Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.
Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.
Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 010: Unsur Logam Pertama
Moncong pistol itu hanya berjarak tiga meter dari dada Hendra.
Tiga meter.
Jarak yang cukup dekat untuk membunuh.
Juga cukup dekat untuk membuat orang percaya dirinya sudah menang.
Pemimpin geng itu berdiri di tengah kabut putih sisa APAR, satu tangan memegang pistol, tangan lainnya memberi isyarat kepada pria besar di belakangnya.
"Lepaskan Si Kurus," katanya.
Jadi orang yang tersedak serbuk di depan Hendra itu Si Kurus.
Nama tidak penting.
Posisi penting.
Si Kurus masih batuk dan berusaha membuka mata. Tubuhnya menutupi setengah dada Hendra. Di sisi kanan, pria besar dengan pistol rakitan mulai mencari sudut tembak. Di belakang pemimpin, pria berlinggis menjaga tas emas sambil berkeringat.
Hendra melihat semua itu dalam satu kedipan.
"Kau bukan polisi," kata Hendra.
Pemimpin itu menyeringai tipis. "Dan kau bukan pahlawan."
"Benar."
Jawaban itu membuat senyum si pemimpin membeku sebentar.
Hendra tidak perlu menjadi pahlawan.
Ia hanya perlu hidup.
Dan mengambil emas.
"Bos Jali," pria berlinggis berbisik panik, "kita kelamaan."
Nama itu masuk ke kepala Hendra.
Bos Jali.
Empat orang.
Si Kurus di depannya.
Pria besar bersenjata di kanan.
Pria berlinggis dekat tas.
Bos Jali dengan pistol terawat.
Hendra menggeser kaki kiri setengah langkah.
Bos Jali melihat gerakan itu. "Jangan bergerak."
Hendra berhenti.
Lalu ia menekan pecahan kaca ke leher Si Kurus.
Tidak dalam.
Cukup untuk membuat darah muncul sebagai garis merah.
Si Kurus langsung membeku.
"Tembak," kata Hendra pelan. "Peluru pertama mengenai temanmu. Peluru kedua mungkin mengenai saya. Setelah itu, semua tamu di bawah akan bangun, kamera lorong merekam wajahmu, dan emasmu tertinggal."
Bos Jali menatapnya.
Di mata pria itu, kemarahan mulai bercampur hitungan.
Bagus.
Orang yang menghitung lebih lambat menarik pelatuk.
"Kau pikir bisa tawar-menawar?"
"Saya pikir kau mau keluar dari hotel ini dengan emas."
Pria besar di kanan mengumpat. "Bos, habisin saja!"
Begitu kata itu keluar, Hendra bergerak.
Ia mendorong Si Kurus ke arah pistol rakitan.
Pistol meletus.
DOR!
Peluru menghantam dinding.
Telinga Hendra berdenging.
Pada saat yang sama, ia melemparkan tabung APAR kosong ke lutut pria besar. Bukan lemparan kuat, tetapi cukup untuk membuat pria itu terhuyung di karpet licin serbuk.
Hendra merunduk.
Tembakan kedua Bos Jali menyambar di atas kepalanya.
DOR!
Lampu dinding pecah.
Lorong setengah gelap.
Korban menjerit tertahan.
Hendra menerjang ke kanan, menyikut pergelangan pria besar yang memegang pistol rakitan. Sendinya tidak patah. Tubuh Hendra belum sekuat itu. Tapi serangan itu membuat moncong pistol turun.
Ia menusukkan pecahan kaca ke lengan pria itu.
Pria besar meraung.
Pistol jatuh ke karpet.
Hendra menendangnya ke bawah meja layanan dekat dinding.
Pria berlinggis bernama Karman menerjang dari arah tas emas.
Hendra mundur satu langkah.
Linggis menghantam panel kayu di sampingnya.
BUKK!
Getarannya masuk sampai ke tulang.
Jika kena kepala, ia selesai.
Hendra mengambil baki logam dari meja layanan dan mengangkatnya tepat saat Karman menyerang lagi. Linggis menghantam baki. Tangan Hendra mati rasa. Tapi arah pukulan berubah, cukup untuk membuka sisi tubuh Karman.
Ia menendang perut pria itu.
Karman terhuyung, bukan jatuh.
Bos Jali sudah mengarahkan pistol lagi.
Hendra tidak punya waktu.
Ia menarik Karman ke jalur tembak.
DOR!
Karman menjerit dan jatuh.
Bos Jali membeku sepersekian detik karena menembak anak buahnya sendiri.
Sepersekian detik itu cukup.
Hendra menyambar linggis yang jatuh, lalu memukul tangan Bos Jali.
KRAK!
Pistol terlempar.
Bos Jali menerjang seperti banteng marah. Tubuhnya lebih berat. Bahunya menghantam dada Hendra, membuat napas Hendra putus. Mereka jatuh ke lantai, berguling di atas karpet penuh serbuk putih.
Bos Jali mencoba mencekik.
Hendra menggigit bibir sendiri sampai darah terasa asin, lalu menghantamkan dahi ke hidung pria itu.
