Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.
Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.
Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**
Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.
Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.
Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.
Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29
Ayahku Muncul
Sekar
Lima hari setelah menyusun rencana usaha bersama Yuni, aku pergi ke pasar kecil dekat Rumah Adiwijaya untuk membeli cabai, santan, dan popok Arka.
Sore itu biasa. Pedagang memanggil pembeli, sepeda motor berdesakan di tepi jalan, dan aroma gorengan bercampur dengan ikan segar. Aku mencatat harga kain dari sebuah kios kecil sebelum masuk ke bagian bahan makanan. Tugas pertama untuk usaha kami mulai terisi.
Aku memotret tiga jenis katun dan mencatat lebar kain, harga per meter, serta jumlah minimum pembelian. Penjualnya menjelaskan selisih harga grosir jika aku mengambil satu gulung. Dulu angka sebesar itu akan langsung membuatku mundur. Kini aku menulisnya agar bisa dibahas bersama Yuni.
Di kios berikutnya, aku membandingkan harga kemasan bening. Aku bahkan berani meminta nomor WhatsApp pemasok. Hal-hal kecil itu membuat langkahku terasa lebih tegak. Tidak ada seorang pun di pasar yang tahu aku pernah hampir dijual untuk membayar utang. Di antara pembeli lain, aku hanya perempuan yang sedang menghitung biaya usaha.
Sebelum membeli popok, aku mengirim foto catatan kepada Yuni. Balasannya datang cepat: `Bu Direktur mulai rajin.` Aku tersenyum dan membalas dengan emoji menjulurkan lidah.
Senyum itu masih ada ketika aku berbalik dan melihat wajah dari masa lalu.
Aku baru keluar dari kios popok ketika seseorang berdiri di depanku.
Kantong belanja terlepas dari tangan.
"Akhirnya ketemu juga," katanya.
Bapak tampak lebih kurus daripada terakhir kali kulihat, tetapi matanya sama. Merah, keruh, dan selalu mencari sesuatu yang bisa diambil. Bau alkohol lama menempel pada bajunya meski hari belum malam.
Tubuhku kembali menjadi anak perempuan yang bersembunyi di gudang.
"Bapak ngapain di sini?"
"Mencari anak kurang ajar."
Aku mundur satu langkah. Punggungku menyentuh rak minuman kios.
"Saya sudah bilang tidak akan pulang."
"Kau pikir bisa hilang begitu saja? Orang kampung lihat fotomu di internet. Kerja di rumah orang kaya, ya? Enak hidupmu."
Foto payung dan gang yang beredar di WhatsApp rupanya mencapai orang yang mengenal desa. Darahku dingin. Gosip yang ingin mempermalukanku kini menjadi petunjuk bagi orang yang kuhindari.
"Utang Bapak bukan urusan saya."
"Anak perempuan itu urusan bapaknya."
"Bukan untuk urusan seperti ini."
"Kau tinggal pergi tanpa izin, bikin orang sekampung bicara. Penagih datang tiap malam. Bapak yang menanggung."
"Bapak yang meminjam."
"Untuk menghidupi rumah."
"Untuk minum dan berjudi. Ibu menjual sayur sampai sakit, sementara Bapak mengambil uangnya."
Beberapa kepala menoleh lebih jelas. Bapak menurunkan suara, malu keburukannya didengar orang tetapi tidak malu melakukannya.
"Jangan buka aib keluarga di jalan."
"Bapak yang membawa aib itu ke sini."
Dia bergerak hendak menutup jarak. Aku mengangkat kantong belanja di antara kami seperti perisai. Di dalamnya hanya popok dan sayur, tetapi gerakan itu memberi batas yang bisa dilihat orang.
"Saya sudah mengirim lokasi kepada teman," kataku. Aku menekan tombol berbagi lokasi di ruang percakapan Bayu tanpa melihat layar. "Kalau saya tidak kembali, mereka tahu tempat terakhir saya."
Sebenarnya aku belum menekan kirim. Jari terlalu gemetar. Namun ancaman itu membuat langkah Bapak berhenti.
"Saya sudah dewasa. Bapak tidak bisa membawa saya."
