Seorang gadis tanpa bakat.
Menjadi aib bagi sebuah keluarga sihir api yang berkuasa.
Sebuah pengkhianatan yang menjatuhkannya ke jurang maut.
Tapi di kegelapan jurang, takdir memilihnya.
Kontrak dengan naga kuno mengubahnya menjadi wadah dari seluruh elemen.
Dari sampah keluarga ... menjadi ancaman bagi dunia.
Dari yang dibuang ... menjadi yang ditakuti.
Ini kisah tentang kebangkitan.
Ini kisah tentang KONTRAK NAGA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21 Gunung Yang Menangis
PEGUNUNGAN STONHEART, KAWAH TERRAVON. PUNCAK GUNUNG DRAKHOR.
Eliya berdiri di kaki gunung, menatap langit yang berwarna merah. Bukan keindahan senja, selayaknya awan-awan jingga yang berbaris menutupi. Abu vulkanik turun seperti salju. Menghujani rumah-rumah warga di kaki gunung.
"Ini gunung Drakhor، gunung paling berbahaya di sini. Dan sekarang akan meletus. Lima desa di bawahnya akan musnah."
Suara Zharvion menggema, memberi informasi tentang pegunungan di sana. Tanah bergetar setiap kali perut gunung itu bergejolak. Disusul jeritan para warga yang ketakutan. Kael dan Rayn pergi bersama untuk menyelamatkan sisa penduduk yang masih berada di rumah mereka.
Namun, Kael berlari dengan napas terengah-engah, dan wajah yang pucat. Gurat kepanikan tergambar jelas di sana. Sisa sihir anginnya terasa lemah saat tiba di hadapan Eliya.
"Ada apa?" tanya Eliya tetap tenang berdiri di tempatnya.
"Evakuasi gagal, Eliya. Aku tidak dapat membawa para penduduk keluar dari pemukiman itu," ucap Kael berburu dengan napasnya yang nyaris habis.
"Jalannya tertutup lava, desa itu sudah dikelilingi oleh lelehan panas dari gunung," lanjutnya melaporkan keadaan desa-desa di bawah kaki gunung Drakhor.
Rayn datang menghampiri setelah memeriksa puncak gunung tersebut. Di sana terdapat sebuah kawah besar yang menyimpan inti sihir api.
"Ada inti sihir api di dalam kawah di puncak gunung, dan inti sihir Api itu sedang tidak stabil. Harus ditenangkan dari dalam," ucapnya menatap mereka berdua.
"Inti sihir api? Tidak stabil?" Kael berguman pelam, "Bukankah kau penyihir api terhebat saat ini? Kenapa kau tidak masuk ke sana dan menenangkannya?" lanjutnya sembari menatap Rayn dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ada dasar iri dan kagum dalam pancaran mata Kael setelah menyaksikan kekuatan Rayn di dataran badai beberapa waktu lalu.
Dia tidak menjawab, melainkan melirik Eliya dengan senyum yang menantang, "Kau mau mencoba masuk ke dalam sana, Dewi Air?" katanya sedikit mengejek Eliya karena sebutan itu.
Gadis itu tersenyum, beralih pandangan dari tatapan Rayn ke puncak gunung Drakhor.
"Aku bukan hanya Dewi Air," ketusnya sengit.
Tiga tanda Mahkota di tangannya bergetar. Biru, Coklat zamrud, dan Ungu.
Ia menganalisa situasi yang akan dihadapinya.
'Air untuk mendinginkan. Tanah untuk menutup. Petir untuk memecah tekanan. Tapi kurang satu. Api untuk mengendalikan Api.' Hatinya bergumam menyusun rencana.
"Aku akan masuk untuk memeriksa situasi di dalam kawah itu," katanya setelah cukup menganalisa.
"Kau gila," desis Kael, tangannya mencengkeram pundak Eliya. "Suhu di dalam kawah itu bisa melelehkan baja dalam hitungan detik. Tiga mahkota elemen tidak akan cukup melindungimu tanpa elemen pelengkap."
Kael mencemaskan Eliya, dia sendiri tidak tahan dengan hawa panas yang dihantarkan gunung tersebut. Apalagi langsung masuk ke dalam perut gunung yang sedang bergejolak.
"Lalu, membiarkan lima desa di bawah sana terkubur hidup-hidup?" ujar Eliya menatap tajam Kael yang berdiri di dekatnya.
Ia menepis tangan pemuda itu perlahan, menatap lurus ke puncak gunung Drakhor di mana kawah Terravon yang sedang bergolak berada.
Eliya melesat dengan sihir anginnya, disusul Kael dan Rayn. Berdiri di tepi kawah mengamati. Di bawah sana, cairan merah kental meluap-luap, menyemburkan gas beracun ke udara. Gunung Drakhor sedang menangis, dan air matanya adalah kehancuran.
"Jika ini meledak, maka desa di bawah sana akan menghilang dalam hitungan detik saja," gumam Eliya setelah melihat langsung pada kawah itu.
Rayn tidak berkedip. Matanya yang tajam membaca pergerakan energi purba di hadapan mereka. Sebuah kekuatan sihir api yang dahsyat, jika bisa mendapatkannya maka sihir api mereka akan sempurna.
"Dia benar, Kael. Kita tidak punya waktu lagi. Jika inti sihir itu meledak, seluruh pegunungan Drakhor akan lenyap dari peta. Tak hanya itu, pegunungan Stonheart pun akan ikut menghilang," ujar Rayn setelah kembali mengamati keadaan.
