NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Menikahi Musuh Kakakku

Rahasia Dibalik Menikahi Musuh Kakakku

Status: tamat
Genre:CEO / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nourayl

"Kalau bukan karena Ayah, aku tidak akan pernah menikah dengan pria sepertimu."

Ayla Pradana terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut. Masalahnya, pria yang harus ia nikahi adalah Arsen Wijaya—musuh bebuyutan kakaknya, Gavin.

Selama bertahun-tahun, Gavin selalu mengatakan bahwa Arsen adalah pria licik yang menghancurkan hidupnya. Ayla pun membencinya tanpa pernah mengenalnya lebih dalam.

Namun, setelah menikah, Ayla justru menemukan sisi Arsen yang sama sekali berbeda. Di balik sikap dingin dan tatapannya yang tajam, ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan dari keluarganya.

Semakin dekat dengannya, semakin Ayla sadar...

Mungkin selama ini orang yang ia percaya bukanlah pihak yang benar.

Dan ketika kebenaran terungkap, ia harus memilih:
keluarganya... atau pria yang kini menjadi suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Aturan di Rumah Mahendra

Pagi pertama sebagai istri Arsen Mahendra.

Sinar matahari yang hangat menyelinap masuk melalui celah tirai, membangunkan Ayla dari tidurnya. Perlahan ia membuka mata, masih membutuhkan beberapa detik untuk mengingat di mana dirinya berada.

Langit-langit kamar yang tinggi, lampu gantung bergaya klasik, aroma kayu cendana yang samar, semuanya terasa begitu asing.

Ayla duduk perlahan di atas ranjang.

Pandangannya langsung tertuju ke arah sofa di dekat balkon.

Kosong.

Selimut yang semalam digunakan Arsen sudah terlipat rapi, seolah tidak pernah dipakai.

Ia melirik jam di nakas.

Pukul 05.45.

"Astaga..."

Ayla buru-buru turun dari tempat tidur.

"Jangan-jangan dia sudah bangun dari tadi."

Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu berjalan keluar kamar dengan perasaan canggung.

Koridor lantai tiga begitu tenang. Cahaya matahari yang masuk dari jendela-jendela besar membuat rumah itu terlihat semakin megah.

Namun, kemegahan itu justru terasa sunyi.

Saat menuruni tangga, aroma masakan langsung menyambut indra penciumannya.

Dari arah dapur terdengar suara beberapa orang sedang berbincang pelan.

Begitu Ayla memasuki ruangan, semua aktivitas mendadak berhenti.

"Selamat pagi, Nyonya."

Lima orang yang berada di dapur langsung membungkukkan badan.

Ayla membelalak kaget.

"Eh... pagi."

Ia tersenyum kikuk.

"Jangan memanggil saya seperti itu, ya. Panggil Ayla saja."

Kelima orang itu saling berpandangan.

Tak ada satu pun yang berani menjawab.

Tak lama kemudian, Pak Bima masuk ke dapur sambil membawa sebuah map.

"Maaf, Nyonya."

"Sulit bagi kami memanggil nama langsung. Itu sudah menjadi aturan di rumah ini."

Ayla menggaruk pelan tengkuknya.

"Kalau begitu... panggil Mbak Ayla saja?"

Pak Bima tersenyum tipis.

"Nanti saya bicarakan dengan yang lain."

Jawaban itu membuat Ayla ikut tersenyum.

Setidaknya, suasana yang semula kaku mulai sedikit mencair.

"Pak Bima..."

"Iya, Nyonya?"

"Arsen... maksud saya, Tuan Arsen, di mana?"

Pak Bima melirik jam tangannya.

"Tuan sedang berolahraga di taman belakang."

Ayla mengangguk pelan.

"Setiap pagi?"

"Sudah menjadi kebiasaan beliau sejak bertahun-tahun."

Mendengar itu, Ayla tanpa sadar menoleh ke arah jendela.

Dari kejauhan tampak sosok Arsen mengenakan pakaian olahraga berwarna hitam.

Ia sedang berlari mengelilingi taman dengan langkah yang stabil.

Tak ada pengawal.

Tak ada ponsel di tangannya.

Hanya dirinya sendiri.