Dia tertawa, menunjukkan gigi bernoda. "Dua bulan di kota sudah pintar hukum?"
Beberapa pedagang menoleh. Aku memanfaatkan perhatian itu untuk bergerak ke arah jalan yang lebih ramai.
"Kalau Bapak mau bicara, bicara di sini. Jangan mendekat."
"Kita pulang. Orang yang mau menikahimu masih menunggu. Dia mau menghapus sebagian utang."
"Saya tidak mau."
"Kau belum lihat rumahnya."
"Saya tidak peduli."
Wajahnya berubah. Keramahan palsu hilang, diganti amarah yang kukenal sejak kecil.
"Kau makan dari uang siapa sejak lahir?"
"Ibu yang bekerja. Setelah Ibu meninggal, saya yang bekerja."
Telapak tangannya terangkat. Aku refleks menutup wajah. Dia tidak memukul karena orang-orang memperhatikan, tetapi gerakan itu cukup membuat lututku lemas.
"Jangan bikin malu Bapak," geramnya.
"Bapak datang membawa saya untuk membayar utang. Siapa yang membuat malu siapa?"
Keberanian itu keluar sebelum sempat kupikirkan. Bapak menatapku tidak percaya, lalu meraih lengan. Aku menghindar sehingga kukunya hanya menyentuh kain.
Aku mengambil ponsel.
"Kalau Bapak pegang saya, saya telepon polisi. Sudah ada laporan soal ancaman dari orang suruhan penagih. Nama Bapak juga dicatat."
Itu tidak sepenuhnya benar. Bayu mengumpulkan informasi tentang Bapak, tetapi laporan sebelumnya berfokus pada Roy. Aku berharap dia tidak tahu bedanya.
Wajahnya goyah sesaat.
"Kau mengancam bapak sendiri?"
"Saya melindungi diri."
"Dari orang tua? Durhaka kau."
Kata itu menusuk bagian diriku yang masih dibesarkan untuk patuh. Namun aku teringat ucapan di rumah Bu Tumi: perempuan tidak wajib menyerahkan hidup kepada ayah yang hendak menjualnya.
"Patuh bukan berarti membiarkan Bapak menjual saya."
Dia menampar ponsel dari tanganku. Benda itu jatuh, layar menghadap tanah. Seorang pedagang sayur berseru, tetapi tidak mendekat.
Aku membungkuk hendak mengambilnya. Bapak lebih cepat mencengkeram pergelangan tanganku.
Rasa sakit menjalar sampai siku.
Ponselku tergeletak kurang dari satu meter, terlalu jauh untuk diraih. Layarnya retak di sudut, tetapi masih menyala. Percakapan dengan Bayu terbuka. Titik lokasi yang belum terkirim berkedip seperti mengejek.
Aku menggeser kaki ke arah ponsel sambil berpura-pura mengikuti tarikan. Ujung sandal hampir menyentuhnya. Bapak menyadari niatku dan menendang benda itu lebih jauh.
"Tidak ada yang akan datang," katanya.
"Orang-orang sudah melihat."
Aku menatap satu per satu wajah di sekitar. "Tolong rekam. Kalau dia membawa saya, kirim ke polisi."
Lelaki muda yang memegang ponsel mengangguk. Seorang pedagang lain memindahkan gerobak ke tengah jalan sehingga Bapak tidak bisa cepat menyeretku ke kendaraan mana pun. Mereka belum berani menyentuhnya, tetapi lingkaran di sekitar kami mulai menjadi pagar.
Untuk pertama kalinya, aku memahami bahwa meminta bantuan dengan jelas juga bentuk perlawanan.
"Lepaskan!"
"Kau ikut sekarang."
"Tolong!"
Beberapa orang berhenti. Satu lelaki muda mengangkat ponsel, mungkin merekam. Bapak menarikku ke arah jalan. Kantong santan terseret, isinya tumpah di aspal.
Aku menanam tumit dan memutar pergelangan seperti yang diajarkan Bayu setelah kejadian Roy. Cengkeraman bergeser, tetapi tidak lepas. Bapak lebih kuat dan semakin marah.
"Jangan ikut campur!" bentaknya kepada orang-orang. "Ini anak saya."
