Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 15
Begitu pintu terkunci, pertahanan mental Arsen runtuh seketika. Pria tegap itu terhuyung mundur hingga punggungnya menghantam tepi meja kerja. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya terguncang hebat oleh isakan tanpa suara.
"Aku pecundang, Nu..." rintih Arsen dari balik telapak tangannya, suaranya pecah dan amat memilukan.
"Aku harus berlutut dan minta maaf pada orang-orang yang sudah menghancurkan hidup Tsania... hanya demi mempertahankan jabatan sialan ini..."
"Kamu melakukan hal yang benar, Arsen," tegur Danu mantap, memegang kedua bahu Arsen dengan cengkeraman kuat.
"Dengarkan aku! Kalau tadi kamu lepas jabatan ini dan keluar dengan tangan kosong, kamu tidak punya kuasa apa-apa! Pak Bisma akan dengan mudah menghancurkan Tsania di rumah sakit itu tanpa bisa kamu cegah! Kamu menunduk hari ini bukan karena kamu takut, tapi karena kamu sedang memasang perisai untuk melindungi Tsania!"
Arsen menurunkan tangannya, menatap Danu dengan mata yang sangat merah dan basah oleh air mata penyesalan.
"Tapi bagaimana dengan Tsania, Nu?" bisik Arsen frustrasi, meremas dadanya yang terasa begitu nyeri.
"Di mata Tsania... aku akan makin terlihat seperti monster yang memilih kekuasaan dan Aurelia... Dia akan makin membenciku!"
"Biarkan dia membencimu untuk sementara waktu, Arsen, asal dia aman dan mendapatkan perawatan medis terbaik tanpa gangguan dari keluargamu," balas Danu tegas.
"Gunakan kekuasaan dan uang dari jabatan CEOmu ini untuk memastikan seluruh biaya rumah sakitnya terjamin, dokter-dokter terbaik merawatnya, dan perlindungan keamanan di HCU dijaga ketat atas perintah langsung darimu."
Arsen terdiam. Kata-kata Danu perlahan merasuk ke dalam kesadarannya. Ya, ini adalah harga yang harus ia bayar. Ia harus rela dianggap sebagai penjahat paling berengsek di mata Tsania, ia harus rela menelan amarah dan kehormatannya di hadapan ayah dan Aurelia, demi satu hal. Memastikan Tsania tetap bernapas dan aman dari jangkauan orang-orang beracun di sekitarnya.
Arsen menyapu air matanya dengan kasar, menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan gemuruh di dadanya. Sorot matanya kembali mengeras, dipenuhi tekad dingin seorang pria yang siap menanggung penderitaan dalam diam.
"Danu," panggil Arsen dengan intonasi suara yang kembali tegas.
"Ya, Arsen?"
"Pastikan seluruh biaya medis Tsania di RS YPK Mandiri ditanggung penuh atas nama rekening pribadiku, bukan anggaran perusahaan," perintah Arsen dingin.
"Pindahkan dia ke ruang perawatan VVIP paling aman setelah kondisinya keluar dari masa kritis, dan tempatkan dua pengawal pribadi terbaik kita di depan pintunya. Jangan biarkan siapa pun masuk termasuk Aurelia atau orang utusan Papaku."
"Siap, akan saya laksanakan segera," sahut Danu mantap.
"Dan satu lagi..." Arsen menatap Danu lurus.
"Lanjutkan penyelidikan tentang kepindahan Tsania tiga tahun lalu secara diam-diam. Aku mau semua buktinya ada di tanganku sebelum makan malam pertunangan sialan itu dilaksanakan."
"Paham, Arsen. Aku akan awasi tim detektif secara langsung."
Arsen berbalik menuju jendela kaca raksasa di ruang kerjanya, memandang pemandangan gedung-gedung tinggi Jakarta di bawah sana. Ia mengepalkan tangannya rapat-rapat di dalam saku celana. Rasa sakit akibat menekan ego dan berpura-pura patuh demi melindungi wanita yang dicintainya kini menjadi bahan bakar baru bagi Arsen untuk bertahan di dalam permainan licik keluarganya sendiri.
Arsen berdiri lama di balik jendela raksasa itu. Bayangan fisiknya yang tinggi tegap terpantul samar di atas kaca, berlatar langit Jakarta yang mulai tertutup awan mendung kusam. Tangannya yang terkepal di saku celana bergetar pelan. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Tsania yang pucat dengan masker oksigen dan mata basah penuh ketakutan kembali datang menghantuinya.
Danu masih berdiri di dekat meja kerja, memegangi map tebal berisi dokumen harian. Ia membiarkan sahabatnya itu mengambil jeda beberapa menit untuk merakit kembali pecahan jiwanya.
