NovelToon NovelToon
Sistem Kebohongan Menjadi Kenyataan

Sistem Kebohongan Menjadi Kenyataan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Rizal, seorang pemuda yatim piatu yang baru saja dipecat dari pekerjaannya dan ditipu habis-habisan oleh mantan kekasihnya, mendapati hidupnya hancur berantakan di sebuah taman kota Jakarta. Namun, takdirnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika sebuah [Sistem Kebohongan menjadi Kenyataan] tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Sistem ajaib ini mengubah setiap cacian, kebohongan, dan modus penipuan yang diarahkan padanya menjadi kenyataan yang sesungguhnya. Berawal dari pesan penipuan undian palsu, Rizal mendadak menjadi miliarder yang membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal, sekaligus menarik perhatian banyak wanita cantik yang terpikat oleh kesuksesan dan pesonanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Jepret. Jepret. Jepret.

Ratusan kilatan lampu kamera kembali memenuhi aula utama Menara Wijaya keesokan paginya.

Suasana hari ini jauh lebih padat dan sesak dibandingkan saat rapat pemegang saham kemarin.

Rumor tentang kebangkrutan Wijaya Group yang disebarkan oleh Broto Sanjaya telah memancing seluruh media nasional dan internasional untuk datang.

Mereka semua menantikan pernyataan resmi dari Clara Wijaya yang dikabarkan akan mengibarkan bendera putih hari ini.

Di barisan depan, beberapa wartawan yang diam-diam telah disuap oleh Keluarga Sanjaya sudah menyiapkan pertanyaan-pertanyaan mematikan.

Klek.

Pintu samping panggung terbuka dan Clara melangkah masuk dengan sangat anggun.

Di belakangnya, Rizal berjalan mengikuti dengan langkah santai sambil memasukkan satu tangan ke dalam saku celananya.

Tidak ada raut kepanikan atau keputusasaan di wajah mereka berdua.

Clara bahkan terlihat jauh lebih berseri-seri dan memancarkan aura seorang ratu bisnis yang tak tertandingi.

Keduanya duduk di kursi yang telah disediakan di belakang meja panjang di atas panggung.

"Selamat pagi rekan-rekan media yang saya hormati."

Clara membuka konferensi pers itu dengan suara yang sangat tenang dan jernih.

"Hari ini, saya selaku CEO Wijaya Group ingin memberikan klarifikasi terkait rumor tidak berdasar yang beredar sejak kemarin."

Seorang wartawan bayaran Sanjaya langsung mengangkat tangannya dan memotong ucapan Clara tanpa sopan santun.

"Nona Clara, bukankah sudah menjadi fakta bahwa suplai material proyek resor Bali Anda terputus total?"

Wartawan berwajah sinis itu berdiri dan menodongkan perekam suaranya.

"Apakah Anda masih mau mengelak bahwa Wijaya Group saat ini sedang berada di ambang kebangkrutan?"

Clara tersenyum tipis mendengar pertanyaan provokatif tersebut.

Dia melirik sekilas ke arah Rizal yang hanya merespons dengan anggukan pelan.

"Rumor tentang terputusnya suplai material dari pihak ketiga memang benar adanya."

Clara memberikan jawaban yang membuat seluruh aula seketika berdengung ramai.

Banyak wartawan yang langsung mulai mengetik berita utama tentang kejatuhan Wijaya Group.

"Namun, kami sama sekali tidak berada di ambang kebangkrutan."

Clara melanjutkan ucapannya dengan nada suara yang dinaikkan beberapa oktaf.

"Pemutusan kontrak sepihak itu justru menjadi berkah terselubung yang memaksa kami untuk membuka kembali aset lama kami."

Layar proyektor raksasa di belakang Clara tiba-tiba menyala menampilkan sebuah video beresolusi tinggi.

Video itu menunjukkan aktivitas ratusan alat berat baru yang sedang menggali tebing batu berwarna hitam pekat.

"Kami dengan bangga mengumumkan penemuan cadangan material konstruksi revolusioner di tambang milik kami sendiri."

Clara menunjuk layar tersebut dengan penuh kebanggaan.

"Tambang kami di Jawa Barat ternyata menyimpan urat paduan alami Baja Hitam dan Titanium murni yang memiliki tingkat kepadatan tertinggi di dunia."

Hening.

Aula yang tadinya sangat bising mendadak menjadi sunyi senyap seperti kuburan.

Para wartawan saling berpandangan dengan mulut terbuka lebar karena tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.

Titanium murni? Ditambang langsung secara massal dari perbukitan Jawa Barat?

Itu adalah klaim yang terdengar seperti kisah fiksi ilmiah.

Wartawan bayaran Sanjaya tadi kembali tertawa meremehkan dan mengebrak meja dengan cukup keras.

