NovelToon NovelToon
Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Ia sengaja menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya agar terdengar mengancam.

"Kudengar tiga mantan tentara elit itu hilang tanpa jejak seperti ditelan bumi saat sedang mengejar angin."

Prang!

Gelas anggur di tangan Kevin terlepas dan jatuh menghantam lantai marmer hingga pecah berkeping-keping.

Cairan merah itu terciprat mengotori ujung sepatu pantofel mahal miliknya.

Wajah tampan Kevin berubah pucat pasi dalam hitungan detik menatap Raka dengan mata terbelalak syok.

Ia akhirnya sadar siapa pemuda berjas biru yang sedang berdiri meremehkannya ini.

"K-kau... kau adalah Raka Mahesa si penjual herbal itu?" gagap Kevin menunjuk wajah Raka dengan jari gemetar.

Dua bodyguard raksasa di belakang Kevin langsung siaga dan memegang balik jas mereka bersiap mencabut senjata.

"Jangan bertingkah kampungan di sini Tuan Kevin, ini hotel bintang lima bukan klub malam kumuh milikmu."

Raka menepis jari Kevin yang menunjuk wajahnya dengan gerakan yang sangat cepat dan kasar.

Plak!

Tepisan itu cukup keras hingga membuat tangan Kevin terlempar ke samping dan memerah.

"Kalian bertiga dengar baik-baik, kalau kalian berani mencabut senjata di sini, aku akan memastikan tangan kalian patah sebelum pistol itu keluar."

Ancaman Raka bukan gertakan kosong dan aura membunuh yang ia keluarkan benar-benar membuat kedua bodyguard itu ragu untuk bergerak.

Sasa yang berdiri di samping Raka diam-diam tersenyum puas melihat musuh bebuyutannya dibuat mati kutu hanya dengan kata-kata.

"Kau pikir kau bisa mengancamku di depan semua petinggi kota ini Raka?" geram Kevin menahan rasa malunya.

"Aku tidak mengancammu Kevin, aku hanya memberimu sebuah peringatan kecil sebagai tanda perkenalan kita."

Raka menepuk debu imajiner di bahu jas putih Kevin dengan gaya yang sangat merendahkan.

"Lain kali kalau mau bermain kejar-kejaran, kirim pembunuh yang lebih pintar sedikit, jangan yang cuma bisa pingsan kena setrum."

Kevin menggertakkan giginya hingga rahangnya mengeras menahan emosi yang siap meledak.

Ia sangat ingin meninju wajah sombong Raka sekarang juga, tapi ia tahu ini bukan tempat yang tepat.

Banyak mata konglomerat lain yang sedang memperhatikan keributan kecil mereka dari kejauhan.

"Kita lihat saja nanti di acara pelelangan besok lusa Raka."

Kevin mundur selangkah menjauhi Raka lalu merapikan jas putihnya yang disentuh oleh Raka tadi.

"Aku akan memastikan kau dan Sasa pulang dari acara itu dengan tangan kosong dan rasa malu yang tidak akan pernah hilang."

"Saya akan sangat menantikan pertunjukan dompet tebalmu itu Tuan Kevin," balas Raka tersenyum miring sambil melambaikan tangan mengusir Kevin.

Kevin berbalik dengan wajah merah padam menahan amarah dan berjalan cepat meninggalkan ruangan itu diikuti dua pengawalnya.

Hembusan nafas lega langsung terdengar dari mulut Sasa setelah rombongan Kevin menghilang dari balik pintu.

"Kau benar-benar gila Raka, kau memancing emosinya sampai dia nyaris kehilangan akal sehatnya di depan umum," tegur Sasa namun dengan senyum tipis di bibirnya.

"Orang arogan seperti dia itu paling lemah kalau rahasia kotornya dibongkar tepat di depan wajahnya Nona Sasa."

Raka mengambil dua gelas minuman dingin dari nampan pelayan yang kebetulan lewat di dekat mereka.

Ia memberikan satu gelas pada Sasa dan meminum bagiannya sendiri dalam satu tegukan.

"Dengan begini dia akan fokus menyerang saya di acara pelelangan nanti dan melupakan niatnya untuk mengirim pembunuh bayaran lagi."

Mata Sasa melebar menyadari taktik perang psikologis yang baru saja diterapkan oleh Raka barusan.

Raka sengaja menginjak harga diri Kevin agar pria itu memilih jalur peperangan finansial yang lebih elegan untuk membalas dendam.

"Kau sengaja memindah arena pertarungan dari jalanan ke atas meja lelang?" tanya Sasa takjub.

"Tentu saja bos, peluru nyasar itu berbahaya buat kesehatan, tapi kalau adu banyak uang kan saya punya pohon uangnya langsung."

