"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."
"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."
Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.
Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.
Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.
Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.
Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.
Namun Diandra sudah terlanjur terluka.
Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Diandra Dan Amarah Bastian
Diandra mengusap rambut Azzam perlahan, berusaha menyembunyikan rasa sakit yang masih tersisa di wajahnya.
"Jangan salahkan dirimu sendiri, Sayang. Mommy sudah bilang, Mommy hanya terjatuh. Saat itu Azzam juga tidak ada di sana. Jadi ini bukan salah Azzam."
Mata Azzam mulai berkaca-kaca. Tanpa banyak bicara, ia langsung memeluk ibunya erat.
"Mommy jangan sedih. Kalau dunia sedang jahat sama Mommy, datang saja ke Azzam. Azzam akan peluk Mommy."
Diandra terdiam
Azzam kemudian mengusap punggung ibunya dengan tangan kecilnya.
"Pelukan Azzam kan sehangat sinar matahari pagi?"
Diandra tersenyum getir. "Iya, Sayang. Pelukan Azzam selalu bikin hati Mommy tenang."
"Kalau begitu Mommy jangan pergi dari Azzam."
"Mommy nggak akan pergi."
"Azzam juga nggak akan pernah meninggalkan Mommy."
Kalimat sederhana itu justru membuat pertahanan Diandra runtuh. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh. Ia memeluk putranya semakin erat.
Azzam adalah satu-satunya alasan Diandra masih mampu tersenyum di tengah semua luka yang berusaha ia sembunyikan.
"Mommy sayang Azzam."
"Azzam juga sayang Mommy."
Diandra menghapus air matanya dan mencoba tersenyum.
Namun senyum itu malah membuat Azzam kembali menangis. Ia menggeleng sambil mengusap pipinya sendiri.
"Azzam nggak nangis..."
"Sayang."
"Tapi kenapa Azzam sedih, Mom? Pipi Mommy terluka. Azzam nggak suka lihat Mommy kesakitan."
Azzam kembali memeluknya.
"Mulai sekarang, kalau Mommy mau pergi ke mana pun, bilang sama Azzam. Azzam akan jadi bodyguard Mommy."
Diandra tertawa kecil di sela air matanya.
"Iya. Mulai sekarang Mommy akan selalu bilang sama Azzam."
Beberapa menit kemudian, tangis keduanya perlahan mereda.
Diandra mengusap pipi putranya.
"Ngomong-ngomong, Azzura di mana?"
"Dia pergi ke rumah sakit. Mau menemani Mama Serly."
Diandra menghela napas pelan. Ia memang sudah menduga. Setiap kali Serly sakit, perempuan itu selalu meminta anak-anak berada di sisinya.
"Kenapa Azzam nggak ikut?"
Azzam menggeleng.
"Azzam mau menemani Mommy."
"Kenapa?"
"Karena semua orang sudah menemani Mama Serly. Mommy sendirian di rumah."
Azzam menggenggam tangan Diandra erat.
"Kalau bukan Azzam, siapa yang akan menemani Mommy?"
Hati Diandra kembali terasa sesak.
Ia menatap putranya cukup lama sebelum akhirnya tersenyum dan memeluknya sekali lagi.
Di dalam hatinya, Diandra hanya berharap Azzam tidak pernah mengetahui alasan sebenarnya mengapa pipinya terluka.
Ia tidak ingin luka yang dibuat orang dewasa menjadi beban di hati anak sekecil Azzam.
Ucapan sederhana dari Azzam kembali membuat dada Diandra sesak. Air mata yang tadi berhasil ditahannya perlahan menggenang di pelupuk mata.
Namun, Diandra buru-buru mengedipkan mata. Ia tidak boleh menangis lagi. Jika dirinya menangis, Azzam pasti akan ikut bersedih.
"Terima kasih, Sayang. Azzam selalu ada buat Mommy."
Azzam menggeleng kecil.
"Mommy nggak perlu berterima kasih. Selama ini Mommy selalu menjaga Azzam dan menyayangi Azzam. Jadi Azzam juga harus menjaga Mommy."
Diandra tersenyum haru.
"Anak Mommy sudah besar sekarang."