"Beliau jarang melewatkan rutinitas pagi," lanjut Pak Bima.

"Katanya... kalau tubuhnya berhenti bergerak, pikirannya akan dipenuhi hal-hal yang tidak ingin ia ingat."

Kalimat itu membuat Ayla terdiam.

Lagi-lagi.

Ada sesuatu dalam hidup Arsen yang tidak diketahui siapa pun.

___________________________________________

Dua puluh menit kemudian, Arsen memasuki rumah.

Keringat masih membasahi pelipisnya, sementara handuk putih tersampir di leher.

Begitu melihat Ayla berdiri di ruang makan, langkahnya sedikit melambat.

"Kau sudah bangun."

"Iya."

Ayla berdiri dari kursinya.

"Selamat pagi."

"Pagi."

Keheningan kembali hadir.

Pak Bima yang melihat suasana itu segera menarik para pelayan keluar, meninggalkan mereka berdua di ruang makan.

Ayla baru menyadarinya setelah pintu dapur tertutup.

"Pak Bima sengaja, ya..." gumamnya dalam hati.

Arsen duduk di salah satu kursi.

"Silakan sarapan."

Di atas meja sudah tersaji berbagai hidangan.

Bubur ayam, roti panggang, omelet, buah-buahan segar, hingga secangkir kopi hitam yang aromanya memenuhi ruangan.

Ayla menatap meja itu dengan takjub.

"Ini... untuk kita berdua?"

Arsen mengangguk singkat.

"Kebanyakan."

"Memang."

"Lalu kenapa sebanyak ini?"

"Karena setiap pagi Ibu biasanya ikut sarapan bersama."

Senyum Ayla perlahan memudar.

"Oh..."

"Beliau belum boleh turun hari ini."

Nada suara Arsen tetap datar, tetapi Ayla bisa menangkap nada kecewa yang berusaha disembunyikannya.

Tanpa sadar, Ayla mengambil semangkuk bubur.

Ia berjalan ke arah dapur.

Arsen mengangkat pandangan.

"Mau ke mana?"

"Aku mau minta izin ke dokter dulu. Kalau boleh... aku ingin mengantar sarapan untuk Ibu."

Untuk pertama kalinya pagi itu...

Arsen tidak langsung menjawab.

Tatapannya tertuju pada Ayla selama beberapa detik.

Kemudian, sudut bibirnya terangkat sangat tipis.

Nyaris tak terlihat.

"Terima kasih."

Hanya dua kata.

Namun entah mengapa, ucapan itu terasa tulus.

___________________________________________

Setelah dokter mengizinkan, Ayla membawa nampan berisi bubur hangat menuju kamar Nyonya Siska.

Wanita paruh baya itu tampak sudah jauh lebih segar dibanding malam sebelumnya.

"Wah..."

Siska tersenyum saat melihat Ayla.

"Menantu Ibu datang membawa sarapan?"

Ayla tersipu malu.

"Ibu jangan menggoda terus."

"Ayo sini."

Ayla membantu Siska duduk, lalu menyuapkan beberapa sendok bubur.

"Ibu sudah lama tinggal berdua dengan Arsen?" tanya Ayla hati-hati.

Senyum Siska perlahan memudar.

"Sejak suami Ibu meninggal."

"Arsen masih sangat muda waktu itu."

"Ia kehilangan sosok ayah sekaligus harus menjadi kepala keluarga."

Ayla menghentikan gerakannya.

"Dia... tidak pernah mengeluh?"

Siska menggeleng.

"Itulah yang paling Ibu khawatirkan."

"Anak itu tidak pernah menangis di depan siapa pun."

"Semakin berat bebannya, semakin ia memilih diam."

Ayla menoleh ke arah jendela.

Dari balik kaca, ia melihat Arsen sedang berdiri sendirian di taman, menerima panggilan telepon dengan wajah serius.

Entah mengapa...

Punggung pria itu terlihat begitu kesepian.

Untuk pertama kalinya...

Ayla tidak lagi melihat Arsen sebagai pria kaya yang dingin dan sulit didekati.

Melainkan seorang anak...

Yang terlalu lama memikul beban seorang diri.

___________________________________________

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!