NovelToon NovelToon
Suami Kilatku Ternyata Bosku

Suami Kilatku Ternyata Bosku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.

Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.

Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.

Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Liburan Berdua

Hujan gerimis yang sempat membasahi Menteng sudah lama berhenti ketika mobil sedan itu melaju pelan meninggalkan kawasan galeri. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu jalan yang temaram, menciptakan jejak-jejak cahaya panjang di aspal. Di dalam kabin yang hangat dan sepi, Alina masih menyandarkan kepala di bahu Devan. Bau parfum kayu cendana suaminya yang samar bercampur dengan aroma hujan di luar membuat dadanya terasa lega, seolah semua ketegangan yang menumpuk selama berbulan-bulan perlahan larut.

Jari-jari Alina bermain-main dengan pin perak berbentuk daun zaitun yang baru saja diterimanya dari Arimbi. Permata kecil di permukaannya berkilau lembut setiap kali mobil melewati lampu jalan. Ia menatapnya lama, masih sedikit tidak percaya bahwa malam ini benar-benar terjadi. Perdamaian. Pengakuan. Dan yang lebih penting, ruang untuk bernapas.

Devan mengusap punggung tangan istrinya dengan ibu jari, gerakan yang lambat dan penuh perhatian. “Kamu yakin sudah baik-baik saja?” suaranya rendah, hampir berbisik, seolah takut merusak keheningan yang sedang mereka nikmati.

Alina mengangkat wajah, menatap profil suaminya yang diterangi cahaya dashboard. Garis rahangnya yang tegas, mata tajam yang selalu waspada, dan bibir yang biasanya menahan banyak kata. Malam ini, semua itu terlihat lebih lembut. “Lebih dari baik,” jawabnya pelan. “Untuk pertama kalinya sejak kita menikah … aku merasa benar-benar bebas. Tidak ada lagi bayangan, tidak ada lagi rasa bersalah yang mengendap di sudut pikiran.”

Devan tidak langsung menjawab. Tangannya yang bebas tetap memegang setir, tapi matanya sesekali melirik ke arah Alina. Ia terdiam cukup lama, seolah sedang menimbang sesuatu yang sudah lama dipendam. Lalu, tanpa banyak basa-basi, ia menekan tombol di dashboard. Suara asisten pribadinya terdengar jernih dari speaker.

“Siapkan jet pribadi untuk berangkat besok pagi. Tujuan: private villa di Ubud, Bali. Dua minggu penuh. Tidak ada jadwal, tidak ada rapat, tidak ada telepon kantor. Pastikan semua staf villa sudah diinstruksikan untuk tidak mengganggu kecuali diminta. Dan… nonaktifkan semua saluran komunikasi bisnis saya selama periode tersebut.”

Alina menoleh kaget. “Devan—”

“Kita sudah menikah hampir setahun,” ucapnya pelan, matanya tetap menatap jalan di depan. Suaranya tenang, tapi ada getaran emosi yang jarang ia biarkan keluar. “Tapi belum pernah benar-benar punya waktu hanya untuk kita berdua. Aku lelah melihatmu terus bekerja sampai larut, pulang dengan mata yang lelah, lalu masih sempat tersenyum padaku seolah semuanya baik-baik saja. Aku juga lelah. Lelah menjadi Dirgantara yang selalu harus siap. Kali ini … aku ingin menikmatimu. Hanya kamu. Tanpa agenda, tanpa tekanan, tanpa masa lalu yang mengintai.”

Alina terdiam. Dadanya terasa penuh, seolah ada sesuatu yang mengembang perlahan di dalamnya. Ia menatap wajah suaminya, mencari-cari keraguan, tapi yang ia temukan hanyalah ketegasan yang dibungkus kelembutan. Ia mengangguk pelan, lalu mengecup bahu Devan. Bibirnya menempel beberapa detik lebih lama dari biasanya.

“Baik,” bisiknya. “Aku ikut. Ke mana pun kamu bawa.”

Malam itu mereka tidak banyak bicara di perjalanan pulang. Hanya keheningan yang nyaman, jari yang saling bertaut, dan sesekali Devan mengecup punggung tangan Alina saat lampu merah menyala. Begitu sampai di rumah, Devan langsung mengarahkan istrinya ke kamar. “Tidur lebih awal. Besok kita berangkat pagi.”

Alina hampir protes, tapi tatapan Devan membuatnya menurut. Ia berganti pakaian, mencuci muka, lalu berbaring. Tak lama kemudian Devan menyusul, memeluknya dari belakang. Tubuh mereka saling menempel, napas Devan hangat di tengkuknya. Malam itu mereka tidak melakukan apa-apa selain saling memeluk sampai tertidur. Seolah tubuh mereka sedang mengumpulkan tenaga untuk sesuatu yang lebih dalam.

Pagi harinya, matahari belum sepenuhnya terbit ketika mobil mereka tiba di bandara swasta. Jet pribadi sudah menunggu. Hanya mereka berdua di kabin, dilayani oleh satu pramugari yang sangat profesional dan tahu untuk tidak terlalu banyak berbicara. Penerbangan ke Bali terasa singkat. Alina duduk di sebelah Devan, kepala kembali bersandar di bahunya, sementara jari Devan sesekali mengusap lutut istrinya di bawah meja kecil.