"Azzam memang sudah besar. Makanya Azzam bisa jadi bodyguard Mommy."
Diandra terkekeh pelan. Di tengah luka dan masalah yang sedang dihadapinya, tingkah polos putranya selalu berhasil membuat hatinya sedikit lebih ringan.
Ia menarik napas panjang.
"Azzam sudah makan?"
Azzam menggeleng.
"Belum."
"Kalau begitu ayo ke dapur. Mommy temani makan. Tadi Mommy dengar Bi Lastri memasak cumi crispy kesukaan Azzam."
Azzam hendak melangkah, tetapi kemudian berhenti.
"Mommy nggak ikut makan?"
Diandra tersenyum.
"Mommy sudah makan tadi."
Padahal perutnya kosong sejak siang. Bukan karena tidak lapar, tetapi rasa nyeri di mulut dan pipinya membuat Diandra tidak berselera menyentuh makanan.
Azzam masih menatapnya penuh curiga.
"Nggak bohong?"
"Nggak, sayang. Azzam makan saja."
Akhirnya Azzam mengangguk.
"Kalau begitu Mommy istirahat saja. Jangan banyak bergerak supaya cepat sembuh."
"Iya, Sayang."
Azzam mendekati ranjang dan membantu Diandra berbaring. Dengan hati-hati, ia menarik selimut hingga menutupi tubuh ibunya.
"Mommy tidur dulu. Nanti setelah Azzam makan dan ganti baju, Azzam kembali lagi."
"Untuk apa?"
"Azzam mau menemani Mommy."
Diandra tersenyum.
"Kan Azzam juga harus bermain."
"Nggak penting. Mommy lebih penting."
Jawaban itu membuat hati Diandra kembali menghangat.
Azzam kemudian mengecup pipi ibunya dengan sangat hati-hati, seolah takut menyentuh bagian yang terluka.
"Jangan sedih lagi, ya, Mom."
Diandra mengangguk.
"Iya."
"Azzam pergi makan dulu."
"Iya, Sayang."
Azzam berbalik dan keluar dari kamar.
Diandra menatap punggung kecil putranya sampai menghilang di balik pintu.
"Terima kasih, Nak..."
Diandra mengusap sudut matanya.
Di tengah kehidupan yang terasa begitu kejam, Tuhan masih memberinya satu alasan untuk bertahan.
Azzam.
Putra kecil yang bahkan belum memahami seluruh luka ibunya, tetapi sudah berusaha menjadi pelindung dengan caranya sendiri.
"Serly, kondisimu sudah jauh lebih baik. Sekarang sudah pukul tujuh malam. Aku harus pulang."
Bastian berdiri di sisi ranjang rumah sakit, memandang Serly yang masih berbaring dengan wajah pucat.
"Kenapa buru-buru?" bujuk Aretha. "Pulang besok pagi saja. Temani Serly malam ini. Dia masih membutuhkanmu."
Aretha kemudian menoleh kepada Azzura yang duduk di kursi samping ranjang.
"Lihat saja Azzura. Dia bahkan mau menginap untuk menemani mamanya."
"Iya, Oma. Azzura malam ini tidur di sini."
Azzura tersenyum kepada Serly. Serly membalasnya dengan senyum lembut, lalu mengusap pipi putrinya.
Percakapan mereka terhenti ketika pintu kamar terbuka.
Sean masuk sambil membawa beberapa makanan untuk makan malam.
"Wah, mantan kakak iparku ternyata masih setia juga. Salut, Bang."
Sean terkekeh sambil melirik Bastian.
"Sean."
Aretha langsung memperingatkan putranya dengan tatapan tajam.
Namun Sean tidak memedulikannya. Ia berjalan menuju sofa, lalu duduk sambil mengambil sebuah apel.
Azzura duduk di sebelahnya.
Akan tetapi, begitu Sean menyadari Azzura berada di sampingnya, ia justru bangkit dan pindah mendekati Serly. Serly hanya mendengkus.
Abian memperhatikan tingkah putranya. Ia tahu Sean masih marah karena kejadian yang menimpa Diandra siang tadi.
"Azzura, mau apel?"
Sean menyodorkan potongan apel kepada Azzura.
