempat ini dipilih karena privasinya yang tinggi; setiap ruang VIP dilengkapi dengan peredam suara dan pintu terkunci biometrik. Tidak ada kamera CCTV, tidak ada pelayan yang masuk tanpa panggilan. Sempurna untuk pertemuan rahasia antara musuh bebuyutan.

Kim Seokjin duduk di salah satu ujung meja kayu mahoni panjang. Ia mengenakan setelan jas hitam yang rapi, namun di bawah meja, tangannya mencengkeram tepi kursi dengan kuat untuk menahan gemetar. Wajahnya pucat, disamarkan oleh pencahayaan redup ruangan. Di depannya, segelas air mineral hangat—bukan kopi atau teh, agar tidak memicu asam lambung atau dehidrasi.

Chanyeol berdiri di belakang Jin seperti bayangan, tangan kanannya siap siaga di dekat saku jaketnya. Yoongi berada di sudut ruangan lain, memantau perangkat pendeteksi penyadap elektronik yang ia bawa.

Pintu ruang VIP terbuka. Tiga sosok masuk dengan langkah tegas. Park Xiumin, Jongdae (Chen), dan Park Jihoon.

Suasana menjadi beku seketika. Udara di antara mereka terasa tebal dengan dendam masa lalu, kecurigaan, dan ketegangan yang belum terselesaikan.

Xiumin menatap Jin dengan tatapan dingin, matanya menyipit saat melihat kondisi fisik Jin yang terlihat lebih lemah dari terakhir kali mereka bertemu. Chen berdiri di samping kakaknya, lengannya disilangkan, wajahnya penuh waspada. Jihoon, si bungsu, melangkah sedikit ke depan, matanya tajam mengamati setiap detail ruangan, termasuk keadaan Jin.

"Kau meminta pertemuan ini, Jin," kata Xiumin, suaranya datar dan tanpa emosi. "Berikan kami alasan mengapa kami tidak harus langsung pergi dan melaporkan kehadiranmu sebagai upaya manipulasi."

Jin menarik napas dalam-dalam, menahan rasa pusing yang menyerang. Ia mengangkat tangannya, meletakkan sebuah tablet di atas meja, lalu menggesernya pelan ke arah tengah meja, tepat di batas wilayah netral.

"Buka itu," kata Jin singkat.

Jihoon, yang paling cepat bereaksi, mengambil tablet itu. Ia membuka file yang telah Jin siapkan. Layar menampilkan dokumen forensik digital, rekaman transfer bank dari Blue Horizon Corp, dan foto korek api perak berinisial KT yang baru saja ditemukan oleh tim Jihoon di Incheon.

Mata Jihoon membelalak. Ia menoleh ke arah kakak-kakaknya, lalu kembali menatap Jin. "Ini... ini bukti koneksi Kwon Tae-woo dengan sabotase mobil. Dan korek api ini... kami menemukannya hari ini."

Chen mendekat, membaca dokumen di tablet. Wajahnya berubah serius. "Kwon Tae-woo? Mantan mitra bisnis ayah kita? Dia yang melakukannya?"

"Dia membayar sindikat pembunuh bayaran untuk menyingkirkan hambatan bisnisnya sepuluh tahun lalu," jelas Jin, suaranya terdengar lelah namun tegas. "Orang tua kalian, dan orang tuaku, adalah targetnya. Kita semua adalah korban dari keserakahannya."

Xiumin diam lama. Ia menatap Jin, mencari tanda-tanda kebohongan. Namun, ia hanya melihat kelelahan murni dan kesedihan yang mendalam di mata pria itu. Untuk pertama kalinya, dinding kebencian di hatinya retak.

"Jika ini benar," kata Xiumin pelan, "mengapa kau memberitahu kami? Mengapa tidak menggunakan ini untuk menghancurkan kami lebih dulu?"

"Karena aku lelah," jawab Jin jujur. Air matanya hampir tumpah, tapi ia menahannya. "Aku lelah bertarung melawan kalian sementara pembunuh sebenarnya tertawa di kejauhan. Aku ingin keadilan. Bukan hanya untuk orang tuaku, tapi untuk orang tua kalian juga. Kalian berhak tahu kebenaran."

Jihoon menatap Jin lekat-lekat. Ia melihat bagaimana Jin sesekali mengusap hidungnya dengan gerakan halus, bagaimana napasnya sedikit berat. Insting Jihoon sebagai calon pengacara dan pengamat manusia berkata bahwa Jin menyembunyikan sesuatu yang sangat besar. Sesuatu yang berkaitan dengan kesehatannya.

