NovelToon NovelToon
VAELMOOR: Yang Cukup Tidak Selalu Cukup

VAELMOOR: Yang Cukup Tidak Selalu Cukup

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:763
Nilai: 5
Nama Author: SilentNovels

Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7 Cahaya Redup di Telapak Tangan

Debu dari makhluk yang mereka kalahkan masih melayang tipis di udara ketika Tomas menemukan celah di balik altar itu sendiri, sebuah retakan sempit di dinding batu besar yang mengelilingi lorong, cukup lebar untuk dilalui satu per satu dengan tubuh miring.

"Di sini," katanya, sudah menyalakan lentera kecil dari perlengkapannya, cahayanya menembus kegelapan yang tersembunyi di balik retakan itu. "Ada ruangan."

Arden mendekat, masih merasakan sisa ketegangan di dadanya dari apa yang terjadi beberapa saat lalu, meski ia sudah berusaha menyembunyikannya di balik ketenangan yang biasa. Lengannya, yang sudah dibalut Corym, masih terasa berdenyut pelan, tapi ia mengabaikannya, lebih memilih fokus pada apa yang ada di depan mereka.

"Aku masuk lebih dulu," katanya.

"Biar aku bersamamu," kata Corym, tanpa menunggu persetujuan, sudah bergerak mendekat ke celah itu.

Ilena juga melangkah maju, prisma kecilnya sudah aktif, cahayanya berkedip lembut di kegelapan. "Kalau ada relik di dalam sana, aku perlu memastikan tidak ada jebakan tambahan sebelum kalian menyentuh apa pun."

Yang lain menunggu di luar, formasi tetap terjaga meski ancaman terbesar sudah dikalahkan. Petra berdiri dekat Halden, masih memproses apa yang baru saja terjadi, sementara Wick duduk di sebuah batu datar, napasnya sudah lebih tenang meski tangannya masih sedikit gemetar. Brann berjongkok tak jauh darinya, memeriksa sampel kain dan debu kristal yang sudah ia kumpulkan sepanjang perjalanan, meski matanya terus melirik ke arah celah tempat Arden, Corym, dan Ilena menghilang.

Di dalam, ruangan yang tersembunyi itu ternyata tidak terlalu besar, hanya cukup untuk beberapa orang berdiri berdekatan. Dindingnya dipenuhi ukiran spiral yang sama seperti yang terlihat di altar luar, kali ini membentang di seluruh permukaan, mengarah ke satu titik di tengah ruangan: sebuah ceruk kecil di dinding, tempat sebuah benda bercahaya lemah tersimpan.

Fragmen itu tidak lebih besar dari kepalan tangan, berbentuk tidak beraturan seperti pecahan sesuatu yang jauh lebih besar, permukaannya berkilau seperti kristal namun dengan urat-urat cahaya kebiruan yang bergerak lambat di dalamnya, seolah cairan yang mengalir perlahan di bawah permukaan batu.

"Itu dia," gumam Ilena, prismanya berkedip lebih cepat mendekati benda itu. "Sesuai deskripsi di kontrak Draymoor. Fragmen Inti Verlanth."

"Aku tidak menyangka akan terlihat seperti ini," kata Corym, mendekat perlahan, matanya menyipit menatap cahaya yang bergerak di dalam kristal itu. "Kupikir relik keluarga biasanya berupa perhiasan atau senjata, bukan sesuatu seperti ini."

"Catatan Draymoor menyebutnya sebagai pusaka leluhur," kata Ilena, masih memindai. "Tidak ada penjelasan detail soal bentuknya. Mungkin memang sengaja tidak dijelaskan."

Arden mendekat perlahan, memperhatikan benda itu dari jarak yang masih aman, mengingat kejadian di altar luar yang baru saja mereka lalui. "Apa ini aman disentuh?"

Ilena memeriksa pembacaan prismanya sekali lagi, mengernyit. "Konsentrasi Anima di dalamnya cukup tinggi, tapi tidak menunjukkan tanda-tanda berbahaya. Tidak ada residu yang mengindikasikan jebakan tambahan. Sejauh yang bisa kubaca, ini murni relik pasif."

"Aku akan mencobanya dulu," kata Corym, melangkah maju sebelum Arden bisa menawarkan diri.

Ia mengulurkan tangan, jarinya menyentuh permukaan kristal itu perlahan. Tidak terjadi apa-apa selain sensasi dingin yang wajar dari batu, dan cahaya biru di dalamnya tetap bergerak dengan ritme yang sama seperti sebelumnya, tidak berubah sama sekali.