"Mau, Om."
"Aku juga mau."
Serly mengulurkan tangannya.
Sean menoleh sekilas.
"Ambil sendiri."
Wajah Serly langsung berubah.
"Sean! Kamu ini keterlaluan. Kakakmu sedang sakit," tegur Aretha.
Sean santai saja. Ia kembali memotong apel untuk Azzura.
Serly akhirnya mengerucutkan bibir dan menatap Bastian dengan wajah memelas.
"Mas, aku mau apel. Bisa tolong ambilkan?"
Bastian hendak mengambil apel.
Namun Sean kembali menyahut dengan nada menyindir.
"Wah, luar biasa. Istri sah sedang sendirian di rumah, tapi suaminya malah sibuk melayani mantan istri."
Bastian langsung menoleh.
"Istri sah?"
Sean tertawa hambar.
"Diandra."
Wajah Bastian seketika berubah.
"Kenapa dengan Diandra?"
"Jadi benar? Kamu bahkan nggak tahu keadaan istrimu sendiri?"
Nada suara Sean berubah serius.
Bastian menatapnya tajam.
"Sean, langsung saja. Diandra kenapa?"
"Dia sakit."
"Apa?"
Tadi Diandra memang mengirim pesan bahwa ia pulang lebih dulu karena mengantuk. Bastian tidak menaruh curiga sedikit pun. Ia bahkan percaya begitu saja dan memilih tetap berada di rumah sakit.
Namun sekarang ia baru mengetahui bahwa istrinya ternyata sedang sakit.
Aretha langsung menyela.
"Ah, paling Diandra hanya mencari perhatianmu, Bastian. Jangan mudah percaya."
Sean langsung tertawa sinis.
"Diandra bukan seperti putri kesayangan Mama yang sedikit-sedikit membuat drama. Kalau dia bilang sakit, berarti memang sakit."
Serly menatap Sean tidak suka.
"Kenapa kamu selalu membela Diandra? Aku ini kakakmu."
"Karena setidaknya dia nggak pernah pura-pura terluka demi mendapatkan perhatian orang lain."
"Papa!" Serly langsung mengadu kepada Abian dengan nada manja. "Sean terus menyudutkanku."
Abian hanya menghela napas.
Sementara itu, Bastian masih terpaku.
Pikirannya hanya tertuju pada Diandra.
Mengapa istrinya tidak mengatakan bahwa kondisinya buruk?
Mengapa Diandra memilih menyembunyikannya?
Dan yang paling membuat dada Bastian sesak—mengapa ia baru mengetahui keadaan istrinya dari orang lain?
"Sean!" tegur Abian tegas. "Daripada kamu terus membuat suasana semakin panas, lebih baik keluar."
Sean berdiri sambil mengambil jaketnya.
"Aku memang mau keluar."
Ia menatap satu per satu orang di ruangan itu.
"Jujur saja, aku muak melihat orang-orang yang hanya memikirkan diri sendiri."
Sean berjalan menuju pintu.
"Kadang aku heran, bagaimana bisa orang sebaik aku dilahirkan di keluarga yang hatinya sedingin ini."
Tanpa menunggu jawaban, Sean membuka pintu dan pergi.
Bastian tetap berdiri diam.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa gelisah.
Ia ingin segera pulang.
Bukan karena bosan berada di rumah sakit.
Melainkan karena ada sesuatu dalam hatinya yang mengatakan bahwa Diandra mungkin sedang jauh lebih terluka daripada yang selama ini ia bayangkan.
"Sean, kamu ini—!"
Abian bangkit dari tempat duduknya. Namun sebelum ia sempat melanjutkan kalimat, Sean justru menatap ayahnya dengan tajam.
"Kenapa, Pa? Papa mau memukul aku juga seperti Papa memukul Mbak Diandra?"
Ruangan seketika sunyi.
Bastian yang sejak tadi berdiri langsung menoleh.
"Apa maksudmu?"
Sean mendengkus.
"Papa benar-benar nggak tahu?"
Bastian mengalihkan pandangannya kepada Abian.
"Benarkah Om memukul Diandra?"
Abian terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab dengan wajah tanpa rasa bersalah.