Rayn beralih menatap Eliya, ada kilat kepercayaan sekaligus kecemasan di matanya.
"Lakukan. Aku akan menahan dinding kawah dari luar sebisaku," katanya lagi memercayakan inti sihir api kepada Eliya.
Gadis itu mengangguk. Tanpa membuang waktu, ia melompat ke dalam jurang kawah.
Udara panas langsung menghantam kulitnya, membakar paru-paru saat ia terjun bebas. Tiga mahkota elemen di sekeliling pergelangan tangannya langsung bereaksi. Mahkota Biru memancarkan aura dingin, menciptakan pelindung bola air tebal yang terus menguap dan memperbarui diri demi melindunginya dari panas ekstrem.
Eliya kembali menganalisa, "Suhu mencapai 1.200 derajat. Efisiensi pelindung air menurun 40 persen setiap sepuluh detik."
Ia harus bergerak cepat. Di dasar kawah, di tengah pusaran lava yang mendidih, melayang sebuah bola energi raksasa berwarna merah darah yang berdenyut tidak stabil. Itulah Inti Sihir Api purba yang menjadi jantung Gunung Drakhor. Denyutannya mengirimkan gelombang kejut yang meretakkan dinding-dinding batu.
"Sekarang!" teriaknya pada diri sendiri.
Eliya menghentakkan tangan kiri. Mahkota Coklat zamrud bersinar terang. Tebing-tebing batu di sekitar kawah bergemuruh, runtuh dan bergerak membentuk pilar-pilar raksasa yang mengunci aliran lava, menahan agar magma tidak menyembur ke atas. Tanah di bawah kendalinya meredam getaran dahsyat gunung.
Namun, tekanan di dalam inti semakin memuncak. Volume gas di dalam kawah juga ikut meningkat drastis.
Mahkota Ungu di tangan kanan Eliya berderit. Ia melepaskan sambaran petir beruntun, mengarahkannya tepat ke titik-titik lemah di sekitar inti sihir.
Duar! Duar!
Ledakan petir itu memecah akumulasi tekanan udara, menciptakan celah agar energi yang tersumbat bisa keluar dalam bentuk percikan kecil, bukan ledakan masal.
Namun, itu belum cukup untuk menenangkan inti sihir api, tiga elemen sihir milik Eliya hanya menahan gejalanya, bukan menyembuhkan sumbernya. Ia bisa merasakan penolakan hebat dari Inti Sihir Api.
Elemen air, tanah, dan petirnya dianggap sebagai ancaman luar oleh sang inti. Bola merah itu berdenyut liar, melontarkan ombak lava setinggi sepuluh meter ke arah Eliya.
Pelindung air yang diciptakannya retak. Rasa sakit yang membakar mulai menjalar di lengannya
"Kurang satu, Api. Untuk mengendalikan api purba ini, kau tidak bisa hanya menekannya. Kau harus memahaminya. Kau harus menerima esensinya." Suara Zharvion menggema di dalam pikirannya.
Eliya memejamkan mata di tengah kobaran yang mengepungnya. Ia melepaskan ego sebagai Dewi Air, dan membiarkan kehangatan, amarah, serta hasrat membara dari elemen api merasuk ke dalam jiwanya. Di dalam kegelapan benaknya, sebuah percikan merah baru tercipta. Mahkota Kelima terbentuk dari api batinnya sendiri.
Ketika ia membuka mata, sepasang matanya telah menyala keemasan.
Eliya mengulurkan kedua tangan ke depan, tidak lagi menyerang, melainkan menyambut. Lima mahkota kini berputar seimbang di sekeliling tubuhnya. Putih, Biru, Coklat, Ungu, dan Merah yang baru saja bangkit. Sayang, elemen itu belum mengisi tempatnya.
"Tenanglah," bisiknya pelan, menyalurkan energi apinya ke dalam inti yang mengamuk.
Seketika itu juga, penolakan dari Inti Sihir Api mereda. Merah bertemu merah. Energi liar itu melambat, mengikuti ritme napas dan detak jantung Eliya. Lava yang tadinya bergolak perlahan menyusut dan membeku menjadi batu obsidian hitam. Langit merah di atas Pegunungan Drakhor dan Stoneheart perlahan memudar, menyisakan asap tipis yang membawa kedamaian.
Eliya jatuh terduduk di atas tanah yang baru mengeras, napasnya terengah-engah, tapi senyum kemenangan terukir di wajahnya. Gunung Drakhor berhenti menangis.
"Jangan senang dulu!" Suara Zharvion kembali menggema.
"Aku berhasil menjinakkannya," sahut Eliya dengan napas tersengal.
Dari atas kawah, Rayn dan Kael meluncur turun dengan cepat. Rayn berlutut di samping Eliya, meraih pundaknya dengan napas lega.
"Kau berhasil," katanya.
Kael menatap lima tanda mahkota yang kini melayang tenang di sekitar Eliya dengan tatapan tak percaya.
"Kau ... kau bukan lagi sekadar Dewi Air. Kau menguasai api sekarang," ujar Kael dengan takjub.
Eliya mendongak, menatap mereka berdua sambil menggenggam kelima energi elemental itu ke dalam dadanya.
"Aku adalah keseimbangan."
Tiba-tiba gunung itu bergetar lagi, hawa panas kembali bergejolak.
"Tidak! Ini belum berakhir!"