BUKK!
Rasa sakit meledak di kepalanya.
Bos Jali mengendur.
Hendra tidak berhenti.
Ia memukul pelipis pria itu dengan gagang linggis.
Sekali.
Dua kali.
Bos Jali ambruk.
Lorong mendadak sunyi, hanya diisi napas berat dan isak korban.
Si Kurus merangkak menuju tangga.
Hendra mengambil pistol Bos Jali dari lantai, mengarahkannya tanpa ragu.
"Diam."
Si Kurus berhenti.
Pria besar memegangi lengannya yang berdarah. Karman terkapar dan mengerang. Pria keempat, Karno, yang sejak tadi menjaga pintu kamar, mengangkat tangan gemetar.
Pertarungan belum bersih.
Belum selesai.
Tapi kendali sudah pindah tangan.
Hendra tidak membuang waktu mengikat siapa pun.
Ia lebih dulu membebaskan lakban di mulut para korban.
"Turun lewat tangga darurat. Jangan pakai lift. Jangan lihat belakang."
Salah satu tamu pria menangis sambil mengangguk.
Staf hotel perempuan hampir jatuh, tetapi masih bisa berdiri.
Mereka pergi.
Begitu korban hilang di tangga, mata Hendra kembali ke dua tas olahraga.
Ritsletingnya terbuka.
Batangan emas tersusun rapat di dalam.
Kuning.
Dingin.
Berat.
Hendra berlutut di depan tas itu.
Seluruh tubuhnya sakit. Tulang rusuknya nyeri. Kepala berdenyut. Lengan kanannya gemetar. Darah dari bibirnya jatuh ke punggung tangan.
Tetes itu mengalir ke cincin tembaga.
Cincin itu menjadi panas.
Bukan panas biasa.
Seperti bara tipis yang bangun dari tidur panjang.
Hendra meletakkan telapak tangan di atas emas.
Niatnya hanya satu.
Serap.
Cahaya emas keluar dari ukiran cincin, lebih terang daripada saat menyimpan barang biasa. Benang-benang emas menembus batangan dalam tas, lalu menariknya ke kedalaman cincin yang lebih tua.
Satu batang lenyap.
Lalu dua.
Lalu sepuluh.
Tas pertama mengempis.
Tas kedua menyusul.
Emas itu tidak tersimpan.
Emas itu dibakar.
Tubuh Hendra mendadak menegang.
Nyeri meledak dari tulang jarinya, naik ke pergelangan, siku, bahu, dada, lalu menyebar ke seluruh kerangka. Seolah ada palu tak terlihat memukul tulangnya dari dalam, menempa setiap serat otot, menekan darahnya sampai panas.
Ia menggigit gigi agar tidak berteriak.
Keringat keluar.
Lalu bercampur merah tipis.
Satu menit terasa seperti satu jam.
Di lantai, Bos Jali mulai bergerak.
Hendra membuka mata.
Dunia tampak sedikit lebih tajam.
Napasnya berat, tetapi tenaga di lengannya berubah. Bukan kekuatan monster. Belum.
Namun tubuh ini bukan tubuh yang sama seperti lima menit lalu.
Ia mengambil linggis dengan satu tangan.
Logam itu terasa lebih ringan.
Jauh lebih ringan.
Bos Jali mencoba meraih pistol yang terlempar.
Hendra menendang pergelangan tangannya.
KRAK!
Kali ini tulangnya benar-benar patah.
Bos Jali menjerit.
Hendra menatap tangannya sendiri.
Unsur Logam.
Sekitar setengah jalan.
Tidak ada panel.
Tidak ada suara.
Tapi ia tahu.
Cincin memberinya pemahaman itu seperti dingin yang meresap langsung ke tulang: tubuhnya ditempa, Ruang Penyimpanan sedikit melebar, dan emas seratus kilogram tadi sudah habis menjadi bahan bakar.
Hendra menoleh.
Empat pencuri itu masih di lantai.
Bos Jali menggertakkan gigi. Si Kurus merangkak dengan satu tangan. Karman memegangi luka tembak. Karno gemetar di dekat pintu kamar, matanya bergerak ke arah pistol rakitan yang jatuh di bawah meja.
Mereka sudah melihat terlalu banyak.
Dan mereka adalah orang-orang yang beberapa menit lalu hendak membuang korban dari tangga.
Hendra bergerak.
Cepat.
Kali ini tubuhnya tidak lagi menolak perintah.
Tidak ada teriakan panjang.
Tidak ada perlawanan berarti.
Ketika Hendra berhenti, lorong itu hanya menyisakan napasnya sendiri, serbuk putih, tas kosong, dan empat tubuh yang tidak lagi bergerak.
Dari kejauhan, suara pintu tangga darurat terbuka di lantai bawah.
Lalu teriakan staf hotel.
Lalu suara sirene mulai mendekat dari jalan.
Hendra berdiri di tengah lorong penuh serbuk putih, darah, dan tas kosong.
Kekuatan baru berdenyut di bawah kulitnya.
Tapi hukum dunia lama juga mulai naik ke lantai ini.