"Iya. Saya menamparnya."
Bastian mengepalkan tangan.
"Kenapa?"
"Karena ucapan istrimu sudah keterlaluan. Dia menyuruh putri saya mati. Ayah mana yang sanggup mendengar anaknya diperlakukan seperti itu?"
Bastian menghela napas berat.
"Saya bisa mengerti Om marah. Tapi bukan berarti kekerasan bisa dibenarkan."
"Jangan mengajari saya soal bagaimana melindungi anak saya."
Serly yang masih terbaring berusaha bangun. Tangannya meraih lengan Bastian.
"Mas, jangan marah sama Papa."
Bastian menoleh.
"Papa pasti tidak sengaja. Papa hanya terlalu emosi karena melihatku dalam keadaan seperti itu."
Serly menggenggam tangan Bastian.
"Kalau suatu hari ada orang yang menyakiti Azzura, Mas juga pasti akan marah, kan?"
Bastian terdiam sejenak.
"Aku mungkin akan marah. Tapi aku tidak akan memukul perempuan."
Sean langsung tertawa pendek.
"Lucu banget, Bang."
Bastian menatapnya tajam.
"Kenapa?"
"Katanya nggak pernah memukul perempuan. Tapi kalau soal menyakiti hati istri sendiri, abang merasa itu bukan kekerasan?"
Bastian mengernyit.
Sean melanjutkan dengan nada serius.
"Luka fisik mungkin sembuh dalam beberapa hari. Tapi luka karena diabaikan, direndahkan, dan dibuat merasa tidak berharga bisa bertahan jauh lebih lama."
"Sean."
"Kalau Abang terus memperlakukan Mbak Diandra seperti itu, jangan kaget kalau suatu hari dia benar-benar berhenti berharap pada Abang."
Bastian kehilangan kesabarannya.
"Cukup!"
Ia melangkah mendekati Sean dan mencengkeram kerah bajunya.
"Kamu mulai keterlaluan."
Bastian mengangkat tangan, tetapi sebelum sempat melakukan apa pun, Azzura berlari menghampiri mereka.
"Daddy! Jangan!"
Tangisan Azzura langsung membuat Bastian membeku.
"Daddy jangan pukul Om Sean!"
Serly ikut berusaha menenangkan keadaan.
"Mas, sudah. Sean memang sengaja memancing emosimu. Jangan turuti dia."
Bastian masih mencengkeram kerah Sean. Napasnya berat, tetapi tangannya perlahan mengendur.
Kalau bukan karena Azzura yang berdiri sambil menangis di hadapannya, mungkin amarahnya sudah terlanjur meledak.
"Daddy..."
Azzura langsung memeluk pinggang ayahnya.
Bastian akhirnya melepaskan Sean. Ia kemudian berjongkok dan mengangkat Azzura ke dalam gendongannya.
Azzura menyandarkan wajah di bahu ayahnya sambil terisak.
Bastian mengusap rambut putrinya.
"Sudah, Sayang. Daddy nggak akan pukul siapa-siapa."
Setelah itu Bastian menatap orang-orang di ruangan tersebut satu per satu.
"Aku pulang sekarang."
Aretha terkejut.
"Bastian, malam ini kamu tidak mau menemani Serly?"
Bastian tidak menjawab pertanyaan itu. Pikirannya sudah tertuju pada satu orang.
Diandra.
Ia ingin memastikan sendiri keadaan istrinya.
Bastian kemudian menatap putrinya.
"Azzura mau ikut Daddy pulang atau tetap di sini menemani Mama Serly?"
Azzura mengangkat wajahnya dari bahu Bastian.
"Ikut Daddy."
Bastian mengangguk.
"Baik. Kita pulang."
Tanpa menunggu lebih lama, Bastian membawa Azzura keluar dari kamar.
Untuk pertama kalinya malam itu, hatinya dipenuhi kegelisahan yang sulit dijelaskan.
Ia tidak tahu seperti apa kondisi Diandra sekarang.
Tetapi satu hal mulai disadarinya—selama ini mungkin ada terlalu banyak luka yang tidak pernah benar-benar ia lihat.
"Azzuranikut Daddy."