"Nu," panggil Arsen tanpa berbalik. Suaranya sudah tidak lagi gemetar, melainkan sangat dingin dan dalam suara seorang pria yang telah menetapkan pilihan berbahaya.
"Ya, Arsen?"
"Bagaimana keadaan Tsania pagi ini? Dokter jaga HCU bilang apa waktu kamu hubungi tadi?"
Danu menghela napas panjang, melangkah dua tindak mendekati meja.
"Kondisi kritisnya sudah mulai terkendali sejak pukul lima subuh tadi. Demam tingginya berangsur turun, dan tekanan darahnya mulai stabil. Tapi paru-parunya masih sangat lemah, Arsen. Dokter bilang, infeksi akibat kelelahan ekstrem dan hipotermia semalam hampir memicu gagal napas."
Dada Arsen berdenyut nyeri mendengarnya. Ia memejamkan mata rapat-rapat. "Dia... dia sudah sadar?"
"Sudah," jawab Danu pelan. "Tadi jam tujuh pagi dia sempat membuka mata. Tapi..." Danu menggantung kalimatnya, ragu untuk melanjutkan.
"Tapi apa, Danu? Katakan!" balik Arsen cepat, berbalik menatap Danu dengan sorot mata menuntut.
"Saat pertama kali membuka mata dan melihat langit-langit ruang HCU, hal pertama yang dia tanyakan ke perawat adalah... apakah kamu ada di luar," tutur Danu jujur.
"Dan sewaktu perawat bilang tidak ada siapa-siapa selain Raihan, Tsania langsung menghembuskan napas lega. Dia berbisik kalau dia takut sekali kamu bakal datang lagi untuk menyeretnya kembali ke kantor."
Deg.
Kata-kata itu menghantam ulu hati Arsen bagai pukulan godam. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kaca dingin di belakangnya, menatap langit-langit ruangan dengan senyum pahit yang menyakitkan.
"Dia lega... karena aku tidak ada di sana," bisik Arsen, suaranya pecah di ujung kalimat.
"Pria yang dulu berjanji akan menjadi pelindung utamanya... kini jadi hal paling menakutkan dalam hidupnya."
"Arsen, kamu harus terima kenyataan itu untuk saat ini," potong Danu tegas.
"Trauma yang kamu goreskan beberapa hari terakhir ini sangat dalam. Kamu menumpuk berkas di mejanya saat dia demam tinggi, kamu membiarkan Aurelia menghinanya, dan kamu membentaknya di depan umum. Jangan harap dia bisa langsung melihat niat baikmu hanya dalam satu malam."
"Aku tidak minta dia memaafkanku, Nu!" sergah Arsen, matanya kembali berkaca-kaca.
"Aku cuma mau dia hidup! Aku cuma mau melihat mata itu terbuka tanpa rasa sakit!"
Arsen melangkah cepat menuju meja kerjanya. Ia menarik laci paling bawah, mengeluarkan sebuah brankas kecil elektronik, lalu memasukkan kombinasi angka. Dari dalam brankas, ia menarik sebuah kartu kredit hitam tanpa limit dan sebuah buku cek pribadi atas namanya sendiri.
Ia melempar benda itu ke atas meja di hadapan Danu.
"Bawa ini," perintah Arsen tegas.
"Bayar seluruh biaya deposit RS YPK Mandiri untuk satu bulan ke depan. Minta dokter spesialis paru dan penyakit dalam terbaik di Jakarta untuk memegang kasus Tsania. Kalau perlu, terbangkan dokter ahli dari Singapura hari ini juga!"
"Arsen, tim medis di YPK Mandiri sudah sangat kompeten..."
"Aku tidak mau ada risiko sekecil apa pun, Danu!" potong Arsen, menepuk meja dengan telapak tangannya.
"Dan ingat pesan khususku, gunakan nama yayasan pribadi milik ibuku untuk menanggung semua biaya itu. Jangan sampai ada nama Pratama Group atau nama Papaku di lembar kwitansi medisnya. Kalau Tsania tahu uang ini dariku, dia pasti akan menolak dirawat dan nekat kabur dari rumah sakit."
Danu menatap kartu hitam di atas meja, lalu mengangguk paham.
"Baik. Aku akan atur administrasi rumah sakit agar nama donatur dirahasiakan atas nama Nirmala Foundation. Tsania hanya akan tahu kalau seluruh biayanya ditanggung oleh program bantuan kesehatan kantor untuk karyawan yang mengalami kecelakaan kerja."
"Bagus," sahut Arsen pelan. Pria itu menarik napas panjang, mencoba menata kembali pikirannya yang kalut.
"Lalu bagaimana dengan pria bernama Raihan itu? Kenapa dia bisa terus berada di samping Tsania?"