"Nona Clara, apakah Anda menganggap kami semua ini anak kecil yang bodoh?!"

Wartawan itu berteriak lantang mencoba menjatuhkan kredibilitas pengumuman tersebut.

"Semua ahli geologi tahu bahwa Titanium tidak mungkin ditemukan dalam bentuk paduan alami yang siap pakai seperti itu!"

Dia menunjuk layar proyektor dengan raut wajah sangat merendahkan.

"Itu pasti cuma batu andesit biasa yang kalian cat hitam untuk membohongi para investor!"

"Kalian pasti sudah menyuap laboratorium lokal untuk mengeluarkan hasil tes palsu kan?!"

Rizal yang sedari tadi diam akhirnya mencondongkan tubuhnya ke depan dan mendekat ke arah mikrofon.

"Anda sepertinya sangat yakin bahwa kami memalsukan hasil tes laboratorium tersebut."

Rizal menatap wartawan bayaran itu dengan pandangan sedingin es di kutub utara.

"Tentu saja aku yakin! Perusahaan yang mau bangkrut pasti akan melakukan segala cara untuk menipu publik!"

Wartawan itu membusungkan dadanya karena merasa didukung oleh logika umum.

"Kalau batu hitam murahan itu memang benar-benar Titanium murni..."

"Maka aku menantang Lembaga Sertifikasi Logam Internasional di Jenewa untuk mengakuinya secara langsung hari ini juga!"

Wartawan itu tertawa sarkas merasa tantangannya sangat aman.

Lembaga internasional di Jenewa adalah institusi paling ketat dan independen di dunia yang tidak bisa disuap oleh siapa pun.

Ting!

[Mendeteksi rentetan omong kosong dan tantangan mustahil yang diikrarkan di depan media massa.]

[Kebohongan: Batu tersebut adalah batu murahan yang dicat dan hasil laboratorium lokal telah disuap.]

[Tantangan: Lembaga Sertifikasi Logam Internasional di Jenewa tidak akan mengakuinya.]

Suara dengingan sistem kembali menjadi melodi paling indah yang mengalun di telinga Rizal pagi ini.

Bibir Rizal perlahan melengkung membentuk senyum iblis yang sangat mengerikan.

[Memproses manipulasi realitas berskala global...]

[Manipulasi berhasil. Sampel batu yang dikirimkan Clara semalam telah memicu anomali di markas besar Lembaga Sertifikasi Logam Internasional.]

[Lembaga tersebut saat ini sedang menyiarkan pengumuman darurat secara sukarela ke seluruh dunia untuk memvalidasi material milik Wijaya Group.]

Drrt. Drrt. Drrt.

Hanya selang beberapa detik setelah notifikasi sistem itu muncul, keanehan mulai terjadi di dalam aula.

Ponsel dari belasan wartawan luar negeri yang hadir di sana tiba-tiba berbunyi secara serentak.

Mereka mengangkat telepon dari editor pusat mereka dengan wajah kebingungan.

"Halo bos? Ya, saya sedang di konferensi pers Wijaya Group sekarang."

Salah satu koresponden dari media bisnis terkemuka Amerika Serikat menjawab panggilannya.

"Apa?! Lembaga Logam Internasional baru saja merilis jurnal darurat?!"

Suara koresponden bule itu tanpa sadar meninggi hingga terdengar oleh orang-orang di sekitarnya.

"Mereka menyatakan bahwa sampel material Wijaya Group adalah penemuan geologis terbesar abad ini?!"

Drrt. Drrt.

Kini giliran ponsel milik wartawan bayaran Sanjaya yang bergetar hebat di dalam saku jasnya.

Wartawan itu mengangkat teleponnya dengan tangan yang entah mengapa mulai terasa dingin.

"Halo bos pemimpin redaksi?"

"Dasar wartawan tolol! Apa yang kau lakukan di sana?!"

Suara teriakan penuh kepanikan dari bosnya terdengar sangat jelas menembus speaker ponsel.

"Cepat minta maaf pada Nona Clara dan Tuan Rizal sekarang juga!"

"T-tapi bos, mereka cuma menipu kita dengan batu yang dicat hitam..."

"Batu hitam kepalamu! Buka portal berita global sekarang juga!"

Pemimpin redaksi itu berteriak histeris seolah sedang menghadapi kiamat.

"Presiden Lembaga Logam Internasional di Jenewa baru saja muncul di televisi global memegang batu hitam itu!"

"Dia sambil menangis terharu menyatakan bahwa Wijaya Group telah menyelamatkan krisis material dunia!"

Bruk.

Ponsel di genggaman wartawan bayaran itu terlepas dan jatuh membentur lantai.

Wajahnya yang tadi terlihat sangat arogan kini berubah menjadi seputih kertas kosong.