Serly sempat ingin mencegah Bastian pergi, tetapi melihat raut wajah mantan suaminya yang sudah berubah, ia akhirnya mengurungkan niat.
Setidaknya, pikir Serly, malam ini ia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Tanpa harus melakukan apa pun secara langsung, Diandra telah terluka.
"Baik, Mas. Maaf sudah merepotkanmu hari ini. Terima kasih karena sudah datang, menemani, dan membantuku."
Serly tersenyum lembut.
"Aku benar-benar berutang budi padamu."
Bastian hanya mengangguk singkat.
Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Setelah itu, Bastian menggandeng Azzura dan meninggalkan ruang rawat.
Begitu sampai di rumah, Bastian segera turun dari mobil.
Di tangannya terdapat sebuket mawar merah berukuran besar dan satu kantong makanan dari restoran cepat saji.
Ia masih ingat keinginan Diandra siang tadi. Perempuan itu sempat mengatakan ingin makan ayam.
"Bibi Nana."
Seorang perempuan paruh baya segera datang menghampiri.
"Iya, Tuan."
Bastian menoleh kepada Azzura yang berdiri di sampingnya.
"Azzura temani Bibi Nana dulu, ya. Daddy mau ke kamar. Nanti Daddy menyusul dan menemani Azzura makan malam."
"Iya, Daddy."
Bibi Nana kemudian menggandeng tangan Azzura menuju ruang keluarga.
Setelah memastikan putrinya bersama pengasuhnya, Bastian berjalan cepat menuju kamar.
Jantungnya berdebar.
Entah mengapa ia begitu ingin segera melihat Diandra.
Ia bahkan sudah membayangkan istrinya tersenyum ketika melihat bunga dan makanan yang dibawanya.
Mungkin Diandra masih marah.
Mungkin perempuan itu tidak akan langsung memaafkannya.
Namun Bastian bersedia melakukan apa pun untuk mendapatkan kembali kepercayaan istrinya.
Dalam perjalanan pulang, ia terus memikirkan kejadian hari ini.
Ia tahu dirinya telah melakukan kesalahan.
Seharusnya ia tidak membiarkan Diandra merasa sendirian. Seharusnya sebagai seorang suami, ia berada di sisi istrinya.
Namun saat Serly membutuhkan pertolongan, Bastian merasa tidak punya pilihan selain datang.
Kini ia mulai menyadari bahwa keputusan itu mungkin telah membuat Diandra semakin terluka.
Bastian berhenti di depan pintu kamar.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu membuka pintu.
"Sayang, Daddy pu—"
Kalimatnya terhenti.
Bunga di tangannya perlahan terlepas dan jatuh ke lantai.
Tatapan Bastian terpaku pada wajah istrinya.
Pipi Diandra terlihat bengkak dan kebiruan.
Ada bekas luka yang begitu jelas hingga membuat dada Bastian seketika terasa sesak.
"Pi-pipimu..."
Suara Bastian bergetar.
"Kenapa pipimu seperti itu?"
Diandra tidak langsung menjawab.
Sementara itu, Azzam sama sekali tidak memedulikan kedatangan ayahnya.
"Mommy, ayo buka mulut."
Azzam kembali menyuapkan makanan ke mulut Diandra dengan hati-hati.
"Pelan-pelan, ya, Mommy."
Diandra menuruti putranya.
Sejak tadi Azzam memang terus menemani ibunya. Ia bahkan berusaha membuat Diandra tersenyum dengan berbagai cerita lucu yang sebenarnya tidak terlalu lucu.
Bastian berdiri terpaku di ambang pintu.
Pandangannya berpindah dari wajah Diandra ke tangan kecil Azzam yang sedang menyuapi ibunya.
Tidak ada satu pun yang menyambut kedatangannya.
Tidak ada senyum.
Tidak ada sapaan.
Bahkan Azzam seolah tidak menganggap keberadaannya penting.
Untuk pertama kalinya, Bastian merasakan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.
Rasa bersalah.
Ia menatap bunga mawar yang tergeletak di lantai.
Bunga itu seharusnya menjadi tanda permintaan maaf.