"Saya bukan barang Bapak!"
Aku menendang tulang keringnya. Dia mengumpat dan menarik lebih keras. Gelang kain di tanganku putus. Kulit di bawah jarinya terasa terbakar.
Seorang pedagang perempuan maju setengah langkah. "Pak, jangan kasar. Dibicarakan baik-baik."
"Urus daganganmu!"
Perempuan itu mundur, tetapi berteriak kepada seseorang agar memanggil keamanan pasar.
Aku terus bergerak ke arah ramai, meski hanya beberapa sentimeter. Jangan biarkan dia membawaku ke kendaraan. Jangan diam. Buat orang melihat.
"Bapak sudah tahu saya bekerja di mana?" tanyaku keras, sengaja menahan waktunya.
"Tahu. Rumah besar itu. Kau pikir majikanmu mau memelihara anak pembangkang selamanya?"
"Kalau Bapak datang ke sana, keamanan akan menahan."
"Suruh orang kaya itu bayar utangmu. Katanya dia dekat denganmu."
Dadaku sesak. Jadi Bapak bukan hanya menemukan alamat. Dia juga mendengar gosip tentang Den Nara.
"Den Nara tidak punya utang kepada Bapak."
"Kalau mau kau tetap di sana, dia harus bayar."
"Tidak ada orang yang harus membeli saya."
Bapak mendekatkan wajah. "Kau sudah diberikan kepada orang lain waktu lahir. Sekarang jangan sok menentukan harga."
Aku menatapnya. Selama bertahun-tahun, aku takut kalimat seperti itu akan membuktikan bahwa diriku memang tidak berharga. Sore ini, di tengah pasar, aku mendengar kebenaran lain: dia marah justru karena aku mulai menentukan hidup sendiri.
"Ibu melahirkan saya," kataku. "Bukan menyerahkan saya untuk Bapak jual."
Dia mengangkat tangan lagi.
Aku tidak menutup wajah kali ini. Aku menatapnya dan berteriak, "Kalau Bapak pukul, semua orang di sini jadi saksi!"
Tangannya berhenti di udara.
Orang-orang semakin banyak. Seorang petugas parkir berlari dari ujung jalan. Aku melihat kesempatan dan kembali memutar tangan. Jari Bapak longgar sesaat.
Aku hampir lepas.
Dia menangkapku lagi, kali ini tepat pada memar yang belum sembuh sepenuhnya dari kejadian sebelumnya. Aku menjerit.
"Cukup main-mainnya," katanya. "Kau ikut Bapak."
"Tidak!"
Aku menarik tubuh ke belakang. Kain belanja berhamburan, cabai merah berguling di antara kaki orang. Tak seorang pun bisa menganggap ini percakapan keluarga biasa lagi.
Petugas parkir sudah hampir mencapai kami ketika Bapak memutar tubuhku, menjadikanku penghalang. Aku menghentakkan tumit ke sepatunya dan berseru meminta petugas tidak mundur. Pergelangan tanganku berdenyut, tetapi aku terus menyebut nama, alamat pasar, dan ancaman yang diucapkannya supaya rekaman para saksi menangkap semuanya.
"Nama saya Sekar Ayuningrum," teriakku. "Lelaki ini Sukir, ayah saya. Dia memaksa saya menikah untuk membayar utangnya dan mencoba membawa saya tanpa izin."
Bapak membekap mulutku dengan telapak tangan. Aku menggigitnya. Dia mengumpat dan menarik tangan, tetapi cengkeraman lain belum lepas.
Petugas parkir meneriakkan bahwa polisi sedang dihubungi. Untuk sesaat kulihat rasa takut di mata Bapak, lalu berubah menjadi keputusan nekat. Dia menarikku ke jalan tepat ketika suara mesin mendekat cepat.
Suara rem mobil memotong keributan.
Sebuah kendaraan hitam berhenti mendadak di tepi jalan. Aku mengenali nomor pelatnya sebelum pintu terbuka.
Suara benturannya membelah keributan pasar dengan keras.
Den Nara turun dengan gerakan begitu cepat hingga pintu mobil menghantam batas engsel.