Dia menatap layar proyektor yang kini membagi layarnya menjadi dua bagian.

Satu sisi menampilkan tambang di Jawa Barat, dan sisi lainnya menampilkan siaran langsung dari Jenewa, Swiss.

Di layar itu, para ilmuwan top dunia sedang bertepuk tangan merayakan penemuan Baja Hitam Titanium milik Wijaya Group.

"T-tidak mungkin... bagaimana mereka bisa memvalidasinya secepat ini..."

Wartawan itu bergumam dengan napas yang mulai tersengal-sengal karena ketakutan.

Dia baru saja menuduh perusahaan dengan penemuan terbesar abad ini sebagai penipu di depan jutaan pasang mata.

Karir jurnalistiknya sudah pasti tamat hari ini juga.

Rizal berdiri dari kursinya dan menatap wartawan malang itu dengan tatapan penuh belas kasihan palsu.

"Bagaimana Tuan Wartawan? Apakah pengakuan dari Jenewa itu sudah cukup untuk menjawab keraguan Anda?"

Rizal melontarkan pertanyaan retoris yang langsung disambut oleh riuhnya lampu kamera dari wartawan lain.

Wartawan bayaran itu tidak berani menjawab sepatah kata pun dan langsung berlari menerobos kerumunan untuk kabur dari aula tersebut.

Setelah pengganggu itu pergi, suasana konferensi pers berubah seratus delapan puluh derajat.

Bukan lagi pertanyaan penuh keraguan yang dilontarkan, melainkan rentetan pertanyaan penuh kekaguman dan antisipasi.

"Nona Clara! Apakah material ini akan diekspor ke luar negeri?!"

"Tuan Rizal! Berapa estimasi keuntungan yang akan didapat Wijaya Group dari monopoli material ini?!"

Clara menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan sangat elegan dan profesional.

Sementara itu, Rizal hanya duduk tersenyum sambil menikmati pemandangan para wartawan yang kini berebut untuk menjilat mereka.

Di layar raksasa yang menampilkan grafik bursa saham, garis hijau saham Wijaya Group melesat naik dengan sudut hampir tegak lurus.

Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, valuasi perusahaan itu meningkat dua kali lipat dan terus meroket tanpa henti.

Di tempat lain, di sebuah mansion mewah yang bergaya arsitektur klasik.

Prang!

Broto Sanjaya melempar gelas minumannya ke arah layar televisi raksasa di ruang kerjanya hingga pecah berantakan.

Televisi itu sedang menyiarkan senyum kemenangan Clara dan Rizal di konferensi pers.

"Ini pasti tipuan! Mereka pasti menggunakan sihir atau hipnotis massal!"

Broto mengamuk seperti banteng yang terluka parah.

Dion yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa menundukkan kepalanya karena takut menjadi pelampiasan amarah ayahnya.

"Ayah... bahkan lembaga di Jenewa sudah mengakuinya... harga saham kita mulai turun karena para investor lari ke Wijaya Group."

Dion melaporkan fakta pahit itu dengan suara bergetar.

"Persetan dengan lembaga dari Jenewa itu!"

Broto menggebrak meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni padat.

"Aku tidak peduli batu apa yang mereka temukan di sana, aku tidak akan membiarkan mereka menjualnya satu gram pun!"

Broto mengambil telepon kabel di mejanya dan menekan nomor rahasia dengan sangat cepat.

"Halo, Kobra? Kumpulkan seluruh pasukan bayaranmu sekarang juga."

Suara Broto terdengar sangat dingin dan dipenuhi niat membunuh yang sangat pekat.

"Malam ini, Wijaya Group akan mengirimkan truk pertama mereka dari tambang itu menuju pabrik pengolahan di Jakarta."

"Aku ingin kamu mencegat konvoi itu di jalur sepi antar kota."

Broto menyeringai kejam membayangkan rencananya.

"Hancurkan truknya, bakar semua batunya, dan bunuh siapa saja yang mengawal pengiriman itu tanpa sisa."

"Biar mereka tahu bahwa berbisnis di wilayahku harus membayar dengan nyawa."

Broto meletakkan gagang telepon itu dan menatap layar televisi yang layarnya sudah retak.

Dia sangat yakin rencana sabotase fisik ini tidak akan pernah gagal.

Kobra adalah pemimpin kelompok tentara bayaran paling kejam yang bergerak di dunia bawah tanah Jakarta.

Namun Broto Sanjaya sama sekali tidak tahu, bahwa monster yang sedang dia hadapi bukanlah seorang pengusaha biasa.

Malam ini, Kobra dan pasukannya hanya akan mengantarkan nyawa mereka secara cuma-cuma ke dalam mulut sang naga.

1
kinataa⁸
5m nya ksh aku juga/Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!