Raka tertawa pelan lalu mengedipkan sebelah matanya pada Sasa yang masih menatapnya dengan pandangan tidak percaya.

"Sekarang karena urusan pamer jas dan pamer kesombongan sudah selesai, bolehkah asistenmu ini pergi makan?"

Raka memegangi perutnya yang mendadak berbunyi pelan karena ia belum makan malam sejak bolak-balik mengantar semen tadi sore.

Krucuk.

Sasa tertawa renyah mendengar suara perut Raka yang sangat tidak elit itu.

"Pergilah ke meja prasmanan di ujung sana Raka, makanlah sebanyak yang kau mau karena kau sudah bekerja sangat bagus malam ini."

"Siap laksanakan Nona Sasa, saya akan menghabiskan semua daging mahal di pesta ini biar panitianya rugi."

Raka berjalan santai meninggalkan Sasa menuju meja panjang yang menyajikan berbagai macam hidangan mewah dari seluruh dunia.

Ia mengambil piring paling besar yang tersedia dan mulai menumpuk potongan daging sapi panggang, lobster, dan salmon asap tanpa ragu.

Beberapa tamu wanita kaya yang berdiri di dekat meja itu menatap Raka dengan tatapan tertarik karena ketampanannya.

Tapi Raka sama sekali tidak mempedulikan tatapan menggoda mereka dan fokus melahap makanannya seperti orang kelaparan.

Nyam nyam nyam.

"Rasanya lumayan enak, tapi bumbunya masih kalah gurih sama micin yang gue kasih ke warga desa kemarin," kritik Raka mengunyah daging lobsternya.

Saat Raka sedang sibuk mengunyah, layar biru transparan sistemnya tiba-tiba berkedip redup di sudut pandangannya.

[Pemberitahuan Sistem: Proses pengecoran dinding pertahanan di Wilayah Dunia Kuno sedang berlangsung.]

[Perkiraan waktu selesai tahap pertama: 12 jam dari sekarang.]

Raka tersenyum puas membaca notifikasi pasif dari sistem gaibnya itu.

Karta dan Boris rupanya benar-benar menyuruh para bandit itu lembur gila-gilaan malam ini demi membuat dinding betonnya.

"Gue harus mulai nyari senjata api beneran di dunia modern buat jaga-jaga kalau dinding beton itu ternyata masih bisa ditembus musuh kuat di sana."

Raka memasukkan sepotong salmon terakhir ke mulutnya lalu membersihkan tangannya dengan serbet kain yang bersih.

Ia menatap ke arah Sasa yang kini sedang asyik mengobrol dan tertawa dengan rekan-rekan bisnis farmasinya.

Kehadiran Raka malam ini sukses menjadi tameng yang sempurna untuk menjaga reputasi dan keselamatan Sasa dari gangguan lalat seperti Kevin.

Malam pelelangan elit yang dijanjikan tinggal menghitung waktu, dan Raka sudah menyiapkan rencana gila untuk memeras dompet keluarga Naga Mas sampai kering.

1
Was pray
gak punya harta hidup sengsara karena sulit untuk makan, setelah kaya hidupnya gak semakin nyaman tapi semakin runyam, kamu terlalu mengumbar kekayaannya didepan publik Raka apa gunanya punya harta banyak tapi hidup selalu was was ? langkah awalmu di pelelangan gingseng dengan memunculkan identitas sebagai pemilik gingseng adalah kesalahan besar mu, sehingga kamu jadi incaran para mafia konglomerat,sifat Sik pamer adalah bumerang
Was pray
kuat dan pintar itu syarat utama sukses Raka. kaya aja gak cukup, otot dan otak bersinergi akan menghasilkan manusia tangguh
Was pray
satu keteledoran Raka lagi, membawa karung gingseng di depan publik
Was pray
aku kasih like kalau Raka udah cerdas gak blo'on lagi
Was pray
makanya belajar cerdas Raka, jangan miskin ganda , miskin harta dan miskin ilmu. harta mu akan musnah sia2 kalau kamu terlalu polos, kamu jadi ATM berjalan bagi orang yg rakus seperti sasa
Was pray
menang goblog si Raka ini, ngapain seratus gingseng langsung dikeluarkan bersamaan!? kalau langsung banyak ya kamu gak bisa main harga.... ah dasar jiwa miskin ya tetap miskin.... otaknya juga miskin
Was pray
kamu dibodohi dan diperalat Sasa gak nyadar kah Raka? berpikir mu terlalu pendek
Was pray
sasa lebih kejam dari preman pasar, dada mafia kelas kakap yg berkedok pengusaha kalau raka tetap polos tentang dunia mafia ya bisa mati jadi rempeyek...
Rifqy Channel
kok aku makin gak suka ya sama sasa itu selalu saja dipantau terus mana lagi disogok tuh 😒😒😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!