Namun saat melihat kondisi Diandra, Bastian sadar bahwa sebuket bunga dan makanan kesukaan tidak akan pernah cukup untuk menebus luka yang telah dibiarkannya terjadi.
Bastian berjalan mendekati ranjang dengan langkah perlahan. Namun matanya terus tertuju pada pipi Diandra yang bengkak dan memar.
Rasa bersalah semakin kuat menekan dadanya.
"Azzam, biar Daddy yang menyuapi Mommy. Kamu bisa kembali ke kamar."
Azzam langsung menggeleng.
"Nggak perlu, Dad. Azzam bisa sendiri."
Ia kembali menyuapkan makanan kepada Diandra.
"Daddy pergi saja ke rumah sakit. Temani Mama Serly."
Ucapan itu membuat Bastian terdiam.
"Apa?"
Nada suaranya mulai berubah.
"Daddy sudah pulang sekarang. Jadi biar Daddy yang merawat Mommy."
Bastian mengulurkan tangan.
"Sini buburnya."
Azzam justru menarik mangkuk itu menjauh.
"Nggak."
Bastian menatap putranya dengan tidak percaya.
"Azzam."
Anak itu menatap ayahnya dengan sorot mata yang tidak biasa.
"Daddy baru pulang sekarang."
Bastian mengernyit.
"Daddy tadi ada urusan."
"Urusan Mama Serly?"
Bastian terdiam.
Azzam menahan emosinya, tetapi matanya mulai berkaca-kaca.
"Daddy selalu begitu. Kalau Mama Serly membutuhkan Daddy, Daddy langsung datang. Tapi kalau Mommy yang sedih, Daddy pernah peduli?"
"Azzam, kamu masih kecil. Jangan ikut campur masalah orang dewasa."
"Azzam memang masih kecil."
Suara Azzam bergetar.
"Tapi Azzam nggak bodoh, Dad."
Ia menunjuk pipi ibunya dengan tangan kecilnya.
"Azzam bisa melihat Mommy sering menangis. Azzam juga bisa melihat Daddy sering membuat Mommy sedih."
Bastian terdiam.
"Azzam nggak suka lihat Mommy seperti ini."
Air mata mulai mengalir di pipi Azzam.
"Daddy seharusnya menjaga Mommy."
"Azzam, cukup."
Nada suara Bastian meninggi.
"Daddy tidak mau mendengar tuduhan seperti itu lagi. Sekarang kembali ke kamar!"
"Nggak mau!"
"Azzam!"
"Aku nggak mau meninggalkan Mommy sendirian!"
Suasana kamar semakin tegang.
Diandra yang sejak tadi diam akhirnya tidak sanggup membiarkan pertengkaran itu berlanjut.
"Mas, cukup."
Bastian dan Azzam sama-sama menoleh.
Diandra mengulurkan tangannya, kemudian menangkup kedua pipi putranya.
"Azzam, dengarkan Mommy."
"Tapi, Mommy..."
"Azzam ke kamar dulu, ya. Mommy dan Daddy perlu bicara."
Azzam langsung menggeleng kuat.
"Nggak mau."
"Sayang..."
"Azzam nggak mau meninggalkan Mommy sendirian."
Tatapan Azzam beralih kepada Bastian.
"Azzam takut Daddy menyakiti Mommy lagi."
Bastian membeku.
Diandra menarik napas panjang.
"Azzam, Daddy nggak akan menyakiti Mommy."
"Tapi Azzam takut."
Suara kecil itu membuat dada Diandra terasa sesak.
Bastian mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ia benar-benar tidak menyangka putranya sampai memiliki ketakutan sebesar itu terhadap dirinya.
Selama ini ia mengira Azzam masih terlalu kecil untuk memahami masalah rumah tangga mereka.
Ternyata ia salah.
Anak itu melihat semuanya.
Bastian menatap Diandra yang hanya bisa terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa bukan hanya hati istrinya yang telah ia lukai.
Tanpa sadar, ia juga telah membuat putranya kehilangan rasa aman di dalam rumahnya sendiri.
Azzam baru saja hendak membalas ucapan Bastian, tetapi Diandra segera menggenggam tangannya.
"Azzam."
