NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Janda / Menikahi tentara
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6: Kalau Berani, Kamu yang Susui

Kabar tentang dua mangkuk mi berubah bentuk sebelum matahari tenggelam.

Versi pertama, Bram memergokiku mencuri bahan dapur. Versi kedua, aku sengaja memasak tengah malam agar bisa bertemu dengannya. Versi paling liar menyebut mi bawangku memakai guna-guna sehingga Komandan mau menanggung hukuman seorang janda.

Aku mendengar semuanya saat mengambil air panas.

"Kalau benar pakai guna-guna, minta resepnya," kata Bu Tuti, perempuan dari kamar seberang. Ia sengaja bicara keras sambil menyikat sandal. "Suamiku sudah sepuluh tahun makan masakanku, tetap lebih sayang motor bebeknya."

Beberapa perempuan tertawa. Pembicaraan bubar.

Seorang ibu yang masih bertahan menatap emberku. "Tapi benar Pak Danyon makan masakannya, kan?"

"Benar," jawabku.

Ia mendekat penuh rasa ingin tahu. "Berdua?"

"Bersama dua mangkuk, satu meja, dan seluruh bahan milik dapur yang sekarang sudah dibayar. Kalau Ibu mau tahu lebih lengkap, salinan tegurannya ada di logistik."

Wajahnya memerah. Tuti menutup mulut dengan ujung kerudung agar tawanya tidak meledak.

Aku mengangkat termos dan pergi. Membantah semua gosip satu per satu hanya akan membuatku kehabisan napas. Lebih baik memberi mereka fakta yang begitu membosankan sampai tak bisa dikunyah lagi.

Tuti mendekat dan merendahkan suara. "Aku nggak percaya omongan mereka. Tapi kamu hati-hati sama Bu Ratna. Kalau satu jalan tertutup, dia cari jendela."

"Terima kasih, Bu Tuti."

"Panggil Tuti saja kalau nggak ada orang. Kamar kita berhadapan. Kalau Sena demam atau kamu perlu ke kamar mandi, ketuk."

Itulah tawaran bantuan pertama yang kuterima tanpa syarat sejak datang.

Pagi berikutnya, baki makananku berisi nasi, telur, sayur, segelas susu, dan satu pisang. Di bawahnya ada formulir dari klinik: tambahan kalori untuk ibu menyusui, dievaluasi tiap pekan.

Aku memeriksa tanda tangan Hendra dan stempel klinik sebelum menyentuh makanan.

Darman mendengus. "Sekarang semuanya resmi. Jangan bikin saya kehilangan mi lagi."

"Kalau lapar malam?"

Ia menunjuk kotak baru di rak. "Isi biskuit, mi, sama buku catatan. Tulis nama."

Aku tersenyum. "Berarti dua mangkuk kemarin ada gunanya."

"Ada. Bikin saya kerja tambah banyak."

Di meja belakang, sendok jatuh dengan bunyi keras. Ratna menatap baki tambahanku.

Siang itu ia datang ke kamar membawa senyum yang terlalu manis.

"Saya mau bicara dari hati ke hati, Mbak Laras."

Aku menggeser kursi. Sena sedang tengkurap di atas tikar, menepuk-nepuk kain dengan gembira.

"Silakan, Bu."

"Soal tambahan makanan. Walau resmi, bukan berarti harus diambil semua. Ibu-ibu lain bisa merasa ada ketimpangan. Mungkin sebagian dikembalikan demi kebersamaan."

Aku menatapnya. "Yang harus saya kembalikan telur, susu, atau pisang?"

"Bukan begitu maksud saya."

"Formulirnya menyebut kebutuhan ibu menyusui supaya produksi ASI cukup untuk Sena. Kalau saya kembalikan, siapa yang mengganti kebutuhan itu?"

Ratna menarik napas. "Kami juga pernah menyusui. Nggak perlu berlebihan."

"Bagus, berarti Ibu paham tubuh butuh makan. Kalau Ibu merasa jatah ini terlalu banyak, mau Ibu yang susui Sena?"

Senyumnya hilang.

"Jaga bicaramu."

"Saya sedang menjaga makanan Sena. Itu pekerjaan saya."

Tuti kebetulan lewat membawa jemuran. Ia berhenti di depan pintu yang terbuka. Ratna melihatnya, lalu berdiri.

"Saya cuma mengingatkan. Jangan sampai kebaikan orang membuat lupa diri."

"Saya ingat semua yang membantu dan semua yang berusaha mengambil makanan bayi."

