Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?
Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.
Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.
"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"
Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.
Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—
Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35 Menghitung Kesempatan
Nathan tidak suka peluang acak.
Ia tahu angka dapat dipakai untuk menjelaskan ketidakpastian, tetapi jarang mampu menenangkan seseorang yang harus hidup di dalamnya. Saat Yovita duduk tiga kursi dari Keira, ia mulai menghitung bukan karena angka berguna, melainkan karena otaknya menolak diam.
Kemungkinan Yovita tahu hubungan mereka: rendah.
Kemungkinan Erwin sudah memberinya sasaran: tinggi.
Kemungkinan pertemuan hari ini benar-benar kebetulan: hampir nol.
"Kamu tidak makan," bisik Keira.
Nathan mengambil sepotong daging dari piringnya. "Aku sedang berpikir."
"Terlihat. Dahimu berkerut."
"Masih tampan?"
"Makan dulu."
Di seberang meja, Yovita sedang menjelaskan galeri miliknya kepada Cindy. Ia menyebut rencana pameran imersif, kerja sama dengan seniman asing, dan kebutuhan sistem AI untuk kurasi pengunjung.
"NARA mungkin cocok," katanya sambil menatap Nathan. "Nilainya sekarang sekitar satu miliar dolar, kan?"
Nathan meletakkan garpu. "Perkiraan pasar berubah. Proposal kerja sama bisa dikirim ke kanal bisnis."
"Kaku sekali. Kita sedang makan malam."
"Karena itu aku tidak membawa kontrak."
Kevin tertawa terlalu keras. Adrian menyesap minuman untuk menyembunyikan senyum.
Yovita tidak kehilangan ketenangannya. Ia beralih kepada Keira. "Gaunmu dibuat siapa? Aku punya kenalan perancang di Paris. Kalau waktunya sempit, aku bisa membantu."
"Gaunku sudah hampir selesai."
"Boleh lihat sketsanya? Aku suka desain pengantin."
"Nanti setelah hari pernikahan. Nathan juga belum melihat."
"Rahasia dari suami sendiri?"
"Kejutan yang disepakati bukan rahasia."
Jawaban itu lembut, tetapi menutup pintu. Yovita tersenyum lalu menanyakan ilustrasi Keira, berapa lama ia bekerja, dan apakah setelah menikah akan berhenti.
"Aku tetap bekerja," jawab Keira. "Pernikahan tidak menghapus pekerjaanku."
"Tentu. Aku cuma penasaran. Banyak perempuan di lingkaran kita memilih fokus pada keluarga."
"Itu pilihan mereka. Ini pilihanku."
Nathan tidak perlu membantu. Keira mengatur batasnya sendiri dengan tenang. Ia hanya memastikan gelas di depannya tetap berasal dari botol yang dibuka di meja.
Ketika Cindy mengajak Yovita melihat kolam kecil di sisi taman, Keira menyentuh lengan Nathan.
"Kamu mengenalnya?"
Pertanyaan itu membuat hitungan di kepala Nathan berhenti.
"Aku tahu keluarganya dari informasi publik."
"Bukan itu. Sejak dia datang, kamu melihatnya seperti ancaman."
Nathan memilih kata-kata dengan hati-hati. "Ko Erwin pernah mencoba mendekati NARA. Aku tidak percaya motif bisnisnya. Yovita adiknya."
"Adik kandung?"
"Satu ayah, ibu berbeda."
Itu adalah fakta yang aman dibagikan. Keira mengangguk, tetapi matanya tetap meneliti wajah Nathan.
"Ada lagi?"
"Ada sesuatu yang belum menjadi hakku untuk kuceritakan lebih dulu."
Keira terdiam. Jawaban itu tidak nyaman, tetapi setidaknya bukan kebohongan baru.
"Menyangkut aku?"
"Ya."
"Membahayakanku sekarang?"
"Tidak secara langsung. Kalau menjadi bahaya, aku akan bicara saat itu juga."
Keira menarik tangannya. "Aku akan menagih penjelasan itu."
"Aku tahu."
Nathan ingin memberitahunya di sana, tetapi taman orang lain dan kehadiran Yovita adalah tempat terburuk untuk membongkar asal-usul hidup seseorang. Ia perlu memberi Herman dan Mariana satu batas waktu, bukan penantian tanpa ujung.
Malam ini, ia memutuskan. Setelah pesta selesai, ia akan menghubungi mereka. Jika keluarga Sutanto tidak siap bicara sebelum pernikahan, Nathan akan meminta izin Keira untuk menunjukkan seluruh data yang ia miliki.
Cindy mengalihkan percakapan ke Empat Keluarga. "Kalau dikumpulkan begini, tinggal kurang Darius."