Tatapan Diandra begitu lembut sekaligus memohon.
"Masuk ke kamar dulu, ya. Kali ini dengarkan Mommy."
Azzam terdiam cukup lama. Ia jelas masih keberatan, tetapi akhirnya mengangguk.
"Baik, Mommy."
Sebelum pergi, Azzam menunjuk Bastian.
"Kalau Daddy macam-macam sama Mommy, panggil Azzam."
Diandra tersenyum tipis.
"Iya, Sayang."
Azzam kemudian berjalan mendekati Bastian. Ia berdiri tepat di hadapan ayahnya.
Bastian mengangkat alis.
"Ada apa?"
Buk!
Sebuah pukulan kecil mendarat di perut Bastian.
"Aduh!"
Bastian spontan membungkuk sambil memegangi perutnya.
Azzam menatapnya dengan wajah serius.
"Daddy harus bersyukur Azzam masih kecil."
Bastian mendongak.
"Kalau Azzam sudah sebesar Daddy dan Daddy masih berani membuat Mommy menangis, mungkin Daddy akan kalah setiap hari."
Bastian mengusap perutnya sambil menatap putranya tak percaya.
"Anak ini..."
Azzam langsung berlari keluar kamar.
Bastian menggeleng-gelengkan kepala. Putranya memang baru tujuh tahun, tetapi sejak kecil ia sudah terbiasa berlatih bela diri bersama dirinya. Jadi, pukulan tadi ternyata cukup terasa.
Setelah memastikan Azzam benar-benar pergi, Bastian menutup pintu dan menguncinya.
Ia kemudian berjalan menuju ranjang.
Bastian duduk di tepi kasur, mengambil mangkuk bubur yang masih tersisa di atas nakas, lalu menatap istrinya.
"Kamu masih mau makan?"
Diandra menggeleng pelan.
Bastian tidak memaksa. Ia mengembalikan mangkuk itu ke tempat semula.
"Kalau begitu minum?"
Diandra kembali menggeleng.
Bastian menghela napas.
Ia tidak tahu apakah Diandra memang sudah tidak membutuhkan apa pun atau sengaja menolak semua perhatian darinya.
Namun kali ini ia memilih tidak memaksa.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?"
Diandra menatap selimut.
"Sudah lebih baik."
"Pipimu masih sakit?"
"Sedikit."
"Kamu sudah diperiksa dokter?"
Diandra mengangguk.
"Sean yang mengantarku."
Bastian terdiam.
Tatapannya tertuju pada wajah istrinya yang terus menunduk.
Perlahan ia mengulurkan tangan, berniat menyentuh pipi Diandra.
Namun begitu jarinya menyentuh bagian yang memar—
"Ah..."
Diandra spontan meringis.
Bastian langsung menarik tangannya.
Dadanya terasa sesak.
Melihat luka itu dari dekat membuat rasa bersalahnya semakin dalam.
Ia membayangkan seberapa keras tamparan yang diterima Diandra hingga meninggalkan memar sebesar itu.
"Kenapa kamu nggak bilang keadaanmu separah ini?"
Diandra tidak menjawab.
"Kenapa kamu malah bilang semuanya baik-baik saja?"
"Aku memang baik-baik saja, Mas."
Diandra mendongak dan mencoba tersenyum.
Bastian justru menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Jangan tersenyum seperti itu."
Diandra terdiam.
"Kenapa?"
"Karena aku tahu senyum itu bukan berarti kamu baik-baik saja."
Hening beberapa detik.
"Lalu aku harus bagaimana, Mas?"
Suara Diandra mulai bergetar.
"Menangis? Berteriak? Marah? Mengutuk semua orang yang sudah menyakitiku?"
Ia tertawa kecil, tetapi terdengar getir.
"Atau aku harus memberitahu semua orang bahwa aku sebenarnya sudah lelah?"
Bastian tidak menjawab.
"Aku capek, Mas."
Kalimat itu begitu sederhana, tetapi menghantam Bastian jauh lebih keras daripada kemarahan apa pun.
Diandra menundukkan wajah.
"Aku cuma capek selalu terlihat kuat."
Bastian akhirnya tidak mampu menahan diri.