"Terasa biasa saja," kata Corym, mengangkat fragmen itu sedikit dari ceruknya untuk memeriksa beratnya. "Cukup berat untuk ukurannya, tapi tidak ada yang aneh."

Ilena mendekat, menyentuhnya juga untuk memastikan pembacaan prismanya konsisten. Sekali lagi, tidak ada perubahan berarti, hanya angka-angka stabil yang sesuai dengan yang sudah ia baca dari jarak jauh sebelumnya.

"Sama," gumamnya. "Tidak ada reaksi tambahan."

Corym menyerahkan fragmen itu kembali ke ceruknya, lalu menoleh ke arah Arden. "Sepertinya aman. Kau ingin memeriksanya sendiri sebelum kita membawanya keluar?"

Arden ragu sesaat, sesuatu yang tidak biasa baginya, sebelum akhirnya melangkah maju. Ia teringat sesaat pada apa yang terjadi di luar, pada aliran Anima yang tiba-tiba terkunci tanpa alasan, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasakan sedikit keraguan menyentuh sesuatu yang berhubungan dengan Anima sama sekali.

Tapi ia mendorong keraguan itu ke belakang, seperti biasa, dan mengulurkan tangannya.

Begitu jarinya menyentuh permukaan kristal itu, cahaya biru di dalamnya berubah.

Bukan berkedip biasa seperti sebelumnya. Cahaya itu menyala lebih terang sesaat, memancar keluar dari permukaan kristal dalam pola yang menyerupai denyut, seolah benda itu tiba-tiba terbangun dari tidur panjang, mengenali sesuatu yang selama ini ia tunggu.

"Arden," kata Ilena, suaranya tegang, "jangan lepaskan dulu. Tetap di sana."

Arden menahan tangannya, meski insting pertamanya adalah menarik diri secepat mungkin. Cahaya itu terus berdenyut selama beberapa detik, cukup lama untuk membuat ketiganya berdiri diam menyaksikan, sebelum akhirnya meredup kembali ke intensitas semula, seolah apa pun yang baru saja terjadi sudah selesai.

Corym menatap fragmen itu, lalu menatap Arden, ekspresinya campuran antara kebingungan dan kewaspadaan. "Itu tidak terjadi saat aku menyentuhnya."

"Atau saat aku," tambah Ilena, masih menatap layar prismanya, jarinya bergerak cepat mencoba menangkap data dari lonjakan tadi sebelum benar-benar hilang. "Pembacaan Anima di sekitarnya melonjak drastis tepat saat kau menyentuhnya, Arden. Bukan dari fragmennya saja. Dari kalian berdua sekaligus, seolah saling merespons."

Arden menarik tangannya perlahan, menatap telapak tangannya sendiri seolah mencari jawaban di sana. "Aku tidak melakukan apa pun."

"Aku tahu," kata Ilena, cepat. "Aku tidak menuduhmu melakukan sesuatu. Aku hanya mencatat apa yang terjadi."

Keheningan singkat menyusul, hanya diselingi denyut cahaya biru yang kini kembali stabil di dalam fragmen itu, seolah tidak pernah terjadi apa pun.

...----------------...

Ketika mereka membawa kabar itu keluar ke rombongan yang menunggu, reaksi yang muncul jauh lebih beragam dari yang diharapkan Arden.

"Menarik," kata Brann, hampir melompat dari tempat duduknya begitu mendengar penjelasan singkat Ilena, matanya berbinar dengan rasa ingin tahu yang seketika mengalahkan kelelahannya sendiri. "Sangat menarik. Boleh aku melihatnya?"

"Hati-hati," kata Corym, menyerahkan fragmen itu dengan gerakan pelan.

Brann memeriksanya dengan teliti, memutar-mutar benda itu di tangannya, matanya menyipit mengamati urat cahaya biru di dalamnya dari berbagai sudut. "Kalau aku harus menebak berdasarkan teori dasar Anima, mungkin relik ini punya semacam resonansi selektif. Beberapa artefak kuno memang tercatat bereaksi berbeda terhadap Jalur tertentu, jalur pedang misalnya, atau kapasitas Wadah yang lebih besar dari rata-rata."

"Tapi Corym juga jalur pedang," kata Petra, mendekat untuk melihat lebih jelas.