"Kau sakit, Jin-hyung," kata Jihoon tiba-tiba, memecah keheningan.

Semua kepala menoleh ke arah Jihoon, lalu ke Jin.

Jin tersenyum tipis, senyuman yang dipaksakan. "Hanya flu biasa, Jihoon-ah. Stres pasca-skandal."

"Itu bukan flu," bantah Jihoon tegas. "Gerakanmu kaku. Matamu cekung. Dan kau menghindari cahaya langsung. Apa yang kau sembunyikan?"

Chanyeol melangkah maju, siap mengintervensi, tapi Jin mengangkat tangannya, memberi isyarat untuk berhenti.

"Itu urusanku," kata Jin dingin, meski suaranya bergetar. "Fokus kita sekarang adalah Kwon Tae-woo. Dia sedang dalam perjalanan pulang dari Singapura besok malam. Dia akan menghadiri gala amal di Grand Hyatt. Itu adalah kesempatan terbaik kita untuk menjebaknya."

Xiumin menatap Jin lama, lalu mengangguk perlahan. "Baik. Kami akan bekerja sama. Sementara ini. Tapi jangan harap persahabatan setelah ini selesai."

"Aku tidak mengharapkan itu," jawab Jin. "Cukup keadilan."

Mereka sepakat untuk membagi tugas. Tim Jin (Chanyeol dan Yoongi) akan menangani aspek digital dan keamanan siber untuk membekukan aset Kwon Tae-woo secara diam-diam sebelum gala. Tim Xiumin (Chen dan Jihoon) akan menangani aspek fisik dan investigasi lapangan untuk mengumpulkan bukti saksi mata dan mengamankan lokasi gala.

Pertemuan berakhir tanpa jabat tangan. Hanya anggukan dingin sebagai tanda gencatan senjata.

Saat kelompok Xiumin keluar dari kafe, Jihoon sempat menoleh ke belakang. Ia melihat Jin tertinggal sebentar, bersandar pada meja dengan wajah meringis kesakitan sebelum Chanyeol membantunya berdiri.

"Hyung," gumam Jihoon dalam hati. "Apa yang sebenarnya terjadi padamu?"

Di dalam mobil yang melaju menjauh, Xiumin menatap hujan di luar jendela. Hatinya bergejolak. Kebencian pada Jin belum hilang sepenuhnya, tapi rasa hormat baru mulai tumbuh. Jin bersedia berbagi bukti kunci yang bisa menyelamatkan reputasi keluarganya, meskipun itu berarti mengakui kelemahan dirinya sendiri.

"Kita harus berhati-hati," kata Xiumin pada Chen dan Jihoon. "Jin mungkin jujur tentang Kwon Tae-woo, tapi dia masih misterius. Awasi gerak-geriknya. Dan Jihoon..."

"Ya, Hyung?"

"Cari tahu apa penyakit Jin yang sebenarnya. Jika dia runtuh di tengah operasi ini, rencana kita hancur. Kita perlu tahu seberapa jauh kita bisa mendorongnya."

Jihoon mengangguk. "Aku akan menyelidikinya. Diam-diam."

Sementara itu, di dalam kafe yang kini sepi, Jin akhirnya membiarkan topengnya jatuh. Ia mengeluarkan tisu dan membersihkan darah yang menetes dari hidungnya. Tubuhnya gemetar hebat. Obat pereda nyeri yang ia minum sebelumnya sudah habis efeknya.

"jin," bisik Chanyeol khawatir, memegang bahu Jin. "Kita harus pulang. Kau tidak bisa bertahan lebih lama lagi."

Jin mengangguk lemah, matanya setengah tertutup. "Besok... gala amal. Kita harus siap. Ini satu-satunya kesempatan kita."

Yoongi menatap Jin dengan ekspresi sedih. Ia tahu Jin sedang bermain judi dengan nyawanya sendiri. Tapi ia juga tahu, tidak ada yang bisa menghentikan Kim Seokjin ketika ia sudah menetapkan tujuan.

Malam itu, dua faksi yang bermusuhan resmi membentuk aliansi rapuh demi musuh bersama. Namun, di balik layar, waktu terus berjalan mundur bagi Kim Seokjin. Setiap detik yang ia habiskan untuk merencanakan balas dendam adalah detik yang dicuri dari sisa hidupnya yang semakin menipis.

Badai terbesar belum datang. Itu akan terjadi besok malam, di bawah lampu sorot gala amal, di mana kebenaran akan terbongkar, dan darah akan tumpah—baik secara metaforis maupun harfiah.

1
AntyKa
penasaran😄
Dewi_BtsOt7: di tunggu kelanjutannya ya ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!