Ketika pesawat mendarat di Bandara Ngurah Rai, sebuah mobil hitam sudah menunggu. Perjalanan ke Ubud memakan waktu hampir dua jam. Semakin jauh mereka meninggalkan keramaian kota, semakin lega dada Alina. Jalanan berkelok, pemandangan sawah terasering yang hijau, kabut tipis yang menyelimuti pepohonan, dan udara yang semakin sejuk. Devan memegang tangannya sepanjang perjalanan, kadang mengangkatnya untuk dicium tanpa kata.

Villa itu berdiri di tepi tebing, menghadap lembah hijau yang diselimuti kabut pagi. Gerbang kayu besar terbuka otomatis saat mobil mereka mendekat. Di dalam, tidak ada tetangga, tidak ada kamera pengawas yang mencolok, tidak ada suara klakson atau hiruk-pikuk kota. Hanya bunyi angin yang berembus di antara pepohonan, gemericik air di kolam infinity yang seolah menyatu dengan langit, dan sesekali kicau burung yang jauh.

Begitu mobil berhenti, Devan turun lebih dulu. Ia membuka pintu untuk Alina, lalu menggenggam tangannya erat saat mereka melangkah masuk. Seorang staf villa menyambut mereka dengan senyum sopan, menyerahkan kunci utama, lalu membungkuk. “Semua sudah disiapkan sesuai instruksi, Tuan. Kami akan meninggalkan area utama. Jika membutuhkan sesuatu, silakan tekan bel di dapur. Selebihnya, villa ini sepenuhnya milik Anda berdua.”

Devan mengangguk singkat. “Terima kasih. Tolong pastikan tidak ada yang mendekat kecuali kami memanggil.”

Staf itu menghilang dengan tenang. Pintu gerbang tertutup. Kunci berada di tangan Devan.

Alina berdiri di tengah ruang tamu terbuka yang menghadap langsung ke lembah. Lantai kayu yang hangat di bawah kaki, plafon tinggi dengan balok-balok kayu alami, dan kaca-kaca besar yang seolah menghilangkan batas antara dalam dan luar. Ia berjalan pelan menuju teras. Angin sejuk menyapu wajahnya, membawa aroma tanah basah dan daun-daun tropis.

“Indah sekali,” bisiknya.

Devan berdiri di belakangnya, tidak menyentuh, hanya membiarkan Alina menikmati pemandangan lebih dulu. “Aku memilih tempat ini karena di sini tidak ada yang bisa mengganggu kita. Tidak ada telepon yang berdering, tidak ada asisten yang mengetuk pintu, tidak ada masa lalu yang bisa menyusul.”

Alina membalikkan badan. Matanya bertemu dengan mata Devan. Ada sesuatu yang berbeda di tatapan suaminya hari ini—lebih terbuka, lebih lapar, lebih… manusiawi. Bukan Dirgantara yang selalu terkendali, melainkan pria yang sudah terlalu lama menahan diri.

“Kamu sudah merencanakan ini dari kapan?” tanya Alina pelan.

“Sejak malam di gedung konvensi,” jawab Devan jujur. “Saat aku melihatmu berdiri di sampingku, dan aku tahu bahwa aku ingin lebih dari sekadar melindungi. Aku ingin memiliki waktu di mana aku bisa menjadi milikmu sepenuhnya, dan kamu milikku, tanpa gangguan.”

Alina merasa dadanya berdesir. Ia melangkah mendekat, meraih tangan Devan, lalu menuntunnya masuk ke dalam. “Kalau begitu … jangan buang waktu.”

Malam pertama mereka di villa itu, hujan turun lembut tepat saat matahari terbenam. Cahaya senja yang keemasan berubah menjadi abu-abu kebiruan. Alina baru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah, menetes pelan di bahu. Ia mengenakan kimono sutra tipis berwarna putih susu yang disediakan di kamar. Kain itu menempel di kulitnya yang masih lembap, memperlihatkan lekuk tubuhnya secara samar.

Ia berdiri di depan cermin besar ketika pintu kamar terbuka. Devan masuk, masih mengenakan kemeja putih yang sudah semi terbuka di bagian dada, lengan digulung sampai siku. Rambutnya sedikit berantakan karena angin di teras. Matanya langsung menangkap bayangan Alina di cermin, lalu beralih ke sosok aslinya

1
Hosniyah Niyah
mantap Thor lanjut ❤❤❤😘😘😘💞💞💞👍👍👍👌👌👌
Dwi Nur Jayanti
🫰💕💞💕
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️
Indriani Kartini
ah mas Devan benar2 laki2 sejati, salut dengan pengakuan di dpn publik😍
MayAyunda: iya kak🙏
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️🩵🩵🩵🩵🩵💪💪💪
MayAyunda: terimkasih 😍
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️
MayAyunda: terimkasih 😍
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
Mitha Ali
lanjuuuuuutttt😍😍 kk
MayAyunda: siap kak 🙏
total 1 replies
Mitha Ali
😍😍😍😍😍
Mitha Ali
lanjuuutttttt😍 kk
MayAyunda: siap kak
total 1 replies
Mitha Ali
uppp banyak2 kk cerita baguss😍😍😍
MayAyunda: terimkasih kak .baca ceritaku yg baru kak ke grep dengan preman tengil / suami Dadakanku ternyata bos baruku
total 1 replies
Elga Rista Septina
bagus ceritanyaaa😍
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
helena
sensi banget Clara.. pengen jambak sumpah/Angry/
MayAyunda: he he
total 1 replies
helena
kasian alina🥲
MayAyunda: iya kak 😄🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!