Tiga tahun menikah, tiga kali pula Rena harus kehilangan buah hatinya akibat kelelahan fisik dan mental. Di rumah besar milik ibu mertuanya di Solo, Rena bukan dianggap sebagai menantu, melainkan pembantu tanpa gaji yang harus melayani seluruh keluarga besar suaminya tanpa kenal lelah. Ketika kesabarannya habis dan nyawanya terancam, sebuah keputusan besar diambil: Keluarga atau rumah petak sederhana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama Menuju Kebebasan
Ucapan Gunawan barusan membuat seisi rumah mendadak hening. Suara dengung kulkas di sudut dapur terdengar begitu nyaring di tengah kebisuan yang mendadak mencekam. Bu Darmi mematung, matanya membelalak tak percaya menatap anak lelaki bungsunya. Selama ini, Gunawan dikenal sebagai anak yang paling penurut, penakut, dan tidak pernah berani membantah sepatah kata pun perintah sang ibu.
"Kamu... kamu bilang apa, Gunawan?!"
suara Bu Darmi bergetar, bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang telanjur membumbung tinggi hingga ke ubun-ubun.
"Kamu mau pergi dari rumah ini demi perempuan mandul itu? Wah, benar-benar sudah ketularan kurang ajar kamu ya! Silakan! Pergi sana! Tapi ingat, jangan pernah harapkan sepeser pun harta warisan atau bantuan dari keluarga ini lagi!"
Bayu, sang kakak sulung, ikut mendengus sinis sambil melipat tangan di dada. Ia tersenyum meremehkan, memandang adiknya dengan tatapan penuh penghinaan.
"Bagus kalau begitu! Sok-sokan mau ngontrak rumah, padahal gaji pas-pasan sebagai buruh pabrik sepatu. Paling-paling baru seminggu tinggal di rumah petak, kalian berdua bakal balik lagi ke sini sambil nangis-nangis minta ampun!"
Mira ikut menimpali dengan tawa kecil yang terdengar menyebalkan.
"Iya, betul tuh, Mas Bayu. Biar mereka tahu rasa gimana susahnya hidup di luar tanpa fasilitas gratis dari ibu. Nanti juga paling nyusahin saudara."
Rena mengepalkan kedua tangannya erat-erat di balik tubuhnya. Hatinya perih mendengar hinaan bertubi-tubi yang dilontarkan oleh orang-orang yang selama tiga tahun ini sudah ia layani siang dan malam tanpa kenal lelah. Namun, di balik rasa sakit itu, ada kelegaan luar biasa yang mulai merayap di dadanya. Keputusan ini sudah bulat. Lebih baik hidup susah di rumah petak yang sempit tapi penuh kedamaian, daripada hidup di istana megah tapi berstatus sebagai pesuruh yang diinjak-injak harga dirinya setiap hari.
"Ayo, Ren," bisik Gunawan pelan namun tegas, merangkul bahu istrinya dengan penuh keyakinan.
Tanpa membuang waktu dan tanpa menoleh sedikit pun ke arah ibu, kakak, maupun ipar mereka, Gunawan dan Rena melangkah masuk kembali ke dalam kamar. Mereka mulai membereskan barang-barang pribadi mereka. Tidak banyak yang mereka miliki. Hanya dua buah koper kusam berisi pakaian seadanya, beberapa buku catatan lama, dan sebuah tabungan celengan plastik hasil menyisihkan uang belanja harian secara diam-diam yang jumlahnya tidak seberapa.
Di luar kamar, Bu Darmi masih terus mengomel panjang lebar, meluapkan kemarahannya pada dinding dan udara kosong, sementara Bayu dan Mira kembali masuk ke kamar mereka sambil tertawa-tawa mengejek.
Pukul sembilan malam, di bawah temaram lampu jalan kampung yang mulai berdebu, Rena dan Gunawan melangkah keluar dari halaman rumah berlantai dua itu. Angin malam desa Solo berhembus cukup kencang, menerpa wajah pucat Rena. Di tangan Gunawan, koper berat ditarik menyusuri jalanan setapak beraspal kasar.
Mereka berjalan beriringan dalam sunyi. Tidak ada kata penyesalan di wajah Gunawan, yang ada hanyalah kelegaan karena akhirnya ia bisa berdiri sebagai suami seutuhnya. Di ujung jalan, sebuah rumah petak kecil berukuran tiga kali enam meter dengan dinding cat putih yang sudah mulai mengelupas tampak sepi, menunggu mereka. Itulah awal mula kehidupan baru mereka—kecil, sederhana, namun milik mereka berdua seutuhnya.