Ratna pergi dengan langkah cepat.

Tuti masuk setelah lorong sepi. "Waduh. Kalau ada lomba balas omongan, kamu juara satu."

"Tanganku gemetar, Bu."

Aku menunjukkannya. Benar, jari-jariku dingin. Tuti tertawa lalu menggenggamnya.

"Berani bukan berarti nggak takut. Berani itu tetap ngomong meski lutut mau copot."

Menjelang malam, Adi datang membawa termos.

"Mbak Laras, Komandan belum makan sejak pagi. Rapat terus, lalu latihan. Semalam juga katanya nggak tidur."

"Kenapa bilang ke saya?"

Adi menggaruk kepala. "Saya sudah bawa nasi. Balik lagi utuh. Kalau mi buatan Mbak mungkin mau."

Aku teringat mangkuk yang bersih sampai tak ada bawang tersisa.

"Saya nggak mau ambil bahan diam-diam."

"Sekarang ada buku resmi. Saya tanda tangan sebagai peminta."

Kami turun ke dapur. Aku membuat mi telur bawang dengan sayur sawi cincang agar lebih mengenyangkan. Adi mencatat seluruh bahan, lalu membawakan Sena sementara aku mengangkat baki.

Kantor Bram berada di ujung gedung utama. Pintu terbuka. Ia duduk membungkuk di atas peta latihan, satu tangan memijat tengkuk.

"Pak Danyon."

Ia mengangkat kepala. Kelelahan mempergelap bawah matanya.

"Adi bilang Bapak belum makan."

"Adi terlalu banyak bicara."

"Kali ini ada gunanya."

Aku meletakkan baki. Bram menggeser map agar tidak terkena kuah.

"Kamu masak sendiri?"

"Lewat prosedur, dicatat, ada saksi. Saya belajar dari teguran."

Sudut bibirnya hampir bergerak. Ia mengambil garpu.

Saat membungkuk, kerah kaus dalamnya bergeser. Di belakang leher, dekat bahu kanan, tampak bekas luka panjang berwarna pucat. Bukan goresan biasa. Bentuknya seperti sesuatu pernah merobek kulit lalu dijahit terburu-buru.

Tatapanku terlalu lama.

Bram menyentuh kerah. "Kenapa?"

"Bekas luka."

"Luka lama."

"Sakit kalau kurang tidur?"

Ia tidak menjawab, tetapi tangan yang tadi memijat tengkuk sudah menjadi jawaban.

Aku menuangkan air hangat. "Makan dulu. Setelah itu kalau Bapak masih mau keras kepala, silakan."

"Kamu sedang memerintah saya?"

"Saya sedang memastikan orang yang membayar dua mangkuk mi nggak pingsan karena telat makan."

Bram menatapku beberapa detik, lalu benar-benar mulai makan.

Suapan pertama ia telan cepat. Pada suapan kedua, bahunya yang kaku sedikit turun.

"Terlalu asin?" tanyaku.

"Pas."

"Sayurnya?"

"Bisa dimakan."

"Pujian Bapak memang murah sekali."

"Kalau mau pujian panjang, panggil Adi."

Aku tertawa pendek sebelum sempat menahan diri. Bram menatapku, dan untuk satu detik kantor yang penuh peta serta map itu tak lagi terasa dingin.

Dari lorong, Adi berdeham keras. Ia berdiri sambil menggendong Sena dengan posisi terlalu tegak.

"Mbak, sepertinya Sena cari minum."

Aku mengambil bayi itu dan membetulkan kepalanya. "Bukan cari minum. Dia mengantuk. Gendongnya jangan seperti membawa karung beras."

"Siap."

Bram memperhatikan saat Sena langsung menyandarkan pipi ke bahuku. Sorot matanya berubah sebentar, seperti ada kalimat yang ingin keluar tetapi ditahan.

Aku seharusnya pergi. Namun sebuah gagasan muncul ketika melihat sawi cincang di mangkuk.

"Pak Danyon, saya bisa mengajari Pak Darman membuat bubur dan makanan pendamping untuk Sena. Biar kalau saya sakit atau harus pulang sebentar, dia nggak langsung bergantung pada formula."

Garpu Bram berhenti.

Ia mengangkat mata, dan entah mengapa tatapan itu terasa lebih dekat daripada sentuhan.

Di luar, langkah Adi menjauh dengan sengaja, meninggalkan kami berdua bersama semangkuk mi yang masih mengepul dan pertanyaan yang belum dijawab di antara kami.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!