"Benar, itu masalahnya," kata Brann, mengernyit, kali ini terdengar lebih frustrasi daripada bersemangat. "Kalau memang soal jalur, seharusnya Corym juga memicu reaksi yang sama, hanya mungkin dalam skala berbeda. Tapi menurut Ilena, tidak ada reaksi sama sekali dari Corym. Itu tidak sesuai dengan teori resonansi jalur standar."

"Mungkin soal kapasitas Wadah?" tanya Tomas, yang sejak tadi mendengarkan dalam diam.

"Mungkin," kata Brann, meski nada suaranya tidak yakin. "Tapi aku tidak pernah dengar ada relik yang bisa membaca kapasitas Wadah seseorang secara spesifik seperti ini, apalagi hanya lewat sentuhan singkat. Ini bukan sesuatu yang tercatat dalam teori Anima standar mana pun yang pernah kupelajari."

Arden berdiri agak menjauh dari kerumunan yang mengelilingi fragmen itu, mendengarkan diskusi ilmiah Brann dengan perasaan yang sulit ia jelaskan. Bagian dari dirinya ingin tahu jawabannya sama seperti yang lain. Bagian lain, yang lebih dalam dan lebih diam, justru berharap tidak ada jawaban sama sekali, karena setiap jawaban yang mungkin muncul terasa seperti akan membawa lebih banyak pertanyaan daripada yang siap ia hadapi.

"Jadi," kata Halden akhirnya, memotong diskusi ilmiah yang mulai berputar tanpa kesimpulan jelas, "apa kita membawanya atau tidak?"

Pertanyaan sederhana itu membuat seluruh rombongan terdiam sejenak.

"Kontrak kita memang untuk mengambil relik ini," kata Corym, hati-hati. "Tapi kalau reliknya berperilaku aneh seperti ini, mungkin lebih bijak untuk melaporkannya ke Guild dulu sebelum membawanya keluar Menara."

"Itu akan menunda kontrak kita berhari-hari," kata Ness dalam bayangan pikiran Arden, meski quartermaster mereka tidak ada di sini untuk mengucapkannya sendiri, Arden bisa membayangkan persis apa yang akan dikatakan Ness soal keterlambatan pembayaran dan reputasi kontrak yang tertunda.

"Draymoor secara khusus meminta ini diambil sediam mungkin," kata Petra, mengingatkan yang lain. "Kalau kita melibatkan Guild sekarang, itu bertentangan langsung dengan permintaannya."

"Permintaan yang, jujur saja, sudah terasa mencurigakan sejak awal," kata Corym, menatap Arden secara langsung sekarang.

Arden menghela napas, mempertimbangkan semua sisi yang dilemparkan padanya sekaligus. Ia menatap fragmen itu, masih di tangan Brann, cahaya birunya berdenyut tenang seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

"Ilena," katanya akhirnya, "apa fragmen ini menunjukkan tanda bahaya aktif, selain reaksi terhadapku?"

"Tidak," jawab Ilena, jujur. "Selain lonjakan tadi, semua pembacaannya stabil. Tidak ada indikasi ia akan meledak, atau melepaskan energi berbahaya secara tiba-tiba."

"Kalau begitu," kata Arden, "kita bawa. Kita sudah cukup jauh untuk kembali tanpa hasil, dan kalau memang ada sesuatu yang perlu diselidiki soal reaksi ini, kita bisa melakukannya dengan lebih baik setelah kembali ke Aldenmere, di tempat yang lebih aman daripada di tengah lantai Menara seperti ini."

Corym menatapnya lebih lama, jelas belum sepenuhnya setuju, tapi akhirnya mengangguk. "Baiklah. Tapi aku ingin kita mencatat semua ini secara resmi begitu kita kembali. Bukan hanya untuk Guild, untuk kita sendiri juga."

"Setuju," kata Arden.

Brann membungkus fragmen itu dengan hati-hati menggunakan kain khusus dari perlengkapannya, dirancang untuk menyimpan bahan-bahan sensitif tanpa memicu reaksi tak diinginkan selama perjalanan. Ia menyerahkannya pada Arden, yang menerimanya dengan kedua tangan, merasakan berat benda itu melalui lapisan kain, meski tidak ada lagi denyut cahaya aneh yang bisa terlihat sekarang.

"Kita kembali," kata Arden, menoleh pada seluruh rombongan. "Tomas, pimpin jalur pulang. Kita sudah cukup lama di sini."

...----------------...

