Ye Xinyue, mahasiswa hukum tingkat akhir, meninggal karena kelelahan mengerjakan skripsi. Namun, bukannya masuk surga, ia justru terbangun sebagai Selir ke-20 Kaisar Tianyu dalam webtoon *** yang sering dibacanya. Mengetahui bahwa tokoh ini akan mati di tengah perebutan kekuasaan, Xinyue bertekad mengubah takdir. Ia memilih hidup tenang, menjauhi kaisar, politik istana, dan para selir. Sayangnya, rencananya gagal ketika Kaisar Tianyu mulai memperhatikannya. Lebih buruk lagi, alur cerita perlahan berubah: tokoh yang seharusnya mati masih hidup dan kejadian baru bermunculan. Kini Xinyue harus bertahan hidup sambil mencari alasan mengapa kedatangannya telah mengubah seluruh takdir Tianyu dan rahasia besar di balik semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Concubine Who Refused to Compete
Matahari pagi menyiramkan cahaya keemasan di atas atap genteng berlapis giok Kediaman Fenghua. Bau rempah bebek panggang dari Paviliun Anggrek Salju semalam seakan masih tertinggal tipis di indra penciuman Xinyue, menjadi pengingat nyata bahwa garis batas antara dirinya dan sang Kaisar telah bergeser secara permanen.
"Yang Mulia Selir," panggil Mingzhu seraya masuk membawa sebuah nampan kayu berisi jubah sutra baru, berkilat-kilat oleh sulaman benang emas yang rumit. "Utusan dari Istana Utama baru saja mengantarkan ini. Bersamaan dengan sepuluh kotak perhiasan batu giok dan jatah beras kualitas utama dari Perbendaharaan Kekaisaran."
Xinyue yang sedang menyeduh teh hangat di sudut meja langsung menghentikan gerakannya. Ia menatap tumpukan kemewahan itu bukan dengan rasa binar bahagia, melainkan dengan kecurigaan murni yang biasa ia pasang saat meneliti bukti kejahatan keuangan.
"Letakkan semuanya di gudang belakang, Mingzhu," ujar Xinyue dingin, kembali menuangkan air panas ke cangkirnya. "Jangan ada satu pun perhiasan itu yang dipakai atau dipamerkan di luar gerbang ini."
Mingzhu tertegun, menghentikan langkahnya. "Namun... Yang Mulia Selir, ini adalah hadiah langsung dari Yang Mulia Kaisar! Setelah kejadian di Paviliun Anggrek Salju semalam, seluruh Istana Dalam sudah gempar. Selir Liang dan Selir Chen pasti mengira Anda telah mendapatkan favoritisme mutlak dari Kaisar!"
"Justru karena itulah perhiasan-perhiasan ini tidak boleh menyentuh tubuhku," tangkas Xinyue tegas. Otak hukumnya bergerak cepat menyusun analisis risiko. "Zhao Fengting sengaja menyiramkan minyak ke dalam api. Dengan memberiku kemewahan mencolok ini, dia secara tidak langsung melabeliku sebagai 'ancaman utama' bagi para wanita istana. Pria itu ingin melihat bagaimana aku bertahan di tengah serbuan faksi lain."
Xinyue meletakkan cangkirnya dengan denting halus. "Strategi terbaik saat ini adalah melancarkan pembelaan pasif. Biarkan mereka berpikir aku menolak bertanding."
Siang harinya, kabar mengenai 'perlakuan istimewa' Kaisar memicu pergerakan di seluruh penjuru Istana Dalam. Taman Utama Kekaisaran yang biasanya menjadi arena pamer keanggunan kini dipenuhi kasak-kusuk panas.
Ketika Xinyue melangkah melintasi lorong taman menuju Perbendaharaan Dokumen Kerajaan, langkahnya dihadang oleh rombongan Selir Chen. Mengenaikan gaun ungu muda bersulam benang perak yang sangat mencolok, Selir Chen berdiri memotong jalan setapak dengan kipas bulu di tangannya, didampingi tiga selir tingkat rendah lainnya.
"Oho, lihat siapa yang melintas," sindir Selir Chen dengan tawa halus yang dibuat-buat, namun matanya memancarkan rasa iri yang membakar. "Pengawas Ye yang baru saja menikmati makan malam pribadi bersama Yang Mulia. Kudengar hadiah-hadiah dari Istana Utama menumpuk hingga memenuhi gerbang Kediaman Fenghua?"
Xinyue menghentikan langkahnya, menundukkan kepala sedikit dengan sikap hormat yang proporsional—tidak terlalu rendah hingga terlihat mengiba, namun cukup sopan untuk menutup celah pelanggaran etika.
"Menjawab Kakak Selir Chen," tutur Xinyue dengan suara jernih dan tenang. "Barang-barang yang dikirimkan oleh Istana Utama adalah perlengkapan resmi untuk menunjang tugas hamba di Perbendaharaan Dokumen Kerajaan. Hamba tidak berani menganggapnya sebagai bentuk favoritisme pribadi."
"Perlengkapan tugas?" cibir seorang selir di samping Selir Chen. "Perhiasan batu giok dan sutra bersulam emas adalah perlengkapan mengurus kertas lapuk? Jangan membodohi kami, Ye Xinyue! Kau jelas-jelas sedang mencoba menggeser posisi Selir Liang dan menguasai perhatian Yang Mulia!"