"Dia kembali minggu depan," kata Kevin. "Om Rudy ulang tahun Jumat depan. Kalian pasti datang."
Adrian menatap Kevin. "Jangan menyebar undangan yang bukan milikmu."
"Keluarga sudah mengundang semua orang."
Yovita bertanya, "Kenapa disebut Empat Keluarga kalau setiap keluarga punya banyak anak?"
"Karena media suka istilah singkat," jawab Marcus. "Tidak punya arti resmi."
"Tapi posisi kalian tetap menarik."
Tatapannya berhenti pada Marcus. Nathan mencatatnya. Yovita paling menginginkan kakaknya, bukan dirinya. Adrian berada di urutan berikutnya, sementara dirinya mungkin hanya berguna karena sudah menikah dan bisa dijadikan skandal.
Perempuan itu tidak datang untuk jatuh cinta. Ia datang untuk menghitung kesempatan.
Di sisi lain taman, Yovita juga sedang menghitung. Marcus memiliki posisi tertinggi dan belum menikah, tetapi sikapnya lebih dingin dari foto-foto majalah. Adrian ramah kepada semua orang sehingga sulit dibaca. Nathan lebih muda, sudah menikah, dan tampak terikat pada Keira dengan intensitas yang tidak disebut Erwin.
Erwin hanya berkata pernikahan mereka rapuh dan Nathan mudah bosan. Pemandangan di meja justru menunjukkan sebaliknya.
Namun Yovita sudah terlalu lama hidup di rumah yang mengajarkan bahwa semua hubungan memiliki harga. Kalau Nathan tidak bisa diambil dengan rayuan, sebuah kesalahpahaman mungkin tetap cukup untuk merusak kepercayaan.
Ia tidak menyukai metode itu. Ia juga tidak berhenti memikirkannya.
Kevin bersandar di kursi. "Vita, dari semua orang di sini, siapa yang paling menarik?"
"Pertanyaanmu kasar."
"Makanya menarik."
"Aku lebih suka laki-laki yang tidak bertanya seperti itu."
"Berarti aku gugur."
"Kau tidak pernah masuk daftar," kata Cindy.
Tawa pecah di meja. Yovita ikut tertawa, tetapi matanya kembali bergerak ke Marcus. Marcus tetap tidak memberi celah. Ia berbicara dengan Adrian tentang renovasi, sesekali bertanya kepada Keira tentang Calista, dan sama sekali tidak menanggapi pujian Yovita.
Nathan bangkit untuk mengambil air. Adrian mengikutinya ke meja samping.
"Tamu Kevin?" tanya Nathan pelan.
"Katanya bertemu di jalan. Aku tidak percaya."
"Plat mobilnya dicatat."
"Kau membawa pengawal ke makan malam?"
"Mereka selalu ada."
Adrian memandangnya sejenak. "Ada sesuatu yang perlu kuketahui?"
Nathan menahan jawaban. Rahasia Fenny bukan miliknya untuk dibagikan. "Hanya risiko bisnis dari Zenith."
"Kalau menyentuh rumahku, beri tahu."
"Aku akan beri tahu ancamannya, bukan data pribadi orang lain."
Adrian mengangguk, menerima batas itu.
Saat Nathan kembali, Yovita sedang memuji cincin Keira dan bertanya apakah Nathan memilihkannya.
"Aku yang pilih," jawab Keira.
"Berani sekali. Model ular kadang dianggap terlalu tajam untuk pengantin."
Keira memutar cincin itu sedikit. "Aku suka karena tidak terlihat jinak."
Nathan hampir tersenyum bangga.
Yovita melihat reaksi itu. Lalu untuk pertama kalinya malam itu, senyumnya kehilangan sedikit kepastian.
Ia mulai memahami bahwa kesempatan kepada Nathan mungkin jauh lebih kecil daripada yang dijanjikan Erwin.
Namun kesempatan kecil bukan berarti nol.
Dan selama Erwin terus meyakinkannya bahwa tidak ada yang benar-benar setia, Yovita masih bersedia menguji angka tersebut.
Nathan melihatnya mengangkat gelas dari kejauhan. Ia tidak tahu pikiran Yovita, tetapi mengenali tatapan orang yang belum selesai memilih langkah.
Ia memindahkan kursinya lebih dekat kepada Keira.
Keira tidak bertanya kenapa. Bahunya menyentuh lengan Nathan, lalu tetap di sana saat percakapan meja berpindah ke rencana makan malam berikutnya.
Di antara semua peluang yang dihitung dua orang berbeda malam itu, hanya satu hal yang tidak memerlukan angka: Keira telah memilih tempat duduknya sendiri.