Rombongan mulai bergerak keluar dari ruangan tersembunyi itu, satu per satu melewati celah sempit menuju lorong altar yang lebih besar. Arden berjalan di antara yang terakhir, fragmen terbungkus itu masih ia genggam erat, pikirannya masih dipenuhi terlalu banyak pertanyaan yang belum bisa ia jawab.

Ketika ia melangkah keluar dari celah itu, kembali ke lorong altar yang lebih terbuka, ia merasakannya lebih dulu sebelum mendengarnya: getaran halus di bawah kakinya, hampir tidak terasa pada awalnya, tapi dengan cepat tumbuh lebih kuat.

"Arden," kata Ilena, suaranya tegang, "prismaku baru saja menangkap lonjakan besar. Sumbernya dari fragmen yang kau bawa."

Sebelum Arden bisa menjawab, getaran itu berubah menjadi guncangan penuh, tanah di bawah mereka bergetar keras, dan dari langit-langit tinggi lorong altar, retakan-retakan mulai menjalar cepat di sepanjang formasi batu besar yang mengelilingi mereka.

"Semua orang keluar dari sini!" seru Corym, sudah bergerak mendorong yang terdekat dengannya menuju arah lorong keluar.

Rombongan berlari, formasi mereka pecah untuk sesaat demi kecepatan, debu dan serpihan batu kecil mulai berjatuhan dari atas, menciptakan kabut tipis yang membuat pandangan semakin sulit. Wick berlari di antara Brann dan Halden, ketakutan jelas terlihat di wajahnya tapi kakinya tidak berhenti bergerak. Petra dan Tomas berlari lebih dulu, memimpin jalan kembali menuju arah hutan kristal yang lebih terbuka.

Arden berlari di barisan terakhir bersama Corym dan Ilena, fragmen masih tergenggam erat di tangannya, jantungnya berdegup kencang bukan hanya karena kepanikan, tapi karena sesuatu yang lebih dalam, sebuah kesadaran yang mulai terbentuk bahwa benda yang ia genggam ini mungkin adalah penyebab semua kekacauan yang sedang terjadi.

Mereka hampir mencapai mulut lorong keluar ketika guncangan mencapai puncaknya, dan di belakang mereka, dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga, seluruh formasi batu besar yang membentuk lorong altar itu runtuh sepenuhnya, menutup jalan yang baru saja mereka lalui dalam hitungan detik, meninggalkan gundukan reruntuhan besar yang membentang menghalangi jalur kembali.

Debu masih mengepul tebal ketika rombongan berhenti berlari, terengah-engah, menatap ke belakang pada apa yang tersisa dari lorong altar itu, kini tak lebih dari tumpukan batu dan kristal pecah.

"Kita terjebak," kata Wick, suaranya nyaris berbisik, matanya masih menatap reruntuhan itu dengan tidak percaya.

Tidak ada yang segera menjawabnya. Seluruh rombongan berdiri diam di tengah hutan kristal, napas mereka masih memburu, sementara di tangan Arden, terbungkus kain yang kini terasa jauh lebih berat dari sebelumnya, Fragmen Inti Verlanth kembali tenang, cahaya birunya berdenyut lembut seolah tidak pernah menjadi penyebab dari kekacauan yang baru saja terjadi.

1
San Sensei
semangat ya kak 👍
SilentNovels: makasih ya
total 1 replies
the virtuso
saling support thor 👍
SilentNovels: siap Abang thor kuh
total 1 replies
Fleuriaa
walaupun karya novel nya cuma ada satu, tapi alur ceritanya berkualitas dan novel nya punya potensi asalkan konsisten
SilentNovels: wah, makasih banyak ya kak
total 1 replies
@.me.⭐🌟
oooh jadi ini yang di baca oleh @ .ar. world hmm cukup menarik juga tapi jangan terlalu kebanyakan tulisan katanya nantinya pembaca bisa kewalahan tapi gpp cerita mu sudah cukup bagus
SilentNovels: Makasih banyak masukannya 😄 Untuk chapter-chapter berikutnya bakal aku usahakan konsisten di 1.500–2.000 kata, biar tetap nyaman dibaca dan nggak bikin kewalahan. Senang juga kalau sejauh ini ceritanya cukup menarik buat kamu. Makasih sudah baca dan kasih pendapat!
total 1 replies
#@.Ar.world(。・ω・。)
cerita nya bagus 👍 aku suka dan udah aku kasih like
SilentNovels: wah, ngk pp deh makasih ya
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!