Arumi cuma wanita biasa yang hidupnya sangat sederhana. Sampai akhirnya, sebuah kecelakaan membuat hidupnya berakhir. Bukannya tenang, Arumi malah bangun dengan kondisi yang bikin pusing. Jiwanya terjebak di dalam tubuh pria bernama Bagas.
Belum selesai kagetnya, di kepalanya muncul suara sistem yang menyebalkan dan hobi banget mengejeknya. Sistem itu menuntut Arumi harus jadi koki hebat, padahal Arumi sendiri nggak bisa masak apa-apa.
Lebih parah lagi, Bagas ternyata adalah siswa di sekolah tentara dengan jadwal latihan yang super padat. Arumi harus berusaha keras biar nggak ketahuan sifat aslinya, sambil diam-diam menjalankan misi memasak dari si sistem yang sangat menyebalkan.
Dapatkah Arumi melewati hari-harinya di sekolah tentara tanpa ketahuan, dan bertahan dari ocehan sistem yang bikin emosi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tujuh ~
Dapur barak itu terasa mencekam, jauh lebih menyesakkan daripada medan latihan manapun yang pernah Bagas hadapi. Uap panas mengepul tebal dari panci raksasa yang berisi Bubur Manado, beradu dengan aroma gurih ikan asin yang mulai garing dan wangi tajam sambal roa yang pedas menusuk hidung. Bagas berdiri di sana, di balik meja stainless steel yang dingin, tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Dia bukan hanya lelah secara fisik karena latihan militer yang memeras tenaga, mentalnya pun benar-benar berada di ambang kehancuran. Setiap detik di ruangan ini terasa seperti siksaan yang dirancang khusus untuk mematahkan semangatnya.
Saat sedang mengolah kangkung untuk campuran bubur, pikirannya sempat terdistraksi oleh rasa kantuk yang luar biasa. Bagas adalah seorang tentara, dia terbiasa dengan efisiensi gerakan dan kecepatan dalam bertindak. Baginya, mengikuti instruksi sistem yang memintanya memotong kangkung tepat sepanjang 3 cm terasa seperti sebuah penghinaan terhadap instingnya. Memotong lebih kecil akan membuat sayur lebih cepat matang, dan itu akan menghemat waktu operasional, pikirnya dalam hati. Dia benar-benar merasa bahwa sistem ini hanya menghambat kinerjanya.
Tanpa pikir panjang, didorong oleh sisa-sisa idealismenya, ia meraih pisau dan dengan satu gerakan cepat, ia memotong kangkung itu menjadi ukuran 1 cm agar lebih praktis.
Tiiiit! Tiiiit! Tiiiit!
Suara peringatan itu melengking begitu keras hingga membuat Bagas nyaris melompat dari kursinya. Lampu indikator di sudut ruangan tiba-tiba berkedip merah terang, menyilaukan mata Bagas yang letih. Udara di dapur mendadak terasa lebih dingin dan menekan, seolah oksigen di ruangan itu sedang disedot habis.
[Peringatan Keras: Tuan Rumah melakukan tindakan menyimpang dari SOP. Kangkung yang dipotong di luar standar 3 cm akan merusak tekstur visual Bubur Manado sesuai standar Sistem. Anda melakukan pembangkangan perintah!]
"Ini cuma sayur!" Bagas membentak layar transparan yang melayang itu dengan suara yang parau karena emosi yang tertahan. "Apa bedanya 3 cm dengan 1 cm? Hasil akhirnya tetap sama-sama kangkung yang akan dimakan! Kau ini sistem atau mesin pengukur penggaris yang tidak punya toleransi sedikit pun terhadap efisiensi?"
[Hukuman atas tindakan mengeyel: -25 Poin.]
"APA?! DUA PULUH LIMA POIN?!" Bagas menjatuhkan pisaunya ke lantai dengan dentuman keras yang menggema di seluruh ruangan. "Kau benar-benar tidak punya perikesisteman! Kau monster! Kau memotong poin seolah-olah itu tidak berharga, padahal aku sudah berdiri di sini selama satu jam tanpa henti, mematuhi semua aturan gila ini! Kau ini sistem atau rentenir yang memakai topeng teknologi? Beraninya kau mempermainkan nasibku!"
[Protes Anda ditolak. Sistem adalah standar kesempurnaan. Kegagalan Anda dalam mematuhi prosedur adalah bentuk ketidakmampuan Tuan Rumah. Segera lanjutkan pekerjaan atau hukuman akan berlipat ganda.]