Xinyue mengangkat wajahnya perlahan, menatap lurus pada Selir Chen tanpa ketakutan sedikit pun.
"Jika Kakak-kakak sekalian menganggap perhatian Yang Mulia adalah sebuah hadiah yang patut diperebutkan," ujar Xinyue datar, "maka hamba dengan senang hati menyatakan mengundurkan diri dari persaingan tersebut."
Pernyataan terang-terangan itu membuat udara di taman mendadak membeku. Selir Chen membelalakkan matanya tak percaya. Di dalam struktur Istana Dalam yang dibangun di atas pertumpahan darah demi memperebutkan tahta dan kasih sayang Kaisar, kalimat Xinyue adalah sebuah anomali yang hampir tidak masuk akal.
"Apa... apa katamu?!" desis Selir Chen.
"Hamba tidak memiliki ambisi untuk menjadi favorit, tidak bercita-cita naik takhta, dan sama sekali tidak berminat untuk merebut perhatian Yang Mulia dari Kakak-kakak sekalian," lanjut Xinyue dengan kalkulasi kata yang terukur rapat. "Tugas hamba di istana ini murni sebagai pekerja dokumen. Jika ada di antara Kakak sekalian yang menginginkan jatah teh, perhiasan, atau bahkan akses bertemu Yang Mulia, hamba dengan senang hati akan memfasilitasinya tanpa rasa iri sedikit pun."
"Kau... kau berpura-pura suci!" pekik Selir Chen, wajah cantiknya memerah karena merasa dihina oleh kepasifan Xinyue. "Tidak ada wanita di istana ini yang tidak menginginkan kasih sayang Kaisar!"
"Maka hamba adalah wanita pertama yang tidak menginginkannya," balas Xinyue dingin. "Kerena bagi hamba, hidup dengan tenang dan selamat jauh lebih berharga daripada mahkota yang beracun."
Xinyue membungkuk halus, lalu melangkah melewati rombongan selir yang terpaku tanpa kata. Pembelaan diri yang dilakukan Xinyue bukan sekadar gertakan kosong; itu adalah manuver politik untuk menetralisir motivasi musuh. Ketika lawan menyadari bahwa sasaran mereka tidak mengejar hal yang sama, strategi penyerangan mereka secara otomatis kehilangan fokus utama.
Namun, pernyataan berani Xinyue tidak berhenti di Taman Utama. Di balik bayang-bayang pilar Paviliun Anggrek, seorang pengawal bayangan merapatkan tubuhnya, lalu menghilang dalam sekejap mata menuju Istana Utama.
Di Aula Studi Utama, Zhao Fengting duduk di atas tahta kayu jatinya, meneliti gulungan kertas laporan dari wilayah utara. Di samping mejanya, pengawal bayangan bersimpuh, menyampaikan setiap kata yang diucapkan oleh Ye Xinyue di taman siang tadi tanpa terkecuali.
"...maka hamba adalah wanita pertama yang tidak menginginkannya. Karena bagi hamba, hidup dengan tenang dan selamat jauh lebih berharga daripada mahkota yang beracun."
Kasim Gao yang berdiri di samping tahta menahan napasnya, mengamati perubahan ekspresi sang Kaisar dengan ketakutan murni. Menolak kasih sayang Kaisar secara terbuka bisa dianggap sebagai bentuk penghinaan tertinggi terhadap kedaulatan Raja.
Namun, Zhao Fengting tidak menunjukkan kemurkaan.
Pria itu meletakkan kuasnya perlahan di atas tatakan batu. Senyuman tipis senyuman yang penuh dengan bahaya dan ketertarikan yang tak terikat perlahan terukir di wajah tampannya yang dingin. Iris matanya yang kelam berkilat bagaikan mata pisau yang baru diasah.
"Wanita pertama yang tidak menginginkanku, hm?" gumam Zhao Fengting pelan, suaranya bergelombang rendah di ruangan yang hening itu.
Pria itu berdiri dari tahtanya, melangkah menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah kompleks Perbendaharaan Dokumen Kerajaan di kejauhan. Tangannya menyatu di balik punggungnya.
"Dia berpikir dengan menolak bertanding, dia bisa bersembunyi di balik garis aman," bisik Zhao Fengting, seolah bicara pada dirinya sendiri. "Dia menggunakan otaknya untuk membuat seluruh wanita di istana ini terlihat seperti anak kecil yang berebut mainan, sementara dia melangkah keluar dari papan catur."
Zhao Fengting memiringkan kepalanya sedikit, menyunggingkan tawa rendah yang menakutkan.
"Sayangnya untukmu, Ye Xinyue... dalam permainan ini, aku adalah pemegang aturan mainnya," gumam Zhao Fengting, matanya menyipit penuh dengan dominasi absolut. "Makin keras kamu menolak bertaruh... makin besar keinginanku untuk menyeretmu ke tengah arena dan menjadikanmu satu-satunya pemenang."
Perang di Istana Dalam mungkin telah bergeser arah. Xinyue menolak untuk bertanding melawan para selir, tetapi ia tidak menyadari bahwa lawannya yang sesungguhnya sejak awal bukanlah para wanita istana melainkan sang Kaisar tiran itu sendiri.