Ia meraih tubuh Diandra dan menariknya ke dalam pelukan.
"Maaf."
Tangannya mengerat di punggung istrinya.
"Maaf, Diandra."
Untuk beberapa saat, tidak ada kata-kata lain.
Hanya keheningan dan pelukan yang seolah menjadi satu-satunya cara Bastian menunjukkan bahwa kali ini ia benar-benar menyadari luka yang selama ini tidak pernah ia lihat.
"Maafkan aku, Diandra."
Namun Diandra tetap diam dalam pelukannya.
Tidak ada tangisan.
Tidak ada amarah.
Bahkan tidak ada usaha untuk membalas pelukannya.
Justru sikap diam itulah yang membuat dada Bastian terasa semakin sesak. Ia lebih rela Diandra memarahinya daripada melihat istrinya seolah sudah terlalu lelah untuk merasakan apa pun.
Beberapa saat kemudian, Bastian melepaskan pelukannya.
Tanpa berkata apa-apa, ia keluar dari kamar dan melangkah menuju balkon.
Begitu sampai di sana, emosinya meledak.
Buk!
Tinju Bastian menghantam pilar.
Ia menarik napas kasar.
"Berani sekali dia menyentuh istriku..."
Bastian merogoh saku celananya, mengambil ponsel, lalu mencari nomor Abian.
Panggilan tersambung beberapa detik kemudian.
"Halo, Bastian?"
"Berapa kali Om memukul Diandra?"
Di seberang sana terdengar jeda singkat.
"Tiga kali."
Jawaban Abian yang begitu tenang justru membuat amarah Bastian semakin membara.
"Tiga kali?"
Bastian mengepalkan tangannya.
"Saya ingin Om datang dan meminta maaf kepada Diandra."
"Apa?"
"Saya serius."
Abian tertawa sinis.
"Untuk apa saya meminta maaf? Istrimu sendiri sudah keterlaluan. Dia menyuruh Serly mengakhiri hidupnya. Sebagai ayah, apa kamu pikir saya akan diam?"
"Saya tidak membenarkan ucapan Diandra."
Suara Bastian terdengar tegas.
"Tapi apa pun alasannya, Om tidak berhak memukul istri saya."
"Jangan bicara seolah-olah kamu suami yang sempurna."
Abian mendengkus.
"Selama ini kamu sendiri sering menyakiti Diandra. Bedanya, kamu tidak menggunakan tangan. Kamu menyakitinya dengan sikapmu."
Bastian terdiam.
Kalimat itu mengenai titik yang paling ingin ia hindari.
"Saya tahu."
Suara Bastian merendah.
"Saya tahu saya pernah menyakitinya. Saya tidak pernah menyangkal itu."
Ia menatap tangannya yang tadi digunakan untuk menghantam pilar.
"Saya juga sedang berusaha memperbaikinya."
"Saya tidak percaya."
Bastian mengembuskan napas panjang.
"Percaya atau tidak, itu urusan Om."
Nada suaranya berubah dingin.
"Tapi saya tidak akan membiarkan siapa pun melakukan kekerasan kepada istri saya."
"Jadi kamu mau mengancam saya?"
"Saya tidak mengancam."
Bastian berdiri tegak.
"Saya memberikan pilihan."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Besok datang ke rumah saya dan minta maaf kepada Diandra."
"Kalau saya tidak mau?"
Bastian menatap jauh ke arah malam.
"Kalau Om menolak, saya akan menempuh jalur hukum."
"Berani kamu melawan saya?"
"Saya tidak sedang melawan siapa pun."
Suara Bastian semakin mantap.
"Saya hanya sedang menjalankan tanggung jawab saya sebagai suami."
Ia mengakhiri kalimatnya dengan tegas.
"Saya tunggu besok. Jangan buat saya mengulang ucapan ini."
Tanpa menunggu jawaban, Bastian memutuskan panggilan.
Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku.
Untuk pertama kalinya, Bastian tidak peduli siapa yang akan tersinggung.
Ia hanya tahu satu hal.
Diandra sudah terlalu lama menghadapi semuanya sendirian.
Dan kali ini, ia tidak akan tinggal diam ketika seseorang menyakitinya.