Bagas terdiam sejenak, dadanya naik turun dengan kasar. Ia menatap layar itu dengan tatapan yang penuh dendam. Ia ingin sekali merobohkan seluruh peralatan dapur ini, menghancurkan meja stainless ini, namun dia tahu, itu hanya akan membuatnya kehilangan lebih banyak poin dan memperburuk nasibnya. Dengan tangan yang gemetar karena amarah, ia terpaksa memungut pisau itu kembali. Setiap potongan kangkung yang ia buat setelah itu dilakukan dengan ketepatan yang robotik, seolah-olah dia adalah mesin yang diprogram untuk tidak lagi memiliki perasaan atau keinginan sendiri. Hatinya penuh dengan sumpah serapah yang tidak berani ia ucapkan lantang.
Satu jam berlalu, dapur itu kini tampak seperti medan perang yang berantakan dengan noda minyak di mana-mana. Lima menu sarapan tersaji dengan tampilan yang sempurna di atas meja. Bagas yang sudah tidak punya pilihan lain, duduk di kursi kayu dapur, mencicipi sesendok Bubur Manado buatannya. Rasanya luar biasa. Kaldu yang meresap ke dalam beras, paduan jagung manis dan sayuran, ditambah pedasnya sambal roa yang nendang, benar-benar memanjakan lidah.
"Resep sialan ini." bisik Bagas sambil mengunyah perkedel jagung yang renyah dengan amarah. "Kenapa sistem ini harus membuat resep yang enak jika pemiliknya adalah iblis yang hanya tahu cara memeras orang? Ini benar-benar sebuah penyiksaan psikologis yang sangat terstruktur. Aku bisa masak enak, tapi hatiku rasanya seperti diiris-iris oleh ketidakadilan ini."
Tepat saat ia menelan suapan terakhir, notifikasi itu muncul di depan matanya dengan gaya yang sangat formal, seolah-olah ini adalah laporan keuangan dari pihak bank yang tidak mengenal belas kasihan.
[Evaluasi Hasil Masakan Pagi:]
[Bubur Manado: 50 | Sambal Roa: 10 | Ikan Asin: 5 | Tahu Goreng: 5 | Perkedel Jagung: 10]
[Total Pendapatan: 80 Poin.]
[Hukuman Mengeyel: -25 Poin.]
[Hasil Bersih Tambahan: 55 Poin.]
Bagas menarik napas panjang, mencoba menghitung di dalam kepalanya yang masih pening. "Sisa poin 95 poin... ditambah 55 poin dari hasil kerja keras pagi ini... totalnya 150 poin."
Ia merasa sedikit lega. Tapi ketenangannya hanya bertahan sedetik. Notifikasi berikutnya muncul dengan kejam, menghancurkan sisa-sisa harapannya untuk bisa bersantai.
[Notifikasi Lanjutan: Pembayaran Utang (Pinjaman 100 Poin + Bunga 5% \= 105 Poin). Saldo Anda saat ini: 150 Poin.]
[Hasil Akhir Saldo Anda: 45 Poin.]
Bagas menatap angka 45 itu dengan tatapan kosong. Ia luruh ke lantai dapur yang dingin, terduduk lemas. Ia bukan minus, tapi ia berada dalam posisi yang sangat berbahaya.
"Empat puluh lima poin..." bisiknya lemah. "Aku butuh 100 poin untuk membeli obat kuat. Dengan sisa 45 poin ini, aku bahkan tidak bisa membeli separuh dari kebutuhan pemulihanku!"
[Analisis Sistem: Tuan Rumah berada dalam posisi rawan. Anda memiliki waktu hingga siang hari untuk mengumpulkan setidaknya 55 Poin tambahan agar dapat melakukan pembelian obat kuat dosis malam nanti. Mengingat kondisi fisik Anda yang akan kembali menurun tanpa obat, kegagalan dalam misi siang hari akan berakibat fatal bagi performa latihan militer Anda.]
"Sistem." panggil Bagas dengan suara yang hampir tidak terdengar, menatap langit-langit barak. "Kau benar-benar tidak membiarkanku bernapas bukan? Setiap langkahku diatur, setiap kegagalanku dihukum, dan setiap keberhasilanku langsung disedot untuk melunasi utang yang kau ciptakan sendiri."
[Sistem tidak menciptakan utang. Anda yang meminjam, Anda yang menanggung konsekuensi. Ini adalah simulasi nyata dunia militer, di mana setiap keputusan memiliki harga yang harus dibayar.]
Bagas terdiam. Ia memejamkan mata, memikirkan misi siang nanti. Ia harus mendapatkan 55 poin lagi. Jika tidak, tubuhnya akan hancur malam nanti. Sialan, umpatnya dalam hati. Ini bukan lagi sekadar misi, ini adalah perlombaan melawan waktu.
kebalikan kita Thor,, aku cow yg masuk tubuh cew🤣
Ditunggu up berikutnya othor seksoy 😘